Asyiknya menjajal menu lintas-benua dan samudra di The Cafe, Hotel Mulia Senayan

Sungguh menggairahkan bisa menjajal aneka hidangan mulai dari Lautan Hindia, Pasifik, hingga Atlantik. Ini bukan sekadar mimpi yang mengawang-awang. Tanpa pergi jauh-jauh menyeberangi samudra dan benua, Anda pun bisa mencicipi sajian lezat dari berbagai belahan bumi itu. Anda tinggal meluncur saja ke The Cafe yang berlokasi di Hotel Mulia, Jakarta.

Berbeda dari resto lain yang umumnya menawarkan satu aliran masakan, The Cafe menghidangkan berbagai makanan lintas- benua dan samudra dengan sistem buffet. Makanya, jenis masakan yang terhampar di resto ini benar-benar banyak.

Tak usah bingung mau memulai dari mana. Toh, kita bisa menjajal semua menu sepuas hati. Tapi jika kapasitas perut rada terbatas atau waktu makan sempit, ini memang perlu sedikit strategi. Langsung saja pilih area atau seksi yang menyajikan menu favorit Anda.

Menempati ruangan seluas 1.800 m2, The Cafe yang buka 24 jam sehari ini menawarkan lima seksi: bumi (earth), air (water), api (fire), kayu (wood), dan emas (gold). Setiap seksi, yang berada di area terpisah, memiliki tema, interior, dan tentu saja menu yang berbeda.

Agar tetap menghadirkan citarasa orisinal, koki yang bertugas di setiap seksi khusus didatangkan dari negara asalnya. “Demi kepuasan pengunjung, kami memang khusus menghadirkan mereka dari berbagai penjuru dunia,” ujar Manajer General Hotel Mulia Richard P. Appelbaum.

Ayo, segera saja kita mulai petualangan kuliner ini. Jika Anda memang tak ingin makan berat, langsung saja ke seksi earth. Berbeda dari keempat seksi lain, area ini satu-satunya yang tak menyajikan dan melarang pengunjungnya menikmati makanan berat. “Seksi earth memang khusus untuk cemilan, ngopi, dan makanan ringan lain. Kalau sudah puas ngemil dan ingin makan berat, pengunjung tinggal pindah ke seksi lain,” ujar Manajer Komunikasi Hotel Mulia, Adeza Hamzah.

Sesuai dengan namanya, seksi bumi ini didesain dengan interior bernuansa alam. Perabotannya didominasi furnitur klasik bernuansa hijau dan hitam. Lumayanlah sebagai tempat menyesap secangkir kopi ditemani cemilan ringan dan obrolan santai.

Dari yang spicy sampai yang manis-manis

Bagi penggemar makanan jepang, Anda bakal enjoy di seksi wood. Di sini tersedia aneka hidangan khas Negeri Matahari Terbit. Di antaranya ada sushi, teriyaki, hingga yakitori. Hmm…, enak banget. Bahan bakunya terasa benar-benar fresh.

Tak hanya lidah yang terpuaskan, para japanese food lover pun bisa menikmati suasana Jepang yang mencuat kuat dari interiornya. Namanya juga seksi kayu, tentu ruang ini menonjol dengan material kayu yang didesain bergaya Jepang. Ditambah, sentuhan bebatuan yang merupakan ciri khas Negeri Jepun.

Jika ingin merasakan atmosfer berbeda, mari ayunkan langkah ke seksi emas alias gold. Area ini terasa begitu eksotis dan meriah dengan nuansa emas. Seksi gold ini memang merepresentasikan kawasan yang eksotis, yakni mulai dari Asia Timur hingga Afrika.

Di area ini kita bisa menyantap aneka olahan masakan kaya bumbu yang menjadi ciri khas Asia Tenggara, India, China, Mediterania, dan Maroko. Pilihan menarik di sini antara lain safrron rice dan tandori chicken yang khas India atau mie-lamien andalan dari China. Jangan lupa pula menjajal kesegaran soto betawi, hidangan khas tanah air yang juga hadir di seksi ini.

Mereka yang lidahnya benar-benar menuntut pemuasan bumbu yang kuat silakan saja menambahkan berbagai bumbu sendiri. Tatkala menikmati mie-lamien, misalnya, minta saja sang koki, yang beraksi memasak mi langsung di hadapan Anda, menambahkan bumbu yang Anda mau.

Dari Timur, petualangan lidah bisa kita lanjutkan ke Barat, yakni di seksi fire. Di sini Anda bisa menikmati menu orang bule seperti sop, steak, dan aneka pasta. Interiornya, yang didominasi warna merah, menghadirkan ambiance penuh semangat. Berpadu dengan pernik mawar merah dari helaian kain panjang menjuntai dari langit-langit hingga lantai. Tak salah seksi ini dinamai fire.

Masih ada ruang dalam perut? Ayo mencicipi sederet panjang pilihan dessert. Ini ada di seksi water yang merupakan area coffee & pastry. Di sini ada aneka ice cream, pudding, cake, salad, buah, permen, pokoknya semua yang manis-manis.

Kalau sudah puas, saatnya menarik isi dompet atau menggesek kartu kredit. Untuk sarapan pagi, Anda cukup bayar Rp 149.000, santap siang Rp 159.000, dan makan malam Rp 169.000. Khusus weekend harganya Rp 179.000. Untuk anak-anak 2 tahun-12 tahun cuma Rp 99.000 per orang.

Oh, ya, bagi yang datang dalam kelompok besar dan ingin berkelana di gugusan area The Cafe, Anda semua bisa langsung menerobos Baccarat dan Lavender Private Dining Room. Di sini dua pelayan siap melayani dan memandu petualangan lidah Anda.

+++++
Gaet Pelanggan, Gandeng Konsultan

Banyak tempat wisata kuliner, mulai dari warung tegal di pinggir jalan hingga resto, kafe, dan hotel besar, berlomba menggelar makanan siap saji. Para penggemar goyang lidah pun tinggal memilih tempat sesuai selera dan kemampuan koceknya.

Tak usah heran, menghadapi persaingan yang makin ketat, The Cafe terus membenahi diri. Resto yang sudah beroperasi sejak Hotel Mulia berdiri tahun 1997 ini awalnya memiliki konsep coffee shop. Namun, seiring berjalannya waktu, mulai akhir 2007 The Cafe berubah menjadi dining room dengan open kitchen; sehingga pengunjung lebih leluasa untuk mencicipi berbagai hidangan.

Pilihan yang jitu, mengingat tamu Hotel Mulia yang punya 1.000 kamar ini juga kian ramai. Sudah menjadi tradisi umum, tamu breakfast di resto internasional. Lantaran tamu hotel kian membeludak, The Cafe yang merupakan resto internasional pun otomatis berubah. Kini, The Cafe tampil lebih anggun dengan pilihan menu yang benar-benar beragam.

