Category Archives: Wisata kuliner daerah

Kangen Menyeruput Mi Kocok Sukirman

Salah satu makanan khas Bandung yang cukup legendaries adalah mi kocok. Di kota ini kini memang sudah bertebaran mi kocok dengan beragam merek dagang. Berbeda dengan tiga dasawarsa silam. Kalaupun ada, pedagang mi kocok di Bandung sangat sedikit. Hanya satudua saja yang berani tampil beda dengan rasa mi yang sip.

Salah satu kedai mi kocok yang dapurnya terus mengebul sejak tahun 1970 hingga saat ini adalah Mih Kocok SKM Spesial Kaki Sapi.

Letaknya ada di Jalan Sunda. Begitu memasuki jalan satu arah ini, jangan ngebut. Seratus meter dari perempatan jalan, di sisi kanan jalan, kedai ini mangkal. Tandanya ada gantungan kaki sapi di bagian gerobak yang sudah permanen.

Sukirman, si perintis kedai ini, sudah meninggal sepuluh tahun silam. Namun, kedai ini tidak lantas mandek sepeninggal Sukirman. Belasan meja tetap tergelar.

Bangku panjang juga siap diduduki. Suwarto atau Anto menjadi generasi kedua penerus usaha mi kocok khas Pasundan ini. Tentu saja, ia bergotong-royong bersama dengan ibunda dan saudarasaudara lainnya.

Gerobak Mih Kocok SKM nangkring dengan santainya di pekarangan beratapkan tenda permanen. Di meja gerobak, Anto sudah siap dengan tiga belas mangkuk yang menengadah, menanti diisi bahan baku mi kocok. Agaknya, mangkuk ini memang sengaja ditata begitu agar senantiasa siap sedia menunggu pengunjung yang datang.

Di halaman itu pula berjejer kursi dan meja panjang dengan wadah plastik berisi kerupuk. “Banyak yang datang ke sini rombongan. Makanya meja dan kursinya panjang supaya lebih lega,” ujar Anto. Kalau penuh, kedai ini bisa memuat sekitar 50 orang sekaligus.

Di bagian dalam, jejeran bangku dan meja panjang juga tersedia. Tapi, pengunjung memang lebih suka menyantap mi kocok di halaman depan. Nah, kalau penuh, barulah bagian dalam ini diisi.

Sedikitnya 200 porsi sehari

Racikan mi kocok ini menempati wadah mangkuk berukuran tanggung. Kuahnya tak sampai luber, namun cukup untuk menemani mi telur berwarna kuning pucat yang pipih dan nyaris tak terputus. “Mi ini kami pesan khusus dari Cipaera,” beber Anto. Saban hari Anto menghabiskan sedikitnya 20 kg sampai 25 kg mi telur.

Bahkan, bisa lebih dari itu saat ujung minggu tiba.

Selain mi telur, ada toge di dalam mangkuk. Toge ini rasanya tidak lembek, tapi kemerenyes renyah. Rebusan toge pas untuk campuran mi kocok. Saban hari Anto harus menyediakan sedikitnya 20 kg toge, lo. Namun, kalau Anda tak suka kemunculan toge, Anda bisa, kok, memesan mi kocok bebas toge.

Sebagai penegas kekhasan mi kocok, Anto membubuhkan cuilan kaki sapi di racikan mi ini. Dalam sehari Anto meludeskan lima setel kaki sapi atau setara kaki 20 ekor sapi. Menurut hitungan Anto, satu kaki sapi bisa tercacah untuk sepuluh porsi mi kocok. Artinya, dalam sehari Anto bisa meladeni 200 porsi. Ini baru hari biasa, ya. Kalau weekend tiba dan kedai ini penuh pendatang dari jauh seperti Jakarta, wah… Anto bisa kewalahan meladeninya.

Meski tak royal memberi kuah, mi kocok ini kental rasa kaldunya. Barangkali Anto menyertakan tulang dan kaki sapi untuk direbus menjadi kaldu. Kuahnya keruh tidak seperti kuah bakso yang bening. Menyeruputnya hingga habis, Anda tak bakal eneg.

Anto menyediakan dua jenis mi kocok kaki sapi, yaitu yang biasa dan spesial. Yang spesial dilengkapi telapok atau bagian bawah kaki sapi yang berwarna kehitaman.

Eh, jangan membayangkan joroknya kaki sapi yang tengah menjejak lumpur, ya. Sebab, usai diolah, telapak sapi jadi sedap disantap, dan kehadirannya membuat rasa mi kocok jadi mantap.

“Ayah saya punya racikan mi kocok yang berbeda dengan lainnya,” papar Anto. Racikannya sepertiapa? Ini, mah, resep keluarga dan Anto tak sudi membagikannya. “Pokoknya, beda dengan tempat lain,” ujar Anto berahasia.

Dulu, banyak pengunjung menyukai tulang-tulang kaki sapi.

Atas permintaan pelanggan, Sukirman meladeninya. Saat ini bagian telapok sapi juga banyak diburu pelanggan. Alhasil bagian ini juga kini disediakan Anto.

Kalau Anda menyukai bagian sumsum kaki sapi, datanglah agak pagian. Anda akan mendapatkan sumsum kaki sapi nan segar dan lezat. “Kalau sudah agak siangan, sudah habis!” kata Anto.

Lantas, apa yang membikin mi kocok SKM bisa bertahan di tengah ketatnya persaingan bisnis kuliner? Sepeninggal Sukirman, usaha ini ditangani istrinya. Tak ada satu pun karyawan yang membikin ramuan mi kocok ini.

Makanya, lebih dari tiga dasawarsa kedai ini bertahan. Rahasianya, mempertahankan rasa.

“Selain itu, kami juga harus bisa melihat kemauan pelanggan,” imbuh Anto. Dengan begitu, kendati ada kedai-kedai mi kocok lain yang bermunculan belakangan, kedai ini tak ditinggalkan pelanggannya. Bahkan, tetap menggaet pelanggan baru. Bila ingin mencicipi, ongkos seporsi cukup Rp 10.000 saja. Murah, kan?

+++++
Bertahan Hampir 40 Tahun

Zaman keemasan Mih Kocok SKM Spesial Kaki Sapi barangkali sudah lewat. Tapi kelegendarisannya tak juga padam. Maklum, ada begitu banyak orang tua yang bernostalgia dengan mi kocok racikan asli Sukirman, si empunya kedai mi kocok ini. Seruputan kuah mi kocok yang gurih dengan kekenyalan kaki sapi dan toge yang kemerenyes sungguh bikin kangen.

