Ayam Langganan Tujuh Belasan

Menu ayam adalah favorit orang Indonesia. Itu merupakan fakta yang tidak bisa dipungkiri. Bahkan, resto internasional sekelas McDonald’s saja sampai membikin menu ayam goreng demi penggemarnya di Indonesia. Olahan ayam juga dapat dijumpai dalam beragam kelas kedai. Dari warung tegal hingga hotel bintang lima.

Belakangan ini olahan ayam sempat turun pamor gara-gara flu burung. Tapi, masa puasa makan ayam terus-menerus? Nah, sebagai pelepas rindu, cobalah bertandang ke kedai Haji Abdul Halim di Rawamangun yang menawarkan menu khusus ayam goreng kampung. Bangunan milik Pak Haji ini lebih mirip rumah tinggal ketimbang warung. Untung ada papan nama di depan, bertuliskan Ayam Goreng Halim.

Warung ini berkapasitas 30 orang, lengkap dengan meja kayu untuk duduk tamu. Lima meter dari pintu masuk tampak sebuah etalase kaca. Di dalamnya bertumpuk-tumpuk potongan ayam bumbu kuning, sate kulit, ceker, dan kepala ayam. Tak ketinggalan beberapa pilihan lauk seperti oseng wortel, sambal goreng terong, pepes, dan ca jagung muda.

Layaknya warung tegal, pembeli langsung menunjuk makanan yang diinginkan. “Yang sudah langganan biasanya memesan satu paket ayam,” kata Rofiqoh, istri Haji Halim yang mengelola kedai ini. Satu paket itu isinya sepiring nasi lengkap dengan sepotong ayam, ceker dan kepala ayam, sate kulit, lalapan, plus sayur asem.

Seperti resto ayam kampung lain, sajian ini terasa gurih. Bumbunya merasuk ke dalam daging. Kendati berbumbu dasar kunyit, ayam goreng Halim berwarna kecokelatan. Soalnya, ungkap Rofiqoh atau kerap dipanggil Bu Halim, kedai ini hanya menggunakan kunyit asli dan bukan pewarna. “Kalau ayam itu diberi pewarna kuning, tetap kuning kalau digoreng,” ujar dia. Sate kulitnya pun tidak berlemak, sebab digoreng kering.

Kecap dan terasi bikinan sendiri

Biasanya daging ayam kampung lebih liat ketimbang ayam pedaging, karena sedikit mengandung lemak. Namun, ayam Halim gampang digigit dan empuk sekali. Jadi bersahabat dengan gigi kita. Sebelum digoreng, kata Bu Halim, terlebih dulu ayam direbus bersama bumbu lengkuas, kunyit, serai, salam, ketumbar, dan serai selama 20 menit. “Jadi, enggak perlu takut kena flu burung bila makan di sini, karena merebusnya lama,” tandasnya.

Sembari menyantap ayam goreng, jangan lupa mencocol sambal ala Halim. Sambalnya berwarna kehitaman dan rasanya mantap. Bikinnya dari campuran bawang merah, cabe, terasi, dan kecap. Ulekan tersebut lantas digoreng agar tak cepat basi. Ada yang istimewa dari sambal Halim ini. “Kecap dan terasinya saya buat sendiri,” tutur Bu Halim. Ia berusaha menjaga kualitas terasi asli dari udang.”Kalau memakai terasi di pasaran, rasa sambalnya bisa berbeda,” tukasnya.

Di warung ini Anda bisa membeli Sirup Tjampolay khas Cirebon. Ada pilihan rasa pisang susu, mangga gadung, leci, atau jeruk nipis. Sedikit aneh memang. Pasalnya, resep ayam goreng ala Haji Halim ini katanya, asli dari Indramayu. Tapi, tak usah heran. Haji Halim memang berasal dari Indramayu, namun Rofiqoh adalah pendatang dari Cirebon. Maka sejak 1990, ketika mereka menikah, kedai kecil ini pun diwarnai dengan beberapa olahan Cirebon seperti pepes jamur.

Sampai Istana walau tanpa promosi

Adapun harga makanan di sini beragam. Sepotong ayam goreng harganya Rp 5.000. Lantas, sepuluh ceker dibanderol Rp 2.500 dan tiga buah kepala ayam harganya Rp 3.500. Macam-macam pilihan sayur dan oseng dijual Rp 2.500 per porsi. Untuk memudahkan, ada pula pilihan paket yang harganya antara Rp 10.000 sampai Rp 15.000.