Selain ragam menu, letak Hotel Mulia yang berada di pusat kota juga menjadikannya sasaran para pencari makanan enak. Mereka bukan cuma mencari makanan lezat, tapi juga memburu suasana yang nyaman. Makanya, resto yang menyajikan makanan lezat dan suasana nyaman menjadi incaran. Untuk itulah, The Cafe terus mempercantik diri. Tak tanggung-tanggung, manajemen lantas menghadirkan konsultan interior langsung dari Negeri Paman Sam, Wilson Associates. Hasilnya, dalam tempo lima minggu The Cafe tampil jauh lebih segar ketimbang sebelumnya.

Jangan heran, kursi-kursi The Cafe belakangan semakin penuh saja. Pagi hari ramai oleh tamu hotel, siang hari berbondong-bondong pengunjung dari luar hotel. “Malam hari ramai oleh keduanya,” ujar Andeza Hamzah, Manajer Komunikasi Hotel Mulia.

The Café, Hotel Mulia Senayan
Jalan Asia Afrika,
Senayan, Jakarta
Telepon: (021) 5753270, 5747777 ext 4700

Kangen Menyeruput Mi Kocok Sukirman

Salah satu makanan khas Bandung yang cukup legendaries adalah mi kocok. Di kota ini kini memang sudah bertebaran mi kocok dengan beragam merek dagang. Berbeda dengan tiga dasawarsa silam. Kalaupun ada, pedagang mi kocok di Bandung sangat sedikit. Hanya satudua saja yang berani tampil beda dengan rasa mi yang sip.

Salah satu kedai mi kocok yang dapurnya terus mengebul sejak tahun 1970 hingga saat ini adalah Mih Kocok SKM Spesial Kaki Sapi.

Letaknya ada di Jalan Sunda. Begitu memasuki jalan satu arah ini, jangan ngebut. Seratus meter dari perempatan jalan, di sisi kanan jalan, kedai ini mangkal. Tandanya ada gantungan kaki sapi di bagian gerobak yang sudah permanen.

Sukirman, si perintis kedai ini, sudah meninggal sepuluh tahun silam. Namun, kedai ini tidak lantas mandek sepeninggal Sukirman. Belasan meja tetap tergelar.

Bangku panjang juga siap diduduki. Suwarto atau Anto menjadi generasi kedua penerus usaha mi kocok khas Pasundan ini. Tentu saja, ia bergotong-royong bersama dengan ibunda dan saudarasaudara lainnya.

Gerobak Mih Kocok SKM nangkring dengan santainya di pekarangan beratapkan tenda permanen. Di meja gerobak, Anto sudah siap dengan tiga belas mangkuk yang menengadah, menanti diisi bahan baku mi kocok. Agaknya, mangkuk ini memang sengaja ditata begitu agar senantiasa siap sedia menunggu pengunjung yang datang.

Di halaman itu pula berjejer kursi dan meja panjang dengan wadah plastik berisi kerupuk. “Banyak yang datang ke sini rombongan. Makanya meja dan kursinya panjang supaya lebih lega,” ujar Anto. Kalau penuh, kedai ini bisa memuat sekitar 50 orang sekaligus.

Di bagian dalam, jejeran bangku dan meja panjang juga tersedia. Tapi, pengunjung memang lebih suka menyantap mi kocok di halaman depan. Nah, kalau penuh, barulah bagian dalam ini diisi.

Sedikitnya 200 porsi sehari

Racikan mi kocok ini menempati wadah mangkuk berukuran tanggung. Kuahnya tak sampai luber, namun cukup untuk menemani mi telur berwarna kuning pucat yang pipih dan nyaris tak terputus. “Mi ini kami pesan khusus dari Cipaera,” beber Anto. Saban hari Anto menghabiskan sedikitnya 20 kg sampai 25 kg mi telur.

Bahkan, bisa lebih dari itu saat ujung minggu tiba.

Selain mi telur, ada toge di dalam mangkuk. Toge ini rasanya tidak lembek, tapi kemerenyes renyah. Rebusan toge pas untuk campuran mi kocok. Saban hari Anto harus menyediakan sedikitnya 20 kg toge, lo. Namun, kalau Anda tak suka kemunculan toge, Anda bisa, kok, memesan mi kocok bebas toge.

Sebagai penegas kekhasan mi kocok, Anto membubuhkan cuilan kaki sapi di racikan mi ini. Dalam sehari Anto meludeskan lima setel kaki sapi atau setara kaki 20 ekor sapi. Menurut hitungan Anto, satu kaki sapi bisa tercacah untuk sepuluh porsi mi kocok. Artinya, dalam sehari Anto bisa meladeni 200 porsi. Ini baru hari biasa, ya. Kalau weekend tiba dan kedai ini penuh pendatang dari jauh seperti Jakarta, wah… Anto bisa kewalahan meladeninya.

Meski tak royal memberi kuah, mi kocok ini kental rasa kaldunya. Barangkali Anto menyertakan tulang dan kaki sapi untuk direbus menjadi kaldu. Kuahnya keruh tidak seperti kuah bakso yang bening. Menyeruputnya hingga habis, Anda tak bakal eneg.

Anto menyediakan dua jenis mi kocok kaki sapi, yaitu yang biasa dan spesial. Yang spesial dilengkapi telapok atau bagian bawah kaki sapi yang berwarna kehitaman.

Eh, jangan membayangkan joroknya kaki sapi yang tengah menjejak lumpur, ya. Sebab, usai diolah, telapak sapi jadi sedap disantap, dan kehadirannya membuat rasa mi kocok jadi mantap.

“Ayah saya punya racikan mi kocok yang berbeda dengan lainnya,” papar Anto. Racikannya sepertiapa? Ini, mah, resep keluarga dan Anto tak sudi membagikannya. “Pokoknya, beda dengan tempat lain,” ujar Anto berahasia.

Dulu, banyak pengunjung menyukai tulang-tulang kaki sapi.

Atas permintaan pelanggan, Sukirman meladeninya. Saat ini bagian telapok sapi juga banyak diburu pelanggan. Alhasil bagian ini juga kini disediakan Anto.

Kalau Anda menyukai bagian sumsum kaki sapi, datanglah agak pagian. Anda akan mendapatkan sumsum kaki sapi nan segar dan lezat. “Kalau sudah agak siangan, sudah habis!” kata Anto.

Lantas, apa yang membikin mi kocok SKM bisa bertahan di tengah ketatnya persaingan bisnis kuliner? Sepeninggal Sukirman, usaha ini ditangani istrinya. Tak ada satu pun karyawan yang membikin ramuan mi kocok ini.

Makanya, lebih dari tiga dasawarsa kedai ini bertahan. Rahasianya, mempertahankan rasa.

“Selain itu, kami juga harus bisa melihat kemauan pelanggan,” imbuh Anto. Dengan begitu, kendati ada kedai-kedai mi kocok lain yang bermunculan belakangan, kedai ini tak ditinggalkan pelanggannya. Bahkan, tetap menggaet pelanggan baru. Bila ingin mencicipi, ongkos seporsi cukup Rp 10.000 saja. Murah, kan?