Tahun 1970, Sukirman mulai merintis kedai ini. Kala itu mi kocok belum sepopuler sekarang ini. Sebelum mencoba berjualan mi kocok, Sukirman adalah penjual kopi dan nasi di kantor keuangan negara. Lantaran menu mi kocok saat itu terbilang “biasa saja”, Sukirman nekat membikin mi kocok yang “luar biasa”.

Nama kedai SKM merupakan kependekan nama Sukirman. Saat itu Jalan Sunda juga belum jadi jalan satu arah seperti saat ini. Jalanan itu sibuk dengan derasnya kendaraan dari dua arah.

Sukirman buka mulai jam 9 pagi hingga 11 malam. Dibantu empat orang anaknya, Sukirman membesarkan kedai sederhananya dari ukuran 5 m x 8 m yang mampu menampung 10 orang pengunjung saja. “Saat itu enggak pakai meja, orang-orang makan mi kocok ya, disangga pakai tangan saja,” tutur Suwarto, generasi kedua penerus Mi Kocok SKM.

Semangkuk mi kocok saat itu dibanderol Rp 150. Penyuka mi kocok olahan Sukirman makin banyak. Lantaran Sukirman tak bisa memperluas warung tendanya, pengunjung pun rela makan mi kocok di dalam kendaraan. Risikonya, ada yang lupa bayar. Tak jarang, mangkuk terbawa pembeli.

Sukirman tak jarang juga harus melarikan gerobaknya saat petugas datang membersihkan kawasan Jalan Sunda dari pedagang. Toh, Sukirman tetap telaten membesarkan kedainya.

Meski keuntungannya tipis, Sukirman nyatanya tetap bisa menabung untuk membeli rumah yang kini menjadi kedai mi kocok. Sejak tahun 1986, ia meninggalkan lahan secuil di perempatan jalan, dan berpindah ke rumah permanen ini.

Mih Kocok SKM
Spesial Kaki Sapi
Jl. Sunda 38, Bandung
Telepon: (022) 4201582

Advertisements

Ini Dia Hasil Kawin SilangKambing dengan Sepeda

Bagaimana hasilnya bila seekor kambing dikawinkan dengan satu unit sepeda? Hush! jangan berpikir yang tidaktidak. Kalau Anda bertandang ke Pasar Jejeran, Wonokromo, Plered, Bantul, Jogja, Anda akan menemukan hasil perkawinan silang itu, yaitu sate klatak.

Letak Pasar Jejeran ini sekitar 7 km dari dari Makam Imogiri. Siang hari, pasar ini berperan layaknya pasar tradisional lainnya, menjual beragam sayur segar, bumbu masak, hingga daging dan ikan. Malam hari, keramaian ini pasar ini tidak sepenuhnya mati karena disulap menjadi pasar sate klatak.

Berbeda dengan sate kambing lainnya, sate ini anti-bumbu. Sate klatak tidak dibaluri racikan bumbu yang membikin sate ini mengeluarkan aroma yang menggelitik perut. Jadi, sate ini hanya diberi garam. Kalau ada yang minta diberi merica, ya, boleh saja.

Toh, dengan bumbu seadanya, daging kambing ini tetap terasa gurih dan empuk. Bau kambing akan tetap tertinggal. Tapi, justru itu yang diburu pembeli. Jono, pemilik kedai sate klatak, pernah berniat menghilangkan bau kambing dengan ramuan ketumbar, asam, dan kemiri. “Pembeli enggak suka, maunya ke bau kambing yang semula,” katanya.

Tusuk satenya pun terasa lain, yakni dari jeruji roda sepeda ontel. “Kalau pakai bambu, mudah patah,” seru Jono. Selain bisa digunakan ulang, jeruji ini bisa mempengaruhi tingkat kematangan sate dari dalam.

Asal tahu saja, kebanyakan warung sate klatak di Pasar Jejeran buka malam hingga pagi hari. Umumnya, pembeli tidak sekadar untuk kenyang, namun makan untuk berbincang hingga larut malam.

Nah, jadi sekarang Anda sudah tahu kan bagaimana hasil perkawinan antara sepeda dan seekor kambing? Ya daging kambing yang ditusukkan pada jeruji sepeda dan dinamai sate klatak ini.

Ayo, pesanlah sekaligus

Untuk sate klatak, daging kambing dipotong-potong seukuran jempol orang dewasa. Lalu diberi garam, diremas-remas hingga merata. Saban hari, Jono menghabiskan setidaknya satu ekor kambing.

Kalau sedang ramai, bisa mencapai tiga ekor kambing. Potongan daging kemudian ditusuk- tusuk dengan jeruji sepeda, dan dibakar dalam anglo dengan bara api sedang. Sehingga sate masak tanpa gosong sama sekali.

Asal tahu saja, Jono menyediakan 2 gros jeruji sepeda atau sekitar 288 jeruji yang siap pakai. Eh, ini bukan jeruji bekas, lo. Ini jeruji baru. Jangan khawatir, Jono sudah mengandangkan jeruji sepeda yang karatan.

Satu porsi sate klatak berisi dua tusuk saja. Sate ini polos, tidak ditemani dengan kecap maupun irisan bawang merah, tomat, dan cacahan kol. Sungguh-sungguh hanya dua tusuk dalam satu piring. Polos.

Jono akan menawari Anda, apakah nasi putih ini akan diberi kuah gule. Rasanya memang lebih sedap jika ada guyuran kuah gule dalam nasi putih. Kalau tidak, Anda bisa memesan gule kambing terpisah.

Jangan mencari sambal di kedai ini. Jono tak menyediakan untuk Anda. Kalau Anda termasuk penggila masakan pedas, Anda akan dikasih sepiring kecil cabe rawit.

Oh, ya, Anda bisa saja memesan sate berbumbu di sini. Dengan senang hati, Jono akan membikinkan untuk Anda. Sate klatak dan sate bumbu dibanderol Rp 8.000 seporsi. Jika dengan nasi dan the hangat, totalnya Rp 10.000.

Menu lainnya, Anda bisa memesan tongseng, gule, nasi goreng, dan nasi godog. Asing dengan nasi godog? Ini adalah tongseng dengan kuah ekstra, kemudian dicampurkan dengan nasi. Tongseng dan gule ini Rp 8.000 seporsi. Sedangkan nasi goreng dan nasi godog Rp 9.000.

Soal minuman, pasangan yang paling pas untuk sate klatak ini adalah teh hangat gula batu. Coba saja pesan teh panas ini. Jono akan menyediakan teh dalam gelas yang berisi gula batu, berikut satu teko teh tawar panas. Anda tinggal menuangnya di gelas lalu menyeruputnya.

Kelezatan sate klatak bikinan Jono ini kian melegenda. Di pasar yang sama, ada tiga penjual lain selain Jono. Salah satunya adalah Bari, kakak kandung Jono.

