Kangen Menyeruput Mi Kocok Sukirman

Salah satu makanan khas Bandung yang cukup legendaries adalah mi kocok. Di kota ini kini memang sudah bertebaran mi kocok dengan beragam merek dagang. Berbeda dengan tiga dasawarsa silam. Kalaupun ada, pedagang mi kocok di Bandung sangat sedikit. Hanya satudua saja yang berani tampil beda dengan rasa mi yang sip.

Salah satu kedai mi kocok yang dapurnya terus mengebul sejak tahun 1970 hingga saat ini adalah Mih Kocok SKM Spesial Kaki Sapi.

Letaknya ada di Jalan Sunda. Begitu memasuki jalan satu arah ini, jangan ngebut. Seratus meter dari perempatan jalan, di sisi kanan jalan, kedai ini mangkal. Tandanya ada gantungan kaki sapi di bagian gerobak yang sudah permanen.

Sukirman, si perintis kedai ini, sudah meninggal sepuluh tahun silam. Namun, kedai ini tidak lantas mandek sepeninggal Sukirman. Belasan meja tetap tergelar.

Bangku panjang juga siap diduduki. Suwarto atau Anto menjadi generasi kedua penerus usaha mi kocok khas Pasundan ini. Tentu saja, ia bergotong-royong bersama dengan ibunda dan saudarasaudara lainnya.

Gerobak Mih Kocok SKM nangkring dengan santainya di pekarangan beratapkan tenda permanen. Di meja gerobak, Anto sudah siap dengan tiga belas mangkuk yang menengadah, menanti diisi bahan baku mi kocok. Agaknya, mangkuk ini memang sengaja ditata begitu agar senantiasa siap sedia menunggu pengunjung yang datang.

Di halaman itu pula berjejer kursi dan meja panjang dengan wadah plastik berisi kerupuk. “Banyak yang datang ke sini rombongan. Makanya meja dan kursinya panjang supaya lebih lega,” ujar Anto. Kalau penuh, kedai ini bisa memuat sekitar 50 orang sekaligus.

Di bagian dalam, jejeran bangku dan meja panjang juga tersedia. Tapi, pengunjung memang lebih suka menyantap mi kocok di halaman depan. Nah, kalau penuh, barulah bagian dalam ini diisi.

Sedikitnya 200 porsi sehari

Racikan mi kocok ini menempati wadah mangkuk berukuran tanggung. Kuahnya tak sampai luber, namun cukup untuk menemani mi telur berwarna kuning pucat yang pipih dan nyaris tak terputus. “Mi ini kami pesan khusus dari Cipaera,” beber Anto. Saban hari Anto menghabiskan sedikitnya 20 kg sampai 25 kg mi telur.

Bahkan, bisa lebih dari itu saat ujung minggu tiba.

Selain mi telur, ada toge di dalam mangkuk. Toge ini rasanya tidak lembek, tapi kemerenyes renyah. Rebusan toge pas untuk campuran mi kocok. Saban hari Anto harus menyediakan sedikitnya 20 kg toge, lo. Namun, kalau Anda tak suka kemunculan toge, Anda bisa, kok, memesan mi kocok bebas toge.

Sebagai penegas kekhasan mi kocok, Anto membubuhkan cuilan kaki sapi di racikan mi ini. Dalam sehari Anto meludeskan lima setel kaki sapi atau setara kaki 20 ekor sapi. Menurut hitungan Anto, satu kaki sapi bisa tercacah untuk sepuluh porsi mi kocok. Artinya, dalam sehari Anto bisa meladeni 200 porsi. Ini baru hari biasa, ya. Kalau weekend tiba dan kedai ini penuh pendatang dari jauh seperti Jakarta, wah… Anto bisa kewalahan meladeninya.

Meski tak royal memberi kuah, mi kocok ini kental rasa kaldunya. Barangkali Anto menyertakan tulang dan kaki sapi untuk direbus menjadi kaldu. Kuahnya keruh tidak seperti kuah bakso yang bening. Menyeruputnya hingga habis, Anda tak bakal eneg.

Anto menyediakan dua jenis mi kocok kaki sapi, yaitu yang biasa dan spesial. Yang spesial dilengkapi telapok atau bagian bawah kaki sapi yang berwarna kehitaman.

