Penyirna Dahaga di Jakarta

Marhaban ya Ramadan. Puasa sudah tiba. Menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga matahari terbenam jelas bukan perkara enteng. Terik mentari yang menyengat menam-bah kering kerongkongan. Sudah begitu, jam terasa lambat berjalan.

Tak sabar lagi. Begitu waktu berbuka tiba, menu kolak, es buah, atau seteguk air, terasa nikmat diseruput. Benar. Selain kolak, minuman dengan es menjadi salah satu sajian favorit berbuka puasa atau takjil. Maklum, kesegarannya bisa langsung menyirnakan kekeringan di tenggorokan. Kini, ada seabrek pilihan menu es. Es doger, es teler, es puding, es kelapa muda, dan es kopyor bak karib bagi kita. Penjajanya pun meluber dan gampang ditemui. Dari penjual kelas gerobak dorongan di gang sempit lagi kumuh, hingga kelas restoran semisal Es Teller 77 yang sudah kondang itu.

Kalau bosan menyeruput es di food court, es sekelas lapak atau tenda juga banyak yang sudah kampiun dan layak disinggahi. Pelanggannya berasal dari kalangan atas. Malah, es tenda ini acap lebih digemari ketimbang pesaingnya di restoran. Maklum, harganya murah, paling mahal Rp 10.000 segelas. Rasanya juga tak kalah dengan es kelas restoran.

Kendati begitu, mendapatkan es lapak yang benar-benar enak bukanlah perkara mudah. Kadang-kadang es gerobak menggunakan pemanis buatan dari bahan kimia, isi esnya cuma sedikit dan tak lagi segar. Alih-alih nikmat, kita malah menderita sakit diare atawa batuk. Nah, daripada suntuk menahan lapar dahaga, yuk jalan-jalan sore mengail es segar buat takjil puasa.

– Es Puding Blok S

Kedai es ini pertama kali hadir tahun 1980-an dengan nama Es Puding Gareng, mencomot nama pemiliknya. Bergerobak sewa, kala itu Gareng menawarkan es di sekitar lapangan Blok S. Ketika pembelinya makin ramai, ia memarkir gerobaknya lebih lama. Saat mulai laris, Gareng mengajak Nurdin, adiknya, membuat gerobak es puding sendiri. Jadilah, tahun 1992, kedai es puding ini berdiri di depan Rumah Sakit Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, bersebelahan dengan bakso Blok S dan warung satai.

Boleh jadi hoki Gareng memang ada di tempat ini. Kebanyakan pembeli adalah luberan penikmat bakso dan satai di sekitarnya. “Habis makan bakso atau satai, mereka mampir ke es puding,” ungkap Nurdin.

Nurdin mengaku tak punya resep khusus untuk mengolah es puding yang istimewa. “Semua bahannya biasa saja, tuh,” ucap Nurdin merendah. Nyatanya, saat buka dari pukul 09.00 pagi hingga 21.00 malam, dagangannya deras diseruput penikmatnya, hingga habis 600 mangkok. Dengan harga Rp 3.000 semangkok, omzet es puding Gareng mencapai Rp 1,8 juta per hari.

Asal tahu saja, dalam sehari mereka mengeluarkan duit Rp 500.000 untuk membeli bahan baku es berupa 40 butir kelapa dan tiga galon susu. Sisanya, agar-agar, ketan hitam, cercahan roti, dan alpokat hanyalah komponen penambah rasa. Semua bahan itu yang hingga kini tetap diolah sendiri oleh Gareng dan Nurdin.

Selain menjual secara langsung, Es Podeng Blok S sering dipesan oleh hotel, orang hajatan, dan pesta ulang tahun. Malah, “Tahun lalu, kita diundang ke istana,” tutur Nurdin bangga. Dalam seminggu, setidaknya satu pesanan datang menghampirinya. Nurdin mematok jumlah pesanan minimal 200 porsi bertarif Rp 500.000.

Kesuksesan Es Puding Blok S sempat mendorong Gareng untuk mencoba melebarkan pasar. Sebutlah ke kawasan SCBD, depan Hotel Prapanca Kebayoran, dan pusat jajan Pasaraya Blok M. Tapi, pembeli di semua gerai itu tidaklah seramai di Blok S. Semua kedai cabang itu lantas ditutup. Jadi, sampai kini Es Puding Blok S ya cuma ada di dekat lapangan Blok S saja. “Maunya sih punya banyak cabang, tapi sampai saat ini belum kesampaian,” kata Nurdin kecut.

– Es Durian Matraman

Bak kejatuhan durian runtuh. Begitulah nasib yang dialami Syamsudin, pemilik lapak es durian di bilangan Matraman Jatinegara. Kegemaran menyantap daging buah durian telah mengantarnya sukses menekuni jualan es durian.

Tahun 1973, bermodal senilai Rp 100.000 uang sekarang, Syamsudin nekad berjualan es kelapa. Jualannya menumpang di kedai mi milik iparnya. Lantaran kedai mi itu bernama BBT (singkatan Babah Tong), es kelapanya ikut pula dipanggil nama serupa. Meski sedang berjualan, hobi melahap durian tak berhenti. Saat musim durian, dibelilah beberapa buah. Namun, ia kerap menaruh belanjaannya itu di muka warung. Tak pelak, orang mengira kedainya menjual pula es durian. Saat dipesan, Syamsudin jelas gelagapan. “Sering, mereka marah karena dikira kehabisan,” kenang ayah empat anak ini.