Ia berjualan di pasar sebelah ujung. Baik Bari dan Jono adalah generasi ketiga sate klatak di Pasar Jejeran ini.

Lantaran sate polos ini sudah menular, jangan heran bila orang berduyun-duyun menyambangi Pasar Jejeran di malam hari. Kedai di pasar ini buka sekitar pukul 18.00 hingga pukul 1 dinihari.

Itu sebabnya, KONTAN menyarankan untuk memesan beragam menu itu sekaligus. Nantinya, masakan olahan Jono ini tidak akan datang sekaligus.

Jadi, sesuai dengan jarak makan sate klatak sembari ngobrol, kemudian akan datang kembali sate bumbu. Setelah ngobrol, pesanan lain akan datang kembali. .

Ancang-ancang ini wajib Anda lakukan supaya tidak kehabisan.

Soalnya, Jono tidak hanya menerima pesanan dari Anda yang datang ke Pasar Jejeran saja, tetapi juga pesanan lewat telepon. Ayo, nglatak sekarang.

+++++
Sudah Nglatak Sejak Tahun 1930-an

Beberapa orang berusaha mengurai sejarah sate klatak ini. Ada yang mengatakan, klatak berasal dari suara jatuhnya jeruji sepeda ontel yang menjadi tusuk sate. Ada juga yang menebak, klatak ini adalah suara ketika daging kambing itu dibakar di tungku.

Jono adalah salah satu pewaris sate klatak. Ia terhitung generasi ketiga pedagang sate klatak di Pasar Jejeran, Wonokromo, Plered, Bantul. “Simbah saya berjualansejak tahun 1930-an,” katanya.

Baru dua tahun terakhir ini Jono berjualan sendiri. Sebelumnya, ia membantu bapaknya berjualan sate klatak ini, juga di tempat yang sama.

Menurutnya, klatak artinya buah melinjo. Konon, saat leluhurnya masih kecil, kebiasaan bermain adalah mencari buah klatak atau melinjo. Buah ini digunakan sebagai peluru ketapel untuk berburu burung.

Kalau sudah berhasil memburu burung, hasilnya dibakar untuk untuk dimakan ramai-ramai. Mereka memilih membakar dengan jeruji sepeda. Tujuannya, agar tahan lama dipanggang di atas bara.

Permainan masa kecil yang sangat sederhana ini pun terbawa hingga mereka dewasa. Mengancik dewasa, mereka berniat menjual sate kambing. Hanya saja, mereka tak tahu resep sate kambing yang lezat. Hasilnya, ya mereka menggunakan resep seadanya: diberi garam saja. Sate ini jadinya bernama sate klatak.

Dengan bumbu garam, bau perengus yang muncul dari kambing ini masih terasa. Tapi, justru pembeli memburu rasa ini. Bau perengus jadi kekhasan sate klatak.

Di kedai Jono, Anda bisa duduk bangku bambu yang panjang atau di tikar. Anda juga bisa duduk dekat Jono, persis di sebelah tungku dan kambing yang digantung.

Tapi, hati-hati, kalau Jono menyobek daging dari kambing yang digantung, lalu melepaskannya. Salah-salah gantungan kambing itu akan menghantam Anda.

Sate Klatak Jono
Pasar Jejeran, Jl. Imogiri, Bantul
Yogyakarta
Telepon 0816 426 8846

Mari-Mari, Kita Coba yang Baru Bersama Made

Setiap orang yang hobi pelesirke Pulau Bali pasti sudahakrab dengan Warung Made.Warung yang sudah berdiri sejaktahun 1969 ini memang sudahmelegenda. Kurang afdol rasanyakalau tidak berkunjungke warung ini.
Begitu Anda melangkahkankaki ke WarungMade, suasana khas Balibegitu kental. Kursinyaterbuat dari kayu yangusianya sudah cukup tua.Pada dinding warung tergantungfoto-foto sang pemilikdan lukisan khas Bali.

Yang paling khas adalah sarunghitam putih bak papan catur danwarna emas yang melingkarikayu-kayu penyangga. Pilihantempatnya juga fleksibel. Andabisa makan di bawah, bisa juga dilantai atas. Dari atas, Anda bisapuas menyapukan mata ke seluruhwarung.

Kendati sudah berdiri selama37 tahun, namun para konsumentak pernah bosan dengan menukhasnya. Maklum, selain menyediakankudapan khas Bali, warungini juga menyediakan berbagaimenu makanan internasional.

Walhasil, warung ini nyaris takpernah sepi pembeli. Bukan hanyapelancong lokal, turis mancanegarapun kerap datang ke sini.W a -rung Madememang menyediakan menu makananyang tidak dimiliki olehwarung maupun restoran lain diBali. Tipat tjantok, misalnya. Makananyang mirip ketoprak betawiini resepnya sudah dimiliki WarungMade sejak tahun 1950.

Selain tipat tjantok, ada beberapamenu yang menjadi andalan.Salah satunya adalah nasi campurspesial ala Made. Menu yang dihidangkandi atas piring lebar initerdiri dari nasi dan berbagai lauk-pauk. Sebut saja tempe goreng,tuna, udang, tempe kuah santan,rendang, ayam kari, urap mentimun,ayam kelapa parut, bayam,sayur asam,dan serundeng.Hidangan ini juga dilengkapidengan sambal matahsegar khas Bali. “Sambalnya daricabe, bawang merah, bawang putih,dan garam yang ditumbukmenjadi satu dan langsung dihidangkanseketika,” ujar Wayan,salah satu pengelola WarungMade

Untuk bisa mencicipi nasi campurini, konsumen hanya perlumerogoh kocek sebesar Rp 45.000.Selain itu, masih banyak lagi menutradisional Indonesia lain, sepertigado-gado, sate ayam, sate sapi,lumpia, mi kuah, bubur dan rujak.Rata-rata setiap menunya dibanderoldengan harga Rp 30.000 seporsi.

Warung Made juga menyediakanragam menu vegetarian bagipelanggannya yang tidak menyukaidaging. Sebut saja, nasi campurvegetarian bisa disantap denganharga 25.000. Ada pulalumpia sayur seharga Rp 20.000.

Pesan tempat dulu pada saat akhir pekan

Bagi Anda yang tidak menyukaimasakan ala Bali, di Warung Madeini Anda bisa mengorder nasi gorengspesial ala Made. Menu yangsatu ini dilengkapi dengan irisandaging sapi, ayam goreng, telur,dan ekstra salad. Harganya puncukup terjangkau, hanya Rp40.000 per porsi.

Warung Made juga menyediakanbeberapa menu makanancampur. Salah satunya adalah setengahnasi goreng dan setengahgado-gado dengan harga Rp35.000. Oh, ya, Warung Made menyuguhkanpula olahan bebek lokalkhas Bali.

