Ayam dalam Kepulan Asap

Jika Anda kerap melewati Jalan Kyai Maja Kebayoran Baru, tentulah Anda sudah akrab dengan kepulan asap di seberang RS Pusat Pertamina. Tentu saja, aroma sate yang sedap menerjang indera penciuman. Barangkali Anda bahkan merupakan salah satu penggemar sate depan RSPP, begitu sebutannya, yang hadir dari tengah kepulan asap itu.

Sate di depan RSPP ini tidaklah menempati kedai, bukan juga sebuah restoran nyaman di lokasi yang strategis. Gerobak sate milik Haji Romli ini cuma ditaruh di pelataran parkir Salon Kumarii yang lokasinya di seberang RSPP. Di dekat gerobak sate memang ada tenda untuk makan, namun ukurannya tidak begitu besar. Hanya seluas 3 x 4 meter, bangkunya cuma muat untuk sekitar dua puluh orang. Tenda itu sebenarnya milik pedagang mi yang ada di depan salon. Namun, yang duduk-duduk di situ rupanya menyantap sate dari gerobak Haji Romli.

Nah, sumber kepulan asap itu sendiri adalah sebuah gerobak dengan dua alat pembakar sate. Uniknya, pekerja Haji Romli membakar sate dengan kipas manual, bukan kipas angin listrik yang lazim dipakai para penjual sate. Menurut Parjo, anak buah Haji Romli yang mengelola kedai ini, penggunaan kipas manual merupakan amanat sang pemilik. “Kalau pakai kipas angin, rasanya lain, matangnya beda. Cuma di luarnya doang. Bumbunya enggak meresap ke dalam sate,” papar Parjo.

Dalam kancah persatean ayam, rasa sate bikinan Haji Romli ini memang terbilang ueenak banget. Potongan daging ayamnya besar, empuk, dan bumbunya meresap. Tak heran jika orang rela mengantre panjang demi menunggu sate di pembakaran matang.

Sebagian besar pelanggan Haji Romli memilih untuk membawa pulang sate mereka. Namun, ikut berdesakan dalam kedai sempit di situ sembari menunggu jatah sate ternyata tidak bikin kita rugi. Cara menyajikan pesanan sate bikin jakun kita naik turun. Tengok saja. Pertama-tama, pelayan di situ akan menuangkan bumbu kacang di atas piring. Setelah itu, ia menuangkan kecap yang langsung diaduk dengan bumbu. Kemudian barulah sate dan lontong ditambahkan pada bumbu. Terakhir, ada perasan air jeruk di atas porsi sate lontong tersebut. “Itu pakai limau, biar harum dan bumbunya enggak enek,” tutur Parjo.

Dua ratus ekor ayam buat sehari

Kunci kelezatan sate terletak pada bumbu kacang. Sebenarnya, kata Parjo, bumbunya sederhana saja. Hanya kacang, cabai rawit, cabai merah, bawang merah, bawang putih, gula, serta minyak ayam sedikit. Proses memasaknya lumayan lama, karena harus digiling, digoreng, dan direbus untuk menjadi bumbu. “Direbus buat dibuang minyaknya,” tutur Parjo.

Tak hanya mengolah bumbu, membakar sate pun ada kiatnya. sate di sini dibakar dua kali. Setelah ayam dipotong, ditusuk, dibumbui, dan dibakar setengah matang. Jika ada pembeli, barulah sate itu dibumbui dan dibakar lagi.

Gerobak sate Haji Romli, yang buka dari pukul 08.00 sampai 15.00 ini, paling ramai dikunjungi pembeli setiap akhir pekan dan hari libur. Saat itu Haji Romli membutuhkan dua ratus ekor ayam demi memuaskan selera makan pelanggannya. Hitung punya hitung, dua ratus ekor ayam itu akan menjadi sebelas ribu tusuk sate. Menurut Parjo, memang saat libur dan akhir pekan biasanya mereka panen pesanan. “Ada yang pesan lima ratus tusuk, ada empat ratus tusuk,” kata dia. Di hari-hari biasa, mereka mengolah seratus ekor ayam untuk menjadi sate.