+++++
Bertahan Hampir 40 Tahun

Zaman keemasan Mih Kocok SKM Spesial Kaki Sapi barangkali sudah lewat. Tapi kelegendarisannya tak juga padam. Maklum, ada begitu banyak orang tua yang bernostalgia dengan mi kocok racikan asli Sukirman, si empunya kedai mi kocok ini. Seruputan kuah mi kocok yang gurih dengan kekenyalan kaki sapi dan toge yang kemerenyes sungguh bikin kangen.

Tahun 1970, Sukirman mulai merintis kedai ini. Kala itu mi kocok belum sepopuler sekarang ini. Sebelum mencoba berjualan mi kocok, Sukirman adalah penjual kopi dan nasi di kantor keuangan negara. Lantaran menu mi kocok saat itu terbilang “biasa saja”, Sukirman nekat membikin mi kocok yang “luar biasa”.

Nama kedai SKM merupakan kependekan nama Sukirman. Saat itu Jalan Sunda juga belum jadi jalan satu arah seperti saat ini. Jalanan itu sibuk dengan derasnya kendaraan dari dua arah.

Sukirman buka mulai jam 9 pagi hingga 11 malam. Dibantu empat orang anaknya, Sukirman membesarkan kedai sederhananya dari ukuran 5 m x 8 m yang mampu menampung 10 orang pengunjung saja. “Saat itu enggak pakai meja, orang-orang makan mi kocok ya, disangga pakai tangan saja,” tutur Suwarto, generasi kedua penerus Mi Kocok SKM.

Semangkuk mi kocok saat itu dibanderol Rp 150. Penyuka mi kocok olahan Sukirman makin banyak. Lantaran Sukirman tak bisa memperluas warung tendanya, pengunjung pun rela makan mi kocok di dalam kendaraan. Risikonya, ada yang lupa bayar. Tak jarang, mangkuk terbawa pembeli.

Sukirman tak jarang juga harus melarikan gerobaknya saat petugas datang membersihkan kawasan Jalan Sunda dari pedagang. Toh, Sukirman tetap telaten membesarkan kedainya.

Meski keuntungannya tipis, Sukirman nyatanya tetap bisa menabung untuk membeli rumah yang kini menjadi kedai mi kocok. Sejak tahun 1986, ia meninggalkan lahan secuil di perempatan jalan, dan berpindah ke rumah permanen ini.

Mih Kocok SKM
Spesial Kaki Sapi
Jl. Sunda 38, Bandung
Telepon: (022) 4201582

Menikmati sate ayam sehat ala Sate Ayam Ponorogo Pak Siboen

Bagaimana rasanya punya banyak duit, tapi tidak bisa menikmati makanan yang nikmat bin lezat? Pasti tersiksa. Duit yang ngeriung di saku terasa hambar. Maklum, mulut kudu berpuasa makanan kesukaan, karena terhadang sejumlah pantangan. Kalau bandel, ujung-ujungnya malah menuai bencana yang lebih parah. Misalnya, kena serangan kolesterol binal.

Namun, jangan putus asa dulu. Bagi Anda yang pantang mengudap sate ayam karena banyak kolesterol jahat, ada jalan keluar yang cukup aman, kok.

Ya, itulah kekhasan Sate Ayam Ponorogo Pak Siboen. Kulit ayam yang menempel pada sate masih bisa Anda lahap lantaran kedai sate ini mengeluarkan dulu lemak daging ayam yang menjadi biang keladi kolesterol jahat. Hap, Anda dengan bebas bisa menelan sate nan gurih, empuk, dan padat ini.

Sebelum disajikan ke pengunjung, kulit ayam direbus dulu untuk memeras lemaknya. Tetesantetesan lemak pun semakin berceceran ketika kulit dipanggang api.

“Insya Allah, sate ini aman dimakan oleh setiap orang, tanpa takut pantangan,” kata Hj. Srini, pemilik kedai Sate Ayam Ponorogo Pak Siboen di Jakarta.

Bu Hajah Srini bukan Cuma menawarkan sate kulit. Pengunjung juga bisa menikmati sate daging ayam dan hati. Semuanya asli ayam kampung yang disajikan tanpa ada campuran lemak di setiap tusuknya.

Jelas, ini berbeda dengan sate madura yang campur aduk antara daging dan lemak di setiap tusuknya. Pokoknya, setiap penganan olehan Pak Siboen tidak mengandung kolesterol yang berlebihan.

Kedai sate ini enggan memasak ayam negeri, karena bakal mengurangi kelezatannya. Maklum, daging ayam negeri rada gembur, sehingga tidak terasa padat berisi sebagaimana ayam kampung. Kalau dipaksakan dengan memakai daging ayam negeri, pengunjung bisa kecewa dan bisa-bisa enggan balik lagi.

Ciri khas utama lainnya dari kedai ini, bumbu kacang sate ponorogo ini sangat halus. Saking halusnya, butiran-butiran kacangnya tak terlihat lagi.

Untuk menghilangkan jejak ini, ada caranya. Kacang digongseng dulu tanpa minyak. Kemudian buang kulit dan mata kacangnya agar enggak terasa pahit. Setelah itu, kacang digiling sampai halus. Karena kacangnya digoreng tanpa menggunakan minyak, kadar lemak pun makin menipis.

Maklum, penggunaan minyak bakal membuat lemak makin bertumpuk. “Banyak kelebihan Pak Siboen ini. Sate dan bumbunya sedikit mengandung lemak,” kata Sukamto, tangan kanan Hj. Srini.

Lontong Pak Siboen unik

Makanya, Sukamto berani mengadu kelezatan sate ponorogo dengan sate madura. Pasalnya, selain campur aduk dengan lemak yang merupakan biang penyakit di setiap tusuknya, bumbu sate madura digoreng pakai minyak.

Ada lagi, lontong Pak Siboen terbilang unik karena tidak memakai bahan pengeras sebagaimana lazimnya lontong. Lontong buatan Hj. Srini mengeras alami setelah melalui proses pengadukan. Rasanya makin nikmat karena dibuat dari beras murni berkualitas mumpuni.

Bagaimana harganya? Anda jangan takut kebobolan kantong. Untuk sate daging ayam dan hati, harganya Rp 11.000 per porsi. Sedangkan sate kulit lebih murah sedikit, Rp 10.000 per porsi.

Pengunjung juga bisa memesan sate campur dengan harga Rp 10.000 per porsi. Aneka penganan itu bisa dimakan bareng nasi atawa lontong. Kalau pakai nasi tambah Rp 3.000, sedangkan dengan lontong rogoh lagi Rp 2.000.

Kedai Pak Siboen pun menyediakan balungan alias sisa-sisa tulang ayam yang bercampur daging. Tapi, makanan ini tidak setiap saat tersedia. Maklum, memasaknya rada rumit. Tulang ayam kudu dimasak kering dengan belimbing wuluh, kemudian dibubuhi aneka bumbu.

