Gigitan Pertama Begitu Nikmat

Di tangan orang Indonesia, semua bagian tubuh sapi bisa diolah menjadi makanan yang sedap. Mulai dari lidahnya yang biasa disemur, dagingnya yang sering diolah menjadi steik, lalu kulitnya yang dibikin kerupuk atau beduk, sampai iga dan buntutnya yang bisa dibikin sop.

Nah, jika Anda penggemar sop iga sapi, di daerah Jagakarsa, Jakarta Selatan, terdapat kedai sop iga sapi yang perlu Anda sambangi.

Namanya Warung Pojok Pak Tris. Menu spesial tentu saja sop iga sapi. Tapi, Tris juga menyediakan hidangan lain, seperti sop buntut dan bakso urat sapi.

Kedai Pak Tris berada di pojokan. Jika dari arah gedung Trakindo menuju Ragunan atau Setu Babakan, Anda akan masuk ke jalur satu arah. Di penghabisan jalur tersebut sampailah Anda di warung Pak Tris.

Ia sengaja memilih tempat di pojokan karena menurutnya merupakan letak yang strategis.

“Bisa dari dua arah,” ujar Sutrisno, nama panjang Pak Tris. Warungnya tidak terlalu besar, tapi juga tidak terlalu kecil. Ukurannya sekitar 7 m x 8 m. Selayaknya warung, di sana berjejer meja dan kursi tanpa senderan.

Tris mengaku warungnya dapat memuat sekitar 60-an orang. “Ada juga yang makan di mobil kalau penuh,” tuturnya. Parkiran yang ia sediakan lumayan luas. So, Anda jangan tak kebagian parkir.

Merica nendang mulut

Di kedai ini, Anda langsung dapat melihat Tris meramu sop iga. Ini karena meja ramunya berada di depan ruang makan.

Menurut Tris, hal itu sengaja ia lakukan agar konsumen melihat bagaimana cara dia meramu sop iga. Lihat saja, tangannya cekatan, memasukkan potongan iga ke mangkuk, lalu menyiramkan kuah dan menaburinya dengan irisan seledri dan bawang goreng.

Warung Pak Tris buka dari jam 10 pagi sampai jam 10 malam. Jika Anda berkunjung di sana pas jam makan siang atau makan malam, sudah pasti akan susah mendapatkan tempat duduk.

Yuk, kita mulai mengecap kuahnya. Wuih, rasa merica sangat terasa. Maklumlah, Tris memang royal dalam meracik bumbu. Tapi, juga tak kebanyakan.

Ia mengakui, tidak ada resep rahasia dalam sop iga buatannya. “Semua bumbu masakan pasti sama, hanya komposisinya saja yang berbeda,” katanya sambil tertawa.

Kuahnya bening dan tak terlalu kental. Ini berpadu dengan minyak lemak yang mengambang tak terlalu banyak. Daging yang menempel di iga terasa lembut di mulut. Anda tak perlu ngotot untuk melepaskan daging beserta uratnya dari tulang iga. Hanya dengan gigitan kecil, daging dan urat sudah pasti akan terlepas dari tulangnya. Selain itu, daging mudanya pun masih terasa empuk di mulut. Ada sensasi bunyi kriukkriuk ketika Anda mengunyah tulang mudanya.

Jika Anda memesan sop buntut, Anda akan merasakan sensasi yang sama. Anda tinggal menyedot, niscaya daging yang membalut tulang buntut tersebut akan langsung terlepas.

Tetapi, jika memesan sop buntut, Anda butuh keahlian lebih untuk menikmatinya. Karena buntut agak lebih berbelit jika dibandingkan dengan iga. Jangan malumalu untuk menggunakan tangan, karena dengan begitu sensasi dari memakan buntut dapat terasa.

Tris mengakui ia tidak menghitung berapa porsi dalam sehari ia bisa menyediakan sop iga. Yang jelas, dalam sehari ia bisa menghabiskan 60 kg iga sapi. Bahkan, kala puasa Warung Pojok bisa menghabiskan iga sapi sampai satu kuintal. Bahan ini ia pesan dari pedagang langganannya di Pasar Minggu dan Pondok Labu.