Bagi Anda yang sudah jenuhdengan makanan asli Indonesia,Warung Made menghidangkanpuluhan menu internasional alaEropa dan Asia. Untuk appetizer,tersedia crab avocado, creamcheese and bagel, dan smokedmarlin.

Untuk menu utama ada supersteak dan spare ribs yang jugamenjadi salah satu menu andalan.Sedangkan untuk dessert dihidangkanbrownies, coklat banana,cream caramel, black forrest,cheese cake, pancake, bananasplit, sandwich, salad, dan eskrim ala Made.

Adapun untuk minuman, warungini menyediakan berbagaipilihan. Mulai dari jus melon,mangga, alpukat, pisang, milkshakes, coktails, yoghurt, hinggawine pun tersedia. Untuk jus harganyaRp 20.000 segelas.

Warung Made dibuka mulai pukul8 pagi hingga pukul 24.00 setiaphari. Kendati terdapat 100buah kursi di warungnya, namunjika Anda ingin berkunjung saatakhir pekan, sebaiknya Anda melakukanpemesanan tempat terlebihdahulu. Maklum, tempat inimemang benar-benar ngetop.

Ini kalau Anda emoh mengantreterlalu lama. Maklumlah, tiap hariWarung Made melayani ratusanorang pembeli.

Bagaimana, Anda mau beli makanandi “Beli” Made? Banyak pilihan,ramai, terserah Anda. .

+++++
Banyak yang Serupa, tapi Tidak Sama

Warung Made merupakan salahsatu tempat makan tradisionalyang tertua di Kuta, Bali.Kedai yang jaraknya hanya sekitar300 meter dari pantai ini adalahmilik Ni Made Masih dan suaminya,Peter Steenbergen, dari Belanda.

Mulanya, Warung Made hanyalahsebuah warung kecil yangmenjual makanan khas Bali, yaknitipa tjantok. Sebelum dipegang NiMade, pengelola warung ini adalahI Wayan Madri dan Ni NengahRoti, yang tak lain adalah orangtuaNi Made sendiri.

Sejak kecil, Ni Made selalumembantu orangtuanya berjualantipat tjantok sambil sekolah. Namun,waktu itu, lantaran biaya sekolahmahal, orangtua Ni Madetak sanggup lagi membiayainya.Maka, dia harus rela hanya mengenyamkursi sekolah dasar.

Ni Made lantas meneruskanusaha warung kedua orangtuanya.Lantaran berada dekat pantai,sambil menunggu ombak yangpas, para peselancar menyantapmakanan di Warung Made.

Kini, Warung Made memilikidua cabang. Yakni, di Kuta dan diSeminyak.

Namun, seiring dengan ketenaranWarung Made, banyak warungdi Bali yang berusaha mengekor.Misalnya, dengan membuat tampilanyang mirip Warung Made asli.

Kalau sudah begini, Anda jangansampai tertipu. Sebab, WarungMade punya logo khusus,dan tentu saja rasa makanannyajuga berbeda.

Jadi, kapan Anda ke Bali lalumampir ke Warung Made? .
Warung Made
Pande Mas Kuta (0361) 755297
Jalan Raya Seminyak,
(0361) 732130
 
Print

Hmmm… Teteg yang Ini Segar dan Menyehatkan

Kriteria seperti itu bisa Anda jumpai pada sebuah warung makan di Jogjakarta. Letaknya persis di tengah kota, sekitar 200 meter dari Stasiun Kereta Api Lempuyangan.
Di belakang warung makan ini, rel kereta api hanya berjarak sekitar 10 meter. Jadi, bila kereta api yang menuju arah timur seperti Solo dan Surabaya melaju, jejakan roda kereta terasa kencang sekali. Makanya, kedai yang satu ini dinamakan Lotek dan Gado-gado Teteg. Ya, teteg sendiri artinya palang pintu lintasan kereta api.

Warung makan berukuran 11 m x 5 m ini memiliki tanah yang lapang untuk area parkir. Rerimbunan pohon masih menyisakan rasa adem. Tak heran, semilir angin dengan begitu mudahnya menyapu permukaan kulit.

Entah lantaran orang Jogja yang suka lesehan atau pekarangan warung ini bisa untuk lesehan, si empunya warung menutup sebagian pekarangan dengan konblok. Ia lalu menggelar tikar. Meski warung ini memiliki bangku dan meja, pengunjung tetap memilih lesehan.

Di warung ini Anda akan menjumpai layah atau piring ulekan dari batu yang berdiameter 80 cm. “Ini kami pesan khusus dari Blabak, Magelang,” jelas Untung, si empunya warung. Anda bisa menyaksikan bagaimana pegawai Untung mengolah beberapa lotek sekaligus di layah raksasa ini.

Lotek maupun gado-gado racikan Untung dan istrinya, Siti Yuchriah, dibanderol dengan harga yang cukup masuk akal, yaitu Rp 6.000 seporsi. Begitu sampai, pilihlah tempat duduk lesehan di bagian muka warung.

Tentu saja, karena beralaskan tikar, Anda harus mencopot sepatu atau sandal. Tapi, tidak ada larangan di warung ini untuk duduk sambil mengangkat kaki, atau meluruskannya. Pokok’e bebas, Mas, Mbak!

Bumbu gado-gadonya bikinan sendiri

Indonesia memiliki beragam gado-gado. Umpamanya, gadogado Minangkabau yang isinya sederhana, yaitu taoge, kentang, kol, dan tahu. Gado-gado Jakarta lebih komplet. Ada toge, kol, kentang, tomat, selada serta ketupat, kerupuk, tempe, dan tahu.

Di Surabaya lebih populer dalam bentuk rujak cingur. Gadogado ini memakai bumbu petis udang ala Jawa Timur.

Nah, gado-gado Jogja maupun Solo berbeda lagi. Bumbunya dimasak dengan santan serta daun salam dan lengkuas. Kalau sudah matang dan hendak disantap, baru diberi cuka. Dengan begitu, rasanya gurih, manis dan asam. Untuk penyedap rasa, sebelum dimakan bumbu diberi santan.

“Bumbunya saya bikin sendiri,” jelas Untung. Soal resepnya, ia memiliki rahasia dan mengikuti pakem bumbu gado-gado biasa.

Wajar kalau ia ogah membagi bumbunya. Maklum, kelezatan gado-gado ada di bumbu kacang. “Kacangnya pilihan,” tegas kakek 5 cucu ini.

Sepiring gado-gado di warung milik Untung ini terdiri dari tahu, telur, taoge, daun selada, ketupat, kentang, kol dan mentimun. Beberapa sayuran itu ada yang dimasak, ada pula yang mentah.

