Hmmm… Teteg yang Ini Segar dan Menyehatkan

Kriteria seperti itu bisa Anda jumpai pada sebuah warung makan di Jogjakarta. Letaknya persis di tengah kota, sekitar 200 meter dari Stasiun Kereta Api Lempuyangan.
Di belakang warung makan ini, rel kereta api hanya berjarak sekitar 10 meter. Jadi, bila kereta api yang menuju arah timur seperti Solo dan Surabaya melaju, jejakan roda kereta terasa kencang sekali. Makanya, kedai yang satu ini dinamakan Lotek dan Gado-gado Teteg. Ya, teteg sendiri artinya palang pintu lintasan kereta api.

Warung makan berukuran 11 m x 5 m ini memiliki tanah yang lapang untuk area parkir. Rerimbunan pohon masih menyisakan rasa adem. Tak heran, semilir angin dengan begitu mudahnya menyapu permukaan kulit.

Entah lantaran orang Jogja yang suka lesehan atau pekarangan warung ini bisa untuk lesehan, si empunya warung menutup sebagian pekarangan dengan konblok. Ia lalu menggelar tikar. Meski warung ini memiliki bangku dan meja, pengunjung tetap memilih lesehan.

Di warung ini Anda akan menjumpai layah atau piring ulekan dari batu yang berdiameter 80 cm. “Ini kami pesan khusus dari Blabak, Magelang,” jelas Untung, si empunya warung. Anda bisa menyaksikan bagaimana pegawai Untung mengolah beberapa lotek sekaligus di layah raksasa ini.

Lotek maupun gado-gado racikan Untung dan istrinya, Siti Yuchriah, dibanderol dengan harga yang cukup masuk akal, yaitu Rp 6.000 seporsi. Begitu sampai, pilihlah tempat duduk lesehan di bagian muka warung.

Tentu saja, karena beralaskan tikar, Anda harus mencopot sepatu atau sandal. Tapi, tidak ada larangan di warung ini untuk duduk sambil mengangkat kaki, atau meluruskannya. Pokok’e bebas, Mas, Mbak!

Bumbu gado-gadonya bikinan sendiri

Indonesia memiliki beragam gado-gado. Umpamanya, gadogado Minangkabau yang isinya sederhana, yaitu taoge, kentang, kol, dan tahu. Gado-gado Jakarta lebih komplet. Ada toge, kol, kentang, tomat, selada serta ketupat, kerupuk, tempe, dan tahu.

Di Surabaya lebih populer dalam bentuk rujak cingur. Gadogado ini memakai bumbu petis udang ala Jawa Timur.

Nah, gado-gado Jogja maupun Solo berbeda lagi. Bumbunya dimasak dengan santan serta daun salam dan lengkuas. Kalau sudah matang dan hendak disantap, baru diberi cuka. Dengan begitu, rasanya gurih, manis dan asam. Untuk penyedap rasa, sebelum dimakan bumbu diberi santan.

“Bumbunya saya bikin sendiri,” jelas Untung. Soal resepnya, ia memiliki rahasia dan mengikuti pakem bumbu gado-gado biasa.

Wajar kalau ia ogah membagi bumbunya. Maklum, kelezatan gado-gado ada di bumbu kacang. “Kacangnya pilihan,” tegas kakek 5 cucu ini.

Sepiring gado-gado di warung milik Untung ini terdiri dari tahu, telur, taoge, daun selada, ketupat, kentang, kol dan mentimun. Beberapa sayuran itu ada yang dimasak, ada pula yang mentah.

Gizi makanan ini sudah berimbang, sebab ada irisan telur di sana. Kalau mau hitung-hitungan ala ahli gizi, ada protein hewani, ada vitamin dan mineral yang cukup, plus karbohidrat.

