Menyeruput Kuah Sate Lembut

Te.. sate..! Daging bakaran yang ditusuk bambu ini akrab di lidah kita. Lazimnya, orang Indonesia sangat mengenal sate madura, sate padang, dan sate solo. Maklum saja, pedagang tiga jenis sate itu tersebar di mana-mana. Biasanya pedagangnya menawarkan varian daging kambing atau ayam.

Nah, bagaimana dengan sate lembut, sate betawi yang terbuat dari daging sapi? Jangan berkecil hati jika sebagai penikmat makanan Anda belum pernah mencicipi sate jenis ini. Memang, menu ini sudah langka. Penjual sate lembut pun bisa dihitung dengan jari sebelah tangan saja. Salah satu pedagangnya adalah Atikah yang membuka kedai di kawasan Tanahabang, Jakarta Pusat.

Kedai Atikah sebenarnya menjual berbagai macam menu khas Betawi. Ada sop kambing, soto betawi, dan sate kambing. Tentu saja, menu andalan Atikah adalah sate lembutnya. “Saya bukannya mau promosi, sate lembut memang hanya ada di sini,” katanya santai.

Kedai milik Atikah ini sederhana saja, dan menempati bagian muka rumahnya. Ia hanya menyediakan empat meja, dengan sekitar lima belas kursi. Jika kedai sangat penuh, Atikah biasa mempersilakan sang tamu masuk dan duduk di dalam rumahnya. Di situ, ia sudah siap dengan satu meja makan plus enam buah kursi.

Biasanya, tamu terpaksa duduk di dalam saat jam makan siang. Atikah pun jadi sangat sibuk melayani tamu. “Resminya, sih, kita buka sampai jam lima sore, tapi biasanya jam dua sudah habis,” kata Dina Merlina, anak Atikah yang ikut membantu di kedainya.

Menu di sini yang sangat cepat habis adalah sate lembut. Saban hari Atikah hanya membuat sate lembut dari 3 kg daging. Semua bahan itu menjadi sekitar 300 tusuk sate lembut. Atikah menyadari jika sate lembutnya banyak dicari orang. Tapi, ia tak berdaya untuk menambah kapasitas satenya. “Waktu untuk bikinnya enggak ada, enggak kepegang. Bikin sate lembut susah, bisa tiga jam sendiri,” ujar Atikah

Berjodoh dengan laksa betawi

Maka, untuk makan sate lembut Atikah berlaku hukum alam: siapa cepat, dia dapat. Kalau datang menjelang makan siang, pasti dapat menikmatinya. Pelanggan yang telah terbiasa dengan kedai Atikah tentu maklum akan hukum itu. Tapi, bagi yang belum tahu, kata Atikah, tak jarang kecewa karena sudah datang dari jauh. “Ada yang jengkel. Dia bilang, ya ampun.. kenapa buat dibawa pulang jumlahnya banyak banget,” kata Atikah menirukan pelanggannya.

Menggigit sesuap sate lembut memang unik. Rasanya tidak melulu daging, lantaran ada serat parutan kelapa di sela-selanya. Tambah lagi, bumbu dapur yang dominan seolah malah menguburkan rasa daging sapi yang sebenarnya. Wajar saja kalau Atikah harus meluangkan waktu berjam-jam untuk mewujudkan sate lembut ini.

Menurut Atikah, ia membeli daging sapi yang sudah dicincang dari pasar. Sampai rumah, daging cincang tadi masih ditumbuk lagi biar lebih lembut. Ia enggan menghaluskan dengan blender, kendati proses itu lebih cepat. “Kalau diblender harus pakai air. Itu bikin kurang sedep. Saya pakai cara dulu aja,” kilahnya.