Walau begitu, Anda tetap bisa menikmatinya asal memesan dulu. Sebelum singgah di Sate Pak Siboen, hubungi saja Hj. Srini untuk membuatkannya.

Hanya, pesanannya kudu rada banyak, misalnya 10 porsi. Harganya Rp 7.000 per porsi dan menjadi Rp 10.000 per porsi kalau ditambah nasi.

Sate Ponorogo Pak Siboen buka mulai pukul 12 siang hingga 10 malam. Pengunjung biasanya lebih ramai di malam hari. Kalau kita amati, para pengunjungnya datang dari berbagai kalangan, seperti karyawan, mahasiswa, dan bahkan orang pacaran. Enggak heran, setiap hari, pengunjung melahap sekitar 700 tusuk sate.

Kalau ingin mengadakan pesta di rumah, Anda bisa memboyong kru Pak Siboen. Syaratnya, pembeli kudu memesan paling sedikit 1.000 tusuk. Ini untuk menutupi ongkos yang menggelontor menuju lokasi yang tuju.

Kedai ini menyediakan pula layanan antar seputar Jakarta, Bekasi, dan Depok. “Lebih jauh juga bisa, tapi jumlah pesanannya tentu harus lebih banyak. Makin jauh jaraknya, ongkosnya kan makin mahal, sehingga pesanan harus lebih banyak,” papar Sukamto.

Kini saatnya menyantap sate tanpa takut kolesterol binal.

+++++
Sudah Keluar dari Ponorogo Sejak Tahun 1954

Anda mungkin bingung. Sate ponorogo kok khas Kediri? Begini ceritanya. Pada tahun 1954, anak Pak Siboen, yakni Karto Senen dan Miskan, membuka warung tenda pinggir jalan di Kediri, Jawa Timur.

Mereka meneruskan profesi Pak Siboen yang berjualan di Ponorogo. Tapi, supaya makin mumpuni, keduanya pindah ke Kediri. Maklum, potensi bisnis di Kota Kretek itu lebih luas. Soalnya, di sana masih jarang pedagang sate khas Ponorogo.

Keputusan kakak beradik itu tepat. Warung mereka makin hari bertambah ramai. Pengunjung akhirnya malah mengenal Miskan sebagai Pak Siboen. Lantas, anakanak Karto Senen dan Miskan membuka kedai sate ponorogo dengan merek dagang yang sama, Sate Ponorogo Pak Siboen.

Sekarang, Sate Ponorogo Pak Siboen tersebar di berbagai kota. Di Kediri ada di tiga tempat, Malang 2 tempat, Tulung Agung 1 tempat, dan di Jakarta 1 tempat. Pengelola di Jakarta adalah Hj. Srini, putri Karto Senen. Sedangkan di kota lain dikelola kakak dan sepupunya. Restoran paling besar kini ada di Kediri dan Malang.

Hj. Srini awalnya tidak langsung terjun berjualan sate. Padahal, ia sudah hijrah ke Jakarta sejak tahun 1975 bersama suaminya, Suhardi Basuki.

Dia malah bekerja di apotek. Belakangan, setelah melihat potensi bisnis sate ponorogo masih terbuka lebar di Jakarta, dia pun banting setir. Ia mulai berdagang sate ini sejak tahun 1991. Jelas, ini strategi jitu. Soalnya, penjual sate khas Ponorogo di Kota Jakarta hingga kini terbilang minim.

Awalnya, Srini berjualan di warung tenda di Jalan Jatiwaringin, Jakarta Timur. Seiring makin ramainya pengunjung yang datang, dia lalu pindah ke tempat permanen sejak 2005. Dengan begitu, pengunjung bisa lebih nyaman menyantap sate yang sehat ini.

Sate Ayam Pak Siboen

l. Jatiwaringin No. 18 Jakarta

Timur (depan Swalayan Naga)

Telepon: (021)8463262,081513316101

Yuk, rasakan nikmatnya sajian Kepiting Cak Gundul

No. 4, Tahun XII, Minggu IV Oktober 2007 
Kedai
Akhir bulan lalu, satu lagi kedai seafood hadir di Jakarta. Namanya Kepiting Cak Gundul 1992, mengambil posisi di Kelapa Gading. Sesuai namanya, menu andalan kedai ini berupa olahan kepiting. Hewan bercapit ini diolah menjadi berbagai masakan yang menggugah selera. Mulai dari kepiting asam manis, kepiting bumbu kare, atau kepiting masak mentega.

Di Jakarta boleh newbie, tapi sebenarnya Kepiting Cak Gundul sudah ada di Pandaan, Pasuruan, Jawa Timur sejak tahun 1992. Di tanah kelahirannya itu, Cak Gundul memang sudah terkenal. Coba tanya saja pada setiap orang di Pandaan. Pasti semua akan memberi tahu letak Cak Gundul.

Sebelum ke Jakarta, Cak Gundul sudah melebarkan sayapnya ke Surabaya, tiga tahun yang lalu. Di Surabaya, Kepiting Cak Gundul juga lumayan terkenal. Racikan khasnya membuat orang ingin berkunjung lagi.

Machsun, pemilik kedai Cak Gundul, lalu bercerita. Ia melebarkan sayap ke Jakarta karena banyak pengunjungnya meminta untuk membuka cabang. Sebelum ke Jakarta, ia mempunyai alternatif kota lain, yakni Balikpapan dan Bandung. Lantaran banyak orang Pasuruan, Malang, Surabaya di ibukota, Cak Gundul pun hadir.

Saat mencari lokasi ia mempunyai dua alternatif lokasi, di Cibubur dan di Kelapa Gading. Setelah berkonsultasi dengan istrinya, Machsun kemudian membuka cabang di Kelapa Gading.

Pilihan itu rada aneh, soalnya tempat itu masih sepi. Tapi, Machsun punya alasan lain. Kepiting Cak Gundul sudah cukup punya nama, sehingga di mana pun ia membuka orang akan mencarinya.

Benar saja. Saat beriklan di suratkabar bahwa Cak Gundul hadir di Kelapa Gading, banyak pelanggan yang meneleponnya.

Untuk mendapatkan tempat tersebut, Machsun menyewa ruko Rp 60 juta setahun. Ia menyewanya selama dua tahun.

Tapi, pagi-pagi Machsun mengatakan ke pemilik ruko, kalau kedainya nanti ramai, ia akan membeli ruko tersebut. Karena alasan itu, pemilik ruko memberi potongan harga sewa. “Saya dikasih Rp 40 juta setahun,”ujarnya.

Ruang Cak Gundul Kelapa Gading dapat memuat sekitar 60 tamu. Tapi, jika malam bisa lebih banyak. “Kalau yang di Surabaya bisa 175 orang. Dan, di Pandaan lebih banyak lagi,”ungkapnya.

Bisa 1 ton kepiting/hari

Di kedai ini Anda bisa memilih sendiri kepiting yang Anda inginkan, lalu ditimbang. Dari situ bisa diperkirakan berapa dalam pengunjung mesti merogoh kocek.

