Puaskan Nafsu Bego

Warung makan pinggir jalan yang menyajikan menu ayam atau lele goreng sangat gampang dijumpai di pelosok Jabotabek. Kadang-kadang si penjual menyelipkan tulisan burung dara atau bebek goreng di tenda mereka. Tapi, jika kita pesan bebek goreng, tak jarang jawaban: “Habis,” atau, “Sedang tidak ada,” keluar dari mulut pedagang.

Nah, kalau sudah kecewa lantaran telanjur ngiler bebek goreng, bisa-bisa nafsu makan pun lenyap. Masak mau mengudap bebek goreng saja harus terbang ke Jawa Timur yang terkenal dengan menu nasi bebeknya? Eh, tapi jangan keburu resah. Di daerah Blok A, Jakarta Selatan, Anda bisa memuaskan nafsu pada si bego, alias bebek goreng ini. Tepatnya, di sebuah warung pinggir jalan di Petogogan II dalam warung tenda berlabel: Bebek Goreng Joko Putera.

Begitu kaki melangkah masuk dalam kedai seluas delapan belas meter per segi ini, aroma khas bego, langsung menerpa. Terlihat beberapa meja makan berderet rapi, disorot lampu neon yang sangat benderang. Kendati cuma berupa warung tenda, kesannya bersih. “Tempat untuk makan itu memang harus bersih,” ucap Sugeng Wibowo, pemilik Joko Putra, di sela keriuhan penyantap bego.

Kala KONTAN menyambangi warung Sugeng, terlihat beberapa eksekutif muda selepas kerja menyantap bego. Meski penuh bahkan terkesan sumpek, hal itu bukan kendala bagi mereka. Salah seorang penyantap yang necis mengaku sangat menikmati sajian di warung ini. “Bebek goreng di sini paling gurih dan empuk, apalagi sambal uleknya,” katanya, sambil terus mengunyah bego.

Warung bego Sugeng ini terbilang cukup lama. Umurnya sepuluh tahun pas. Namun, penggemar bego Sugeng kian bertambah. Dari mulanya dulu, cuma bermodal dua ekor bebek, kini tiap hari Sugeng harus mengolah sekitar 60 ekor bebek. Bego olahan Sugeng terasa meresap gurihnya. Selain itu, juga tidak alot.

Gurihnya bego racikan Sugeng karena ia tidak tanggung-tanggung mengumbar bumbu. “Kami enggak punya bumbu rahasia, kok,” jelasnya. Sugeng meramu bumbu bego dari ulekan kunyit, jahe, bawang putih, ketumbar, jinten, daun jeruk, bumbu masak, serta garam. Nah, seekor bebek akan dipotong menjadi empat bagian: dua potongan dada dan dua bagian paha. “Yang habis duluan dada goreng, baru pahanya,” ujar Sugeng lagi.

Agar daging bebek tidak liat atau alot, Sugeng merebus potongan bebek bersama ulekan bumbu setiap hari selama enam jam. Yakni dari pukul 11.00 sampai 17.00. Maklum, “Daging bebek terkenal alot. Kalau tidak pintar masaknya, jadi kayak karet,” terang Sugeng. Setiap 30 menit, rebusan ini harus diaduk agar bumbu meresap.

Jangan coba-coba cari brutu

Kalau tidak pintar mengolah, daging bebek bukan saja terasa alot, tapi juga sangat amis. Sugeng ternyata mampu menaklukkan bau amis ini. Sumber amis, menurut Sugeng, berasal dari ujung buntut bebek yang bercabang. Nah, ujung bercabang ini dipangkas habis oleh Sugeng. Jadi, jika ke warung Sugeng, jangan coba-coba memesan bagian ekor bebek, karena Anda tidak akan mendapatkannya.

Sebagai pendamping bego, Sugeng juga menyiapkan dua racikan sambal. Ada sambal mentah atau sambal ulek, dan sambal matang. “Kebanyakan orang suka sambal ulek,” ujar Sugeng yang menghabiskan 1,5 kg cabai dan 10 kg tomat setiap hari.

Sugeng juga memasak nasi dari beras kualitas super. Pasalnya, “Makan bego paling pas kalau nasinya empuk dan pulen,” tukas dia. Dua hari sekali Sugeng menghabiskan sekarung beras yang harganya Rp 180.000. Untuk makan di warung Sugeng, kita cukup merogoh kocek Rp 8.000, terdiri dari seporsi bego dan nasi putih.

Pelanggan bego ala Sugeng diantaranya para selebriti. Sebut saja Teuku Ryan, Vira Yuniar, Lola Amaria, Thukul, Eddy Silitonga, Adnan Buyung. Tak hanya itu, “Ada pelanggan dari Singapura dan Brunei yang berbekal bego,” katanya bangga.

Berkat para pelanggannya ini Sugeng menangguk omzet antara Rp 2 juta sampai Rp 3 juta. Dia pun berharap bisa segera mewujudkan cita-citanya sejak lama. Yakni, “Bikin warung permanen,” ujar Sugeng yang masih mengandalkan tenda bongkar pasang ini.

Krismon Pembawa Hoki

Perjalanan bisnis Sugeng Wibowo, pemilik Bebek Goreng Jaka Putera, tidaklah segurih bego racikannya. Sugeng meninggalkan bangku kuliahnya di Fakultas Ekonomi sebuah universitas di Jakarta, pada tahun ketiga. Bukan apa-apa, dia memilih ngenek (menjadi kernet) atau membantu ayahnya yang bernama Jaka Putera, berjualan satai ayam. Ia pun rajin menabung upah dari sang ayah. Setelah beberapa tahun, Sugeng berniat menjadi pengusaha makanan sendiri.

Bermodal uang Rp 1,5 juta, Sugeng berusaha mandiri. Dia mengontrak rumah petak di depan sebuah toilet umum. Sementara itu, ayahnya menitip pesan agar mencari alternatif menu yang berbeda dari warung lain. Sugeng menuruti pesan itu. Menu makanan yang sudah menjamur, seperti satai, pecel lele, nasi goreng pun ia jauhi. Sugeng memilih berjualan bego, layaknya kebanyakan pedagang di kampung halamannya di Jawa Timur.

Sugeng membeli beberapa perangkat kedai dan memilih lokasi di Petogogan Blok A. Awalnya, dia hanya bisa menjual satu sampai dua ekor bebek sehari. Selama dua tahun berjalan, bego yang terjual baru lima ekor. “Itu pun terus bertahan sampai tiga tahun lamanya,” kenang Sugeng pahit.

Pelan namun pasti, orang sadar nikmatnya bego ala Sugeng. Warungnya pun mulai menjadi incaran. Krismon yang menghantam malah menjadi titik balik usaha Sugeng. Permintaan begonya meningkat tajam. Dari cuma lima ekor bebek, melonjak menjadi sekitar 30 ekor. Belakangan ini, menurut pengakuan Sugeng, dia harus mengolah 60 bebek sehari, demi memuaskan nafsu penikmat bego.
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s