Dalam memilih iga, Tris tak sembarangan. Jika pemasok mengirimi iga dengan kualitas jelek, ia langsung menolaknya. Tris emoh pelanggannya kecewa dengan iga berkualitas rendah.

Saat ini, Warung Pojok Pak Tris mempunyai karyawan sebanyak 15 orang. Kebanyakan masih keluarganya. Bahkan, yang duduk di belakang kasir adalah anaknya yang nomor tiga.

Tris sendiri memilih untuk berada di belakang meja racik, karena banyak pelanggan yang mencarinya jika tak berada di situ. “Kata pelanggan, kalau bukan saya yang meracik rasanya lain,” tuturnya.

Untuk kepuasan dari seporsi sop iga Pak Tris, Anda cukup menebusnya dengan harga Rp 8.000.

Sedangkan untuk sop buntutnya Anda perlu merogoh lebih dalam lagi, yakni Rp 15.000.

Oh, ya, selain hidangan dari sapi, Tris juga menyajikan hidangan lain. Misalnya, pecel lele, ayam panggang dan goreng, sayur asam, mi ayam, dan lainnya. Jadi, jika Anda mengajak teman Anda yang tidak doyan sop iga maupun sop buntut, ada pilihan lainnya.

Yang perlu Anda waspadai adalah lalat. Karena di warung Pak Tris lalat berterbangan, jadi berjaga- jagalah. Hus! Jangan sampai lalat juga jadi hidangan tambahan. Tak apalah, sedap juga menyantap sop sambil mengusir.

+++++
Sempat Jadi Pekerja Bangunan

Ternyata, darah koki memang sudah mengalir di jiwa Sutrisno, nama lengkap Tris. Orangtuanya juga membuka warung makan di daerah Pasar Minggu. Awal mulanya Tris membantu mereka. Namun, ia berpikir, jika terus-terusan di situ, ia tidak berkembang. Akhirnya,

Tris memutuskan untuk berpisah dengan orangtuanya dan membuka warung sendiri. Lepas dari orangtuanya, Tris tidak langsung membuka warung sendiri. Ia ikut dulu di warung orang lain yang membuka warung di Kebun Binatang Ragunan. Setelah Tris merasa mantap dalam hal modal dan juga ilmu, ia memutuskan untuk membuka warung sendiri.

Tak terlalu besar, hanya sebuah kavling di jejeran warung di Pintu Barat Ragunan juga. “Sekarang tempatnya sudah jadi parkiran sepeda motor,” kenangnya.

Tris berjualan di warung Ragunan tersebut cukup lama, sekitar 18 tahun. ”Dari anak saya lahir sampai saya punya menantu,” katanya sambil tersenyum.

Di Ragunan, Tris mencoba mengumpulkan modal. Ia bercita-cita untuk membuka warung yang lebih besar dan di luar kawasan Ragunan.

Kemudian, Tris mendapat tempat di Jalan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Tak jauh dari tempatnya berusaha sekarang.

Tapi, keberuntungan belum berada di pihak Tris. Baru berjualan beberapa saat, sang pemilik menjual tanah yang ia tempati. Tris pun tak bisa berjualan lagi.

Cukup lama Tris meredam keinginannya untuk terus berjualan. Dalam mengisi waktu, Tris mencoba peruntungan dengan menjadi pekerja bangunan.

Tapi, ternyata keinginan berjualan terus membayanginya. Maka, setelah dua tahun menjadi pekerja bangunan, ia pun kembali lagi ingin berjualan.

Itu sebabnya, ketika melihat ada tempat yang cocok untuk membuka usaha lagi, Tris langsung menyambarnya.

Betul, di tempatnya sekarang, ia giat “membanting tulang” jualan sop. “Tapi, dulu masih kakilima, belum bangunan kayak gini,” ujar Tris.

Warung Pojok Pak Tris
Jl. Paso No. 1E RT 005 RW 004
Jagakarsa Jakarta Selatan
Telp (021) 78891611

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s