Biarpun Harganya Murah,Rasanya Tidak Murahan

Salah satu kiblat nasi uduk di Jakarta, ya di Kebon Kacang. Tapi, jangan salah icip. Kalau memang ingin mencoba nasi uduk kebon kacang beneran, harusnya ya nasi hasil racikan keturunan lima orang jagoan peracik bumbu nasi uduk kebon kacang.
Legenda jagoan peracik bumbu nasi uduk di bilangan ini antara lain Hamid, Haji Saman, Popol, dan Haji Edy. Jadi, dari keturunan lima orang ini nasi uduk kebon kacang dinilai asli.

“Sekarang banyak yang bawa nama Kebon Kacang, tapi tidak ada garis turunan dari lima orang ini,” kata Totok Isdarto, suami Hajah Ellya, pemilik Kedai Ayam Goreng dan Nasi Uduk Hj. Ellya, di Pesanggrahan, Kembangan, Jakarta Barat.

Kedai ini boleh dibilang asli Kebon Kacang. Lihat saja, pengelolanya adalah Rahmat, yang merupakan anak Hamid. Sementara itu, Hj. Ellya sendiri adalah kakak ipar Rahmat.

Kedai nasi uduk ini mulai berdiri sejak enam tahun silam. Rasa k h a s nasi uduk kebon kacang ada di sini. Mulai dari rasa gurih santan kelapa sampai kekuatan rempah-rempah yang terdiri dari daun salam, daun jeruk, serai, dan cengkeh. Jadi rasanya? Yummy, pokoknya te-o-pe, dah.

Cara penyajian nasi uduk Hj. Ellya berbeda dengan yang lain. Di sini para pengunjung menerima sajian nasi uduk dalam keadaan panas. Nasi uduk itu lalu dibungkus dalam wadah daun pisang yang dilipat berbentuk limas. Di atas nasi ini ditaburi bawang merah goreng. “Warung yang lain kan menyajikan nasi dalam keadaan dingin. Rasa dan aromanya sudah berbeda,” kata Totok.
Sudah ekspor, lo
Menurut pengusaha yang juga berprofesi sebagai PNS di Badan Pertanahan Nasional (BPN) ini, rasa dan aroma nasi uduk akan lebih enak jika dalam kondisi panas.

Maka, beras yang dimasak tidak langsung dalam keadaan matang, tapi dibiarkan dalam kondisi aronan. Setelah ada pelanggan yang memesan, baru aronan ini dikukus kembali.

Totok juga emoh memasukkan ke alat penghangat nasi. “Nanti nasinya jadi merah, enggak bagus. Lagi pula harumnya enggak sama,” papar Totok, “Kami juga musuhan sama AC. Kita pakai kipas angin saja, biar alami dan nasi uduk enggak cepat dingin.”

Teman nasi uduk Hj. Ellya terbilang cukup banyak. Comot saja, dah. Ada ayam goreng, jeroan ayam (rempela, ati, jantung, dan usus ayam), jeroan sapi (iso, babat, paru), empal, udang goreng, tahu tempe goreng, lalapan dan pete, serta sayur asem.

Bahkan, menu tambahan seperti sambal dan kerupuk tersedia dalam beberapa pilihan. Untuk sambal, ada tiga jenis. Yaitu, sambal kacang kental, sambal kacang encer, dan sambal terasi. Kalau mau tambah seru, ambil saja kerupuk biasa ataupun emping.

Setiap hari pengunjung yang datang jumlahnya hampir ratusan orang. Sehingga, Totok harus memasak 70 liter beras, dan ini ludes. Bahkan, pada hari libur, kedai ini biasa memasak hingga 1 kuintal yang menghasilkan 3.000 bungkus nasi uduk.

Selain itu, kedai Hj. Ellya menghabiskan 175 ekor ayam pada kondisi hari biasa dan 250 ekor ayam dalam kondisi hari libur. Untuk empal, di hari biasa menghabiskan 20 kg dan di hari libur setidaknya 30 kg.

Harga nasi uduk di Kedai Hj. Ellya ini cukup terjangkau kantong. Satu bungkus nasi uduk dihargai Rp 2.000, satu potong ayam goreng (dada atau paha) harganya Rp 7.500, satu potong tahu atau tempe goreng Rp 2.000, dan satu tusuk empal goreng Rp 8.500.

Kendati murah, rasanya tidak murahan, lo. Selain itu Totok juga menjaga kebersihan dengan ketat. “Dua hal itu yang terus kami jaga,” ujar Totok.

Kalau Anda tidak berniat memakan makanan berat, di kedai Hj. Ellya juga tersedia penganan ringan, yang cukup mengenyangkan. Tengok saja asinan betawi yang katanya juga khas dari Kebon Kacang.

Asinan yang bahan utamanya sayuran seperti kol mentah, toge mentah, sawi asin, dan campuran kacang goreng serta kerupuk mie ini lumayan segar, lo. Dan, harga untuk satu porsinya enggak mahal, kok, cuma Rp 6.000.

