Serbakambing, Minus Asap

Daging kambing bisa dibilang merupakan menu favorit di negeri ini. Kedai atau warung yang mengandalkan menu daging kambing gampang sekali dijumpai. Coba tengok kiri kanan Anda. Pastilah ada satu dua warung kecil berhiaskan tulisan “Sate Solo”. Tentu di kedai seperti itu tak cuma sate yang bisa disantap, namun juga tongseng atau gule.

Penjaja nasi goreng kambing juga tak kalah banyak. Beberapa warung bahkan menjadi sangat terkenal dan masuk dalam daftar wajib kunjung. Sebutlah nasi goreng kambing Kebon Sirih. Selain sate dan nasi goreng, tentu lidah kita juga akrab dengan sajian sop kambing. Sop bening dengan pelengkap tomat dan kentang, sudah pasti, menggugah selera.

Nah, penyuka daging kambing kini memiliki pilihan baru: resto bernama Kedai Kambing. Kedai ini berlokasi di Toys ‘R Us Pondok Indah. Tak perlu bingung mencari tempatnya, karena papan nama besar berwarna kuning menyala diletakkan persis di atas kedai tersebut.

Memasuki kedai, layaknya warung yang berdagang masakan kambing, mata kita bakal menangkap beberapa bagian daging kambing yang digantung di etalase, plus botol kecap sebagai pelengkap. Tapi, masih ada minusnya. Di sini tak ada asap pembakaran sate yang menyesakkan mata. Area pembakaran diletakkan di depan, namun dibatasi dengan dinding kaca. Jadi, meski bisa membaui asap, kita masih dapat menyaksikan proses pembakaran.

Makanan yang tertera di daftar menu jelas sesuai dengan nama kedainya. Pengunjung bisa memilih beragam olahan kambing yang disediakan. Sebut saja sate kambing, sate torpedo, sop, tongseng, gulai, kambing goreng, dan iga kambing bakar. Tak ketinggalan nasi goreng kambing. Namun, di sela menu kambing ternyata terselip pilihan pecel lele, gado-gado, karedok, sate ayam, dan sayur asem. Kata Atri Susanti, Marketing Communication Manager Kedai Kambing, hal itu memang disengaja. “Kami lihat tidak seluruh anggota keluarga makan kambing,” ujarnya. Hitung punya hitung, kedai ini menyediakan tak kurang dari 30 pilihan di daftar menunya.

Adaptasi dari kawasan Timur Tengah

Sate, tongseng, dan iga disajikan layaknya warung masakan sate lain. Untuk sop, selain tersedia porsi biasa, pembeli diberi kebebasan menentukan isian. Kita bisa memilih isi sop dari mangkuk-mangkuk besar di etalase. Satu mangkuk berisi torpedo, dalam mangkuk lain ada jerohan, atau bagian kaki, serta daging. Nah, harganya tergantung isi sop Anda. Sepotong torpedo, misalnya, dibanderol Rp 7.000; sedangkan seiris daging harganya Rp 5.000. Kuah sop ada pilihannya, apakah mau yang bersantan layaknya soto betawi atau kuah bening.

Adapun iga kambingnya terlebih dahulu direbus setengah matang bersama ulekan bumbu dapur. Selanjutnya dibakar jika ada pesanan. Satu porsi iga bakar berisi tiga potong.

Bila pesanan sate daging kambing sudah datang, jangan kaget melihat satu bagian berwarna putih di antara bakaran daging tersebut. Bagian putih itu bukan lemak kambing, melainkan bawang putih yang sengaja ditusukkan bersama daging. “Kami masukkan sebagai penetral,” ujar Atri.