Gizi makanan ini sudah berimbang, sebab ada irisan telur di sana. Kalau mau hitung-hitungan ala ahli gizi, ada protein hewani, ada vitamin dan mineral yang cukup, plus karbohidrat.

Sayuran ditata dalam piring hingga menggunung. Setelahnya,disiram dengan bumbu kacang dan ditutup di bagian atas dengan kerupuk dan emping. Hitung punya hitung, setiap 4 hari Untung menghabiskan tomat 50 kg, kol 1 kuintal, dan telur 4 krat. Sayuran yang mesti ia beli harian seperti bayam, Untung membeli 1 karung per hari senilai Rp 25.000.

B e l a k a n g a n , Upik, anak Untung, menambah menu makanan dengan aneka bakaran seperti ikan bakar maupun ayam bakar. Meski tak mengurangi spesialisasi, toh menu tambahan ini tetap laris.

Lotek juga menjadi pilihan di warung ini. Jangan bingung antara gado-gado, lotek dan pecel, ya. Perbedaan ketiganya pada komponen bumbu.

Gado-gado terdiri atas bawang putih, cabe, gula, asam jawa, dan kacang tanah. Setelahnya, santan dipanaskan bersama lengkuas dan salam. Dicampur bumbu gado-gado yang sudah ditumbuk, panaskanlah sampai mendidih, baru dimasuki daun jeruk purut.

Bumbu pecel hampir sama dengan bumbu gado-gado, tetapi ditambah kencur dan tanpa santan. Sayuran pecel wajib direbus.

Lain lagi dengan lotek yang bumbunya dibikin mendadak. Bumbunya terdiri dari cabe rawit, bawang putih, garam, gula, kencur, daun jeruk purut, dan terasi diulek. Kemudian langsung dicampur dengan sayuran.

Di warung Untung ini ada lotek. Kalau Anda sedang emoh makansalad jawa alias gado-gado, Anda punya pilihan lain, yaitu lotek. Nah, Anda siap untuk sehat dan segar?

+++++
Memanfaatkan Waktu Pensiun

Untung tak pernah membayangkan akan menghabiskan masa tuanya menjadi juragan gadogado yang begitu kondang di Jogja. Dulu, ia adalah sopir bahan bakar milik Pertamina. Hingga akhirnya masa tugasnya usai tahun 1978. “Terbiasa bekerja, rasanya aneh kalau kemudian berhenti begitu saja,” jelas Untung.

Usai pensiun, Untung dan istrinya membuka warung gado-gado di Jalan Argolubang, tak jauh dari Stasiun Lempuyangan. Waktu itu, mereka menamainya Warung Sederhana. “Kami punya rumah kosong di sana,” kata Untung.

Modal saat itu sekitar Rp 150.000 plus beberapa bangkudan meja. Konsumen awalnya adalah para tetangga dan mahasiswa. Setiap porsi lotek harganya Rp 25 dan gado-gado Rp 75.

Hitungan modal saban hari saat itu Rp 3.000 dengan pendapatan Rp 2.000-Rp 3.000 per hari. “Enggak untung,” ujar Untung

Masa-masa pertama ini tak mulus. Tetangganya, yang melihat betapa mudahnya uang dari gadogado dan lotek, meminta bumbu kacang Untung dan Siti Yuchriah, istrinya. “Katanya mau buat arisan, eh, enggak tahunya buat jualan,” kenang Siti. Belajar dari pengalaman ini, Siti urung membeberkan resep bumbu kacang mereka.

Toh, pelanggan tak ke manamana. Omzetnya kini mencapai Rp 2 juta-Rp 3,5 juta sehari.

Konsumen terus membesar. Untung sempat memindahkan warungnya dengan meminjam tanah milik Pertamina di seberang rumahnya. “Saya dipinjami, gratis!” ujar Untung. Lantaran penggila gadogadonya makin banyak dan tempat parkir terbatas, ia pun membeli sebidang tanah tak jauh dari warung sebelumnya.

Oh, ya, soal nama, bukan Siti maupun Untung yang menamai Lotek dan Gado-gado Teteg. “Karena kami menunya konsisten begitu saja, konsumen menamai itu,” kata Untung. Warung ini berjalan dengan bantuan 10 karyawan.

Lotek & Gado-Gado Teteg
Jalan Argolubang 184
Yogyakarta
Telepon (0274) 544418
 
Print

Legenda Soto Kudus di Kota Gudeg

Betul. Selain Menara Kudus yang terkenal itu, kota kecil di Jawa Tengah ini memang menyimpan begitu banyak kekayaan kuliner. Ada lentog, penganan yang jamak disantap pagi hari. Satu porsi lentog isinya lontong serta sayur tewel atau sayur nangka muda yang dimasak hingga hancur menyerupai bubur.

Ada lagi sate kerbau. Kalau di warung-warung sate di Kudus, sate bakal datang dengan beragam pilihan, mulai dari daging, hati, dan babat.

Kekayaan kuliner Kudus yang melegenda adalah soto kudus. Umumnya, orang menunjuk soto khas Kudus dengan irisan daging ayam dan kerbau.

Merunut sejarahnya, penggunaan kerbau sebagai sumber adalah tradisi pluralisme saat Islam mulai mengembangkan pengaruh di tanah Jawa. Saat itu, Sunan Kudus, salah satu Wali Songo, melarang pengikutnya menyembelih sapi.

Konon, ini merupakan salah satu jurus untuk menyebarluaskan agama Islam di tengah masyarakat Kudus yang saat itu menganut agama Hindu. Maklum, sapi bagi masyarakat Hindu dianggap binatang suci. Itu sebabnya, tak ada soto kudus dengan daging sapi. Yang ada adalah soto berdaging ayam dan kerbau.

Pada soto kerbau, dagingnya terasa lembut dan berwarna merah muda. Kuah soto yang segar berasal dari kaldu dan jeroan kerbau. Untuk menetralisir bau daging kerbau, penjual menaburi bawang putih goreng.

Saking kondangnya, soto kudus berbiak hingga ke pelosok negeri. Padahal, belum tentu soto kudus itu diproduksi oleh orang asli Kudus. Biasanya cuma nebeng popularitas nama soto kudus.

Tapi, soto kudus yang ada di kedai Rumah Kudus di Jogja adalah racikan orang asli Kudus. Berbeda dengan soto kerbau yang disajikan dengan piring, soto kudus disajikan dalam mangkok mungil. Bukan karena si penjual pelit, lo, tetapi memang begitu porsi dari sono-nya. Tak heran, lebih dari separo pengunjung di kedai milik Sartono ini makan lebih dari satu porsi.

