Uduk Dicinta Ulam Tiba

Nasi uduk kondang sebagai sajian nasi khas Betawi. Tak heran kalau kedai nasi uduk bertebaran di pelosok Jakarta. Orang juga terbiasa menyantap nasi uduk untuk sarapan, makan siang, atau makan malam. Tentu saja, ditemani dengan pelengkapnya, seperti ayam goreng, empal, semur kentang, atau semur jengkol.

Namun, sebenarnya masih ada satu lagi racikan nasi khas Betawi. Yakni, nasi ulam. Sayangnya, nasi ulam tidaklah setenar nasi uduk. Pedagang nasi ulam di Jakarta juga relatif sangat sedikit, bahkan barangkali bisa dihitung dengan jari. Salah satu yang setia menggelar santapan tersebut adalah Misjaya.Misjaya punya cerita, nasi ulam sebenarnya merupakan makanan khas Tangerang. Tapi, “Di daerah Tangerang sendiri malah enggak ada nasi ulam,” ujar pria kelahiran Tangerang ini. Justru penjaja nasi ulam bisa dijumpai di sudut kota Jakarta. Nasi Ulam Misjaya, misalnya, mangkal di depan Vihara Toa Se Bio, Jalan Kemenangan III, Jakarta Kota.

Menjelang petang, sekitar pukul 17.00, Misjaya sudah siap dengan dagangannya yang digelar di gerobak. Ia juga menyiapkan empat meja panjang untuk duduk para pelanggannya. Meski lalu lintas jalan tempat mangkal Misjaya ini satu arah, penikmat nasi ulam dengan rela mau bersusah payah menuju ke sana. Pembeli dagangan Misjaya bukan cuma warga sekitar vihara, melainkan juga mereka yang berdatangan dari segala penjuru kota. Ada pula wajah selebriti yang terselip di antara pelanggan Misjaya. “Christine Hakim sering makan di sini,” kata Misjaya.

Satu porsi nasi ulam terdiri dari nasi hangat yang disiram kuah semur berwarna bening kecokelatan. Lalu, nasi tersebut dibubuhi dengan sejumput bihun goreng, taburan kacang tanah yang ditumbuk kasar, lalap daun kemangi, irisan mentimun, kerupuk, emping, serta bawang goreng. Dalam versi aslinya, menurut Misjaya, pelengkap nasi ulam masih ditambah dengan serundeng dan kacang kedelai sebagai taburan.

Selanjutnya, Misjaya menyiapkan beragam lauk untuk teman menyantap nasi ulam. Ada tahu dan tempe bacem, dendeng, cumi-cumi asin, perkedel kentang, serta telur dadar dengan daun bawang. Semuanya merupakan lauk yang sudah mengiringi nasi ulam Betawi sejak puluhan tahun lalu. “Kecuali cumi-cumi asin yang baru mulai ada tahun 1972,” katanya.

Adapun kuah bening kecokelatan untuk menyiram nasi, kata Misjaya, didapatkan ketika memasak tahu, tempe, dan telur bacem. “Jadi, kuahnya enggak dibuang. Nanti untuk nasi ulam ini,” jelasnya.

Aroma udang, tapi tanpa udang

Nasi ulam yang sudah diiringi lauk disebut nasi ulam komplet. Di antara sederet lauk teman nasi ulam tadi, kata Misjaya, dendenglah yang selalu harus tersedia. “Kalau enggak ada cumi-cumi, enggak ada telur, yang penting ada dendeng,” ujarnya. Bahkan, menurut dia, banyak pelanggan yang batal membeli nasi ulam kalau ia sudah kehabisan dendeng. Maka, biasanya Misjaya menyiapkan dendeng yang lebih banyak. Sehari harus menyediakan 3 kg dendeng.

Dulu Misjaya bahkan membuat dendeng sendiri. “Tapi, sekarang saya beli,” katanya. Meski begitu, Misjaya tetap turun tangan mengolah sendiri dendeng itu. Ia mengaku membumbui lagi dendeng mentah tadi dengan merica dan garam. Bahkan, kendati sudah memiliki tiga orang karyawan untuk membantu memasak, Misjaya masih menggoreng dendeng sendiri.

Untuk mengolah nasi ulam komplet, Misjaya mengaku menggunakan dua bumbu rahasia warisan dari Mpek Lam Seng. “Tapi, yang namanya rahasia, saya enggak bisa nyebutin,” kata Misjaya yang berjualan dibantu anak bungsunya. Meski begitu, ia bilang tidak menggunakan tambahan penyedap rasa demi menambah mantap aroma nasi ulamnya.