Untuk kepiting jumbo atau kepiting jantan Rp 100.000 per kg. Sementara, untuk kepiting kualitas super 1 Rp 90.000 per kg, dan super 2 Rp 80.000 per kg. Nah, untuk jenis full jumbo, yaitu kepiting telur, per kilonya Rp 110.000. Lantaran menggunakan konsep dapur terbuka, pengunjung bisa melihat langsung saat kepiting dibersihkan, diolah, dan kemudian disajikan di meja. Meski mengusung konsep terbuka, Machsun tak ingin pengunjung kedainya terganggu. Anda tak terganggu asap atau kotoran dari masakan.

Untuk rasanya, kepiting olahan Machsun memang istimewa.

Saat mencecap kepiting asam manis, rasa manis nan nikmat sangat mendominasi. Jika tak begitu menyukai rasa manis, Anda bisa berpesan kepada pramusajinya.

Jika menyukai pedas, Anda juga bisa memesan kepiting asam manis yang pedas.

Kepiting bumbu kare juga demikian. Harum bumbu kare langsung menyeruak. Ingat, jangan buruburu menyeruput kuah kare itu, bisa-bisa lidah Anda terbakar.

Tunggu sebentar, lalu seruput pelan- pelan, maka rasa hangat akan langsung menghuni perut Anda.

Saat mencecap kepiting, tak perlu bekerja keras. Soalnya, cangkang kepiting sudah dibuat sedemikian rupa sehingga Anda tidak perlu repot-repot memukul atau menjepit capit tersebut hingga pecah. Juru masak sudah memecah capit agar Anda tinggal membuka, dan nyam…, daging kepiting yang gemuk-gemuk bisa langsung Anda nikmati. Jika Anda tidak menyukai kepiting, pilih saja hidangan laut lain. Misalnya, cumi dan udang yang dimasak asam manis atau mentega.

Juga ada ikan dorang goreng atau bakar asap. Untuk sayurnya ada cah kangkung.

Dalam sehari, ketiga kedai Kepiting Cak Gundul bisa menghabiskan kurang lebih 400 kg kepiting.

Sedangkan saat hari libur bisa menghabiskan sampai 600 kg. “Kalau Lebaran bisa sampai 1 ton,”ucap Machsun.

Untuk memenuhi stok bahan baku, dia sudah punya pemasok khusus yang mendatangkan kepiting tangkapan dari Jawa Timur dan Kalimantan.

Ada satu lagi keistimewaan dari Kepiting Cak Gundul. Yaitu, air masaknya diambil langsung dari Gunung Salak. Tapi, itu hanya untuk kedai di Jakarta dan Surabaya. Sedangkan untuk di Pandaan, Machsun mengambil langsung dari mata air di Pandaan.

Agar tamu mengetahui hal tersebut, Macshun menuliskannya di setiap kedainya. “Mereka akan jadi tahu airnya dari mana,”ujar Machsun.

+++++
Demi Nama, Wajib Cukur Rambut Dua Hari Sekali

Perjuangan Machsun hingga sukses seperti saat ini memang berliku. Ayah dua anak ini mengawali karier di dunia kuliner pada 1989. Saat itu dia membuka warung di Surabaya. Jualannya nasi goreng, ayam goreng, dan sebagainya.

Sampai tiga tahun, warungnya tak ada kemajuan. Orangtuanya lalu minta Machsun pulang ke Pandaan untuk menikah.

Setelah menikah ia mengadu nasib lagi ke Surabaya. Tapi, nasib tetap sama. Warungnya tak mengalami kemajuan dan akhirnya gulung tikar lagi. Namun, ia tak patah semangat. Machsun pulang lagi ke Pandaan dan meminjam perhiasan istrinya untuk dijual.

Hasil penjualan tersebut Rp 600.000. “Yang Rp 400.000 saya ambil buat modal buka warung di Pandaan. Sisanya saya berikan istri saya,”kenangnya.

Tahun 1992, di Pandaan ia kembali membuka warung makan yang menjual berbagai masakan dari kepiting. Selama setahun Machsun belum bisa meraih hasil memuaskan. Ia terus mencoba mencari racikan yang istimewa. Akhirnya, meski lambat, warungnya mulai ramai.

Lantaran banyak tamu yang menanyakan apa nama warungnya, ia mulai berpikir untuk memberi nama. Kepiting Cak Gundul 1992 pun tercipta. Untuk menyesuaikan dengan nama tersebut, ia mencukur habis rambutnya. “Mulai dari itu dua hari sekali saya cukur,”ujar Machsun alias Cak Gundul.

Kepiting Cak Gundul 1992

Pandaan: Jalan Raya Surabaya- Malang km. 48,
Pandaan, Pasuruan.
Telp.: (0343) 639989
Surabaya: Jalan Raya KupangIndah, Surabaya.
Telp.: (031) 7327554
Jakarta: Jalan Raya Boulevard QJ. 1 No. 31 Kelapa Gading
Jakarta Utara.
Telp.: (021) 4535570
 
Print

Acha…, Acha…, Silakan Cicipi si Komala’s

Boleh jadi, belum begitu banyak masyarakat Indonesia yang familier dengan masakan India. Tapi, tak ada salahnya Anda menjajal Komala’s, restoran waralaba dengan masakan khas India yang sudah buka sejak tahun 2004.

Dari penampilannya saja, kita langsung bisa menebak kalau tempat ini berkonsep cepat saji. Inilah yang membedakan Komala’s dari restoran serupa yang kebanyakan berkonsep dine in.

Komala’s sendiri berasal dari India Selatan. Masakannya ratarata berkuah dan tajam akan bumbu rempah-rempah. Seperti cengkeh, lada hitam, bawang bombay, cabai, kacang cikpis, kacang lentil, serta kentang .

Sebagian campuran bumbu masakan itu diimpor langsung dari India Selatan. “Kami menjaga rasa masakan dengan bumbu asli dari daerah sana. Bahkan, untuk jenis roti seperti chappathis dan vadai yang merupakan makanan khas juga diimpor,” kata Asisten Manajer Komala’s Endaiyani.

Selain itu, untuk menjaga rasa dan aroma tradisional India Selatan pada makanannya, Komala’s mengalasi produk makanan mereka dengan daun pisang.

Menu jagoan restoran ini adalah South Indian thali meal, masala dasai, dan chicken curry parrota plate. Mari kita kupas menu tersebut satu per satu.

South Indian thali meal adalah menu yang ramai akan sajian. Bayangkan saja, dalam satu baki terdapat satu porsi nasi putih, dua helai roti chappathis (roti berbentuk lembaran), satu mangkuk rasam, dan tiga mangkuk sayur.

