Serba Lembut di Lidah

Tinggal di Jakarta, kerja di Jakarta, ataupun sekadar mampir di Jakarta, terasa kebangetan kalau tidak mencicipi menu khas Betawi. Nasi uduk, lontong sayur, ataupun ketoprak bertebaran di ibu kota ini. Apalagi yang namanya ketoprak, banyak dijajakan keliling di pelosok-pelosok Jakarta layaknya bakso. Dengan harga murah, makanan berisi tahu, toge, bihun, kerupuk dan bumbu kacang ini menjadi santapan andalan masyarakat Jakarta.

Nah, agar lebih afdol mencicipi ketoprak, lebih baik Anda langsung mengunjungi kedai ketoprak yang terkenal di Jakarta. Salah satunya Ketoprak Ciragil. Sesuai dengan namanya, letak ketoprak ini berada di Jalan Ciragil. Tidak ada pajangan nama di depan kedai ini, namun tidak sulit mencarinya. Sekitar 50 meter dari pintu masuk jalan Ciragil, Anda bisa menemukan kedai yang penuh sesak dengan pengunjung. Itulah Ketoprak Ciragil.

Di kedai ini, Anda jangan mengharapkan harga yang sama dengan penjaja di pinggiran jalan yang Rp 3.000 sepiring. Harga seporsi Ketoprak Ciragil Rp 7.000-Rp 8.000. Cukup mahal, bukan? Kendati mahal, warung yang dibuka pukul 9.30 hingga pukul 19.00 ini selalu dipenuhi pengunjung. Apa istimewanya?

Ketoprak Ciragil hanya menyajikan menu ketoprak. Minuman pilihannya ada es jeruk. Ruangan kedainya tergolong sempit, seluruhnya hanya seluas 3 x 4 meter. Kurang dari separonya adalah tempat untuk mengolah makanan. Meja yang tampak pun hanya satu dengan dua kursi panjang, kapasitas 12 orang. Kendati sempit, parkiran selalu sesak. Para pengunjung yang datang silih berganti dan kebanyakan memesan bila tak kebagian tempat.

Sajian Ketoprak Ciragil lebih lengkap dibandingkan dengan ketoprak keliling pada umumnya. Ada telur yang disajikan bersama satu porsi ketoprak yang berisi toge, tahu, bihun, lontong, kerupuk, dan bumbu kacang. Pengunjung dapat memilih sendiri jenis masakan telur yang diinginkannya, karena ada berbagai pilihan seperti telur dadar, telur asin, dan telur rebus.

Bukan ketupat tapi lontong

Bedanya dengan sajian abang ketoprak dorong, sambal Ketoprak Ciragil disajikan terpisah dan ditempatkan di atas piring. Penjual sengaja tak mencampur bumbu dengan cabai. Tujuannya biar pengunjung sendiri yang menentukan takaran sambal yang diinginkan. “Ingin lebih pedas kan bisa langsung tambah sambalnya,” kata Mudiono, cucu dari pemilik Kedai Ciragil, Haji Taslani.

Rasa Ketoprak Ciragil terasa empuk di lidah. Inilah salah satu keistimewaan Ketoprak Ciragil dibandingkan dengan ketoprak keliling biasa. Rasa bumbunya halus dan irisan lontongnya sangat empuk. Rahasianya, menurut Hajah Triwiyanti, anak Haji Taslani, ketoprak ini tidak pakai ketupat yang terasa keras saat dikunyah seperti ketoprak pada umumnya. “Dari dulu resep Bapak, ya, menggunakan lontong, bukan ketupat,” ujar Triwiyanti.

Pengemasan ketoprak ini cukup berbeda. Bisa jadi karena sang bapak, Haji Taslani, yang membuatkan resep ini bukanlah berasal dari Betawi. “Kami dari Pekalongan. Di sana ketoprak disebut lontong tahu,” ungkap Triwiyanti. Kendati di Kota Batik itu namanya berbeda, proses pembuatannya sama saja. Toge dan bihun dicampurkan terlebih dulu, lalu direbus. Begitu pula dengan racikan tahu. “Tahu sudah setengah matang dan digoreng lagi,” kata Mudiono.