Saking enaknya, pelanggan yang menyambangi Kedai Ayam Goreng dan Nasi Uduk Hj. Ellya ini ternyata tidak hanya berasal dari sekitar Pesanggrahan atau Kembangan, tapi juga merambah sampai ke daerah Cinere, dan bahkan hingga Banten.

Malah, ada orang bule yang berlangganan nasi uduk Hj. Ellya.

Biasanya para mister ini memesan nasi uduk 250 hingga 300 bungkus dalam keadaan aronan lalu disimpan di penghangat. Selanjutnya nasi uduk ini terbang ke Australia, Singapura, dan India.

+++++
Tak Akan Buka Cabang atau Waralaba

Berbeda dengan nasi uduk kebon kacang lainnya yang ketika sudah ramai langsung menawarkan diri untuk membuka cabang atau waralaba, Kedai Ayam Goreng dan Nasi Uduk Hj. Ellya ini justru menyatakan tidak akan melakukan hal tersebut. Tujuannya apalagi kalau bukan demi menjaga dan meningkatkan kualitas serta layanan kedai.

“Kalau membuka cabang atau waralaba sama saja bunuh diri. Sebab, banyak yang enggak menjaga kualitas makanan. Akhirnya brand yang sudah kita bangun capek- capek malah rusak,” kata Totok Isdarto, suami Hj. Ellya.

Toto tak asal goblek. Ia menceritakan salah seorang saudaranya yang membuka nasi uduk. Pengunjungnya bejibun. Ia lalu membuka cabang atau waralaba di beberapa tempat.

Rupanya, para pemilik warung kurang menjaga kualitas. Misalnya, para koki yang dipercaya mengelola makanan dan para pelayan tidak meracik makanan dan menjaga layanan secara baik. Secara bertahap rasa nasi uduk berkurang dan mengakibatkan para pengunjung lari mencari alternatif makan yang lain. Nah, jika berada di satu tempat seperti yang saat ini dikelola oleh Totok, pengawasan atas pelayanan kedai akan tetap terjaga. Karena, semuanya terlihat.

Bahkan, demi menjaga kualitas, setiap satu bulan sekali Totok mencoba nasi uduk yang dimasak oleh kokinya. Jika rasa nasi uduk berubah karena bumbu atau santan yang dimasak tidak pas, Totok akan menginstruksikan kokinya untuk memasak ulang nasi uduk yang mau dihidangkan itu.

Meski demikian, bila Kedai Ayam Goreng dan Nasi Uduk Hj. Ellya pada akhirnya akan membuka cabang atau waralaba, kedai itu harus dikelola oleh anak atau saudara dekatnya sendiri. Tujuannya agar bisa mengelola dengan bertanggungjawab amanah para leluhur mereka.

Kedai Ayam Goreng dan NasiUduk Kebon Kacang Hj. Ellya

Jalan Pesanggrahan/Kembangan,
Jakarta Barat.
Telepon: (021) 70978034

6 responses to “Biarpun Harganya Murah,Rasanya Tidak Murahan

  1. setuju… kualitas harus tetap dijaga, itu lebih penting dari pada punya cabang banyak tapi kualitasnya tidak sama…

  2. tapi coba makan di nasi uduk zainal fanani yang katanya pertama di kebon kacang, disemua cabangnya rasanya sama. saya pernah makan di radio dalam,pecenongan, grogol maupun kebn kacang sendiri, tidak ada bedanya,yang terpenting bagaimana me managenya.

  3. Mbak, baru bikin buku ya? Peta 100 Tempat Makan Makanan Khas Betawi. Saya beli di Gramedia. Pas liat tulisan halaman 21, kok inget tulisan ini, taunya persiiiiissss, copy paste dari sini. Kalo liat profil penulisnya kok beda ya?

  4. setuju..harganya emg murah, rasanya gk murahan, tp pelayanannya itu yang murahan…saya blm lm br mkn d cabang yg ad d pesanggrahan,deket puri. Masa makanan gk dianter2 sampe stngh jam lbh? itu jg mst nanya k pelayananny lgsg br d anter. Di dindingny tertempel klo ada keluhan blg aj, trnyata pas byr kita protes pelayanny tnp rasa bersalah cm blg lupa d ksh th dan tnp kata maaf lg..
    jgn mentang2 ud sampe d luar negri, pelayanan jelek k satu pelanggan gk jd mslh…

  5. ini hj. Ellya yang dulu di mpp bukan yach???

  6. kalo memang mau tau pastinya,seharusnya tanya orang2 tua yg asli kebon kacang,jadi jgn asal komentar…disitu ada nasi uduk kebon kacang ‘kakek’ H.Suryadi…. kalo tanya orang jujur pasti jawabnya H.Suryadi lah yg pertama2 usaha ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s