Kedai benuansa Kudus

Setiap pesanan datang, urutan tangan Sartono adalah menjumput nasi, lalu membubuhinya dengan toge, suwiran ayam, seledri, dan daun bawang. “Supaya dari atas terlihat hijau,” katanya. Setelah mengguyuri dengan kuah soto, ia menaburkan bawang putih goreng sebagai penyedap.

Kuahnya segar, gurih mantap, dan tidak terlalu berat. “Jangan lupa pakai kecap,” kata Sartono mengingatkan. Warna dan rasa kecapnya khas. Hitamnya tidak mengeruhkan kuah, dan rasanya juga tidak terlalu manis.

Kecap di kedai ini ia datangkan dari pabrikan lokal di Kudus. Konon, aturan di pabrik itu mengharuskan si pembeli mengambil sendiri kecap pesanan.

Sebulan sekali Sartono harus pergi ke Kudus untuk membeli kecap sebanyak 105 botol. Jumlah ini biasanya tandas dalam sebulan.

Pernah, Sartono kehabisan kecap dan menggantinya dengan kecap yang dijual di supermarket. Eh, rasanya menjadi rusak.

Pasangan pas selain kecap adalah jeruk nipis yang diperas ke mangkuk, perkedel, dan kerupuk rambak. Di setiap meja, tersedia sepiring aksesori seperti keripik tempe, sate kerang, sate hati, sate usus, sate telur puyuh, tempe, perkedel, dan lainnya.

Seporsi soto kudus ini bisa Anda tukar dengan duit Rp 4.500 dan aksesorinya antara Rp 1.500- Rp 2.000 per item. Anda juga boleh melengkapi seporsi soto dengan tulang-tulang ayam.

Kalau menginginkan ceker, kepala ayam, dan jeroan, datanglah agak pagi supaya tidak kehabisan. Soalnya, meski buka pukul 7 pagi, pengunjung mulai datang setengah jam sebelumnya. Dalam sehari, Sartono bisa menghabiskan sekitar 15 ekor ayam dan minimal 12 kg beras.

Dari segi bahan baku dan bumbu, ada kunyit, daun serai, bawang merah, bawang putih, cabe, gula, garam, kecambah, santan, daging ayam atau daging kerbau. Untuk rasa, umumnya manis dengan santan agak kental.

Di kedai ini, Sartono juga menyuguhi nuansa Kudus dari arsitektur bangunan kedai. Di atas tanah seluas 15 meter x 9 meter, Sartono mengusung gebyok atau dinding khas Kudus. Ia juga memasang atap yang mencirikan atap rumah-rumah di Kudus.

Dinding kayu di sini tak membikin gerah bila menyantap soto kudus di siang hari. Keringat yang mengucur justru datang dari nasi dan kuah soto panas yang lezat.

Di bagian dalam, sekitar 50 orang bisa lesehan. Sartono menyiapkan meja pendek dengan alas duduk spon tipis. Kalau emoh lesehan, ada meja panjang di bagian tengah kedai ini.

Di teras ada pikulan soto. Di sinilah Sartono meracik sekitar 500 mangkuk soto kudus dalam sehari. Persis di bagian depan pikulan, Sartono menyediakan bangku panjang untuk sekitar 10 orang.

Kalau di bagian ini masih ada tempat, duduklah untuk menikmati semangkuk soto kudus. Di sinilah tempat yang paling nikmat untuk bersantap. Kalau makan persis di depan pikulannya, pesanan mangkuk kedua akan datang lebih cepat. Betul?

+++++
Kekudusan itu Pindah ke Jogja

Agaknya, Sartono tak kapok berjualan soto kudus. Sudah mewarisi Soto Kudus Kliwon di dari orangtuanya, ia justru membiakkannya. Kali ini, ke Jogja dan menamakannya Rumah Kudus.

Letak kedai ini Jalan Monumen Jogja Kembali (Monjali). Persisnya, dari arah Tugu menuju Monumen Jogja Kembali, terdapat SPBU Monjali. Nah, tepat di utara pengisian bahan bakar inilah Rumah Kudus ini berlindung.

Sebenarnya, kawasan ini tak sepadat Jalan Kaliurang yang sarat dengan jajanan dan pertokoan. Toh, kedai ini tak pernah sepi. Jajaran roda empat berbaris rapi sepanjang hari di ruas kanan dan kiri jalan, terlebih saat ujung pekan.

Sayang, Sartono ogah membeberkan berapa modal yang dibenamkan untuk membikin usaha ini. Tapi, menilik desain arsitektur di kedai ini, mestinya dibangun dengan ongkos yang tak murah. Untuk mengurusi kedai ini, Sartono dibantu 14 karyawannya.

Sartono kini berencana menambah menu makanan, yaitu pindang kudus. Bahkan, bagian belakang kedai ini juga tengah dibangun untuk menambah kapasitas tempat duduk. Selain itu, Sartono juga bakal gandengan dengan pemilik gerai di Ambarukmo Plaza, pusat perbelanjaan anyar di Jogja. “Kami berencana buka di sana,” katanya.

Soto Rumah Kudus
Jl. Monjali 78 B Yogyakarta
Telp. (0274) 625040
Buka: 07.00-20.00

Tinggal Tunjuk, Timbang, lalu Santap, Hap…!

Namanya memang tak enakdi kuping, gong-gong. Tapi, saat Anda mendapat tawaran untuk menyantap menu masakan satu ini jangan buruburu menolak. “Ini sejenis kerang yang banyak hidup di perairan Kepulauan Riau,” kata TeoTek Yang, Manajer Restoran Seafood Golden Prawn di Bengkong Laut, Batam, Kepulauan Riau. Siput atau kerang ini mempunyai cangkang yang cukup besar dan keras, tetapi dagingnya sangat sedikit.

Menu ini menjadi salah satu andalan Golden Prawn, sebuah restoran life seafood terkenal di Batam. Mereka menyediakan beraneka masakan. Mulai dari sekadar steam, goreng mentega, saus merica, saus nanas, dan lain-lain.

Pembeda Golden Prawn dengan restoran lain sejenis berkat satu aturan yang sangat ketat. Seluruh makanan laut dimasak dalam keadaan hidup dan bersih.

Alasannya, demi memuaskan pelanggan, karena mereka menyantap masakan seafood yang segar. “Orang yang benar-benar suka seafood tahu kalau makanannya dimasak dari hewan yang sudah mati,” kata Ayang, panggilan gaul TeoTek Yang.

Untuk kepentingan ini, system pengadaan bahan baku menjadi poin paling penting dalam operasional sehari-hari. Di bagian depan kedai, tersedia kolam-kolam kecil yang berisi aneka pilihan hewan laut, misalnya ikan. .