Sayurannya terdiri dari campuran buncis, wortel, kembang kol, kentang, dan sedikit susu. Kemudian ada satu mangkuk yellow dal, yaitu campuran kentang dan kacang lentil yang sangat kental, plus satu mangkuk curryyal yang juga berbahan dasar kentang, satu mangkuk sambar, yaitu paduan bawang merah, kentang, cabe bulat, dan kacang panjang. Lalu, masih ada satu mangkuk pickle, yaitu seperti sambal mangga muda, satu mangkuk yoghurt, dan satu gelas butter milk.

Yang rada unik adalah rasa butter milk. Mirip wedang jahe. Namun, jahe pada minuman ini dicampur dengan yoghurt kental, cabe, garam, dan tidak ketinggalan ada bumbu rempah-rempahnya. Wah, kenyang banget, deh. Satu paket South Indian thali meal yang bejibun ini harganya Rp 49.900 saja.

Adapun masala dasai adalah sajian gulungan roti besar yang berisi campuran kentang halus, cabe hijau, dan sayuran disertai dua jenis saus, yaitu saus coconuts dan union chutney. Saus coconut merupakan santan yang dikentalkan, sedangkan union chutney adalah sambar. Satu porsi masala dasai ini cukup seharga Rp 27.000.

Ada pula menu dariChina dan Timur Tengah

Sementara itu, chicken curry parrota adalah sajian ayam yang disuwir-suwir dalam lembaran roti. Untuk menemani roti ini, ada satu mangkuk sup yang juga berbumbu kari ayam. Chicken curry parrota ini bisa Anda cicipi hanya dengan membayar Rp 32.727.

Cara makan dari tiap hidangan restoran India ini bebas saja, tergantung selera masing-masing. Tapi kebanyakan, sih, dengan cara mencocol langsung ke masing- masing sajian.

Soal rasa, tentu berbeda meski terkadang ada kemiripannya sedikit. Maklum, bumbu dasar yang dipergunakan sering sama. Yang pasti, dalam kecapan lidah adarasa bumbu kari.

Menurut Endai, untuk South Indian thali meal bisa tandas 80 porsi per hari. Di akhir pekan bisa mencapai 120 porsi. Untuk menu masala dasai, di hari biasa bisa habis hingga 100 porsi dan akhir pekan 130 porsi. Sedangkan, chicken curry parrota di hari kerja habis 60 porsi, dan akhir pekan bisa sampai 80 porsi.

Meski Komala’s berjargon real Indian real taste, restoran ini juga menyediakan makanan negara lain yang sudah familier bagi lidah masyarakat Indonesia. Sebut saja makanan dari Timur Tengah, yaitu nasi kebuli, maupun masakan dari China. La, kok bisa ada di sini? “Tujuannya supaya orang Indonesia juga bisa memilih makanan yang mereka sudah tahu,” ujar Endai. Ini untuk menampung pengunjung yang tidak tertarik makanan khas India.

Menurut Endai, rasa masakan non-India itu tak kalah sedapnya. Coba saja Anda bandingkan dengan restoran lainnya yang menyediakan makanan utama nasi kebuli atau masakan dari China. “Sebab, koki di restoran Komala’s ini merupakan koki dengan keahlian memasak mancanegara,” kata Endai.

Harga sajian yang berkisar antara Rp 20.000-Rp 50.000 memang cukup terjangkau bagi masyarakat Indonesia. Dengan harga segitu, plus masakan seabrek-abrek, dalam sehari ada sekitar 100 pengunjung yang datang ke Komala’s. Persentasenya 60% orang India dan sisanya non-India. Yang non-India ini umumnya orang kita, termasuk keturunan China.

Oh, ya, hidangan Komala’s berupa sajian vegetarian. Jadi meski memajang nama ayam atau kambing di daftar menu, semuanya berupa daging palsu yang terbuatdari kacang kedelai.

+++++
Semua Berbahan Tumbuh-tumbuhan

Sejak awal berdirinya, sewaktu Komala’s berwujud tempat makan di salah satu sudut perkampungan di India Selatan, kedai ini sudah memproklamirkan diri sebagai kedai dengan makanan vegetarian.

Alhasil, ketika Komala’s kemudian buka di Singapura dan menawarkan waralaba hingga ke Filipina, Malaysia, Thailand, Kanada, Amerika Serikat, dan Indonesia, sajian vegetarian tetap menempel pada restoran tersebut.

Tak usah heran, meski makanan yang tampil adalah makanan dengan nama nasi kebuli kambing, nasi kebuli ayam, chicken curry parrota plate, chicken Manchurian rice plate, chicken Manchurian served with rice, dan panner manchurian/ noodle plate, semua masakan tersebut sama sekali tidak berbahan daging. Semua masakan ini justru berasal dari bahan baku tumbuh-tumbuhan yang diolah menjadi bahan pangan tertentu.

Lihat saja, untuk bentuk daging ayam, biasanya manajemen Komala’s menyiasatinya dengan membentuk terigu atau soya bean (kacang kedelai) yang diberi bumbu khusus dengan aroma daging. Bentuk terigu ini biasanya akan dibikin mirip dengan bentuk daging ayam.

Untuk daging burger, biasanyadibentuk dari keju tawar yang diberi bumbu-bumbu manchuria. Sehat dan nikmat.

Komala’s Restaurants
Real Indian Real Taste
Sarinah Building
Jl. M.H. Thamrin No. 11, Jakarta.
Telepon: (021) 3903533.
 
Print

Mari, Mondok Sebentardi Pondok Seafood

Nah, bagaimana bila Anda disodori ikan baronang dan ikan bawal dengan bumbu rica-rica maupun saus pedas oleh Pondok Seafood? Andapasti tak akan menolaknya. Apalagi bila keduanya dimasak oleh tangan-tangan yang tahu persis bumbu ikan khas Makassar. “Di mana-mana terkenal, seafood enak itu olahan khas Makassar,†klaim Rudi Loangadi, Manajer Operasional Pondok Seafood.
Hanya, di kedai ini Anda tak mendapatkan olahan khas Makassar 100%. Soalnya, sudah dimodifikasi sesuai lidah orang-orang yang bermukim di Jakarta. Inilah salah satu strategi Rudi agar masakannya diterima oleh orangorang seantero Jakarta.

Di kedai ini Anda bisa memilih aneka seafood. Anda pun bisa memilih Pondok Seafood yang ada di Casablanca, atau cabang di Kemang, BSD, dan Cibubur.

Tahu sendiri, olahan tangkapan laut tak jauh dari kepiting, ikan, udang, dan cumi. Selebihnya diolah dengan saus pedas, lada hitam, saus tiram, goreng pedas, asam manis, goreng tepung, dan bakar rica. Di Pondok Seafood ini jagoannya ikan baronang bakar rica dan bawal goreng pedas.

Kalau mau yang lain, kedai ini juga menyajikan kerapu bakar rica, kepiting saus pedas, kepiting lada hitam, kepiting saus tiram, gurami goreng asam manis, udang galah bakar, udang pancet bakar, cumi goreng tepung, dan masih banyak sajian laut lainnya.

