Rasanya Garangdan Bikin Kesengsem

Saat capek bekerja, nikmat rasanya jika rehat sebentar sembari menghabiskan makan siang dengan santapan berkuah dan menyegarkan. Banyak pilihannya: ada sop, sayur asem, soto, atau garang asem. Untuk sop, sayur asem, atau soto mungkin Anda sudah bosan. Nah, tidak ada salahnya jika Anda mencoba mencicipi garang asem. Garang asem ini dominan dengan wujud daun pisang dan belimbing wuluh (belimbing sayur).

Istilah garang asem ini terdiri dari dua kata, yakni garang yang berarti pedas dan asem yang merupakan campuran rasa kecut dan manis. Biasanya, orang mengolah ayam untuk sajian garang asem.

Tapi, ada pula garang asem yang dibikin dari daging sapi.

Di bilangan Manggarai, ada warung makan yang menyajikan santapan nikmat ini. Namanya Soto Kudus Asri. Warung ini terletak di belakang Pasaraya Manggarai, tepatnya di Jalan Padang Panjang, sebelah SPBU. Seperti yang lain, di Asri ini soto kudus-nya tersaji dengan mangkuk kecil.

Saat menyeruput kuahnya, rasa segar langsung menyeruak di rongga mulut. Jika ingin menambah kesegaran, Anda tinggal membubuhinya dengan perasan jeruk nipis yang tersedia di meja.

Taburan bawang putih yang digoreng garing menambah nikmat hidangan khas Jawa ini.

Jika lapar berat, semangkok soto kudus memang belum bisa memuaskan perut. Jika tak ingin menyantap soto lagi, Anda bisa memesan garang asem.

Ini adalah menu spesial di Soto Kudus Asri. Menurut Alfi ah, sang pemilik warung, selain soto kudus, garang asem buatannya juga sering dipesan pelanggan kedainya.

“Ini garang asem versi Kudus, lo.” ungkapnya berpromosi. Maklum, garang asem ini banyak sekali versinya (lihat boks: Satu Nama Banyak Versi).

Garang asem versi Kudus ini juga memakai daun pisang dan belimbing sayur. Jika mencicipi garang asem versi Kudus buatan tangan Alfiah, Anda pasti tidak akan berhenti pada suapan pertama.

Soalnya, spektrum rasa asem yang keluar dari belimbing sayur larut bercampur dengan pedas dari irisan cabe rawit. Alhasil, rasa segar akan dapat Anda nikmati sampai suapan terakhir.

Saat masuk ke dalam mulut, daging ayam tersebut langsung melorot dari tulangnya, “Ini memakai ayam negeri, jadi enggak alot kayak ayam kampung,” ungkap Alfi ah.

Sudah punya cabang di Kalibata

Alfi ah membocorkan rahasia bumbu dan cara pengolahan yang merupakan warisan keluarga.

Pertama, ayam yang sudah dipotong- potong dicampur dengan irisan belimbing sayur, tomat hijau, daun serai, bawang putih, bawang merah, cabe hijau, dan cabe rawit merah. Kemudian, semuanya dimasukkan ke dalam plastikdan ditambah dengan sedikit air. Sehabis itu baru dibungkus dengan daun pisang.

Setelah semuanya siap, Alfi ah lalu mengukusnya selama setengah jam. “Ngukus-nya jangan lama-lama biar ayamnya enggak hancur,” katanya. Setelah daun pisang kelihatan layu, api kompor ia kecilkan untuk menjaga agar garang asem tetap hangat.

Jika pelanggan kedai Asri siap menikmatinya, garang asem itu tinggal dia angkat dari kukusan; lantas dibuka. Maka, daun pisang yang semula berfungsi sebagai bungkus tadi akan berubah fungsi menjadi alas piring.

Ritual selanjutnya, garang asem dituang di atas daun pisang dan siap dihidangkan. Dalam setiap porsi, Alfi ah menyajikan 5 potong daging ayam dengan potongan sebesar bungkus korek api.

Jika daging ayam garang asem yang ada di piring sudah habis, tapi masih ada sisa kuah garang asem, Anda bisa mencomot otak sapi, ati ampela, atau sate paru sebagai gong buat menghabiskan kuah garang asem itu.

Untuk seporsi, Alfi ah menghargai garang asemnya Rp 9.500 saja.

Untuk soto, Anda hanya perlu merogoh kocek Rp 6.500. Untuk otak sapi, ati ampela, dan juga sate paru Anda hanya perlu mengeluarkan Rp 3.000.

Setiap hari Alfi ah menyiapkan sekitar 20 ekor ayam atau setara 20 kilogram buat memasak garang asem. “Satu porsi biasanya seperempat kilo,” ungkapnya.

Nah, berapa, ya, omzet yang didapat Alfi ah. Sayang, ia mengaku tak punya hitungan pasti. “Enggak tentu, sih, namanya juga warung kecil.” katanya merendah.

Meski begitu, Asri sudah membuka cabang di depan Stasiun Kalibata. “Itu yang mengelola suami saya,” ungkap Alfi ah.

Asal-muasal Alfiah membuka warung soto dan garang asem di Manggarai karena ia meneruskan usaha dari kakaknya 3 tahun yang lalu. Saat pertama mengambil alih, warung tersebut sangat sepi.

Waktu itu, Alfi ah hanya menyiapkan 5 ekor ayam dalam sehari untuk garang asem dan juga soto. “Itu pun kadang enggak habis semua,.” tuturnya.

Lambat tapi pasti, orang-orang mulai banyak yang datang ke warungnya untuk mencari garang asem. Maklum, di Jakarta ini jarang bisa ditemui warung yang menyediakan soto kudus plus garang asem khas Kudus.

Dari cerita mulut ke mulut, warung makan Alfi ah mulai ramai.

Banyak yang datang dari jauh, seperti Bekasi atau Tangerang, hanya untuk menikmati soto kudus atau garang asem racikannya. “Sekarang banyak yang jadi langganan,” katanya.

Kedai Asri menempati lahan 5 meter x 5 meter saja. Di dalamnya terdapat 3 meja panjang dan kursi plastik yang bisa memuat sekitar 25 orang. Alfiah membuka warungnya dari pukul 7 pagi sampai jam 9 malam. “Ramainya pas jam makan siang,” kata Alfiah. Jadi, bersiaplah antre.

+++++
Satu Nama Banyak Versi

Ternyata tidak hanya lagu Indonesia Raya yang punya banyak versi. Untuk urusan ini, garang asem juga mempunyai beberapa versi. Yang paling terkenal adalah garang asem versi Kudus.

Garang asem ini berisi potongan ayam atau bisa juga diganti dengan jeroan ayam yang dibungkus dengan daun pisang. Menyertai daging ayam di dalam bungkusan tersebut biasanya hadir juga irisan cabe rawit dan juga irisan belimbing sayur. Kadang-kadang jika sukar mencari belimbing sayur, maka diganti dengan tomat hijau.

