Kejayaan Ayam Solo

Bisa dibilang ayam goreng merupakan salah satu masakan favorit lidah Indonesia. Buktinya, kedai waralaba internasional McDonald’s sampai harus banting setir menyediakan menu ayam goreng khusus untuk gerainya di Indonesia. Padahal, negeri Uwak Sam sana, restoran ini adalah gerai spesialis burger.
Kendati begitu, olahan ayam goreng sangat beragam. Kita tentu sudah akrab dengan pemandangan gerobak ayam goreng tepung yang tiga tahun belakangan marak di tepi jalan. Atau ayam goreng rasa Jawa yang didominasi kedai Ny. Suharti atau Mbok Berek. Jangan ketinggalan pula ayam goreng kuning yang bisa dijumpai di warung nasi uduk Betawi. Pilihan lain adalah ayam goreng basah ala Haji Madun di bilangan Jakarta Kota.

Dalam jagat ayam goreng, ada dua jenis bahan baku yang diolah para penjajanya. Yakni, ayam broiler dan ayam kampung. Salah satu kedai yang mengandalkan menu ayam kampung goreng adalah Tojoyo 3 di Jakarta Selatan.

Masuk ke kedai Tojoyo 3, jangan heran melongok tatanan interiornya yang berbau Jawa. Ada meja dan kursi kayu serta deretan foto hitam putih di dinding yang menggambarkan beberapa tempat khas di Yogyakarta. “Kami ini cabang dari kedai ayam goreng Tojoyo di Yogyakarta,” tegas Amelia B. Priyonohadi, salah satu pemilik Tojoyo 3. Maka, para pemilik kedai ini pun menata ruangan agar membawa suasana Yogyakarta. Selain menaruh foto tadi, mereka sengaja menaruh kolam kecil dengan gemericik air. “Supaya terasa nyaman dan adem, seperti yang kita rasakan di Kota Yogya,” sambung Amelia.

Di satu sisi Tojoyo 3 terdapat angkringan untuk memasak bakmi jawa dan nasi goreng. Lantas, terdapat pula satu gerai serabi solo di sudut lain. Saat jam makan siang, ketika kedai disesaki pengunjung yang ingin menyantap ayam goreng, sang pengelola kerap menyetel musik Jawa. “Jadi, suasananya lebih terasa,” jelas Amelia.

Sesuai dengan namanya, menu andalan kedai Tojoyo 3 tentunya ayam kampung goreng. Lantaran bahan bakunya dari ayam kampung, yang biasanya berukuran lebih kurus ketimbang ayam broiler, sepotong ayam goreng Tojoyo ukurannya terbilang mungil. “Kami pakai ayam kampung asli. Meskipun bentuknya mungil, ini bukan pejantan lo,” ujar Amelia. Maklum, di pasar memang beredar ayam petelur jantan yang ukurannya kecil, layaknya ayam kampung. Kalau terselip ayam pejantan dalam pasokan ayam mereka, biasanya si tukang masak sudah tahu. “Dia langsung kembalikan ke pedagangnya,” sambung Amelia. Ayam kampung yang dipakai pun bukan sembarang ayam. Mereka cuma mau menggunakan ayam yang belum tua, sehingga bebas lemak dan tidak alot.

Arang untuk mengolah ayam dan nasi

Di sini, bagian-bagian ayam dijual terpisah. Sebutlah paha ayam, dada, kepala, ampela, hati, atau usus ayam. Kalau tidak suka menyantap gorengan ayam, ada pula berbagai jeroan sapi yang digoreng. Misalnya lidah sapi, paru, babat, atau iso. Tentu, tak ketinggalan ada olahan tempe dan tahu bacem sebagai pilihan.

Menurut Amelia, bumbu inti ayam goreng Tojoyo 3 dikirim langsung dari Yogyakarta. Seminggu sekali, racikan bumbu yang dirahasiakan komposisinya ini datang untuk mengolah ayam kampung. “Bumbunya, ya, rempah-rempah dapur, seperti bawang merah, bawang putih, dan kunyit,” ujar Amelia membuka sedikit contekan bumbu.

