Haik, Sajian Saudara Tua

Walau kita sudah merdeka lebih dari setengah abad, ternyata “penjajahan” Jepang belum sepenuhnya hilang. Malah, akarnya menancap erat sejak tiga puluh tahun silam. Jangan berprasangka dan bersiap-siap memerangi penjajah ini. Soalnya, penindasan saudara tua yang satu ini justru enak dan bikin ketagihan. Mereka tidak menggunakan bedil atau samurai, tapi ramuan resep dan olahan masakan yang mampu menaklukkan lidah kita.

Penjajahan lidah kita oleh menu Jepang ini dimulai ketika restoran Kikugawa mulai beroperasi tahun 1969, di bilangan Cikini, Jakarta Pusat. Sejak itu, menu Jepang menggelontor kemari. Semarak masakan dari negeri matahari terbit itu lantas diikuti restoran lain. Akibatnya, belakangan menu Jepang menjadi gampang dijumpai di kota-kota besar. Dari model waralaba seperti restoran cepat saji Hoka-Hoka Bento atau kedai ala Jepang lain.

Nah, melongok sang pelopor masakan Jepang, sejak dibuka hingga sekarang, menu Kikugawa tak banyak berubah. Kedai ini mengusung menu tradisional dengan sajian utama teriyaki, sushi, sashimi, yakiniku, tempura, dan sukiyaki. Hiasan, model bangunan, dan ruangan seluas kurang dari 100 m2, yang bisa menampung sekitar 50 orang ini, juga tetap dipertahankan. “Dulu ada tamu yang marah waktu mau dirombak. Katanya, lebih enak suasana lama dipertahankan,” ucap Sherly, salah satu pegawai di sini.

Kendati umurnya paling uzur di antara restoran Jepang lain di Indonesia, peminat Kikugawa tak mengenal usia. Artis belia yang sedang ngetop, Dian Sastro, tercacat sebagai penyuka olahan tempura kedai ini. Pemeran Si Manis Jembatan Ancol, Diah Permatasari, turut pula menjadi salah satu penggemarnya. “Tiap Jumat malam, dia selalu datang ke sini,” ucap salah satu penyajinya. Atlet berotot Ade Rai adalah pelanggan setia yang selalu minta santapan sashimi atawa irisan ikan tuna mentah yang dicowel dengan sambal Jepang wasabi dalam beberapa nampan besar.

Mabuk sake, tertendang sashimi

Kalau Anda berkunjung ke Kikugawa, jangan buru-buru menyantap menu utama. Adatnya penduduk Jepang, sebelum bersantap didahului dengan menenggak sake: anggur putih hasil fermentasi beras ketan. Tuang saja dalam ochoko atawa cawan sake. Seruput dengan santai seraya diselingi obrolan ringan. Begitu diteguk, rasa hangat langsung menjalari tubuh. Satu joushi (sebutan botol tanah liat wadah sake) dibanderol Rp 45.000 oleh Kikugawa. Porsi ini hanya sebanyak beberapa kali tenggak. Tinggal pilih, mau sake panas atau dingin, sesuaikan dengan musimnya.

Saat lapar mulai mendera, pilih menu yang disuka. Kalau enggan puyeng memelototi aneka pilihan, minta saja menu campuran atau yang sudah tersedia dalam bentuk menu-set. Misalnya Kikugawa Set yang berisi ayam dan ikan gindara teriyaki, agedashi tofu atawa tahu berkuah kaldu ikan, dilengkapi tsukemono atau asinan Jepang. Kiku set yang berisi sashimi, aneka tempura udang, buncis dan terung, sukiyaki dan yakitori juga bisa dijadikan pilihan. Kedua menu ini dibanderol Rp 45.000.

Kalau tidak cocok, kita bisa memilih Ume Set. Paket seharga Rp 70.000 ini adalah menu set paling lengkap ketimbang paket lainnya. Ume Set berisi sashimi, tempura, sukiyaki, yakitori, teriyaki, dan sushi. Melongok porsinya, boleh jadi Ume Set tidak habis disantap satu orang.

Nikmati satu per satu olahannya. Seruput kehangatan sup daging sapi atau ayam bernama sukiyaki yang sarat akan sayuran. Cowel sepotong daging sashimi dan cocol dengan adukan wasabi dan kecap asinnya. Seketika, kepala kita serasa ditendang dan pangkal hidung seperti tercokok tersengat pedasnya wasabi. Selingi pula dengan teriyaki yang gurih dan nasi yang mengenyangkan. Klop jadinya. Usai mengudap semua menu di atas legakan dengan tegukan penutup ocha atau teh hijau tawar yang hangat. Rasanya puas dan lapang lantaran tubuh menghangat.

Jika demikian nikmat, tentulah kita sukarela menyodorkan lidah agar dijajah kenikmatannya oleh racikan saudara tua.

Restoran Kembar Mengalir sampai Jauh

Masakan Indonesia justru lebih gagah ketimbang masakan Jepang. Pasalnya, lidah orang Jepang lebih dulu tersengat kenikmatan masakan Indonesia. Sebelum mendirikan Kikugawa, Kikuchi Tsurutake pada 1957 lebih dulu mendirikan restoran Indonesia bernama Bengawan Solo di Roppongi Minato-ku, Tokyo. Kedai Bengawan Solo sudah melegenda sebagai restoran Indonesia tertua di sana.

Menu yang ditawarkan sudah jelas khas Indonesia. Sebut saja gado-gado, nasi goreng, ayam goreng, maupun pecel. Nyatanya, masakan yang acap dipandang rendahan di sini malah sangat disuka di negeri matahari terbit. Beberapa situs dunia maya terkenal, termasuk CNN.com, mereferensikan Bengawan Solo sebagai layak disinggahi karena terkenal enak dan murah. Di kedai ini pula, konser Gesang acap diselenggarakan.

Bahkan, nama Kikugawa tak lepas dari kegemaran Kikuchi pada lagu Begawan Solo ciptaan Gesang. Asal tahu saja, Kikugawa berarti sungai bunga krisan. “Kedua restoran ini memang kembar. Sama-sama mengambil nama sungai,” cetus staf Kikugawa, Sherly.

Kini, Kikuchi yang berusia 80-an tahun lebih suka menetap di Indonesia. Apalagi, Kikuchi ternyata bukan cuma kepincut alunan Bengawan Solo. Hatinya pun bertekuk lutut pada gadis Manado yang lantas disuntingnya. Buntutnya, hampir semua pegawai restoran ini berasal dari Manado.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s