Sreng… Aroma Kambing Menyergap

Nasi goreng, boleh jadi, adalah menu paling akrab di lidah kita. Masakan ini hampir pasti ditemukan di tiap sudut kota, dari Sabang sampai Merauke. Baik yang dijajakan dengan gerobak dorong, tersaji di warung tenda, sampai masuk dalam menu restoran mewah. Saking populernya, makanan ini boleh dibilang telah menjadi makanan nasional. Bahkan, nasi goreng juga sudah kondang hingga ke mancanegera. Tengok saja tiap restoran masakan Indonesia, tentu tak pernah melewatkan nasi goreng dalam daftar jualannya.

Varian nasi goreng sangat kaya ragam. Ada yang cukup dicampur dengan telur dan irisan daging ayam, atau dibubuhi daging kambing, petai, hingga makanan laut seperti cumi-cumi, udang atau ikan asin. Bermacamnya campuran itu membuat rasa nasi goreng tidak melulu sama. Tentu saja, jadi tak jemu untuk disantap juga.

Salah satu varian yang selalu digemari orang banyak adalah nasi goreng kambing. Bayangkan sedapnya nasi goreng diselingi saputan daging embek nan kenyal lagi gurih. Lidah bukan melulu merasai butiran-butiran nasi berminyak yang gurih dan pedas, melainkan juga dilengkapi lauk daging kambing.

Sungguh gampang mencari nasi goreng kambing di ibu kota. Hampir semua kedai nasi goreng selalu menyertakan varian nasi goreng kambing dalam daftar menunya. Saking tenarnya, orang cukup menyebut nasgorkam, singkatan dari nasi goreng kambing. Meski begitu, boleh dibilang warung nasi goreng Kebon Sirih di sebelah selatan Taman Monas-lah yang paling tenar. Maklum, kedai ini sudah berumur tiga puluh tahun.

Setiap malam menjelang, apalagi di akhir pekan, deretan mobil penuh sesak menjejali sisi jalan tempat warung itu berdiri. Asyiknya lagi, pengunjungnya tak perlu resmi duduk mengantre di kursi kedai saat menunggu pesanan datang. Kedai ini cuma menyediakan sedikit bangku buat pelanggannya. Dengan begitu, mau tak mau, kita bisa seenaknya ngejogrok di mana saja. Sambil tiduran di kursi mobil, nggelosor di pelataran kantor yang ada di kawasan itu atau cukup nongkrong di pinggir Jalan Kebon Sirih seraya menikmati keramaian. Sesekali, pengamen jalanan menambah cerianya malam.

Tapi, jangan terlalu lama mencari tempat nongkrong. Jika enggan pusing karena tidak kebagian tempat menanti, cukup duduk tenang di dalam mobil. Jangan khawatir bakal diabaikan penjualnya. Kedai ini punya banyak pelayan yang dengan suka rela hilir mudik di antara mobil-mobil pengunjung sambil menanyakan sajian yang kita inginkan.

Nasi goreng aroma gulai

Warung nasi goreng Kebon Sirih mulai buka dari pukul 17.00 WIB sampai tengah malam. Bahkan, bila akhir pekan, kedai ini buka hingga pukul tiga dinihari. Kaum dugemis atawa pengeluyur malam tentu sudah tak asing lagi dengan nasgorkam Kebon Sirih ini. Soalnya, inilah salah satu kedai favorit mereka usai clubbing. Dengan banderol Rp 11.000 sepiring, dijamin perut kenyang dan tubuh semilir berkeringat.

Menyantap menu ini memang nikmat. Sendok saja sesuap nasi goreng yang masih mengepul hangat. Saat mulut terpenuhinya, terasa ada yang mengganjal di antara butiran nasi. Itulah irisan daging si embek yang empuk menyembul di sela-sela kunyahan nasi itu. Sudah begitu, rasanya bukan melulu campuran pedas cabai serta asinnya garam, melainkan ditingkahi aroma rempah-rempah. “Memang itu khasnya, ada campuran rempah-rempah,” terang pengelola serta pewaris kedai ini, Rudi Danian. Jadi, waspada saat menyantap olahan Rudi. Kadang di antara nasi dan daging masih ada ranjau berupa butir-butir biji kapulaga. Jika tercaplus gigi, sontak aroma rempah-rempah kian menyengat. Akibatnya, kita jadi terheran-heran sendiri karena nasi goreng telah berasa gulai kambing.

Nasi goreng Kebon Sirih adalah nama yang diberikan pelanggan karena lokasinya pas di pinggir Jalan Kebon Sirih Jakarta Pusat. Asal tahu saja, sebelum nama itu disandangnya, warung Rudi pernah bergelar Nasi Goreng Salam, Nasgorkam, atau Baskom. Namun hingga kini, nasi goreng Kebon Sirih tak ubahnya menjadi nama “resmi” kedai ini. “Itu hanya sebutan pembeli. Kita sih enggak pernah ngasih nama,” jelas Rudi menerangkan.