Sedapnya baronang rica

Sembari menunggu ikan baronang bakar rica dan bawal goreng pedas, Anda bisa memesan otakotak Makassar. Tak berbeda dengan otak-otak yang biasa dijumpai di mana pun di Jakarta. Otakotaknya dibungkus dengan daun pisang dan dibakar di api yang kecil. Aroma yang menyeruak dari otak-otak ini akan merangsang indra pencium dan memerintah indra pengecap menjajalnya.

Yang istimewa, otak-otak di kedai ini berasal dari Makassar. “Bentuknya boleh sama dengan yang ada di sini, tetapi lebih gurih, lebih terasa ikannya, dan lebih kenyal,†kata Rudi.

Tapi, otak-otak di kedai ini sungguh nikmat dan tak bisa tergantikan. Tak usah heran, seminggu Rudi bisa menghabiskan 2.000- 3.000 bungkus otak-otak.

Rudi pernah menjajal membikin otak-otak dari tengiri dengan resep ala Makassar. “Tapi, rasanya kurang pas,†kata dia. Akhirnya, ia memilih untuk mengambil dari Makassar saja, kendati ongkosnya sedikit lebih mahal lantaran harus dikirim lewat udara.

Kalau sudah sedikit terganjal dengan otak-otak, bolehlah Anda mulai menikmati ikan baronang bakar rica dan bawal goreng pedas. Keduanya disajikan dalam ukuran piring sedang dengan hiasan irisan selada, mentimun, dan tomat yang sederhana.

Kalau Anda pesan keduanya, baiknya mencicipi ikan bawal goreng pedas lebih dahulu. Ikan ini digoreng garing dan dibumbui kecap manis. Irisan cabe berikut biji cabe berenang di antara kuah kecap manis tersebut.

Bumbu manis dari kecap ini cukup meresap ke dalam ikan bawal. Dus, rasa manis juga sedikit menyeruak dari daging ikan bawal. Tapi, jangan khawatir bila Anda tak suka manis. Imbangi saja dengan irisan cabe yang agak nyelekit.

Cuma, tentu saja lebih nendang pedasnya ikan baronang bakar rica. Lihat saja irisan kasar cabe merah yang dihaluskan bersama dengan tomat, bawang putih, dan kemangi menutupi ikan baronang yang dibakar. Badan ikan baronang nyaris tak terlihat lantaran racikan bumbu pedas yang menghampar di atasnya.

Coba cuil ikan baronang itu dan jangan lupa membawa serta sambal pedasnya. Rasanya lidah seperti kena tendang David Beckham. Mantap surantap!

Selain otak-otak, Rudi tidak mengangkut satu material pun dari seberang lautan. Semua jenis tangkapan laut dan bumbu-bumbunya sudah tersedia di Jakarta.

Suatu hari, permintaan kepiting cukup tinggi. Rudi tak membiarkan kosong begitu saja. Dengan sigap ia memasok kepiting langsung dari Timika maupun Sulawesi.

“Sesungguhnya kepiting dari dua daerah itu lebih padat dagingnya dan lebih gurih,†ujar Rudi.

Namun, mendatangkan kepiting dari luar Jawa ini tidak setiap saat. Hanya kalau Jakarta kehabisan stok saja.

Sayang, Rudi tak bisa menghitung banyaknya ikan yang ludesdari akuarium setiap harinya. Untuk gambaran saja, di kedai Casablanca, Rudi mampu menghabiskan beras sekitar 50 kg per hari. Di BSD, berlipat dua kalinya.

Nah, barangkali Anda bisa menghitung berapa porsi ikan yang dibakar maupun digoreng Rudi.

Berapa harganya? Ikan baronang Rp 14.500 per ons. Rata-rata, 1 ekor berbobot 3 ons-4 ons. Ikan bawal putih beratnya sekitar 4 ons-5 ons dengan takaran Rp 17.500 per ons. Kangkung cah polos Rp 12.500. Nasi putih seporsi Rp 5.000 dan es jeruk Rp 7.500.

Maka, seporsi baronang bakar rica-rica, ikan bawal putih goreng, plus kangkung cah polos dengan satu nasi dan tiga air jeruk, bakal menggerus kocek Anda tak lebih dari Rp 200.000.

Cocok harganya? Nah, mondoklah ke Pondok Seafood itu

+++++
Sebaiknya Pesan Tempat Dahulu

Perjalanan Rudi Loangadi, Manajer Operasional Pondok Seafood, membesarkan kedai ini memang tidak mudah. Meski terbilang dimodali, namun usahanya terbilang berjalan mulus. Tahun lalu, pada bulan Februari, ia membuka gerai pertama di Casablanca. Lima bulan sesudahnya, ia berekspansi membuka cabang pertama di Kemang.

Tak kapok mengelola dua gerai, Rudi sudah membiakkannya lagi di kawasan Cibubur di bulan Oktober tahun yang sama. Bulan Mei 2007 lalu, ia membuka cabangnya yang ketiga di BSD. “Banyak orang suka makan seafood karena lebih aman ketimbang jenis protein lainnya,†tutur Rudi.

Gerai pertama yang dibuka Rudi di Casablanca tidak langsung besar. Ruangannya pun hanya muat untuk 70 orang.

Tahu pelanggannya yang datang kian menggemuk, Rudi pun berinisiatif untuk membesarkan ruangan dengan menambah di bagian samping. Kini ruangannya muat mencapai 108 orang.

Muatan yang sama ada di gerainya di Kemang. Sementara itu, Cibubur mampu menampung hingga 170 orang dan BSD hampir dua kali lipatnya, yaitu 300 orang.

“Banyak orang datang, hingga antre!†cetus Rudi. Pada hari biasa, tingkat kunjungan ke kedai yang dikelola Rudi ini mencapai 70%- 80%. Kalau di ujung minggu, bisa penuh total hingga harus masuk waiting list.

Biar tak terjebak dalam antrean panjang, lebih baik telepon untuk pesan tempat terlebih dahulu sebelum datang ke Pondok Seafood.

Dengan begitu, datang sudah pasti dapat tempat duduk.

Biarpun Harganya Murah,Rasanya Tidak Murahan

Salah satu kiblat nasi uduk di Jakarta, ya di Kebon Kacang. Tapi, jangan salah icip. Kalau memang ingin mencoba nasi uduk kebon kacang beneran, harusnya ya nasi hasil racikan keturunan lima orang jagoan peracik bumbu nasi uduk kebon kacang.
Legenda jagoan peracik bumbu nasi uduk di bilangan ini antara lain Hamid, Haji Saman, Popol, dan Haji Edy. Jadi, dari keturunan lima orang ini nasi uduk kebon kacang dinilai asli.

“Sekarang banyak yang bawa nama Kebon Kacang, tapi tidak ada garis turunan dari lima orang ini,” kata Totok Isdarto, suami Hajah Ellya, pemilik Kedai Ayam Goreng dan Nasi Uduk Hj. Ellya, di Pesanggrahan, Kembangan, Jakarta Barat.