Selain bumbu rahasia, Misjaya juga punya kiat untuk membuat nasi ulam nan lezat. Yakni, selalu memasak dengan kompor minyak. Memang kurang praktis, tapi api sedang dari kompor minyak membuat semua aroma bahan mentah jadi keluar. “Kalau kompor gas apinya besar, jadi matangnya kaget. Bisa enggak enak,” tuturnya.

Entah mengapa nasi ulam masakan Misjaya ini bisa memikat lidah banyak orang. Dalam sehari Misjaya harus memasak nasi dari 40 kg beras Cianjur. Jumlah itu kadang mesti ditambah 5 kg lagi, agar permintaan para pelanggan terpenuhi. Menurut Misjaya, banyak orang suka nasi ulam bikinannya karena ada rasa udang kering di sela nasi ulam tersebut. “Padahal, saya enggak pakai udang kering. Itu rasa dari bumbu rahasia saya,” ucapnya misterius.

Tinggal Satu-satunya

Perjalanan Misjaya berdagang nasi ulam rupanya tidak sesederhana racikan makanan khas Tangerang ini. Lulus dari sekolah rakyat di Tangerang, Misjaya nekat pergi ke ibu kota dan bekerja pada Mpek Lam Seng, seorang pedagang nasi ulam di Pasar Petak Sembilan, Jakarta Kota. “Saya dulu ikutan nyuci piring saja. Nekat-nekatan!” kisahnya. Belakangan, Misjaya dan dua rekannya, Syarif serta Aheng, menjadi andalan Mpek Lam Seng untuk memikul dan menjajakan nasi ulam keliling kota.

Lama-kelamaan Mpek Lam Seng mewariskan resep nasi ulam kepada ketiga karyawannya tersebut. Maka, Misjaya, Syarif, dan Aheng pun masing-masing membuka kedai nasi ulam. Namun, Syarif berhenti berdagang dan menjadi pemuka agama. Lantas, Aheng menjual nasi ulam sampai akhir hayatnya. Jadi, sekarang tinggallah Misjaya yang bertahan di depan Vihara Toa Se Bio menjajakan nasi ulam resep warisan Mpek Lam Seng. “Hanya saya aja yang sampe sekarang masih dagang,” jelas Misjaya yang sejak tahun 1965 menjual nasi ulam sendiri ini.

Tidak bakal Pindah

Kalau dihitung-hitung, sudah 32 tahun Misjaya mangkal dengan gerobaknya berdagang nasi ulam di depan Vihara Toa Se Bio. Lokasi jualan Misjaya tidak sulit dicari. Tepatnya di depan Sekolah Ricci di Jalan Kemenangan III. Pelanggan nasi ulam racikan Misjaya, tak diragukan lagi, datang dari mana-mana. Namun, sampai kini, pria kelahiran Tangerang ini tidak berniat membuka cabang. Padahal, “Banyak yang menawari saya untuk pindah ke tempat yang lebih besar,” katanya. Bahkan, ada pelanggan yang mengajaknya membuka kedai serupa di Australia segala.

Sebenarnya, Misjaya mengaku ingin menambah jumlah kedai nasi ulam miliknya. Sayang, ia mengaku selalu kesulitan mencari pegawai yang cocok. “Pegawai itu banyak yang pintar, tapi sulit mencari yang jujur,” kilahnya. Alhasil, ia pun bertahan, cukup berkutat di halaman Vihara Toa Se Bio semata. Lagi pula, menurut Misjaya, Mpek Lam Seng, sang empunya resep nasi ulam yang diwarisinya, pernah memberi dia sebuah wasiat. “Mpek pesan supaya saya tetap jualan di depan vihara,” sambungnya. Jadi, sampai kapan pun, kita tidak akan menemukan Nasi Ulam Misjaya di tempat lain.

Nasi Ulam Misjaya
Jl. Kemenangan III/48, Jakarta
 

3 responses to “Uduk Dicinta Ulam Tiba

  1. Emang enak nasi ulamnya. Kalau ngga percaya cobain deh

  2. gw pengen kasih masukkan aja buat blognya. deskripsi ttg makanan2 dan tempat2nya udah lengkap, tp kalo ditambah gambar2 bisa lebih ok lg. sekalian biar kita bisa tau kayak gimana makanan2nya.🙂

  3. tahun 80an gue hampir tiap hari minggu makan nasi ulam Misjaya, emang top habis rasanya, sekarang mau kesana susah banget parkir mobilnya udah gitu ngantri pula tempat duduknya kalo dibungkus rasanya beda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s