Agar lebih jos, tukang masak ayamnya juga didatangkan dari Yogyakarta. Supaya bumbu meresap kuat ke dalam daging, mereka menggunakan arang untuk merebus ayam kampung. Mereka juga memakai arang untuk menanak nasi. “Jadi, butuh waktu tiga jam untuk memasak ayam sampai siap digoreng,” jelas Amelia.

Tentu saja, pembeli tak perlu manyun menunggu hingga tiga jam lebih demi sepotong dada ayam. Setiap pagi para tukang masak di Tojoyo 3 sekaligus membumbui sekitar 100 ekor ayam sampai siap goreng. Selanjutnya, jika ada pesanan, mereka tinggal menggoreng ayam yang sudah diolah tersebut sampai garing. Menu andalan Tojoyo 3 ini terasa nikmat disantap bersama nasi hangat serta sambal cocol yang manis. “Sambalnya enggak terlalu pedas,” kata Amelia.

Kendati menetapkan diri sebagai cabang kedai Tojoyo di Yogyakarta, toh Amelia mengaku menyelipkan beberapa menu yang berbeda. Misalnya, sayur asem, urap, petai, dan berbagai serabi yang tidak terdapat di Tojoyo Yogyakarta. “Di Yogya ada sup ayam dan sup tomat, tapi di sini sepertinya beda selera. Jadi kami ganti,” ujarnya.

Supaya tenggorokan tidak seret lantaran menyantap makanan tak berkuah, ada baiknya digelontor dengan Teh Tojoyo atau es jeruk dengan gula batu. “Tehnya lebih kental, manis, dan rasa sepet-nya beda,” kata Amelia. Atau, es kelapa muda dengan gula jawa serta kolang-kaling. Hmm …. segar!

Berharap terus Berjaya

Tojoyo berarti kejayaan di masa yang akan datang. Pertama kali ayam goreng kampung Tojoyo dikenal luas di Solo. Sampai saat ini, kita bisa menjumpai kedai ayam goreng Tojoyo 1 dan Tojoyo 2 di Solo. Menurut Amelia B.

Priyonohadi, salah satu pemilik kedai Tojoyo 3, angka di belakang nama itu menunjukkan orang kesekian yang membeli resep ayam goreng Tojoyo. “Kami adalah orang ketiga yang beli dari penciptanya,” ujar Amelia yang mengaku sudah lupa siapa nama pembikin racikan bumbu ayam Tojoyo.

Kedai Tojoyo 3 didirikan oleh tiga pasang suami istri. Dua puluh tahun lalu, mereka membuka gerai Tojoyo 3 yang pertama di Yogyakarta. “Di sana, ternyata laris sekali,” kata Amelia. Maka, dua tahun lalu, mereka lantas menjajal pasar Jakarta. Menurut Amelia, mereka membidik orang Yogyakarta atau Solo penggemar Tojoyo yang bermukim di ibu kota. Ada untungnya juga membawa nama Tojoyo yang bisa jadi sudah akrab di telinga beberapa orang. “Dari awal berdiri, kedai ini sudah ramai,” jelasnya.

Tentu saja, kedai Tojoyo 3 di Jakarta ini harus bersaing keras dengan penjaja ayam goreng kampung yang lain. Bukan cuma pesaing yang mengandalkan racikan bumbu berbeda, pasalnya kita juga bisa menjumpai kedai lain yang menyandang nama ayam goreng Tojoyo. Amelia mengakui bahwa ada beberapa kedai Tojoyo lain yang juga menjual ayam sejenis. “Mungkin memang ada orang lain yang juga membeli resep itu,” ujarnya.

Nah, tinggal Tojoyo mana yang benar-benar berjaya di masa datang.

Tojoyo 3
Jl. Senopati No. 60, Kebayoran baru Jakarta Selatan
Telp. 7254352
Harga makanan Rp 1.500 sampai Rp 13.000
Harga minuman Rp 3.500 hingga Rp 10.000

2 responses to “Kejayaan Ayam Solo

  1. keep konsisten mbak.

  2. nama saya Yvonne.Saya tinggal di Amerika,California.Saya berasal dari Yogya di Jl.Gejayan .Dulu saya waktu kecil sering beli ayam tojoyo di jl.solo.Saya rindu sekali ayam tojoyo.Sayang disini ngga ada yang jualan .Kalau boleh, bisa ngga saya beli/tau resep bikinnya.
    Terimakasih sebelumnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s