Resep Tua Berwajah Balita

Semboyan anak harapan masa depan yang perlu dirawat dan dibesarkan dengan baik, tampaknya, tak berlaku bagi Rolika. Baginya, memangkas generasi malah membuat masa depan lebih cerah. Tiap hari entah berapa puluh ribu “bayi-bayi” berumur tiga bulan dibunuhi dan digorengnya menjadi makanan nan gurih.

Bukan bayi manusia, lo. Rolika adalah kedai pembuat lauk-pauk nan kondang di Bogor. Olahan khasnya: ikan balita dan gepuk sapi. Sebutan ikan balita memang nama ikan goreng berbahan baku benih ikan emas berumur tiga bulan. Adapun gepuk, kita lebih mengenalnya sebagai empal atawa daging sapi goreng.

Kedua menu ini jadi andalan Rolika selama dua puluh tahun. Malah, kini gepuk dan ikan balita sudah menjadi makanan khas dari kota hujan dengan nama Karuhun, yang artinya leluhur. “Resepnya turun-temurun warisan keluarga,” terang Rudi Jundani, Presiden Direktur Karuhun.

Cobalah kudap gepuk si Karuhun. Daging sapi itu terasa gurih, ditingkahi manis serta empuk berserabut. Ditambah remah-remah mirip abon serta bawang goreng, gepuk Karuhun makin melengkapi santapan kita. Cocol juga dengan sambalnya agar semilir pedas menyempurnakan gurih dan manis yang telah ada.

Comot pula sekawanan ikan balita goreng. Meski kecil, resep olahan ikan ini sudah tua kondangnya. Kriuk! sekali caplok tubuh balita hancur berkeping-keping seperti keripik. Bagaimana jika ditambah sejumput nasi hangat dan sambal terasi? Bayangkan saja sendiri.

Rudi bilang, ikan balita bukan hanya gurih, tapi bagus untuk tulang. Duri atau tulang balita yang ikut termakan mengandung fosfor tinggi. Jika makan ikan besar durinya tentu harus dibuang. Nah, mustahil kan membuang duri saat menyantap si bayi. Justru di situlah keunggulannya. Gurih dan fosfor sama-sama termakan.

Benih langka diborong Rolika

Membuat gepuk, kata Rudi, gampang-gampang susah. Mereka hanya mengambil paha bagian luar sapi yang keras dan berserat kasar sebagai bahan baku, agar daging tak hancur saat digeprek. “Dari satu ekor sapi, hanya empat kilogram daging yang layak,” terang Rudi.

Daging sapi ini lantas dibumbui garam dan bawang, serta direbus selama beberapa menit. Selanjutnya, daging di-geprek dan diiris. “Ngeprek-nya harus penuh perasaan. Agar tumbukannya tidak terlalu keras atau ringan,” sarannya. Setelah digulung dan dibumbui lagi, gepuk lantas digoreng dalam minyak panas.

Mengolah ikan balita pun tidak mudah. Bahan baku, berupa anakan ikan emas umur tiga bulan, harus berasal dari ternakan kolam mina padi atawa ikan yang dipelihara di sawah bersama padi. Diyakini, ikan ini dagingnya lebih gurih dan tidak berbau lumpur. Sebaliknya, kalau ikan hasil piaraan di kolam serta diberi makan pelet buatan, gorengannya berbau lumpur atau berbau pelet.

Bisa dibayangkan, membersihkan ikan segede jari berjumlah ratusan ribu bukanlah pekerjaan ringan. Menyodet perutnya pun harus cepat dan ekstrahati-hati agar tak memecahkan empedunya. Jika meleset, ikan bisa terasa pahit terkena empedu. Proses pembedahan, pembumbuan, serta menggorengnya harus dikerjakan dalam tempo lima belas menit. Saat masih setengah matang, bayi-bayi ikan itu diangkat dan dibumbui lagi agar lebih meresap. Setelah itu, baru digoreng lagi hingga kering.

Rolika terbilang sukses menjajakan balita dan gepuk Karuhun. Hari biasa, lebih dari 100 bungkus terjual. Melongok harga gepuk yang Rp 55.000 serta Rp 45.000 untuk ikan balitanya, untung Rolika besar. Bandingkan dengan harga anakan ikan emas termurah Rp 15.000 sekilogram. Sementara itu, banderol harga daging sapi berkisar Rp 30.000 sekilogram. Namun, menurut Rudi, harga mahal bukan masalah bagi para pembeli. Kata dia, selain enak, kemasan ikan dan gepuk juga sedap dipandang. “Kami juga sudah patenkan resep dan namanya sejak tahun 1995 lalu,” tandas Rudi.

Jika permintaan ikan balita ramai, kata Rudi, Karuhun mampu membuat pasar benih ikan berguncang. Asal tahu saja, tiap minggu Rolika memborong satu ton bibit ikan mas berisi ratusan ribu benih. Selanjutnya, mudah ditebak, kelangkaan bibit ikan membuat harga meroket. Dus, peternak ikan mengeluh karena kehabisan bibit. “Bisa-bisa ikan emas punah ya, ha.. ha…,” canda Rudi.

Balita Goreng Andalan Katering

Bayi Rolika adalah jasa katering yang dibikin Ana Taryono awal tahun 1980 lantaran penghasilan suami Ana yang dokter tentara di TNI Angkatan Udara (dulu AURI), pas-pasan. Titik cerah bermula saat dia berhasil menyediakan makanan untuk atlet terjun payung PON IX. Biar beken, kateringnya diberi nama Rolika, gabungan keempat nama anaknya: Rudi, Osi, Lina, dan Ika.

Kini, Rolika yang dirintis Ana berkembang pesat dan kondang di mana-mana dan punya 200 pegawai. Sudah begitu, kebanyakan pelanggan Rolika kalangan berduit Kemasyuran Rolika sudah sampai mancanegara. Tiap minggu mereka mengirimkan ratusan paket gepuk dan ikan balita ke restoran Indonesia di Belanda. Jasa kateringnya pun acap dipesan pejabat di luar Jawa. Misalnya, seorang bupati di Kalimantan Barat menggunakan jasa Rolika untuk pernikahan anaknya. Pesanan ini sungguh merepotkan karena mustahil mengirimkan langsung menu katering.

Apalagi, acaranya bakal digelar selama lima hari. Selain itu, peralatan memasak dan pesta tak ada di sana.Apa akal? Rolika lantas menerbangkan sekitar 20 kru katering plus semua perlengkapan memasak seberat hampir dua ton. “Kami sewa pesawat Hercules milik TNI-AU,” cetus Rudi.
 

4 responses to “Resep Tua Berwajah Balita

  1. ikan balita dan cethul/ikan teri besar mana ya? opo yo wareg ngono mangan iwak cilik2…

    mohon diberi denah lokasi dong, biar gampang mencicipnya…

  2. Lokasinya dimana nih?

  3. Mau rasa in Teri Cethul dari Jogja ?,
    kunjungi kami di http://www.rofahobbies.blogspot.com,
    langsung yang cari ma mbuatnya, enak tenan !

  4. saya blh minta nmr tlp penjual kripik ikan balita dan harga perkg?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s