Selain sate ayam, sebenarnya Haji Romli juga menjual sate kambing bumbu kecap. Tapi, bakaran si embek ini kalah ngetop sama ayam. Dalam sehari, mereka paling cuma membikin sepuluh kilogram daging kambing untuk disate. “Jadi sekitar delapan ratus tusuk,” kata Parjo.

Haji Romli mematok harga seporsi sate ayam Rp 9.000 isi sepuluh tusuk. Sate kambing dijual Rp 15.000. Pelengkapnya adalah lontong, harganya Rp 2.000 seporsi. Tentu saja, harga itu sudah termasuk kepulan asap dan aroma sate yang awet menempel di baju Anda sepulang dari gerobak Haji Romli.

Asap Sore lain Aromanya

Jika diperhatikan, tampak bila asap sate sepanjang sore sampai malam di seberang RS Pusat Pertamina ini lebih heboh dan dahsyat. Selidik punya selidik, ternyata pemilik gerobak sore berbeda dengan gerobak pagi. Jika membeli sate sore, kita akan menikmati olahan tangan Muri, adik Haji Romli. Menurut cerita, tadinya Muri berjualan pas di pintu keluar RSPP. Namun, ia kena gusur tramtib hingga akhirnya berbagi lapak dengan sang kakak.

Saban sore, mulai pukul 15.30, Muri akan menggelar sate ayam dan kambing dagangannya. Saat membakar sate, Muri atau karyawannya akan menuangkan minyak ayam ke dalam bakaran. Inilah yang membuat asapnya lantas begitu heboh dan menguar ke mana-mana.

Dalam sehari saat ramai pembeli, menurut Muri, ia bisa menjual sekitar sembilan ribu tusuk. “Biasanya hari Sabtu-Minggu, tuh,” tutur Muri yang menjual sate ayam plus lontongnya dengan harga Rp 12.000 seporsi. Rasa sate ayam Muri tidaklah jauh berbeda dengan versi kakaknya di siang hari. Ada potongan empat bulir daging ayam yang berukuran cukup besar, dengan bumbu kacang yang lembut. Selain sate ayam bagian daging, Muri juga menjual sate kulit ayam. Kadang-kadang, ia menyediakan jeroan ayam, meski tidak sering. “Repot, harus telaten misahin telur. Hatinya juga sering hancur,” kata Muri yang mengaku sempat kena gencet isu flu burung sampai omzetnya turun separo.
Jadi, mau asap siang atau asap sore, itu semua terserah selera Anda.

Mengukur Jalan Kebayoran

Haji Romli yang berasal dari Madura sudah sekitar tiga puluh tahun berdagang sate di ibu kota. Awalnya, Haji Romli merupakan pedagang sate keliling, mendorong gerobak ke mana-mana. Namun, langkahnya tidak pernah jauh dari kawasan Kebayoran. Misalnya, ia menjelajah ke Radio Dalam dan Blok M. Terakhir, ia kerap mampir di seberang RS Pusat Pertamina di Jalan Kyai Maja. Tak tahunya, di situ Haji Romli mendapatkan banyak pelanggan. Itu sebabnya, belakangan Haji Romli memilih lokasi ini.

Omzet Haji Romli, menurut Parjo, karyawan yang sepuluh tahun terakhir bekerja padanya, meningkat terus. Mulanya dulu, Haji Romli cuma membuat sate dari seekor ayam. Sekarang ia bisa menghabiskan dua ratus ekor ayam sehari.

Haji Romli menyiapkan sate di rumahnya di kawasan Kebayoran Lama. Setelah itu, menurut Parjo, ia akan melakukan dua kali pengiriman ke gerobaknya di Kebayoran Baru tersebut. “Nganter-nya pakai bajaj itu,” tutur Parjo. Sementara itu, sate sudah dibakar di depan RSPP, karyawan Haji Romli yang jumlahnya dua puluh orang itu masih saja ada yang menusukkan ayam dalam tusukan sate di rumah.

Sate Ayam Haji Romli
Seberang RS Pusat Pertamina
Jl. Kyai Maja, Kebayoran Baru, Jakarta
 

One response to “Ayam dalam Kepulan Asap

  1. hmmmm….. keren!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s