Kedai ini boleh dibilang asli Kebon Kacang. Lihat saja, pengelolanya adalah Rahmat, yang merupakan anak Hamid. Sementara itu, Hj. Ellya sendiri adalah kakak ipar Rahmat.

Kedai nasi uduk ini mulai berdiri sejak enam tahun silam. Rasa k h a s nasi uduk kebon kacang ada di sini. Mulai dari rasa gurih santan kelapa sampai kekuatan rempah-rempah yang terdiri dari daun salam, daun jeruk, serai, dan cengkeh. Jadi rasanya? Yummy, pokoknya te-o-pe, dah.

Cara penyajian nasi uduk Hj. Ellya berbeda dengan yang lain. Di sini para pengunjung menerima sajian nasi uduk dalam keadaan panas. Nasi uduk itu lalu dibungkus dalam wadah daun pisang yang dilipat berbentuk limas. Di atas nasi ini ditaburi bawang merah goreng. “Warung yang lain kan menyajikan nasi dalam keadaan dingin. Rasa dan aromanya sudah berbeda,” kata Totok.
Sudah ekspor, lo
Menurut pengusaha yang juga berprofesi sebagai PNS di Badan Pertanahan Nasional (BPN) ini, rasa dan aroma nasi uduk akan lebih enak jika dalam kondisi panas.

Maka, beras yang dimasak tidak langsung dalam keadaan matang, tapi dibiarkan dalam kondisi aronan. Setelah ada pelanggan yang memesan, baru aronan ini dikukus kembali.

Totok juga emoh memasukkan ke alat penghangat nasi. “Nanti nasinya jadi merah, enggak bagus. Lagi pula harumnya enggak sama,” papar Totok, “Kami juga musuhan sama AC. Kita pakai kipas angin saja, biar alami dan nasi uduk enggak cepat dingin.”

Teman nasi uduk Hj. Ellya terbilang cukup banyak. Comot saja, dah. Ada ayam goreng, jeroan ayam (rempela, ati, jantung, dan usus ayam), jeroan sapi (iso, babat, paru), empal, udang goreng, tahu tempe goreng, lalapan dan pete, serta sayur asem.

Bahkan, menu tambahan seperti sambal dan kerupuk tersedia dalam beberapa pilihan. Untuk sambal, ada tiga jenis. Yaitu, sambal kacang kental, sambal kacang encer, dan sambal terasi. Kalau mau tambah seru, ambil saja kerupuk biasa ataupun emping.

Setiap hari pengunjung yang datang jumlahnya hampir ratusan orang. Sehingga, Totok harus memasak 70 liter beras, dan ini ludes. Bahkan, pada hari libur, kedai ini biasa memasak hingga 1 kuintal yang menghasilkan 3.000 bungkus nasi uduk.

Selain itu, kedai Hj. Ellya menghabiskan 175 ekor ayam pada kondisi hari biasa dan 250 ekor ayam dalam kondisi hari libur. Untuk empal, di hari biasa menghabiskan 20 kg dan di hari libur setidaknya 30 kg.

Harga nasi uduk di Kedai Hj. Ellya ini cukup terjangkau kantong. Satu bungkus nasi uduk dihargai Rp 2.000, satu potong ayam goreng (dada atau paha) harganya Rp 7.500, satu potong tahu atau tempe goreng Rp 2.000, dan satu tusuk empal goreng Rp 8.500.

Kendati murah, rasanya tidak murahan, lo. Selain itu Totok juga menjaga kebersihan dengan ketat. “Dua hal itu yang terus kami jaga,” ujar Totok.

Kalau Anda tidak berniat memakan makanan berat, di kedai Hj. Ellya juga tersedia penganan ringan, yang cukup mengenyangkan. Tengok saja asinan betawi yang katanya juga khas dari Kebon Kacang.

Asinan yang bahan utamanya sayuran seperti kol mentah, toge mentah, sawi asin, dan campuran kacang goreng serta kerupuk mie ini lumayan segar, lo. Dan, harga untuk satu porsinya enggak mahal, kok, cuma Rp 6.000.

Saking enaknya, pelanggan yang menyambangi Kedai Ayam Goreng dan Nasi Uduk Hj. Ellya ini ternyata tidak hanya berasal dari sekitar Pesanggrahan atau Kembangan, tapi juga merambah sampai ke daerah Cinere, dan bahkan hingga Banten.

Malah, ada orang bule yang berlangganan nasi uduk Hj. Ellya.

Biasanya para mister ini memesan nasi uduk 250 hingga 300 bungkus dalam keadaan aronan lalu disimpan di penghangat. Selanjutnya nasi uduk ini terbang ke Australia, Singapura, dan India.

+++++
Tak Akan Buka Cabang atau Waralaba

Berbeda dengan nasi uduk kebon kacang lainnya yang ketika sudah ramai langsung menawarkan diri untuk membuka cabang atau waralaba, Kedai Ayam Goreng dan Nasi Uduk Hj. Ellya ini justru menyatakan tidak akan melakukan hal tersebut. Tujuannya apalagi kalau bukan demi menjaga dan meningkatkan kualitas serta layanan kedai.

“Kalau membuka cabang atau waralaba sama saja bunuh diri. Sebab, banyak yang enggak menjaga kualitas makanan. Akhirnya brand yang sudah kita bangun capek- capek malah rusak,” kata Totok Isdarto, suami Hj. Ellya.

Toto tak asal goblek. Ia menceritakan salah seorang saudaranya yang membuka nasi uduk. Pengunjungnya bejibun. Ia lalu membuka cabang atau waralaba di beberapa tempat.

Rupanya, para pemilik warung kurang menjaga kualitas. Misalnya, para koki yang dipercaya mengelola makanan dan para pelayan tidak meracik makanan dan menjaga layanan secara baik. Secara bertahap rasa nasi uduk berkurang dan mengakibatkan para pengunjung lari mencari alternatif makan yang lain. Nah, jika berada di satu tempat seperti yang saat ini dikelola oleh Totok, pengawasan atas pelayanan kedai akan tetap terjaga. Karena, semuanya terlihat.

Bahkan, demi menjaga kualitas, setiap satu bulan sekali Totok mencoba nasi uduk yang dimasak oleh kokinya. Jika rasa nasi uduk berubah karena bumbu atau santan yang dimasak tidak pas, Totok akan menginstruksikan kokinya untuk memasak ulang nasi uduk yang mau dihidangkan itu.

Meski demikian, bila Kedai Ayam Goreng dan Nasi Uduk Hj. Ellya pada akhirnya akan membuka cabang atau waralaba, kedai itu harus dikelola oleh anak atau saudara dekatnya sendiri. Tujuannya agar bisa mengelola dengan bertanggungjawab amanah para leluhur mereka.

Kedai Ayam Goreng dan NasiUduk Kebon Kacang Hj. Ellya

Jalan Pesanggrahan/Kembangan,
Jakarta Barat.
Telepon: (021) 70978034