Dari situlah otak bisnis Syamsudin berputar. Ia mencoba meramu dan menjual es durian. Nyatanya, racikan baru itu malah lebih diminati ketimbang dagangan lama. Dulunya, es durian Syamsudin cuma dijual saat musim durian. “Sulit cari durian kalau enggak musim,” tuturnya. Tak tahunya, banyak pelanggan yang protes. Belakangan, es durian bisa diseruput kapan saja (lihat boks: Kejarlah Durian hingga Seberang Laut).

Meski kedai itu masih menyediakan berbagai menu es, sudah pasti es durian Syamsudinlah yang paling kondang. Harganya Rp 7.500 semangkuk. Dalam sehari, tak kurang dari 60 gelas es durian diramu dan terjual.

– Es Durian 45 Cikini

Berminat mencoba rasa es durian yang lain? Beranjaklah ke Pasar Cikini Menteng, Jakarta Pusat. Es bikinan Heryanto dalam lapak seluas kurang lebih 20 m2 ini sudah kondang enaknya. Tak percaya? Tanya saja pada artis Cornelia Agatha, salah satu pelanggannya. “Artis lain juga banyak, tapi saya lupa,” ungkap Lily, pewaris Heryanto, yang mengelola kedai ini.

Lily mengisahkan, Heryanto mendirikan kedai es tahun 1986 dengan menu es durian serta mi bakso. Belakangan justru es duriannya yang lebih tenar. “Padahal, bahannya hanya durian, es, sama susu saja. Kita enggak pakai gula,” katanya.

Puncak kejayaan es durian Cikini adalah akhir 1980-an hingga menjelang krisis. Dia bilang, kala itu lebih dari 200 gelas es durian bisa terjual dalam sehari. Apalagi, letaknya memang strategis lantaran berada di dekat stasiun, dekat pasar, serta pusat perkantoran. “Dulu harganya di bawah seribu perak,” kisahnya.

Kedai yang buka dari pukul 09.00 – 17.00 ini memang tak hanya menjual es durian. Jus durian, es campur, es teler, es alpokat, es shanghai atawa es campur, es sirsak, serta ragam minuman segar lain, bisa dihirup di sini. Meski begitu, yang paling diminati tetap saja es durian. Sehari sekitar 100 gelas es durian ludes terjual. Adapun minuman lain rata-rata hanya 30 porsi. “Untungnya lumayan,” tandas Lily, anak keempat Heryanto ini.

Harga segelas es durian dan jusnya lebih mahal ketimbang minuman lain yang disajikan di kedai ini. Harga seporsinya Rp 10.000. Sementara itu, harga es alpokat, es campur, es teler hanya Rp 5.000 semangkuk. Kendati bulan puasa, warung es ini tetap buka seperti biasa. “Kan pelanggan kita banyak juga yang enggak puasa,” kilah Lily. Jadi, tak ada salahnya ikutan ambil berkah durian runtuh.

Kejarlah Durian hingga Seberang Laut

Dulu, berdagang minuman dari buah musiman tentu tak gampang. Dagangan harus selalu ada, sementara bahan bakunya sukar didapat. Tanyakan saja pada Syamsudin, pedagang es durian Matraman. Ketika paceklik durian di Jakarta, ia acap memburu buah berduri itu hingga ke Bogor, Semarang, Pandeglang, Surabaya, bahkan Medan dan Bali. Malah, ia sudah mempunyai jadwal tetap. Bulan Juli, Agustus, September dia mendatangkan durian dari Medan. Saat Oktober, November, Desember, Januari, Februari, Syamsudin mengimpor durian dari Bogor sampai Pandeglang. Nah, kalau bulan Maret, April, Mei dan Juni, dia ke Semarang sampai Surabaya untuk mencari durian. “Sekarang saya sudah punya pemasok tetap,” katanya.

Mendapatkan durian bagus juga tak mudah. Syamsudin punya syarat ketat dan rela memperhatikan satu per satu pohon durian yang sedang berbuah. Patokannya, buah yang runtuh harus mencapai 30% dari seluruh buah di pohon. Misalkan, satu pohon ada 100 durian, saat memetiknya harus menunggu hingga 30 buah runtuh. “Sisanya itu bisa dipastikan durian bagus,” kiatnya.

Lain halnya Lily. Ia kini banyak memanfaatkan durian impor. Pasalnya, selain pasokannya tetap ada, dagingnya tebal tak berbiji dan lebih manis. Dengan begitu, bahan bakunya bisa lebih irit. “Segelas paling cukup sebiji,” ungkap dara muda itu. Memang untuk aroma, durian lokal lebih harum. Sayangnya, daging buahnya tipis, dan tak terlalu manis. “Segelas minimal harus tiga biji,” tambah Lily.

One response to “Penyirna Dahaga di Jakarta

  1. Saya tertarik dengan ulasan es durian di cikini dan di matraman, hanya sayang tidak ada nomor telepon yang bisa dihubungi kalau hendak memesan dalam jumlah banyak. Kalau ada nomor telepon atau hp yang jual es durian tersebut mau dong!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s