Kilau Santapan Kota Intan

Jika mau mengaduk-aduk warung nasi uduk di seantero Jakarta, tentu lidah dan kaki bakal pegal tak keruan. Maklum, jumlah kedai dan warung nasi uduk sudah tak terhitung lagi. Biar begitu, cuma ada beberapa kedai yang selalu padat disesaki pembeli. Sebutlah nasi uduk Kebon Kacang, nasi uduk Gondangdia, dan satu yang tidak boleh ketinggalan adalah kedai Nasi Uduk Kota Intan di Jalan Samanhudi, Krekot.

Sebenarnya di sepanjang jalan belakang Pasar Baru ini ada banyak warung tenda, termasuk di antaranya beberapa kedai nasi uduk. Namun entah mengapa, kebanyakan orang yang berburu nasi uduk selalu melangkahkan kaki ke dalam kedai Nasi Uduk Kota Intan yang letaknya pas di depan GKI Samanhudi. Parkir mobil di sekitar kedai selalu penuh, terutama saat jam makan malam. Uniknya, kedai milik Aweng ini ada dua buah. Keduanya mengapit gerbang masuk gereja.

Lazimnya warung tenda, kedai nasi uduk ini dilengkapi dengan lima meja kayu panjang yang ditutup plastik warna biru plus deretan kursi plastik yang mengelilingi. Di salah satu sisi warung, Aweng menata beragam lauk siap goreng yang sudah dibumbui dalam wadah baskom dan nampan. Pembeli yang datang terlebih dulu harus memilih lauk dari wadah itu. Ada banyak pilihan. Sebut saja ayam kampung, tahu putih, sate kuning telur, empal, usus, babat, limpa, hati ampela ayam, saren (darah beku), lele, dendeng, ikan mentah, dan cumi. Selain sajian siap goreng, pembeli juga bisa memesan ikan atau cumi bakar.

Nah, sebagai pendamping santapan ada sayur asem dan ca kangkung yang langsung dimasak saat dipesan. Kendati warungnya berlabel Nasi Uduk Kota Intan, ternyata Aweng juga menyediakan nasi putih. “Biasanya nasi putih itu dijodohkan dengan ikan bakar,” ujar Aweng.

Supaya tenggorokan lancar menelan nasi uduk, ada banyak pilihan minuman. Namun, mayoritas pengunjung di sini memesan liang teh. Alternatif lain tersedia es teler, es campur, es kelapa muda dan sebagainya, dari tenda sebelah, yakni warung es Sinar Garut. “Mereka itu terpisah dari kami, tapi saling melengkapi. Biasa, kok, pengunjung pesan es dari sebelah,” kilah Aweng.

Tak perlu menunggu lama untuk menyantap nasi uduk dan segala perlengkapannya itu. Soalnya, si juru masak tinggal menghangatkan beragam lauk pilihan pengunjung di penggorengan. Bahkan, ca kangkung yang dimasak by order juga lekas tersaji. Cuma bersabar sebentar, lantas datanglah semua lauk tadi dalam satu piring. Awas, hati-hati menyantapnya, karena gorengan itu masih mengepulkan asap panas.

Tiga puluh tahun lebih bercokol di Krekot

Nasi uduk lebih dulu diantar, tentu saja, lengkap dengan sambal kacang dalam piring kecil terpisah. Sambal ini benar-benar menjadi jodoh nasi uduk, dibuat dari campuran kacang dan sedikit campuran sambal cabai. Sambal kacangnya cukup kental, sampai-sampai kita bisa mencocolkan sekepal nasi uduk di dalamnya. Selain sambal kacang, Aweng juga menyediakan sambal terasi biasa untuk cocolan lauk.

Menurut Aweng, menu lauk yang paling banyak dipilih adalah babat, paru, empal, dan ca kangkung. Jeroan di sini rasanya sedikit manis, sangat empuk digigit, sehingga pas disantap bersama nasi uduk hangat yang gurih itu.