Eh, jangan membayangkan joroknya kaki sapi yang tengah menjejak lumpur, ya. Sebab, usai diolah, telapak sapi jadi sedap disantap, dan kehadirannya membuat rasa mi kocok jadi mantap.

“Ayah saya punya racikan mi kocok yang berbeda dengan lainnya,” papar Anto. Racikannya sepertiapa? Ini, mah, resep keluarga dan Anto tak sudi membagikannya. “Pokoknya, beda dengan tempat lain,” ujar Anto berahasia.

Dulu, banyak pengunjung menyukai tulang-tulang kaki sapi.

Atas permintaan pelanggan, Sukirman meladeninya. Saat ini bagian telapok sapi juga banyak diburu pelanggan. Alhasil bagian ini juga kini disediakan Anto.

Kalau Anda menyukai bagian sumsum kaki sapi, datanglah agak pagian. Anda akan mendapatkan sumsum kaki sapi nan segar dan lezat. “Kalau sudah agak siangan, sudah habis!” kata Anto.

Lantas, apa yang membikin mi kocok SKM bisa bertahan di tengah ketatnya persaingan bisnis kuliner? Sepeninggal Sukirman, usaha ini ditangani istrinya. Tak ada satu pun karyawan yang membikin ramuan mi kocok ini.

Makanya, lebih dari tiga dasawarsa kedai ini bertahan. Rahasianya, mempertahankan rasa.

“Selain itu, kami juga harus bisa melihat kemauan pelanggan,” imbuh Anto. Dengan begitu, kendati ada kedai-kedai mi kocok lain yang bermunculan belakangan, kedai ini tak ditinggalkan pelanggannya. Bahkan, tetap menggaet pelanggan baru. Bila ingin mencicipi, ongkos seporsi cukup Rp 10.000 saja. Murah, kan?

+++++
Bertahan Hampir 40 Tahun

Zaman keemasan Mih Kocok SKM Spesial Kaki Sapi barangkali sudah lewat. Tapi kelegendarisannya tak juga padam. Maklum, ada begitu banyak orang tua yang bernostalgia dengan mi kocok racikan asli Sukirman, si empunya kedai mi kocok ini. Seruputan kuah mi kocok yang gurih dengan kekenyalan kaki sapi dan toge yang kemerenyes sungguh bikin kangen.

Tahun 1970, Sukirman mulai merintis kedai ini. Kala itu mi kocok belum sepopuler sekarang ini. Sebelum mencoba berjualan mi kocok, Sukirman adalah penjual kopi dan nasi di kantor keuangan negara. Lantaran menu mi kocok saat itu terbilang “biasa saja”, Sukirman nekat membikin mi kocok yang “luar biasa”.

Nama kedai SKM merupakan kependekan nama Sukirman. Saat itu Jalan Sunda juga belum jadi jalan satu arah seperti saat ini. Jalanan itu sibuk dengan derasnya kendaraan dari dua arah.

Sukirman buka mulai jam 9 pagi hingga 11 malam. Dibantu empat orang anaknya, Sukirman membesarkan kedai sederhananya dari ukuran 5 m x 8 m yang mampu menampung 10 orang pengunjung saja. “Saat itu enggak pakai meja, orang-orang makan mi kocok ya, disangga pakai tangan saja,” tutur Suwarto, generasi kedua penerus Mi Kocok SKM.

Semangkuk mi kocok saat itu dibanderol Rp 150. Penyuka mi kocok olahan Sukirman makin banyak. Lantaran Sukirman tak bisa memperluas warung tendanya, pengunjung pun rela makan mi kocok di dalam kendaraan. Risikonya, ada yang lupa bayar. Tak jarang, mangkuk terbawa pembeli.

Sukirman tak jarang juga harus melarikan gerobaknya saat petugas datang membersihkan kawasan Jalan Sunda dari pedagang. Toh, Sukirman tetap telaten membesarkan kedainya.

Meski keuntungannya tipis, Sukirman nyatanya tetap bisa menabung untuk membeli rumah yang kini menjadi kedai mi kocok. Sejak tahun 1986, ia meninggalkan lahan secuil di perempatan jalan, dan berpindah ke rumah permanen ini.

Mih Kocok SKM
Spesial Kaki Sapi
Jl. Sunda 38, Bandung
Telepon: (022) 4201582

2 responses to “Kangen Menyeruput Mi Kocok Sukirman

  1. raos pisan euy…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s