Yang mirip dengan garang asem versi Kudus adalah garang asem versi Yogyakarta dan versi Solo.

Perbedaannya, garang asem versi Jogja atau Solo itu ditambah dengan santan cair. Santan ini berfungsi memperkuat rasa gurih dalam garang asem.

Tapi, pada versi Kudus, gurih yang dihadirkan hanya berasal dari kaldu ayam. Kadang, untuk versi Jogja atau Solo, potongan daging ayam diganti dengan potongan daging sapi.

Versi lain adalah versi Pekalongan. Garang asem versi Pekalongan ini mempunyai komposisi yang sangat berbeda dengan versi Kudus, Jogja, maupun Solo, meskipun elemen utamanya sama, yaitu daging sapi. Garang asem versi Pekalongan ini malah mirip dengan rawon dari Jawa Timur.

Warna hitam yang berasal dari keluwak (pucung) mendominasi tampang garang asem versi Pekalongan.

Perbedaannya, jika rawon disajikan dengan toge mentah dan telur asin, sedangkan garang asem ala Pekalongan tanpa tambahan aksesori apa pun.

Masih ada satu lagi, yaitu garang asem versi Tuban, Jawa Timur. Garang asem ini tidak memakai potongan daging ayam atau sapi, tapi menggunakan ikan laut. Cita rasa yang dihadirkan mirip dengan mangut, karena memang bumbu yang dipakai sama. Beda keduanya, di garang asem ala Tuban ini ada tambahan rasa asam.

SOTO KUDUS ASRI
Jalan Padang Panjang,
Manggarai, Jakarta Selatan.
(Sebelah SPBU Padang Panjang)

Advertisements

Rek, Ayo Rek, Ojo Lalinang Saharjo

Bulan Mei lalu, milis Jalansutra hiruk-pikuk oleh perbincangan mengenai tahu tek, tahu campur, maupun tahu telur. Semuanya itu merupakan makanan khas Lamongan, Jawa Timur. Obrolan seru ini juga menjurus ke menu khas Jawa Timur lainnya. Seperti rawon, lontong balap, bebek goreng, rujak cingur, dan tahu lontong.

Pembicaraan ini bukan yang pertama kali. November tahun silam, isu serupa juga sempat mencuat, mencari rekomendasi kedai tahu campur paling wuenak di Jakarta.

Untungnya, para penduduk Jakarta tak perlu khawatir soal makanan. Kedai, warung, restoran bisa Anda jumpai nyaris di setiap jalanan Jakarta dan sekitarnya. Jadi, kalau cuma kangen masakan khas daerah, itu sih gampang. Tinggal pasang mata saja, caricari di sepanjang jalan.

Beberapa anggota milis Jalansutra kemudian menyebutkan jagoan mereka. Tentu saja, sesuai dengan standar lidah mereka yang sangat Jawa Timur. Ada yang menyebutkan kedai yang enak bilangan Lebak Bulus.

Ada juga yang menunjuk kedai serupa di Cilandak, persis di depan gedung Trakindo. Ada juga yang menjagokan kedai kawasan Fatmawati, di seberang RS Fatmawati. Masih ada lagi yang merekomendasikan tahu campur di Jalan Arteri Pondok Indah.

Kini, ada satu lagi yang layak menjadi rujukan bila selera tengah mengguggah untuk mencecap makanan ini, yaitu di Jalan Saharjo, kawasan Tebet. Letaknya 25 meter dari restoran cepat saji McDonalds menuju Pancoran.

Kedai ini milik Nur Fadhlan, yang kerap dipanggil Bejo. Kalau Anda pernah menyambangi warung tahu campur milik Bu Joko di Jalan Arteri Pondok Indah, kedai milik Bejo ini masih bertalian darah dengannya.

Bedanya, penataan meja di warung tahu campur di Jalan Arteri Pondok Indah ini memanjang mengelilingi pikulan si penjual. Ada kursi plastik melengkapi meja panjang yang ditutup plastik merah itu (KONTAN No. 25 Tahun VIII, 29 Maret 2004, Campur Baur ala Jawa Timur).

Olahan resep si Bejo

Sesuai dengan namanya, Bejo mencoba peruntungannya dengan membuka kedai Ojo Lali. Modalnya Rp 6 juta.

Selain menguras tabungannya sendiri, ia sempat menjual gerobak makanannya plus perhiasan istrinya. Waktu berdiri tahun 2001, lahannya masih secuil, panjangnya 8 meter. Sekarang? 12 meter.

Buka pertama, menu andalannya justru soto ambengan. Setahun sesudahnya, ia mulai meracik tahu campur. Seperti tahu campur kebanyakan, racikannya berupa tahu goreng, mi basah, daun selada, irisan perkedel singkong, dan toge yang disiram kuah kaldu urat dan lemak sapi yang panas.

Sebelum disiram kuah, campuran tahu dan mi itu terlebih dulu dibubuhi sambal petis. Nah, olahan petis Bejo inilah yang membuat tahu campurnya berbeda dengan kedai lainnya. Rasanya lebih nabok, Rek!

Konsorsium tahu goreng yang gurih, kriukan daun selada segar, urat sapi yang kenyal di mulut, serta selingan rasa tajam petis menjadikan suapan hidangan ini pas di lidah. Nyamm…

Rahasianya? Ya kuah ini. “Merawat kuah tahu campur seperti merawat bayi,” katanya. Bila kuah yang sudah adem diaduk dengan irus atau pengaduk kayu, maka keesokan harinya kuah itu akan basi dan tidak bisa dimasak lagi. Rahasia lain ada di petisnya.

Bejo tak berani mencampur petis dengan ramuan palsu yang membikin citarasanya hilang. Setiap bulan, ia menghabiskan sedikitnya 2 kuintal petis. Padahal, pas awal buka, ia hanya mampu menghabiskan sepersepuluhnya.

Petis ini ia usung langsung dari Surabaya. Biar KONTAN percaya, ia memamerkan struk pengirimannya. Benar, dari Surabaya.

Material lain yang ia angkut dari kota asalnya adalah gula merah sebanyak 50 kilogram per bulan. Katanya, gula merah Jakarta tak sesedap Surabaya.

Pernak-pernik lain tahu campur seperti mi, toge, urat, selada dan lontong, ia beli di Pasar Minggu. Demi mencari kualitas bagus, ia ke pasar sejak jam 2 pagi saban hari.

Setiap hari Bejo menghabiskan urat 12 kg dan daging untuk rawon 2 kg. Selain itu, masih membutuhkan 400 biji tahu per hari dengan lontong 3 kg.

Habis sebanyak ini, rasa tahu campurnya bagaimana? Segar.