Begitu halnya dengan bumbu ketoprak. Kacang tanah terlebih dulu digiling dengan menggunakan mesin hingga halus betul. Lantas, saat ada pemesanan, bumbu kacang yang halus itu dicampur bawang putih dan gula merah. Takarannya berdasar berapa banyak pesanan. Misalnya, untuk 12 kg kacang butuh 2 kilogram gula merah. “Bawang putihnya dikira-kira dan ditambahkan garam,” ujar Triwiyanti.

Rasa empuk dan komposisi takaran bumbu inilah yang membuat pengunjung selalu setia menikmati ketoprak di kedai Ciragil. Dalam sehari ada sekitar 200 pengunjung yang datang. “Setiap hari selalu ramai. Tapi, paling ramai pukul 12.30 siang sampai sekitar pukul 02.00 siang,” kata Mudiono. Menurut Mudiono, pelanggan warung kakeknya cukup bervariasi, dan banyak selebritinya macam Dede Yusuf, Rina Gunawan, Febi Febiola, Bella Saphira dan Jihan Fahira. “Dulu istri Harmoko dan istri Akbar Tanjung, suka ke mari,” ujar Mudiono yang dibantu tujuh orang karyawan.

Makanya, tidak mengherankan bila setiap hari kedai Ciragil menghabiskan 15 kg kacang tanah, 1 kg bawang putih, 4 kg gula merah, satu peti telur, 10 kg toge, dan dua botol kecap manis. Untuk penyediaan bahan baku, Mudiono mengaku membeli sendiri ke pasar. Bahan-bahan ketoprak itu dimasak sejak pukul 2 pagi.

Harga seporsi Ketoprak Ciragil memang tergolong mahal: Rp 7.000 untuk menu ketoprak dengan telur rebus dan Rp 8.000 untuk menu ketoprak telur dadar atau telur asin. Toh, pengunjung selalu penuh. Tak sampai pukul 19.00 malam biasanya kedai Ciragil sudah tutup karena sajian telah habis.

Kalau dihitung, cukup besar pendapatan kedai Ciragil. Bila menjual sekitar 200 piring dengan harga Rp 7.000, paling tidak omzet yang dikantonginya per hari Rp 1,4 juta. “Harga mahal ini kan karena kontrakannya mahal Rp 8 juta setahun,” begitu alasan Mudiono.

Berawal dari Gerobak Dorongan

Usia kedai Ketoprak Ciragil tergolong tua, sudah empat puluh tiga tahun. Adalah Haji Taslani yang merintisnya dengan menggunakan gerobak keliling bersama istri tercintanya di sekitar jalan Ciragil. “Saat itu harga satu porsi ketoprak Rp 75,” kata Triwiyanti, anak Taslani.

Tahun 1980-an, Taslani memutuskan mangkal di dekat jembatan sekitar Jalan Ciragil. Baru tahun 1994 memutuskan mengontrak kios di Ciragil, sampai kini. Usaha Taslani diteruskan oleh ketiga anaknya yang mengelola secara bergiliran. Hingga kini, sang cucu pun ikut meneruskan. Sayang, kedai yang dijalankan secara bergantian dan turun-temurun hingga generasi ketiga ini hanya memiliki satu kedai. Sebenarnya Mudiono ingin sekali mengembangkan usaha kakeknya. “Ingin membuat cabang, tapi tempatnya masih mahal dan harus disepakati berempat,” ucap Mudiono.
 

One response to “Serba Lembut di Lidah

  1. jajal di tanjung duren mbak, deketnya tomang tol, ada 2, bang Jun dan sabar menanti.. sy prefer bang jun. dijamin lebih enak.. super rame juga. tapi tempatnya gelap

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s