Ini Dia Hasil Kawin SilangKambing dengan Sepeda

Bagaimana hasilnya bila seekor kambing dikawinkan dengan satu unit sepeda? Hush! jangan berpikir yang tidaktidak. Kalau Anda bertandang ke Pasar Jejeran, Wonokromo, Plered, Bantul, Jogja, Anda akan menemukan hasil perkawinan silang itu, yaitu sate klatak.

Letak Pasar Jejeran ini sekitar 7 km dari dari Makam Imogiri. Siang hari, pasar ini berperan layaknya pasar tradisional lainnya, menjual beragam sayur segar, bumbu masak, hingga daging dan ikan. Malam hari, keramaian ini pasar ini tidak sepenuhnya mati karena disulap menjadi pasar sate klatak.

Berbeda dengan sate kambing lainnya, sate ini anti-bumbu. Sate klatak tidak dibaluri racikan bumbu yang membikin sate ini mengeluarkan aroma yang menggelitik perut. Jadi, sate ini hanya diberi garam. Kalau ada yang minta diberi merica, ya, boleh saja.

Toh, dengan bumbu seadanya, daging kambing ini tetap terasa gurih dan empuk. Bau kambing akan tetap tertinggal. Tapi, justru itu yang diburu pembeli. Jono, pemilik kedai sate klatak, pernah berniat menghilangkan bau kambing dengan ramuan ketumbar, asam, dan kemiri. “Pembeli enggak suka, maunya ke bau kambing yang semula,” katanya.

Tusuk satenya pun terasa lain, yakni dari jeruji roda sepeda ontel. “Kalau pakai bambu, mudah patah,” seru Jono. Selain bisa digunakan ulang, jeruji ini bisa mempengaruhi tingkat kematangan sate dari dalam.

Asal tahu saja, kebanyakan warung sate klatak di Pasar Jejeran buka malam hingga pagi hari. Umumnya, pembeli tidak sekadar untuk kenyang, namun makan untuk berbincang hingga larut malam.

Nah, jadi sekarang Anda sudah tahu kan bagaimana hasil perkawinan antara sepeda dan seekor kambing? Ya daging kambing yang ditusukkan pada jeruji sepeda dan dinamai sate klatak ini.

Ayo, pesanlah sekaligus

Untuk sate klatak, daging kambing dipotong-potong seukuran jempol orang dewasa. Lalu diberi garam, diremas-remas hingga merata. Saban hari, Jono menghabiskan setidaknya satu ekor kambing.

Kalau sedang ramai, bisa mencapai tiga ekor kambing. Potongan daging kemudian ditusuk- tusuk dengan jeruji sepeda, dan dibakar dalam anglo dengan bara api sedang. Sehingga sate masak tanpa gosong sama sekali.

Asal tahu saja, Jono menyediakan 2 gros jeruji sepeda atau sekitar 288 jeruji yang siap pakai. Eh, ini bukan jeruji bekas, lo. Ini jeruji baru. Jangan khawatir, Jono sudah mengandangkan jeruji sepeda yang karatan.

Satu porsi sate klatak berisi dua tusuk saja. Sate ini polos, tidak ditemani dengan kecap maupun irisan bawang merah, tomat, dan cacahan kol. Sungguh-sungguh hanya dua tusuk dalam satu piring. Polos.

Jono akan menawari Anda, apakah nasi putih ini akan diberi kuah gule. Rasanya memang lebih sedap jika ada guyuran kuah gule dalam nasi putih. Kalau tidak, Anda bisa memesan gule kambing terpisah.

Jangan mencari sambal di kedai ini. Jono tak menyediakan untuk Anda. Kalau Anda termasuk penggila masakan pedas, Anda akan dikasih sepiring kecil cabe rawit.

Oh, ya, Anda bisa saja memesan sate berbumbu di sini. Dengan senang hati, Jono akan membikinkan untuk Anda. Sate klatak dan sate bumbu dibanderol Rp 8.000 seporsi. Jika dengan nasi dan the hangat, totalnya Rp 10.000.

Menu lainnya, Anda bisa memesan tongseng, gule, nasi goreng, dan nasi godog. Asing dengan nasi godog? Ini adalah tongseng dengan kuah ekstra, kemudian dicampurkan dengan nasi. Tongseng dan gule ini Rp 8.000 seporsi. Sedangkan nasi goreng dan nasi godog Rp 9.000.