Ayang menyediakan kolam-kolam ini buat konsumen yang mau makan di restorannya. Sebelum pelanggan masuk dan memilih tempat duduk yang nyaman, mereka terlebih dulu memilih aneka hewan laut hidup yang ingin mereka santap. Saat menimbang itu, para pembeli bisa minta seafood pilihan ini mau dimasak seperti apa. Hmm…, terbayang, deh, lobster merah, ikan kerapu, atau kepiting, yang sebelumnya bergerak lincah di kolam, setengah jam kemudian datang kemeja dalam kondisi sudah matang dan mengepul dengan bau yang sungguh menggugah selera.

Menyulap kawasan rawamenjadi restoran

Golden Prawn mulai terkenal sejak sebelum mereka hadir di kawasan Bengkong Laut. Ayang merintis resto tematik ini dari sebuah warung kecil dekat Pelabuhan Telaga Punggur. Saat itu, pengunjung sudah tak tertampung, dan Ayang merasa warungnya butuh perluasan.

Sayang, keinginan itu tak bisa terwujud. “Akhirnya, Otorita Batam memberi tawaran untuk pindah dan mencari lokasi yang lebih luas,” katanya.

Ayang memilih kawasan Bengkong Laut, Kecamatan Batu Ampar. Mulailah Ayang menyulap rawa sedalam pinggang orang dewasa ini menjadi Golden Prawn.

Ketika restoran ini buka lagi tahun 1993, Ayang seakan memulai lagi usahanya dari nol. Maklum, daerah ini cukup terpencil, butuh infrastruktur pendukung. Tapi, upaya ini tak berlangsung lama dan pelanggan kembali memenuhi tempat duduk Golden Prawn.

Resto Golden Prawn dibikinnya dari bambu, mampu menampung 3.000 pengunjung sekaligus.

Tak heran, kedai ini mempekerjakan sekitar 100 karyawan plus puluhan pemasok dari nelayan. Citra Golden Prawn terus moncer sebagai life seafood restaurant teratas di Batam. Ada yang mengibaratkan, rasanya belum ke Batam sebelum makan di Golden Prawn. Rahasianya?

Dengan terbahak, Ayang berkata tak ada yang mereka sembunyikan. “Selain bahan baku yang terjamin, selebihnya adalah urusan istri saya yang juga kepala koki Golden Prawn,” kata ayah tiga anak tersebut.

Saat KONTAN menelisik lebih dalam, ternyata sang istri tidak mempunyai pendidikan khusus memasak seafood. Ayang sedikit membuka kartu penyebab makanan di restorannya terasa lezat.

“Seafood itu selain harus fresh, setelah dimasak tak lagi anyir. Nah, bawang putih dan jahe yang kita pakai kuat,” bisiknya.

Itulah sebabnya, tampilan dan rasa aneka menu Golden Prawn bukan kelas anak bawang. Setiap porsi selalu tampil segar, penuh warna, sedap, dan mengeluarkan asap dengan aroma sedap.

Untuk urusan harga, tentu karena menyajikan hewan laut hidup, mereka mematok harga lebih mahal untuk ukuran kantong orang Indonesia. Gong-gong, misalnya Rp 75.000 seporsi, sedangkan kepiting Rp 150.000 per porsi. Maklum, Golden Prawan mengincar kalangan menengah atas dan turis asing, terutama dari Singapura.

Asyiknya, kedai ini tak punya jam tutup yang baku. Selama masih ada tamu, mereka akan melayani. Masa menolak rezeki?

Sedapnya makan seafood di tepi laut.

+++++
Makanannya Boleh Sesuai Selera, Minumannya Tetap Teh Obeng

Kali ini kita bicara tentang minuman yang populer di Pulau Batam dan Provinsi Kepulauan Riau. Namanya teh obeng. Saat seorang kawan memesannya, KONTAN pilih mengorder minuman lain, es the manis. Eh, secepat kilat sang kawan memotong, “Itu sama saja. The obeng, dua.”

Hah? Tentu ini bikin kita bengong sejenak. Apalagi ketika minuman itu datang. Benar-benar es teh manis. Kok bisa? Apa hubungannya? Begitu pertanyaan yang langsung mengemuka.

Selama ini, kita mengenal obeng sebagai salah satu alat pertukangan untuk membuka sekrup. Saat pertama mendengar teh obeng, Susanto, orang Madiun yang merantau ke Pulau Bintan, pulau di sebelah timur Batam, malah sempat menyangka yang tidak-tidak. “Aku kira teh obeng itu teh yang diaduk pakai obeng,” katanya sambil tertawa.

Walau sedikit agak ragu-ragu, Indra Abdi, kawan yang memesankan teh obeng tadi, coba menganalisis.

Menurutnya, istilah the obeng ini terpengaruh dari Malaysia dan Singapura yang jaraknya hanya “sepelemparan batu” dari Batam. Bagaimana kalau kita menginginkan minuman panas?

Ada pula istilah khususnya. Asalnya pun sama, dari negeri jiran. Anda cukup menambah “O” setelah jenis minuman yang Anda inginkan. Misalnya, untuk teh manis panas, Anda cukup menyebutnya teh-o. Berlaku pula kalau Anda ingin memesan kopi panas. Tinggal bilang kopi-o ke pelayan dan segelas kopi panas mengepul terhidang.

Satu perbedaan lagi, baik teh-o maupun teh obeng pasti manis. Kalau di Jakarta, sekadar memesan teh atau es teh, kita akan mendapati teh tanpa gula alias tawar.

Maklum, Batam panas dan butuh yang segar-segar dan manis. Pengistilahan ini sampai-sampai memunculkan ungkapan yang meniru produk teh dalam kemasan, “Apa pun makanannya, teh obeng minumannya.”

Ah, ada-ada saja.

Golden Prawn

Bengkong Laut, Batam,

Kepulauan Riau

(0778) 411138, 411142

Mari Mencecap Kenikmatan dalam Kegelapan

Bagi Anda yang ingin menikmati sajian dengan cara yang unik, mungkin tidak ada salahnya menyambangi Blind Cafe. Kafe yang terletak tidakjauh dari Stasiun Kereta Api Bandung ini menawarkan sensasi makan yang rada aneh: suasana gelap total.

Empunya Blind Cafe Arie Kurniawan mengaku, konsep kafe miliknya adalah menciptakan sensasi baru dalam pengalaman kuliner. “Konsep ini adalah yang pertamadan satu-satunya di Indonesia,” klaimnya.

Sejak dibuka awal Februari lalu, setiap pekan ada 400 orang yang gelap-gelapan di Blind Cafe.

Arie yakin, ketika pengunjung berhadapan dengan suasana gelap gulita, indera pengecap akan lebih peka dalam mencicipi makanan yang tersaji.