Tak aneh kalau Aweng bisa menyajikan nasi uduk yang rasanya istimewa. Ia bukan baru kemarin sore berdagang makanan. “Saya bikin warung ini sejak tahun 1971,” kata Aweng yang memberi label kedainya dengan nama kota asal sang juru masak. “Saya comot saja dari kota asal koki saya,” cetusnya.

Awalnya kedai Aweng cuma berisi satu meja. “Dulu sepi sekali. Saya malah kalah sama warung lain di sekitar sini,” ujarnya. Ia mengenang, saat mulai berbisnis ia banyak merasa susah. “Ya sampai kita begadang, kehujanan, kedinginan, ha, ha, ha…,” katanya sambil tertawa.

Sekarang Aweng memang bisa tertawa lebar. Lama-kelamaan keadaan berbalik. Nasi Uduk Kota Intan semakin ramai disambangi pembeli. Menunya pun berkembang. Kalau mulanya Aweng cuma menyediakan ayam goreng, hati ampela, babat, dan ca kangkung, sekarang lebih dari sepuluh lauk bisa dijumpai di sana. Meja pun harus ditambah dan tenda mesti diperbesar lagi. Alhasil, Aweng harus menambah luas tendanya dengan menambah kavling lagi di sisi lain gerbang gereja.

Para pelanggan Aweng juga tak keberatan harus merogoh kocek demi sepiring kelezatan nasi uduk. Aweng menetapkan harga Rp 3.500 untuk sepiring nasi uduk. Adapun harga lauknya beragam, sekitar Rp 4.500 sampai Rp 8.000 untuk lauk yang digoreng.

Karena dagangannya ramai, Aweng pun merelakan tempat tinggalnya di Kelapa Gading disulap menjadi kedai nasi uduk. “Kalau siang kan yang di Krekot enggak jualan. Jadi, saya jualan di rumah,” ungkapnya. Sebenarnya, ujar Aweng, banyak orang menawarkan kerja sama dengan dia untuk membuka cabang Nasi Uduk Kota Intan di luar kota. “Ada yang nawari di Batam segala. Tapi nanti saja, ah!” katanya enteng.

Enggan Didikte Koki

Bisnis makanan bukan hal baru bagi Aweng. Menurut pengakuan laki-laki setengah baya ini, orang tuanya dulu juga berdagang makanan. “Tapi, mereka menjual chinese food,” kata dia. Aweng pun ingin mengikuti jejak orang tuanya ini. Namun, ia punya pertimbangan sendiri. “Kalau chinese food itu, kita yang didikte sama koki,” ujar Aweng. Maksudnya, pengusaha kedai chinese food jarang yang langsung turun ke dapur mengolah makanan, karena kebanyakan menunya diorder langsung. Hal itu tentu berbeda dengan bisnis nasi uduk Aweng. “Nah, kalau nasi uduk begini, kita yang mendikte,” kata dia lagi.

Sampai kini Aweng dan kakaknya masih meracik dan mengolah beragam lauk yang mereka jual di kedai itu. “Resepnya kami pegang dan olah sendiri,” ujarnya. Aweng mengaku menggunakan resep warisan dari orang tuanya. Dengan begitu, rahasia kelezatannya pun tersimpan rapi. Setiap hari, Aweng mulai memasak pukul 11.00. “Nanti di Krekot tinggal digoreng saja,” kata Aweng.

Nasi Uduk Kota Intan
Jl. H. Samanhudi (Depan GKI Samanhudi) Krekot Jakarta
Jl. Kelapa Gading Boulevard Raya QJ III/8 Jakarta
Telp. 4533861
 

One response to “Kilau Santapan Kota Intan

  1. wah, nasi uduknya emang mantap … gw udah makan 20tahun…walau sekarang udah jarang banget ke sana…hehehhe

    seinget gw dulu tuh sederetan Krekot pada jualan nasi uduk, tapi ga ada yg seenak Kota Intan…karna pernah pas Kota Intan ga jualan coba2 ke kedai yg lain…busyeeeet, yg bisa dimakan cuma nasi uduknya…sedangkan lauknya ga ada yg enak…

    moga2 Kota Intan tetep berjaya sepanjang masa….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s