Bejo sudah menakar banyak sedikitnya petis yang ia selipkan di dasar piring. Rasa petis dalam kuah sapinya ini yang membikin tahu campurnya semakin nabok.

Maklum, ia mengolah petis ini dengan resep pribadinya. Urat yang ada di piring juga empuk. Bejo bisa dengan begitu cepat merebus urat ini. Rahasianya, mencampurkan urat dengan daun bawang yang dicacah halus.

Hasilnya jelas, matang lebih cepat dengan hasil yang lebih empuk. Kedai ini buka dari pukul 16.30 hingga 23.30 WIB. Kalau Anda makan di sini, dompet Anda mengempis Rp 6.000 per porsi. Harga ini berlaku untuk tahu tek, tahu campur, tahu telur, soto, dan rawon. Siapa mau?

+++++
Digembleng Sejak Usia 12 Tahun

Nur Fadhlan tak pernah menyangka kedai yang ia bikin bisa mengumpulkan sebegitu banyaknya orang Jawa Timur yang ada di Jakarta. “Dulu itu cuma impian saja,” kata Nur, yang akrab dipanggil Bejo.

Dalam diri Bejo menitis darah pedagang makanan yang merupakan warisan dari orangtuanya. Di Surabaya, keluarga besarnya berjualan makanan khas kampung halamannya, Lamongan. Makanan ini lebih tradisional ketimbang makanan yang ia sajikan di Jakarta. Kakaknya berdagang makanan sejenis dengan pikulan.

Tapi, perjalanan Bejo mencapai kedai yang 95% pengunjungnya adalah orang Jawa Timur tidak sederhana. Bahkan, modal membikin kedai ini ia kumpulkan sejak menjadi karyawan di warung pecel lele pada tahun 1998.

Setahun sesudahnya, ia membuka kedai gerobakan milik sendiri di Gandaria. Menunya sesuai keahliannya, yaitu tahu campur, tahu telur, dan tahu tek. Mencoba mencari permodalan yang lebih kuat, ia pun menutup kedainya di Gandaria dan berkongsi dengan pengusaha untuk membuka kedai serupa di bilangan Depok.

Dimodali oleh orang lain tak juga membuatnya leluasa bergerak.

Ia kembali menutup kedainya di Depok, dan membuka kedai Ojo Lali di Saharjo, Tebet tahun 2001. Di sini Bejo malah tidak mengawali dengan membikin tahu campur, melainkan dengan menu soto ambengan. Setelah mantap dengan menu ini, ia mulai membikin tahu campur yang kemudian dijadikan sebagai menu andalannya.

Cerita kelezatan beragam masakan khas Jawa Timur yang diusung Bejo di kedainya pun menular.

Perlahan, bukan cuma arek-arek Surabaya saja yang menyambangi kedainya, tapi juga yang penasaran dengan menu khas Lamongan ini.

“Saya sudah digembleng membikin tahu campur sejak usia 12 tahun,” katanya. Uh, pantas.

Tahu Campur Ojo Lali
Jl. Saharjo, Tebet (25 meter dari
McDonalds ke arah Pancoran)
Telepon: (021) 79182753

Ini Dia Hasil Kawin SilangKambing dengan Sepeda

Bagaimana hasilnya bila seekor kambing dikawinkan dengan satu unit sepeda? Hush! jangan berpikir yang tidaktidak. Kalau Anda bertandang ke Pasar Jejeran, Wonokromo, Plered, Bantul, Jogja, Anda akan menemukan hasil perkawinan silang itu, yaitu sate klatak.

Letak Pasar Jejeran ini sekitar 7 km dari dari Makam Imogiri. Siang hari, pasar ini berperan layaknya pasar tradisional lainnya, menjual beragam sayur segar, bumbu masak, hingga daging dan ikan. Malam hari, keramaian ini pasar ini tidak sepenuhnya mati karena disulap menjadi pasar sate klatak.

Berbeda dengan sate kambing lainnya, sate ini anti-bumbu. Sate klatak tidak dibaluri racikan bumbu yang membikin sate ini mengeluarkan aroma yang menggelitik perut. Jadi, sate ini hanya diberi garam. Kalau ada yang minta diberi merica, ya, boleh saja.

Toh, dengan bumbu seadanya, daging kambing ini tetap terasa gurih dan empuk. Bau kambing akan tetap tertinggal. Tapi, justru itu yang diburu pembeli. Jono, pemilik kedai sate klatak, pernah berniat menghilangkan bau kambing dengan ramuan ketumbar, asam, dan kemiri. “Pembeli enggak suka, maunya ke bau kambing yang semula,” katanya.

Tusuk satenya pun terasa lain, yakni dari jeruji roda sepeda ontel. “Kalau pakai bambu, mudah patah,” seru Jono. Selain bisa digunakan ulang, jeruji ini bisa mempengaruhi tingkat kematangan sate dari dalam.

Asal tahu saja, kebanyakan warung sate klatak di Pasar Jejeran buka malam hingga pagi hari. Umumnya, pembeli tidak sekadar untuk kenyang, namun makan untuk berbincang hingga larut malam.

Nah, jadi sekarang Anda sudah tahu kan bagaimana hasil perkawinan antara sepeda dan seekor kambing? Ya daging kambing yang ditusukkan pada jeruji sepeda dan dinamai sate klatak ini.

Ayo, pesanlah sekaligus

Untuk sate klatak, daging kambing dipotong-potong seukuran jempol orang dewasa. Lalu diberi garam, diremas-remas hingga merata. Saban hari, Jono menghabiskan setidaknya satu ekor kambing.

Kalau sedang ramai, bisa mencapai tiga ekor kambing. Potongan daging kemudian ditusuk- tusuk dengan jeruji sepeda, dan dibakar dalam anglo dengan bara api sedang. Sehingga sate masak tanpa gosong sama sekali.

Asal tahu saja, Jono menyediakan 2 gros jeruji sepeda atau sekitar 288 jeruji yang siap pakai. Eh, ini bukan jeruji bekas, lo. Ini jeruji baru. Jangan khawatir, Jono sudah mengandangkan jeruji sepeda yang karatan.

Satu porsi sate klatak berisi dua tusuk saja. Sate ini polos, tidak ditemani dengan kecap maupun irisan bawang merah, tomat, dan cacahan kol. Sungguh-sungguh hanya dua tusuk dalam satu piring. Polos.

Jono akan menawari Anda, apakah nasi putih ini akan diberi kuah gule. Rasanya memang lebih sedap jika ada guyuran kuah gule dalam nasi putih. Kalau tidak, Anda bisa memesan gule kambing terpisah.

Jangan mencari sambal di kedai ini. Jono tak menyediakan untuk Anda. Kalau Anda termasuk penggila masakan pedas, Anda akan dikasih sepiring kecil cabe rawit.