Sayuran ditata dalam piring hingga menggunung. Setelahnya,disiram dengan bumbu kacang dan ditutup di bagian atas dengan kerupuk dan emping. Hitung punya hitung, setiap 4 hari Untung menghabiskan tomat 50 kg, kol 1 kuintal, dan telur 4 krat. Sayuran yang mesti ia beli harian seperti bayam, Untung membeli 1 karung per hari senilai Rp 25.000.

B e l a k a n g a n , Upik, anak Untung, menambah menu makanan dengan aneka bakaran seperti ikan bakar maupun ayam bakar. Meski tak mengurangi spesialisasi, toh menu tambahan ini tetap laris.

Lotek juga menjadi pilihan di warung ini. Jangan bingung antara gado-gado, lotek dan pecel, ya. Perbedaan ketiganya pada komponen bumbu.

Gado-gado terdiri atas bawang putih, cabe, gula, asam jawa, dan kacang tanah. Setelahnya, santan dipanaskan bersama lengkuas dan salam. Dicampur bumbu gado-gado yang sudah ditumbuk, panaskanlah sampai mendidih, baru dimasuki daun jeruk purut.

Bumbu pecel hampir sama dengan bumbu gado-gado, tetapi ditambah kencur dan tanpa santan. Sayuran pecel wajib direbus.

Lain lagi dengan lotek yang bumbunya dibikin mendadak. Bumbunya terdiri dari cabe rawit, bawang putih, garam, gula, kencur, daun jeruk purut, dan terasi diulek. Kemudian langsung dicampur dengan sayuran.

Di warung Untung ini ada lotek. Kalau Anda sedang emoh makansalad jawa alias gado-gado, Anda punya pilihan lain, yaitu lotek. Nah, Anda siap untuk sehat dan segar?

+++++
Memanfaatkan Waktu Pensiun

Untung tak pernah membayangkan akan menghabiskan masa tuanya menjadi juragan gadogado yang begitu kondang di Jogja. Dulu, ia adalah sopir bahan bakar milik Pertamina. Hingga akhirnya masa tugasnya usai tahun 1978. “Terbiasa bekerja, rasanya aneh kalau kemudian berhenti begitu saja,” jelas Untung.

Usai pensiun, Untung dan istrinya membuka warung gado-gado di Jalan Argolubang, tak jauh dari Stasiun Lempuyangan. Waktu itu, mereka menamainya Warung Sederhana. “Kami punya rumah kosong di sana,” kata Untung.

Modal saat itu sekitar Rp 150.000 plus beberapa bangkudan meja. Konsumen awalnya adalah para tetangga dan mahasiswa. Setiap porsi lotek harganya Rp 25 dan gado-gado Rp 75.

Hitungan modal saban hari saat itu Rp 3.000 dengan pendapatan Rp 2.000-Rp 3.000 per hari. “Enggak untung,” ujar Untung

Masa-masa pertama ini tak mulus. Tetangganya, yang melihat betapa mudahnya uang dari gadogado dan lotek, meminta bumbu kacang Untung dan Siti Yuchriah, istrinya. “Katanya mau buat arisan, eh, enggak tahunya buat jualan,” kenang Siti. Belajar dari pengalaman ini, Siti urung membeberkan resep bumbu kacang mereka.

Toh, pelanggan tak ke manamana. Omzetnya kini mencapai Rp 2 juta-Rp 3,5 juta sehari.

Konsumen terus membesar. Untung sempat memindahkan warungnya dengan meminjam tanah milik Pertamina di seberang rumahnya. “Saya dipinjami, gratis!” ujar Untung. Lantaran penggila gadogadonya makin banyak dan tempat parkir terbatas, ia pun membeli sebidang tanah tak jauh dari warung sebelumnya.

Oh, ya, soal nama, bukan Siti maupun Untung yang menamai Lotek dan Gado-gado Teteg. “Karena kami menunya konsisten begitu saja, konsumen menamai itu,” kata Untung. Warung ini berjalan dengan bantuan 10 karyawan.

Lotek & Gado-Gado Teteg
Jalan Argolubang 184
Yogyakarta
Telepon (0274) 544418
 
Print

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s