Tinggal Tunjuk, Timbang, lalu Santap, Hap…!

Namanya memang tak enakdi kuping, gong-gong. Tapi, saat Anda mendapat tawaran untuk menyantap menu masakan satu ini jangan buruburu menolak. “Ini sejenis kerang yang banyak hidup di perairan Kepulauan Riau,” kata TeoTek Yang, Manajer Restoran Seafood Golden Prawn di Bengkong Laut, Batam, Kepulauan Riau. Siput atau kerang ini mempunyai cangkang yang cukup besar dan keras, tetapi dagingnya sangat sedikit.

Menu ini menjadi salah satu andalan Golden Prawn, sebuah restoran life seafood terkenal di Batam. Mereka menyediakan beraneka masakan. Mulai dari sekadar steam, goreng mentega, saus merica, saus nanas, dan lain-lain.

Pembeda Golden Prawn dengan restoran lain sejenis berkat satu aturan yang sangat ketat. Seluruh makanan laut dimasak dalam keadaan hidup dan bersih.

Alasannya, demi memuaskan pelanggan, karena mereka menyantap masakan seafood yang segar. “Orang yang benar-benar suka seafood tahu kalau makanannya dimasak dari hewan yang sudah mati,” kata Ayang, panggilan gaul TeoTek Yang.

Untuk kepentingan ini, system pengadaan bahan baku menjadi poin paling penting dalam operasional sehari-hari. Di bagian depan kedai, tersedia kolam-kolam kecil yang berisi aneka pilihan hewan laut, misalnya ikan. .

Ayang menyediakan kolam-kolam ini buat konsumen yang mau makan di restorannya. Sebelum pelanggan masuk dan memilih tempat duduk yang nyaman, mereka terlebih dulu memilih aneka hewan laut hidup yang ingin mereka santap. Saat menimbang itu, para pembeli bisa minta seafood pilihan ini mau dimasak seperti apa. Hmm…, terbayang, deh, lobster merah, ikan kerapu, atau kepiting, yang sebelumnya bergerak lincah di kolam, setengah jam kemudian datang kemeja dalam kondisi sudah matang dan mengepul dengan bau yang sungguh menggugah selera.

Menyulap kawasan rawamenjadi restoran

Golden Prawn mulai terkenal sejak sebelum mereka hadir di kawasan Bengkong Laut. Ayang merintis resto tematik ini dari sebuah warung kecil dekat Pelabuhan Telaga Punggur. Saat itu, pengunjung sudah tak tertampung, dan Ayang merasa warungnya butuh perluasan.

Sayang, keinginan itu tak bisa terwujud. “Akhirnya, Otorita Batam memberi tawaran untuk pindah dan mencari lokasi yang lebih luas,” katanya.

Ayang memilih kawasan Bengkong Laut, Kecamatan Batu Ampar. Mulailah Ayang menyulap rawa sedalam pinggang orang dewasa ini menjadi Golden Prawn.

Ketika restoran ini buka lagi tahun 1993, Ayang seakan memulai lagi usahanya dari nol. Maklum, daerah ini cukup terpencil, butuh infrastruktur pendukung. Tapi, upaya ini tak berlangsung lama dan pelanggan kembali memenuhi tempat duduk Golden Prawn.

Resto Golden Prawn dibikinnya dari bambu, mampu menampung 3.000 pengunjung sekaligus.

Tak heran, kedai ini mempekerjakan sekitar 100 karyawan plus puluhan pemasok dari nelayan. Citra Golden Prawn terus moncer sebagai life seafood restaurant teratas di Batam. Ada yang mengibaratkan, rasanya belum ke Batam sebelum makan di Golden Prawn. Rahasianya?

Dengan terbahak, Ayang berkata tak ada yang mereka sembunyikan. “Selain bahan baku yang terjamin, selebihnya adalah urusan istri saya yang juga kepala koki Golden Prawn,” kata ayah tiga anak tersebut.

Saat KONTAN menelisik lebih dalam, ternyata sang istri tidak mempunyai pendidikan khusus memasak seafood. Ayang sedikit membuka kartu penyebab makanan di restorannya terasa lezat.

“Seafood itu selain harus fresh, setelah dimasak tak lagi anyir. Nah, bawang putih dan jahe yang kita pakai kuat,” bisiknya.

Itulah sebabnya, tampilan dan rasa aneka menu Golden Prawn bukan kelas anak bawang. Setiap porsi selalu tampil segar, penuh warna, sedap, dan mengeluarkan asap dengan aroma sedap.

Untuk urusan harga, tentu karena menyajikan hewan laut hidup, mereka mematok harga lebih mahal untuk ukuran kantong orang Indonesia. Gong-gong, misalnya Rp 75.000 seporsi, sedangkan kepiting Rp 150.000 per porsi. Maklum, Golden Prawan mengincar kalangan menengah atas dan turis asing, terutama dari Singapura.

Asyiknya, kedai ini tak punya jam tutup yang baku. Selama masih ada tamu, mereka akan melayani. Masa menolak rezeki?

Sedapnya makan seafood di tepi laut.

+++++
Makanannya Boleh Sesuai Selera, Minumannya Tetap Teh Obeng

Kali ini kita bicara tentang minuman yang populer di Pulau Batam dan Provinsi Kepulauan Riau. Namanya teh obeng. Saat seorang kawan memesannya, KONTAN pilih mengorder minuman lain, es the manis. Eh, secepat kilat sang kawan memotong, “Itu sama saja. The obeng, dua.”

Hah? Tentu ini bikin kita bengong sejenak. Apalagi ketika minuman itu datang. Benar-benar es teh manis. Kok bisa? Apa hubungannya? Begitu pertanyaan yang langsung mengemuka.

Selama ini, kita mengenal obeng sebagai salah satu alat pertukangan untuk membuka sekrup. Saat pertama mendengar teh obeng, Susanto, orang Madiun yang merantau ke Pulau Bintan, pulau di sebelah timur Batam, malah sempat menyangka yang tidak-tidak. “Aku kira teh obeng itu teh yang diaduk pakai obeng,” katanya sambil tertawa.

Walau sedikit agak ragu-ragu, Indra Abdi, kawan yang memesankan teh obeng tadi, coba menganalisis.

Menurutnya, istilah the obeng ini terpengaruh dari Malaysia dan Singapura yang jaraknya hanya “sepelemparan batu” dari Batam. Bagaimana kalau kita menginginkan minuman panas?

Ada pula istilah khususnya. Asalnya pun sama, dari negeri jiran. Anda cukup menambah “O” setelah jenis minuman yang Anda inginkan. Misalnya, untuk teh manis panas, Anda cukup menyebutnya teh-o. Berlaku pula kalau Anda ingin memesan kopi panas. Tinggal bilang kopi-o ke pelayan dan segelas kopi panas mengepul terhidang.

Satu perbedaan lagi, baik teh-o maupun teh obeng pasti manis. Kalau di Jakarta, sekadar memesan teh atau es teh, kita akan mendapati teh tanpa gula alias tawar.

Maklum, Batam panas dan butuh yang segar-segar dan manis. Pengistilahan ini sampai-sampai memunculkan ungkapan yang meniru produk teh dalam kemasan, “Apa pun makanannya, teh obeng minumannya.”

Ah, ada-ada saja.

Golden Prawn

Bengkong Laut, Batam,

Kepulauan Riau

(0778) 411138, 411142

One response to “Tinggal Tunjuk, Timbang, lalu Santap, Hap…!

  1. Pingback: Wisata Kuliner Di RIAU « Ngabuburit’s Weblog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s