Maklum, tak sedikit orang yang langsung merasa darahnya naik ke ubun-ubun usai menyantap daging kambing. Kejadian itu bisa dinetralkan dengan menyantap bawang putih. Namun, cuma segelintir orang yang doyan mengunyah bawang putih mentah-mentah. Untuk mengakalinya, di setiap tusuk sate kambing sang koki menyelipkan satu butir bawang putih yang tersamar karena ikut terbakar. Cara ini, kata Atri, diadaptasi dari kebiasaan di Timur Tengah. Di daerah tersebut daging kambing merupakan bagian tak terpisahkan dari keseluruhan hidangan, namun masyarakat Timur Tengah umumnya tak punya masalah kesehatan. “Mereka menyiasati dengan makan bawang putih,” ujarnya.

Menurut Atri, pihaknya juga menyediakan beberapa penetral lain. Misalnya, “Sayurnya dibanyakin, juga ada jus seledri serta jus belimbing,” papar Atri lagi. Dalam sepiring sate, contohnya, ada lalap timun dan tomat untuk pencuci mulut.

Sate torpedonya kurang peminat

Kalau masih belum puas mencari penyeimbang untuk santapan serbakambing yang tergolong berat, di situ juga ada jamu gendong yang bisa dibeli. Tertulis menu beras kencur, kunir asem, cabe puyang, dan temulawak. Harganya Rp 4.000 segelas.

Karena menu andalannya serbakambing, olahan kambingnya harus benar-benar empuk dan tidak berbau prengus. Tentu ada kiatnya. Kata Atri, itu karena mereka hanya menerima pasokan kambing muda. “Hari ini dipotong langsung disajikan,” imbuh Dada, supervisor di Kedai Kambing. Pengantaran kambing umumnya dilakukan pada pukul 08.00, sedangkan kedai mulai buka tepat jam 10.00. “Dua jam itu untuk persiapan, kami bikin fillet, ditusuk, serta dipajang di depan,” tutur Dada lagi.

Dalam sehari umumnya mereka bisa menghabiskan satu sampai dua ekor kambing. “Kalau akhir pekan bisa dua kali lipatnya,” ujar Dada. Kambing sebanyak itu cukup untuk memenuhi permintaan 80-100 porsi masakan setiap hari.

Sate kambing merupakan hidangan yang paling banyak dipesan para pengunjung Kedai Kambing. Harganya Rp 15.000 seporsi. Sate torpedo tersedia dengan harga Rp 17.500. Namun, menurut Dada, sate torpedo yang konon merupakan obat kuat lelaki ini tak banyak diminati. “Torpedo ini tidak terlalu banyak yang minta, tapi tiap hari pasti ada yang cari,” ujarnya.

Batal Jadi Warung Kambing

Di bawah nama Kedai Kambing tertera coretan Waroeng Podjok. Bisa diduga, Kedai Kambing adalah bagian dari Grup Waroeng Podjok. Pemiliknya, Paulus Indra, telah lebih dulu mendirikan Kafe Wien, Mario’s Place, dan Waroeng Podjok di Plaza Senayan; sedangkan Kedai Kambing baru berumur satu setengah bulan.Kendati termasuk salah satu anak perusahaan Waroeng Podjok, nama kedai ini tidak begitu saja mengambil julukan induknya. “Masa jadi Warung Kambing? Maka kita ambil Kedai Kambing, konsepnya tetap tradisional,” papar Atri Susanti, Marketing Communication Manager Kedai Kambing.

Menurut Atri, ide warung ini awalnya adalah untuk menyatukan berbagai masakan kambing yang populer. Bukan rahasia jika orang Jakarta pergi ke Roxy untuk berburu sop yang top, atau rela antre nasi goreng kambing di Kebon Sirih. “Kenapa enggak bikin konsep yang satu tempat saja?” ucapnya. Itu sebabnya, mereka lantas membuat Kedai Kambing.

Lantaran harus benar-benar menyajikan masakan kambing yang top dan enak, resep di Kedai Kambing juga diujicobakan dulu. Selama tiga bulan, menurut Atri, pihaknya bergelut untuk menemukan ramuan yang pas untuk tongseng, sate, dan beragam masakan lain.

Jadi, sekarang terserah penilaian pembeli. Apakah Kedai Kambing sungguh bisa menyatukan segala masakan yang top tadi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s