Oh, ya, Anda bisa saja memesan sate berbumbu di sini. Dengan senang hati, Jono akan membikinkan untuk Anda. Sate klatak dan sate bumbu dibanderol Rp 8.000 seporsi. Jika dengan nasi dan the hangat, totalnya Rp 10.000.

Menu lainnya, Anda bisa memesan tongseng, gule, nasi goreng, dan nasi godog. Asing dengan nasi godog? Ini adalah tongseng dengan kuah ekstra, kemudian dicampurkan dengan nasi. Tongseng dan gule ini Rp 8.000 seporsi. Sedangkan nasi goreng dan nasi godog Rp 9.000.

Soal minuman, pasangan yang paling pas untuk sate klatak ini adalah teh hangat gula batu. Coba saja pesan teh panas ini. Jono akan menyediakan teh dalam gelas yang berisi gula batu, berikut satu teko teh tawar panas. Anda tinggal menuangnya di gelas lalu menyeruputnya.

Kelezatan sate klatak bikinan Jono ini kian melegenda. Di pasar yang sama, ada tiga penjual lain selain Jono. Salah satunya adalah Bari, kakak kandung Jono.

Ia berjualan di pasar sebelah ujung. Baik Bari dan Jono adalah generasi ketiga sate klatak di Pasar Jejeran ini.

Lantaran sate polos ini sudah menular, jangan heran bila orang berduyun-duyun menyambangi Pasar Jejeran di malam hari. Kedai di pasar ini buka sekitar pukul 18.00 hingga pukul 1 dinihari.

Itu sebabnya, KONTAN menyarankan untuk memesan beragam menu itu sekaligus. Nantinya, masakan olahan Jono ini tidak akan datang sekaligus.

Jadi, sesuai dengan jarak makan sate klatak sembari ngobrol, kemudian akan datang kembali sate bumbu. Setelah ngobrol, pesanan lain akan datang kembali. .

Ancang-ancang ini wajib Anda lakukan supaya tidak kehabisan.

Soalnya, Jono tidak hanya menerima pesanan dari Anda yang datang ke Pasar Jejeran saja, tetapi juga pesanan lewat telepon. Ayo, nglatak sekarang.

+++++
Sudah Nglatak Sejak Tahun 1930-an

Beberapa orang berusaha mengurai sejarah sate klatak ini. Ada yang mengatakan, klatak berasal dari suara jatuhnya jeruji sepeda ontel yang menjadi tusuk sate. Ada juga yang menebak, klatak ini adalah suara ketika daging kambing itu dibakar di tungku.

Jono adalah salah satu pewaris sate klatak. Ia terhitung generasi ketiga pedagang sate klatak di Pasar Jejeran, Wonokromo, Plered, Bantul. “Simbah saya berjualansejak tahun 1930-an,” katanya.

Baru dua tahun terakhir ini Jono berjualan sendiri. Sebelumnya, ia membantu bapaknya berjualan sate klatak ini, juga di tempat yang sama.

Menurutnya, klatak artinya buah melinjo. Konon, saat leluhurnya masih kecil, kebiasaan bermain adalah mencari buah klatak atau melinjo. Buah ini digunakan sebagai peluru ketapel untuk berburu burung.

Kalau sudah berhasil memburu burung, hasilnya dibakar untuk untuk dimakan ramai-ramai. Mereka memilih membakar dengan jeruji sepeda. Tujuannya, agar tahan lama dipanggang di atas bara.

Permainan masa kecil yang sangat sederhana ini pun terbawa hingga mereka dewasa. Mengancik dewasa, mereka berniat menjual sate kambing. Hanya saja, mereka tak tahu resep sate kambing yang lezat. Hasilnya, ya mereka menggunakan resep seadanya: diberi garam saja. Sate ini jadinya bernama sate klatak.

Dengan bumbu garam, bau perengus yang muncul dari kambing ini masih terasa. Tapi, justru pembeli memburu rasa ini. Bau perengus jadi kekhasan sate klatak.

Di kedai Jono, Anda bisa duduk bangku bambu yang panjang atau di tikar. Anda juga bisa duduk dekat Jono, persis di sebelah tungku dan kambing yang digantung.

Tapi, hati-hati, kalau Jono menyobek daging dari kambing yang digantung, lalu melepaskannya. Salah-salah gantungan kambing itu akan menghantam Anda.

Sate Klatak Jono
Pasar Jejeran, Jl. Imogiri, Bantul
Yogyakarta
Telepon 0816 426 8846

Hasil Silangan Eropa-Solo Diadaptasi di Sunter

Jakarta memang mirip hipermarket, semua ada, terutama makanan. Tengok saja, jika memang ingin mencicip kelezatan nasi langgi, Anda tak perlu jauhjauh pergi ke Solo. Cobalah datang ke Dapur Solo di bilangan Sunter.
Selain menyediakan nasi langgi ayam, Dapur Solo juga menyajikan berbagai hidangan khas Jawa lainnya. Seperti gudeg jogja, pecel madiun, rawon ala Jawa Timur, atau juga selat khas Solo.

Makanan yang pertama kali Anda perlu coba di sini adalah nasi langgi ayam. Menurut Swandani, pemilik Dapur Solo, pada dasarnya banyak sekali versi nasi langgi. Ada yang dari Semarang, Cirebon, atau Solo.

Rasa nasi langgi Dapur Solo tergolong istimewa. Masakan ini dihidangkan di atas piring ceper dengan ukuran yang cukup lebar ketimbang piring ukuran normal.

Maklumlah, jenis makanan sangat beragam. Di tengah piring ada nasi yang dibentuk seukuran mangkok kecil dengan taburan bawang goreng. Di pinggirannya tertata rapi ayam goreng gurih yang bumbunya meresap. Lalu, masih ditambah dengan potongan rendang yang manis.

Secara umum nasi langgi ini terasa manis, sangat cocok bagi lidah orang Jawa. “Tetapi, pengunjung di Dapur Solo tak melulu orang Jawa, karena bumbu sudah diadaptasi ke lidah orang Jakarta,” jelas Swandani.

Anda juga harus menjajal selat solonya. Jika di Solo, makanan ini merupakan kudapan ringan, di Dapur Solo Anda dapat menikmati sebagai menu utama bersama dengan nasi.

Selat solo mirip salad dan bistik. Memang jika dilihat rupanya hidangan ini merupakan gabungan antara salad dan bistik.

Selat solo merupakan akulturasi lidah Jawa dengan kuliner Eropa. Hasil kuliner silang tersebut kemudian menghasilkan penampilan Eropa, namun memiliki cita rasa lokal.

Rasa selat solo ini begitu segar. Apabila diicip kuahnya, maka akan terasa ada perpaduan antara manis dan asam. Rasa manis datang dari kuah berwarna cokelat menyerupai semur. Sedangkan rasa asam terasa dari semacam mayones atau mustard yang berwarna kekuning-kuningan.