Kedai nasi goreng Kebon Sirih didirikan Neim, ayah Rudi, sekitar 30 tahun silam. Waktu itu jualan Neim adalah nasi dan mi goreng. Karena nasi gorengnya lebih laris, pamor mi-nya meredup. Kalau dulu Neim sendiri yang meracik dan mengolah bumbunya, kini dia tak perlu repot. Soalnya, ada empat koki yang siap meladeni pesanan pembeli. Rudi sendiri baru memegang komando di nasi goreng Kebon Sirih sejak 1995. Itu dengan syarat: “Saya harus menyelesaikan kuliah dulu. Sebelumnya sama sekali enggak boleh,” kenang Rudi.

Kuncinya, beras kualitas sedang

Kedai ini setidaknya menghabiskan beras hingga 50 kg semalam saat pengunjung membludak. Beras itu ditanak dan agar menjadi nasi goreng kambing, harus dicampur dengan 30 kg daging kambing sebagai bahan utama campurannya. Sekarang warung Neim sudah beranak tiga, yakni di Cinere, Karangtengah, serta pertokoan Pasaraya Blok M. “Hasilnya, lumayan-lah,” ucap Rudi.

Tentu bukan cuma nasi goreng Kebon Sirih saja yang layak disinggahi. Nasi goreng di Jalan Fatmawati Jakarta Selatan atau Jalan Kesehatan Petojo juga sama kondangnya. Nasi goreng kambing Jalan Kesehatan berada tepat di depan bengkel mobil yang terletak di perempatan Jalan Sugiyo Pranoto. Jika ingin mencicipinya, silakan sabar mengantre. Berbeda dengan nasi goreng Kebon Sirih, kedai ini memiliki deretan bangku dan meja layaknya warung. Nah, rasa nasi goreng kambing yang menyengat bisa dijinakkan dengan Liang Teh Medan yang tersedia dalam gerobak berbeda.

Di seputar Fatmawati ada nasi goreng Mas Yanto atau Cahaya Super Bandung. Kendati menjual nasi goreng kambing, kedua kedai ini juga menyediakan varian nasi goreng lain. Sama seperti kedai nasi goreng di daerah Melawai, belakang pom bensin. Deretan kedai di sana memang tidak secara spesifik menyediakan nasgorkam, namun menu nasi goreng cukup banyak peminatnya. Nah, kalau menjelajah Jakarta Selatan begini, jangan ketinggalan nasi goreng kambing petai Bakti di Jalan Senopati, sekitar pompa bensin Senopati.

Sepertinya membuat nasi goreng sangat mudah, tinggal mencampur bumbu dan bahan tambahan seperti daging kambing. Tapi, Rudi memberi kiat khusus agar nasi goreng nikmat disantap. Menurut dia, nasi goreng yang sedap justru dibuat dari nasi yang agak keras. Bila menggunakan nasi pulen hasilnya bakal terlalu lengket. “Dinginkan dulu nasinya biar agak keras,” kata Rudi menganjurkan.

Maka itu, ia menyarankan agar menanaknya dengan cara tradisional atawa tetap menggunakan ku-kusan. Dengan begitu, saat nasi matang mudah dikipasi supaya cepat dingin. “Kalau pakai saringan aluminium, nasi terlalu pulen,” tambahnya. Malah, dia menganjurkan agar kualitas berasnya jangan terlalu bagus. “Yang penting, nasi gampang kering,” tandasnya. Selain itu, khusus nasi goreng kambing ia menggunakan minyak samin untuk menggorengnya. Tujuannya agar aroma rempah dan daging kambingnya kian kentara. “Minyak samin kan mengangkat aroma,” jelas Rudi.

4 responses to “Sreng… Aroma Kambing Menyergap

  1. Saya tinggal di Batam dah 15 tahun, sebelumnya saya penduduk asli jakarta (Betawi). kebetulan saya sama istri saya suka mencoba masakan yang baru. nasi goreng ala Mas Rudi Danian (karena pernah di siarkan oleh salah satu TV swasta).
    Boleh gak saya minta resep-nya utk nasi goreng kambing dan cara masaknya.
    makasih sebelum-nya

  2. resep yg citu buat nasi goreng kambing

  3. Saya kepengen tau resep bumbu bumbu nasi goreng yang sapi sial banget karena saya juga pedagang nasi goreng didaerah jakarta timur letaknya di jalan raya tipar cakung dan nama depotnya nasgor suromadu

  4. Thanks for sharing your thoughts on site. Regards

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s