Kendati terkenal lewat promosi dari mulut ke mulut, ayam goreng Halim punya banyak penggemar. Paling tidak kedai yang buka dari pukul 10.00 sampai 22.00 ini selalu kedatangan pembeli. “Paling ramai hari kerja, pembelinya dari kawasan industri di sekitar Rawamangun,” ujar Bu Halim.

Penggemar ayam goreng Halim, selain para pekerja itu, adalah kalangan Istana Kepresidenan. Dari tahun 1994 sampai kini rumah tangga nomor satu di Indonesia itu selalu memesan masakan Halim. “Yang rutin ya pesanan 17 Agustus di sana,” tutur Bu Halim. Kala Soeharto berkuasa, ia bahkan kerap mengirim ayam gorengnya langsung ke Istana. “Kalau Pak Soeharto dan Bu Tien suka pepes jamurnya,” katanya bangga.

Untuk memenuhi permintaan pembeli, setiap hari Haji Halim harus menyediakan tak kurang dari 100 ekor ayam kampung dan 40 liter nasi. Lumayanlah. Dari ayam goreng andalannya, dalam sehari Rofiqoh mengaku mampu meraih omzet sampai Rp 2 juta.

Agar mutu ayam goreng tetap sama, Kedai Haji Halim memiliki pemasok tetap. “Saya enggak mau ayam yang disuntik atau yang warna kulitnya merah dan memar,” ujar Rofiqoh, ibu dua anak ini. Belanja bumbu bisa dilakukan seminggu sekali. Bawang merah, lengkuas, serai, dan jahe masing-masing sebanyak 15 kg diborong ke dapur.

Bermodal Gerobak Nasi Uduk

Meracik makanan yang belakangan disukai orang-orang nomor satu di negerinya tentu menjadi kebanggaan sendiri. Begitulah yang dirasakan Haji Abdul Halim. Namun, kesuksesan ini tidak diraih dengan mudah.

Awalnya, tahun 1978 Halim berjualan dengan gerobak di sekitar Rawamangun. “Waktu itu jualannya cuma nasi uduk dan ayam goreng saja,” kisah Rofiqoh, istri Haji Halim. Ia bermodal lima ekor ayam. Ternyata, ayam gorengnya laris manis. Maka, ia lantas berpikir untuk menekuni masakan ayam goreng saja.

Tahun 1984 Halim mengontrak rumah seluas 16 m2 untuk membuka kedai. Saat itu ia cuma dibantu seorang karyawan. Enam tahun kemudian ia mampu membeli rumah itu, plus menambah lima orang karyawan. Meski tak pernah memasang iklan di media, ayam goreng Halim banyak penggemarnya. “Bapak sempat kewalahan,” kisah Rofiqoh.

Tak ingin berhenti di sini, Halim mencoba peruntungan dengan membuka cabang. Sayang, cabang Cikampek cuma bertahan delapan tahun. “Lokasinya memang kurang menguntungkan,” ujar Rofiqoh lagi. Tahun 1991 ia juga membuka cabang di Nagoya, Batam. Lagi-lagi cabang ini cuma mentok berumur tiga tahun. “Bapak enggak kuat bolak-balik mengurusi usaha,” ungkap Rofiqoh yang kini dibantu sepuluh orang karyawan.

Ayam Goreng Halim
Jl. Pegambiran No. 5 Rawamangun, Jakarta Timur

3 responses to “Ayam Langganan Tujuh Belasan

  1. jalan pegambiran itu belah mana ya bung; maaf meski tinggal gak jauh dari rawamangun, dan sering lewat, kalau nama jalan memang jarang nyangkut di kepala😀

    salam.

  2. Salah satu langganan gw niy dan “very recommended” deh.
    Gw paling doyan sate kulit plus sambel kecapnya.
    Gurih, renyah dan nikmat dah pokoknya.
    Apalagi kalo dimakan pake nasi uduk.

  3. Bener Jon.
    Sate kulitnya recommended banget.
    Tapi menu yang lain juga wajib dicoba.
    Enak dan mantap deh.
    Lokasinya deket terminal bus rawamangun.
    Dari terminal ke arah cipinang, lihat aja di gedung sebelah kiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s