Sejumput mayones biasanya diletakkan di bagian pinggir piring yang berisi sayur dan daging. Mengudapnya pun ada caranya tersendiri.

Semua bahan yang ada di piring harus dicampur sehingga mayones akan tercampur dengan kuah. Barulah rasa manis, asam, dan gurihnya selat solo akan muncul. Adonan mayones yang berbeda- beda ini juga mempengaruhi hasil akhir dari saus dan rasa Selat Solo.

Campuran untuk mayones ini pun berbeda-beda. Ada yang menggunakan mustard botol kemudian dicampur dengan kentang rebus dan gula.

Ada juga yang mencampur mustard dengan kuning telur rebus. Tapi ada pula yang mencampurnya dengan tepung.

Makanan selingannya tak kalah mantap

Unsur lain dari selat solo hampir menyerupai salad. Bahan baku salad yang utama adalah sayur atau buah-buahan, plus daging. Baru kemudian diberi saus dengan berbagai variasi rasa.

Maka dalam sepiring selat solo terdapat buncis dan wortel rebus, irisan mentimun, dan kentang goreng. Jangan lupa masih ada beberapa lembar daun selada.

Unsur sayur itu masih ditambah beberapa potong daging sapi dan telur ayam. Sebagai penyegar, bisa ditambahkan irisan tipis bawang merah. Paduan sayur dan daging tersebut ditata dalam piring, dan ketika disajikan barulah disiram dengan kuah. So, persis salad ala Eropa.

Selain makanan utama tersebut, di Dapur Solo juga tersedia berbagai makanan selingan. Sebut saja rujak, serabi solo, dan juga es oyen.

Rasa makanan selingan ini tak kalah mantap dengan menu utamanya. Untuk serabinya, begitu menyentuh lidah langsung lumer. Rasa khas masakan solo sangat kentara, manis dan gurih. Tetapi, tidak bikin enek.

Untuk harga hidangannya pun tidak mahal-mahal amat. Untuk sepiring nasi langgi ayam, Swandani membanderolnya hanya dengan harga Rp 17.000. Hidangan lain, seperti nasi gudeg dan juga nasi pecel, harganya pun sama.

Sedangkan untuk minuman rata-rata ia melabelinya rata-rata Rp 5.000. “Jadi, kelas saya itu, ya, middle-lah,” ungkapnya.

Oh, ya, selain bisa Anda mengudap di tempat, Dapur Solo juga menyediakan layanan pesan bawa alias take away, terutama untuk snack dan juga nasi kotak.

Bolehlah Anda sekali-kali mencobanya. Siapa tahu cocok rasanya, pas dompetnya.

+++++
Habis Makan Lalu Pijat, atau Pijat Dulu Baru Makan, ya?

Pada awalnya, di tahun 1985 Swandani, pemilik Dapur Solo ini hanya iseng-iseng saja berjualan untuk mengisi waktu luang. Saat itu, ia hanya berjualan rujak dan es jus. Tempatnya pun hanya di garasi rumah. ”Modalnya cuma blender hadiah pernikahan,” kata Swandani sambil tertawa.

Ternyata, banyak yang menyukai rujak dan juga es jusnya. Kemudian, ia juga membuat gado-gado yang ternyata langsung digemari pelanggan.

Yang berdatangan ke garasi makin berjibun. Akhirnya, ia berembuk dengan suaminya untuk berpindah tempat. Maka, mereka memutuskan untuk berpindah ke Sunter.

Di ruko tersebut, Swandani menamakan kedainya RM Solo. Ia juga terus menambahi menu hidangannya. Perkembangan kedainya seiring dengan perkembangan perumahan dan perkantoran di Sunter. Swandani memutuskan untuk berpindah lagi ke ruko yang ia tempati sekarang.

Pada saat krisis, suaminya yang bekerja di bidang properti terkena imbasnya. ”Kita sama-sama terjun ke bisnis ini. Kebetulan kan suami saya ngerti tentang manajemen,” jelas Swandani.

Tahun 2002, kedai RM Solo berganti nama menjadi Dapur Solo. Kedai ini terus berkembang dan ada penambahan- penambahan. Swandani melakukan perombakan ruko menjadi sebuah restoran yang nyaman. Biayanya Rp 300 juta. “Saya menyasar segmen keluarga,” bilang Swandani.

Dari perombakan itu, Dapur Solo dapat menampung kurang lebih 200 orang dengan 300 menu pilihan. Restoran yang buka dari pukul 7 pagi sampai 9 malam ini menghabiskan ratusan ekor ayam.

Swandani lalu menggandeng mantan ratu bulutangkis Susi Susanti untuk buka pijat refl eksi. Ada pula female gym. ”Jadi, saya gabungkan antara resto dengan health,” ungkap Swandani. Karyawannya ada 40 orang.
Dapur Solo
Jl. Danau Sunter Utara R-36(Seberang Sunter Mall)
Sunter, Jakarta Utara 14350
 
Print

Sluurp… Kita Seruput hingga Tulang-Tulangnya

Di tangan orang Indonesia, semua bagian tubuh sapi bisa diolah sebagai makanan lezat. Mulai dari lidah, badan, tulang iga, torpedo, kulit, bahkan buntut. Siapa yang bakal menampik nikmatnya sop iga? Atau, siapa yang menolak rendang padang?Alih-alih sop iga dan rendang,masa iya, sih, menggelengkan kepalauntuk seporsi sop buntut?

Jakarta memang gudangnyasop buntut enak. Mulai dari sopbuntut di Hotel Borobudur, sopbuntut ala Lokananta, sop buntutCafe AN ala Mr Sangid ex Borobudur,hingga sop buntut Mang EndangIncu Ma’ Emun di daerahBogor. Tinggal pilih mana yangsesuai dengan lidah Anda.

Eh, meski Anda sudah punyapilihan yang pas, sebaiknya Andamenjajal juga sop buntut di DapurBuntut. Asyiknya, sop buntut diDapur Buntut ini lain dari yanglain. Soalnya, racikannya bukansekadar sop buntut biasa atauklasik.

Di sini, Anda bisa memilih beragamsop buntut yang sudah berdandan.Mulai dari sop buntutrasa karamel, sop buntut panggangbumbu barbeque, sop buntutgoreng, dan sop buntut tulang lunak.Bahkan, Anda juga bisa memilihrawon buntut.

Kedainya, sih, kecil. Ukurannyatak lebih dari 2,5 meter x 8 meter.Bahkan, Irma Trisnayanti, si empunyaDapur Buntut, ogah menyebutnyasebagai restoran. “Ini hanyawarung sop buntut yangdipasangi AC saja, sehingga bersihdan nyaman,” katanya.