Sebelum masuk ke dalam “kegelapan” kafe yang berkapasitas 40 orang ini, para pengunjung dipersilakan memilih menu terlebih dahulu. Tak perlu bingung, menunya juga tak terlalu beragam.

Untuk bisa mencicipi hidangan di kafe ini, Anda cukup merogoh kocek Rp 50.000 per orang. Anda bakal mendapat sajian paket hidangan utama, hidangan penutup dan minuman ringan.

Untuk hidangan utama, Blind Cafe menyajikan sirloin & tenderloin steak, chicken steak, spaghetty bolognaise, chicken mayonnaise, dan nasi goreng. Sedangkan untuk hidangan penutup tersaji banana split, jelly cocktail, mixed ice cream, dan bul-bul inside yang terbuat dari campuran buah-buah segar.

Setelah memilih menu, Anda bakal mendapat penjelasan mengenai beberapa peraturan dan situasi yang akan Anda temui di dalam ruangan. Salah satu peraturan yang harus Anda taati adalah: tidak boleh membawa barangbarang yang dapat memancarkan cahaya, seperti ponsel dan korek api. Anda harus menitipkan dan menyimpannya di loker-loker yang telah tersedia di depan kafe.

Setelah itu, pelayan kafe akan membimbing Anda masuk. Bagi rombongan harus saling meletakkan tangan ke pundak teman yang berada di depan. Jadi, berbaris kayak bermain kereta api-kereta apian di masa kecil dulu.

Suasana gelap mulai menghadang. Biang keroknya, sekeliling ruangan kafe ini ditutupi tirai hitam. Pramusaji akan memandu Anda memilih tempat duduk. Kok, bisa? Kan, gelap? Delapan pelayan di Blind Cafe membekali diri dengan kacamata infra merah yang mampu menembus kegelapan.

Oh, ya, jika Anda datang berdua dengan pasangan, pramusaji akan menawarkan, apakan ingin duduk berhadapan atau bersebelahan dengan pasangan Anda.

Tangan Anda harus jago meraba-raba

Setelah mendudukkan pantat, Anda bisa mulai meraba meja dan posisi tempat duduk sambil berbincang atau menunggu hingga menu makanan tersaji di hadapan Anda. Setelah pesanan tersaji, pelayan akan memberitahu posisi piring, sendok, garpu, dan gelas minuman Anda.

Di sinilah sensasi makan di suasana gelap total dimulai. Anda akan menikmati makanan dan minuman dalam suasana gelap gulita. Indera Anda akan lebih focus pada rasa makanan, tanpa direcoki oleh pemandangan, gebyar- gebyar lampu, atau aneka hiasan pada makanan atau ruangan.

Untuk mulai makan, mau tidak mau, Anda mesti meraba satu per satu menu yang tersaji. Tentu, asal jangan salah raba saja, ya….

Bagi Anda yang memesan steak, tentu tidak mudah mengiris daging secara benar di dalam kegelapan.

Tapi, tak perlu bingung, sebab steak yang disajikan telah dipotong kecil-kecil. Sehingga, lebih mudah untuk memasukkannya ke dalam mulut. Menurut Arie, saban akhir pekan, dirinya bisa menghabiskan lebih dari 10 kg daging sapi.

Menggunakan sendok dan garpu serta pisau di dalam ruangan yang serba-gelap tentu saja takmudah. Jadi, bagi Anda yang sudah menyerah, tidak ada salahnya menyantap makanan dengan menggunakan tangan. Soalnya jari-jemari akan lebih mudah merasakan makanan yang akan masuk ke dalam mulut.

Pelayan akan memberitahu apakah makanan kita masih ada yang tersisa atau sudah tandas.

Mereka juga akan mendampingi Anda di samping meja selama mencoba sensasi makan ini. “Tapi, kalau pengunjung menginginkan privasi, kami bisa tinggalkan, kok,” ujar Manajer Operasional Cafe Blind Ornie.

Sambil menikmati hidangan, Blind Cafe juga memanjakan pengunjungnya dengan alunan musik jazz. Setelah menu utama habis, Anda bisa pula mencicipi menu penutup. Lagi-lagi, tak mudah bukan makan es krim dalam kegelapan.

Kalau semua makanan di atas meja telah ludes, pelayan pun akan memberi tahu. Mereka juga akan menanyakan tentang apa saja yang Anda rasakan sepanjang menyantap kudapan di Blind Cafe.

Tertarik makan di tengah kegelapan kafe ini?

+++++
Gelas dan Piring Pecah Bukanlah Masalah

Konsep penyajian makanan ruangan gelap gulita memang hal baru dalam dunia kuliner di Indonesia. Cafe Blind merupakan pelopor dan satu-satunya di Indonesia.

Sementara, di negara lain seperti China, Amerika, dan Australia, konsep makan di kegelapan atau yang dikenal dengan istilah dining in the dark ini sudah sangat diminati banyak orang.

Blind Cafe buka mulai pukul 12 siang hingga pukul 2 dini hari. Menyuguhkan petualangan menyantap makanan yang benar-benar unik, Anda dipaksa merabaraba sendok, garpu, makanan, dan gelas minuman. Semua perangkat makan berasal dari bahan yang mudah pecah. Dalam keadaan gelap gulita, tentu sulit untuk meraihnya. Salah sedikit, gelas itu akan jatuh dan pecah. Namun, Manajer Operasional kafe ini Omie menjelaskan, pengunjung tidak perlu menanggung gelas maupun piring yang pecah. Pasalnya, harga yang dibebankan kepada konsumen sudah termasuk ke dalam risiko jika gelas atau piring pecah tersebut. “Biasanya, pengunjung lebih berhati-hati jika makan di tempat gelap,” katanya.

Menurut Omie, banyak pengunjung yang ingin mencoba kacamata inframerah milik pelayan, dan melihat ruangan kafe. Namun, itu tidak diperbolehkan. “Dibayar berapa pun kami tidak boleh meminjamkannya,” ujarnya.

Maklum, Blind Cafe menjual keunikan bersantap di ruangan gelap.

Kalau pengunjung mengetahui kondisi ruangan dan makanan, sensasinya akan hilang. Meski kafe ini mengandalkan sensasi makan yang unik dan berbeda, bukan berarti pengunjung di kafe ini hanya sekadar mencoba.

Tidak sedikit pengunjung yang datang berulang kali untuk menjajal kembali hidangan dan suasana di kafe ini. Oh, ya, Blind Cafe berencana ekspansi ke Jakarta. “Tahun depan saya akan buat di Jakarta,” tekad pemilik Blind Café Arie Kurniawan.

Blind Cafe
Jl. Pasirkaliki 16 C-D Lantai 2
Kompleks Grand Eastern,
Bandung.
Telepon (022) 4266004