Setelah itu, daging lembut tersebut dimasak setengah matang dan dicampur dengan bumbu. Atikah bilang, ia mencampurkan kelapa tua yang disangrai dan gula merah. Kemudian, daging lembut plus bumbu itu dililitkan di tusukan bambu yang lebar. Pekerjaan merekatkan daging ini, kata Atikah, butuh keahlian khusus. “Yang tidak biasa bisa lama ngerjain-nya dan enggak rapi,” ucapnya. Sate lembut siap saji itu masih harus dibakar lagi, jika ada pemesan.

Nah, menyantap sate lembut ini ada caranya. Lazimnya, sih, sate lembut dimakan bersama laksa betawi. “Kalau orang dulu, makan sate lembut dengan laksa betawi,” katanya. Jangan khawatir, ia menyediakan laksa betawi di kedainya.

Laksa betawi berisi bihun, telur, perkedel, daun kemangi, dan daun kucai. Kuahnya yang kuning bersantan menyembunyikan irisan ketupat dan emping melinjo di dalamnya. Harga laksanya Rp 8.000 seporsi. Pelanggan setia selalu memesan sate lembut plus laksa; sedangkan orang yang baru sekali dua kali datang biasanya memesan sate lembut dan nasi.

Selain sate lembut, sebenarnya ada sate lain khas Betawi yang ada di rumah makan Ibu Atikah. Namanya sate manis. Meski sama-sama berasal dari daging sapi, sate manis lebih berserat karena tidak dibuat halus. “Sate manis ini dagingnya hanya diiris. Bumbunya sama, tapi dagingnya agak basah,” kata Atikah.

Lima Generasi

Pemilik kedai sate lembut di Tanahabang ini adalah Atikah, wanita berusia 54 tahun. Namun, sejarah kedainya sudah jauh lebih tua daripada Atikah. Ia berkisah bahwa dialah generasi kelima yang mengelola kedai sate lembut ini. “Bapak saya, Haji Adun, dan ibu saya, Hajjah Romlah, berdagang sate tahun 1948,” katanya.

Mewarisi dari orang tuanya, ayah ibu Atikah membuka warung sate di depan Masjid Al Makmur, Tanahabang. Mereka berdagang dari sore sampai hampir azan subuh. Lama-kelamaan, mereka bisa membangun kedai permanen dan mulai berdagang dari jam 10 pagi sampai sore. “Kalau siang, waktu jualannya kan lebih lama,” ujar Atikah menirukan sang ibu, dulu.

Pada tahun 1980, warung sate itu terkena pelebaran jalan, sehingga mereka pindah ke Kebon Kacang IV. Kedai tersebut lantas diteruskan oleh Atikah, yang sejak kecil sudah membantu ayah ibunya di warung. Setelah lulus SMA, sebenarnya Atikah melamar menjadi pegawai negeri di Pemda DKI. Ia lulus tes dan diterima. Tapi, niatnya menjadi pegawai negeri dihalangi ibunya. “Ibu saya melarang. Saya diminta membantu dagang saja,” kenangnya.

Nah, tahun 1994 kedai Atikah di Kebon Kacang IV kembali tergusur pelebaran jalan. Ia lantas memboyong kedainya ke Kebon Kacang V. Lantaran sering berpindah lokasi, ada pelanggan yang mengira keluarga Atikah sudah berhenti berjualan sate lembut. Begitu si pelanggan tahu lokasi terbaru, ia langsung saja menuju ke sana. “Ia bawa keluarganya, lengkap,” kata Atikah. Ada pula pelanggan turun-temurun, dari kakek-kakek yang membawa cucunya menyantap makanan favoritnya: sate lembut khas Betawi.

RM Betawi “Ibu Atikah”
Jl. Kebon Kacang V No. 29, Tanahabang, Jakarta
Telp. (021) 3160548

2 responses to “Menyeruput Kuah Sate Lembut

  1. Kelihatannya enak, tapi kok gak ada fotonya, hehehe…

  2. Sedeeep banget. tuh sate plus laksa. makanana betawi yg sdh langka. tergerus oleh makanan cepat saji.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s