Maka, kalau Anda tengah melewatiKampung Melayu Besar dariarah Tebet menuju Kampung Melayu,tengoklah ke arah kiri. Persisdi bagian mulut fl y over, ada kedaimungil berwarna hijau ngejreng.Di sinilah Dapur Buntut bakalmenggoyang lidah Anda dengansop buntutnya.

Sop buntut berpadu dengan karamel

Irma beserta suaminya, IndraRiana, memang hobi berat makansop buntut. Perburuan sop buntuttau urung berakhir di dapurnyasendiri, yaitu Dapur Buntut. Keduanyamendandani sop buntutdengan rasa karamel dan panggang,yang kini menjadi menu andalannya.

Tak hanyaitu. Dengan segalaketerbatasan yang ada,Indra dan Irma pun mengolahagar sop buntut yang terhidang dimeja bisa dimakan hingga tulangtulangnya.Mereka mencari caraagar sop buntut ini bisa menjadisop buntut tulang lunak.

Hasilnya? Bisa Anda cicipi sendiridi kedai ini. Barangkali, Andamembayangkan rasa karamelyang manis yang sangat layak dipasangkandengan cokelat, wafer,maupun puding. Eits, jangan salah.Kali ini pasangannya adalahbuntut sapi.

Karamel dalam irisan buntutsetebal 2 cm ini tidak sepenuhnyamanis, kok. Ada rasa pedas-pedasyang muncul dari gerusan butirankasar yang tak lain adalah ladahitam. Juga, rasa gurih dari campuranbawang. “Karamel ini kandibuat dari gula pasir yang dicairkan,”kata Irma.

Sepekan sekali, Irma membikinbumbu karamel ini untuk 100 porsi.Kalau ada acara khusus, misalnyakumpul-kumpul klub mobil,bisa lebih dari itu. Meski hargabuntut kian naik, tapi Irma takbisa sembarangan menaikkanharga sop buntutnya. Ketika awalmembuka warung tahun 2004,harga seporsi Rp 18.000. Kini, berkisarRp 20.000-22.500 seporsi.

Kedai yang bermodal Rp 40juta-Rp 50 juta ini juga punyamenu istimewa lain. Yaitu, sopbuntut panggang bumbu barbeque.Rasa manis maupun kecutdari tomat tak menyeruak. Sopbuntut model ini layak pesan.

Pendeknya, sop buntutracikan Irma ini dagingnyacukup empuk, sehingga meluruhdari tulangnya. Apalagi, paduankuahnya yang nyaris tanpa lemakyang menebal membuatAnda lupa bahwa makanan inimengandung kolesterol yang cukuptinggi.

“Kuahnya kreasi Indra, meskimenghitam tapi tanpa kecap lo,”papar Irma. Kuah ini memang dibikindari sari buntut sapi. Hasilrebusan pertama dibuang, kemudiandirebus ulang, dan direbuslagi. Nah, kuah rebusan keduadan ketiga inilah yang disajikansebagai kuah sop buntut.

Dalam semangkuk kuah sopbuntut, ada seiris kentang berukurandadu mungil, tiga irisanwortel, dan empat irisan tomat.Siap disantap.

Kedai milik Irma ini cukup nyamanuntuk berlama-lama. Misalnya,sembari pulang kantor danmenunggu kemacetan, ruanganIrma lumayan ramah untuk disinggahi.Meja dan kursinya yangmungil pas dengan ruangan yangsama imutnya.

Pilihan menu lainnya ada iga,steak, dan burger yang juga layakAnda coba. Semuanya hasil olahantangan dingin Irma dan Indra.

Jadi, berani menantang kadarkolesterol Anda? .

+++++
Juragan Buntut Bekas Karyawan Kantoran

Irma Trisnayanti tidak memiliki latarbelakang pendidikan boga.Bahkan, ia juga tidak memilikipengalaman berbisnis makanan.Tetapi, kejenuhan bekerja kantoranmengantarkannya pada kedai makananyang menu andalannyaadalah sop buntut.

“Kebetulan saya dan suami sayasuka sekali sop buntut,” katanya.Perburuannya dari satu kedai kekedai lainnya, merasakan sop buntutkelas kakilima hingga bintanglima, membuat keduanya merekarekaresep sop buntut sendiri.

Menyewa secuil lahan berukuransekitar 2,5 m x 8 m di bilanganKampung Melayu Besar, Jakarta Timur,Irma memulai usaha ini tahun2004. “Kami membuat sop buntutyang bukan klasik seperti kedai kebanyakan,”ujarnya. Dan benar, rekaanpertamanya adalah sop buntutkaramel dan sop buntut panggang.

Sebanyak 16 kursi dengan empatmeja nyatanya membuat Irmamerana selama lima bulan pertama.Tidak banyak yang mau mencobasop buntut karamel. Menuruthitungan Irma, bisa jadi rasa maniskaramel yang dipasangkan di buntutsapi tak bakal terbayangkanrasanya.

Tetapi, Irma tak menyerah. Keunikansop buntutnya tetap dipertahankanmeski 10 kg buntut itu habisdalam waktu yang cukup lama, yaitusebulan. “Lama-lama orang tahu,sebulan mulai merangkak menjadi15 kg-20 kg,” kenangnya.

Mau tahu sekarang Irma habisberapa kilo buntut? Sehari, sedikitnya20 kg bisa ludes. Karena sudahsejak dulu langganan belanja bun tutdi Pasar Senen, maka untuk ke dai inipun, awalnya Irma juga me ngusungbuntut dari pusat Jakarta itu.

Kedai yang semakin ramai nyatanyamembuat Irma tak sempat belanjake Pasar Senen saban hari.“Tanpa saya cari, kok, ya ada supplieryang datang sendiri kemari,”ujar Irma.

Berani mencoba?

Dapur Buntut
Jl. KH Abdullah Syafei 50D
Jakarta. Telp: 8310555
www.dapurbuntut.com
 
Print

Mari-Mari, Kita Coba yang Baru Bersama Made

Setiap orang yang hobi pelesirke Pulau Bali pasti sudahakrab dengan Warung Made.Warung yang sudah berdiri sejaktahun 1969 ini memang sudahmelegenda. Kurang afdol rasanyakalau tidak berkunjungke warung ini.
Begitu Anda melangkahkankaki ke WarungMade, suasana khas Balibegitu kental. Kursinyaterbuat dari kayu yangusianya sudah cukup tua.Pada dinding warung tergantungfoto-foto sang pemilikdan lukisan khas Bali.

Yang paling khas adalah sarunghitam putih bak papan catur danwarna emas yang melingkarikayu-kayu penyangga. Pilihantempatnya juga fleksibel. Andabisa makan di bawah, bisa juga dilantai atas. Dari atas, Anda bisapuas menyapukan mata ke seluruhwarung.