Soal minuman, pasangan yang paling pas untuk sate klatak ini adalah teh hangat gula batu. Coba saja pesan teh panas ini. Jono akan menyediakan teh dalam gelas yang berisi gula batu, berikut satu teko teh tawar panas. Anda tinggal menuangnya di gelas lalu menyeruputnya.

Kelezatan sate klatak bikinan Jono ini kian melegenda. Di pasar yang sama, ada tiga penjual lain selain Jono. Salah satunya adalah Bari, kakak kandung Jono.

Ia berjualan di pasar sebelah ujung. Baik Bari dan Jono adalah generasi ketiga sate klatak di Pasar Jejeran ini.

Lantaran sate polos ini sudah menular, jangan heran bila orang berduyun-duyun menyambangi Pasar Jejeran di malam hari. Kedai di pasar ini buka sekitar pukul 18.00 hingga pukul 1 dinihari.

Itu sebabnya, KONTAN menyarankan untuk memesan beragam menu itu sekaligus. Nantinya, masakan olahan Jono ini tidak akan datang sekaligus.

Jadi, sesuai dengan jarak makan sate klatak sembari ngobrol, kemudian akan datang kembali sate bumbu. Setelah ngobrol, pesanan lain akan datang kembali. .

Ancang-ancang ini wajib Anda lakukan supaya tidak kehabisan.

Soalnya, Jono tidak hanya menerima pesanan dari Anda yang datang ke Pasar Jejeran saja, tetapi juga pesanan lewat telepon. Ayo, nglatak sekarang.

+++++
Sudah Nglatak Sejak Tahun 1930-an

Beberapa orang berusaha mengurai sejarah sate klatak ini. Ada yang mengatakan, klatak berasal dari suara jatuhnya jeruji sepeda ontel yang menjadi tusuk sate. Ada juga yang menebak, klatak ini adalah suara ketika daging kambing itu dibakar di tungku.

Jono adalah salah satu pewaris sate klatak. Ia terhitung generasi ketiga pedagang sate klatak di Pasar Jejeran, Wonokromo, Plered, Bantul. “Simbah saya berjualansejak tahun 1930-an,” katanya.

Baru dua tahun terakhir ini Jono berjualan sendiri. Sebelumnya, ia membantu bapaknya berjualan sate klatak ini, juga di tempat yang sama.

Menurutnya, klatak artinya buah melinjo. Konon, saat leluhurnya masih kecil, kebiasaan bermain adalah mencari buah klatak atau melinjo. Buah ini digunakan sebagai peluru ketapel untuk berburu burung.

Kalau sudah berhasil memburu burung, hasilnya dibakar untuk untuk dimakan ramai-ramai. Mereka memilih membakar dengan jeruji sepeda. Tujuannya, agar tahan lama dipanggang di atas bara.

Permainan masa kecil yang sangat sederhana ini pun terbawa hingga mereka dewasa. Mengancik dewasa, mereka berniat menjual sate kambing. Hanya saja, mereka tak tahu resep sate kambing yang lezat. Hasilnya, ya mereka menggunakan resep seadanya: diberi garam saja. Sate ini jadinya bernama sate klatak.

Dengan bumbu garam, bau perengus yang muncul dari kambing ini masih terasa. Tapi, justru pembeli memburu rasa ini. Bau perengus jadi kekhasan sate klatak.

Di kedai Jono, Anda bisa duduk bangku bambu yang panjang atau di tikar. Anda juga bisa duduk dekat Jono, persis di sebelah tungku dan kambing yang digantung.

Tapi, hati-hati, kalau Jono menyobek daging dari kambing yang digantung, lalu melepaskannya. Salah-salah gantungan kambing itu akan menghantam Anda.

Sate Klatak Jono
Pasar Jejeran, Jl. Imogiri, Bantul
Yogyakarta
Telepon 0816 426 8846

4 responses to “Ini Dia Hasil Kawin SilangKambing dengan Sepeda

  1. pengin coba doooooong

  2. Ibu sunarsih

    Kalau kambing kawin ma mobil ‘pasti lebih enak

  3. @Ibu sunarsih
    maksudnya.. satenya pake velg mobil bu?😛

  4. enak ketoke mba..tapi aku durung pernah coba juga. Kapan kita kuliner bareng di jogja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s