Kendati sudah berdiri selama37 tahun, namun para konsumentak pernah bosan dengan menukhasnya. Maklum, selain menyediakankudapan khas Bali, warungini juga menyediakan berbagaimenu makanan internasional.

Walhasil, warung ini nyaris takpernah sepi pembeli. Bukan hanyapelancong lokal, turis mancanegarapun kerap datang ke sini.W a -rung Madememang menyediakan menu makananyang tidak dimiliki olehwarung maupun restoran lain diBali. Tipat tjantok, misalnya. Makananyang mirip ketoprak betawiini resepnya sudah dimiliki WarungMade sejak tahun 1950.

Selain tipat tjantok, ada beberapamenu yang menjadi andalan.Salah satunya adalah nasi campurspesial ala Made. Menu yang dihidangkandi atas piring lebar initerdiri dari nasi dan berbagai lauk-pauk. Sebut saja tempe goreng,tuna, udang, tempe kuah santan,rendang, ayam kari, urap mentimun,ayam kelapa parut, bayam,sayur asam,dan serundeng.Hidangan ini juga dilengkapidengan sambal matahsegar khas Bali. “Sambalnya daricabe, bawang merah, bawang putih,dan garam yang ditumbukmenjadi satu dan langsung dihidangkanseketika,” ujar Wayan,salah satu pengelola WarungMade

Untuk bisa mencicipi nasi campurini, konsumen hanya perlumerogoh kocek sebesar Rp 45.000.Selain itu, masih banyak lagi menutradisional Indonesia lain, sepertigado-gado, sate ayam, sate sapi,lumpia, mi kuah, bubur dan rujak.Rata-rata setiap menunya dibanderoldengan harga Rp 30.000 seporsi.

Warung Made juga menyediakanragam menu vegetarian bagipelanggannya yang tidak menyukaidaging. Sebut saja, nasi campurvegetarian bisa disantap denganharga 25.000. Ada pulalumpia sayur seharga Rp 20.000.

Pesan tempat dulu pada saat akhir pekan

Bagi Anda yang tidak menyukaimasakan ala Bali, di Warung Madeini Anda bisa mengorder nasi gorengspesial ala Made. Menu yangsatu ini dilengkapi dengan irisandaging sapi, ayam goreng, telur,dan ekstra salad. Harganya puncukup terjangkau, hanya Rp40.000 per porsi.

Warung Made juga menyediakanbeberapa menu makanancampur. Salah satunya adalah setengahnasi goreng dan setengahgado-gado dengan harga Rp35.000. Oh, ya, Warung Made menyuguhkanpula olahan bebek lokalkhas Bali.

Bagi Anda yang sudah jenuhdengan makanan asli Indonesia,Warung Made menghidangkanpuluhan menu internasional alaEropa dan Asia. Untuk appetizer,tersedia crab avocado, creamcheese and bagel, dan smokedmarlin.

Untuk menu utama ada supersteak dan spare ribs yang jugamenjadi salah satu menu andalan.Sedangkan untuk dessert dihidangkanbrownies, coklat banana,cream caramel, black forrest,cheese cake, pancake, bananasplit, sandwich, salad, dan eskrim ala Made.

Adapun untuk minuman, warungini menyediakan berbagaipilihan. Mulai dari jus melon,mangga, alpukat, pisang, milkshakes, coktails, yoghurt, hinggawine pun tersedia. Untuk jus harganyaRp 20.000 segelas.

Warung Made dibuka mulai pukul8 pagi hingga pukul 24.00 setiaphari. Kendati terdapat 100buah kursi di warungnya, namunjika Anda ingin berkunjung saatakhir pekan, sebaiknya Anda melakukanpemesanan tempat terlebihdahulu. Maklum, tempat inimemang benar-benar ngetop.

Ini kalau Anda emoh mengantreterlalu lama. Maklumlah, tiap hariWarung Made melayani ratusanorang pembeli.

Bagaimana, Anda mau beli makanandi “Beli” Made? Banyak pilihan,ramai, terserah Anda. .

+++++
Banyak yang Serupa, tapi Tidak Sama

Warung Made merupakan salahsatu tempat makan tradisionalyang tertua di Kuta, Bali.Kedai yang jaraknya hanya sekitar300 meter dari pantai ini adalahmilik Ni Made Masih dan suaminya,Peter Steenbergen, dari Belanda.

Mulanya, Warung Made hanyalahsebuah warung kecil yangmenjual makanan khas Bali, yaknitipa tjantok. Sebelum dipegang NiMade, pengelola warung ini adalahI Wayan Madri dan Ni NengahRoti, yang tak lain adalah orangtuaNi Made sendiri.

Sejak kecil, Ni Made selalumembantu orangtuanya berjualantipat tjantok sambil sekolah. Namun,waktu itu, lantaran biaya sekolahmahal, orangtua Ni Madetak sanggup lagi membiayainya.Maka, dia harus rela hanya mengenyamkursi sekolah dasar.

Ni Made lantas meneruskanusaha warung kedua orangtuanya.Lantaran berada dekat pantai,sambil menunggu ombak yangpas, para peselancar menyantapmakanan di Warung Made.

Kini, Warung Made memilikidua cabang. Yakni, di Kuta dan diSeminyak.

Namun, seiring dengan ketenaranWarung Made, banyak warungdi Bali yang berusaha mengekor.Misalnya, dengan membuat tampilanyang mirip Warung Made asli.

Kalau sudah begini, Anda jangansampai tertipu. Sebab, WarungMade punya logo khusus,dan tentu saja rasa makanannyajuga berbeda.

Jadi, kapan Anda ke Bali lalumampir ke Warung Made? .
Warung Made
Pande Mas Kuta (0361) 755297
Jalan Raya Seminyak,
(0361) 732130
 
Print

Hmmm… Teteg yang Ini Segar dan Menyehatkan

Kriteria seperti itu bisa Anda jumpai pada sebuah warung makan di Jogjakarta. Letaknya persis di tengah kota, sekitar 200 meter dari Stasiun Kereta Api Lempuyangan.
Di belakang warung makan ini, rel kereta api hanya berjarak sekitar 10 meter. Jadi, bila kereta api yang menuju arah timur seperti Solo dan Surabaya melaju, jejakan roda kereta terasa kencang sekali. Makanya, kedai yang satu ini dinamakan Lotek dan Gado-gado Teteg. Ya, teteg sendiri artinya palang pintu lintasan kereta api.

Warung makan berukuran 11 m x 5 m ini memiliki tanah yang lapang untuk area parkir. Rerimbunan pohon masih menyisakan rasa adem. Tak heran, semilir angin dengan begitu mudahnya menyapu permukaan kulit.

Entah lantaran orang Jogja yang suka lesehan atau pekarangan warung ini bisa untuk lesehan, si empunya warung menutup sebagian pekarangan dengan konblok. Ia lalu menggelar tikar. Meski warung ini memiliki bangku dan meja, pengunjung tetap memilih lesehan.

Di warung ini Anda akan menjumpai layah atau piring ulekan dari batu yang berdiameter 80 cm. “Ini kami pesan khusus dari Blabak, Magelang,” jelas Untung, si empunya warung. Anda bisa menyaksikan bagaimana pegawai Untung mengolah beberapa lotek sekaligus di layah raksasa ini.

Lotek maupun gado-gado racikan Untung dan istrinya, Siti Yuchriah, dibanderol dengan harga yang cukup masuk akal, yaitu Rp 6.000 seporsi. Begitu sampai, pilihlah tempat duduk lesehan di bagian muka warung.

Tentu saja, karena beralaskan tikar, Anda harus mencopot sepatu atau sandal. Tapi, tidak ada larangan di warung ini untuk duduk sambil mengangkat kaki, atau meluruskannya. Pokok’e bebas, Mas, Mbak!

Bumbu gado-gadonya bikinan sendiri

Indonesia memiliki beragam gado-gado. Umpamanya, gadogado Minangkabau yang isinya sederhana, yaitu taoge, kentang, kol, dan tahu. Gado-gado Jakarta lebih komplet. Ada toge, kol, kentang, tomat, selada serta ketupat, kerupuk, tempe, dan tahu.

Di Surabaya lebih populer dalam bentuk rujak cingur. Gadogado ini memakai bumbu petis udang ala Jawa Timur.

Nah, gado-gado Jogja maupun Solo berbeda lagi. Bumbunya dimasak dengan santan serta daun salam dan lengkuas. Kalau sudah matang dan hendak disantap, baru diberi cuka. Dengan begitu, rasanya gurih, manis dan asam. Untuk penyedap rasa, sebelum dimakan bumbu diberi santan.

“Bumbunya saya bikin sendiri,” jelas Untung. Soal resepnya, ia memiliki rahasia dan mengikuti pakem bumbu gado-gado biasa.

Wajar kalau ia ogah membagi bumbunya. Maklum, kelezatan gado-gado ada di bumbu kacang. “Kacangnya pilihan,” tegas kakek 5 cucu ini.

Sepiring gado-gado di warung milik Untung ini terdiri dari tahu, telur, taoge, daun selada, ketupat, kentang, kol dan mentimun. Beberapa sayuran itu ada yang dimasak, ada pula yang mentah.

Gizi makanan ini sudah berimbang, sebab ada irisan telur di sana. Kalau mau hitung-hitungan ala ahli gizi, ada protein hewani, ada vitamin dan mineral yang cukup, plus karbohidrat.

Sayuran ditata dalam piring hingga menggunung. Setelahnya,disiram dengan bumbu kacang dan ditutup di bagian atas dengan kerupuk dan emping. Hitung punya hitung, setiap 4 hari Untung menghabiskan tomat 50 kg, kol 1 kuintal, dan telur 4 krat. Sayuran yang mesti ia beli harian seperti bayam, Untung membeli 1 karung per hari senilai Rp 25.000.

B e l a k a n g a n , Upik, anak Untung, menambah menu makanan dengan aneka bakaran seperti ikan bakar maupun ayam bakar. Meski tak mengurangi spesialisasi, toh menu tambahan ini tetap laris.

Lotek juga menjadi pilihan di warung ini. Jangan bingung antara gado-gado, lotek dan pecel, ya. Perbedaan ketiganya pada komponen bumbu.

Gado-gado terdiri atas bawang putih, cabe, gula, asam jawa, dan kacang tanah. Setelahnya, santan dipanaskan bersama lengkuas dan salam. Dicampur bumbu gado-gado yang sudah ditumbuk, panaskanlah sampai mendidih, baru dimasuki daun jeruk purut.

Bumbu pecel hampir sama dengan bumbu gado-gado, tetapi ditambah kencur dan tanpa santan. Sayuran pecel wajib direbus.

Lain lagi dengan lotek yang bumbunya dibikin mendadak. Bumbunya terdiri dari cabe rawit, bawang putih, garam, gula, kencur, daun jeruk purut, dan terasi diulek. Kemudian langsung dicampur dengan sayuran.

Di warung Untung ini ada lotek. Kalau Anda sedang emoh makansalad jawa alias gado-gado, Anda punya pilihan lain, yaitu lotek. Nah, Anda siap untuk sehat dan segar?

+++++
Memanfaatkan Waktu Pensiun

Untung tak pernah membayangkan akan menghabiskan masa tuanya menjadi juragan gadogado yang begitu kondang di Jogja. Dulu, ia adalah sopir bahan bakar milik Pertamina. Hingga akhirnya masa tugasnya usai tahun 1978. “Terbiasa bekerja, rasanya aneh kalau kemudian berhenti begitu saja,” jelas Untung.

Usai pensiun, Untung dan istrinya membuka warung gado-gado di Jalan Argolubang, tak jauh dari Stasiun Lempuyangan. Waktu itu, mereka menamainya Warung Sederhana. “Kami punya rumah kosong di sana,” kata Untung.

Modal saat itu sekitar Rp 150.000 plus beberapa bangkudan meja. Konsumen awalnya adalah para tetangga dan mahasiswa. Setiap porsi lotek harganya Rp 25 dan gado-gado Rp 75.

Hitungan modal saban hari saat itu Rp 3.000 dengan pendapatan Rp 2.000-Rp 3.000 per hari. “Enggak untung,” ujar Untung

Masa-masa pertama ini tak mulus. Tetangganya, yang melihat betapa mudahnya uang dari gadogado dan lotek, meminta bumbu kacang Untung dan Siti Yuchriah, istrinya. “Katanya mau buat arisan, eh, enggak tahunya buat jualan,” kenang Siti. Belajar dari pengalaman ini, Siti urung membeberkan resep bumbu kacang mereka.

Toh, pelanggan tak ke manamana. Omzetnya kini mencapai Rp 2 juta-Rp 3,5 juta sehari.

Konsumen terus membesar. Untung sempat memindahkan warungnya dengan meminjam tanah milik Pertamina di seberang rumahnya. “Saya dipinjami, gratis!” ujar Untung. Lantaran penggila gadogadonya makin banyak dan tempat parkir terbatas, ia pun membeli sebidang tanah tak jauh dari warung sebelumnya.

Oh, ya, soal nama, bukan Siti maupun Untung yang menamai Lotek dan Gado-gado Teteg. “Karena kami menunya konsisten begitu saja, konsumen menamai itu,” kata Untung. Warung ini berjalan dengan bantuan 10 karyawan.

Lotek & Gado-Gado Teteg
Jalan Argolubang 184
Yogyakarta
Telepon (0274) 544418
 
Print