Nyus… Sesejuk Laut Baltik

Nyaman betul suasananya. Ada deretan meja kecil yang ditemani bangku-bangku rotan. Payung yang berbaris di trotoar jalan menaungi meja kursi, serta kipas angin tua di plafon. Tapi, itu potret kedai kuno. Pemandangan seperti itu bisa dijumpai dulu, ketika warung es krim Baltic masih bernama Istana Es Krim.

Kini, kedai yang terletak di Jalan Kramat Raya, Jakarta, ini sudah tidak disesaki bangku atau payung. Kedai Baltic tak lebih dari sebuah bangunan tua, menyempil di antara deretan bengkel las dan serakan lapak buku bekas. Jangan mencari meja kursi di sana, karena kedai ini penuh dengan kotak-kotak pendingin es. Kumuh. “Ya, mau gimana lagi? Kedai kami sudah kena pelebaran jalan, hingga 15 m depan, kanan dan kiri,” ujar Octo Matheus Sinaga, Manajer Operasional PT Balticindo Jaya Food, produsen es krim Baltic, dengan pasrah.

Ironis. Karena kedai ini pernah menjadi tempat nongkrong para tokoh. Dari jenderal sampai seniman. “Chairil Anwar dan Ismail Marzuki sering mangkal di sini,” kenang Octo. Tentu saja, bukan cuma mereka berdua penggemar berat Baltic. Kala itu untuk mendapatkan semangkuk es krim Baltic orang harus antre.

Maklum, es Baltic dikenal sebagai makanan tanpa bahan pengawet dan menggunakan bahan-bahan segar. Saingan mereka adalah es krim Ragusa dan Canang. “Orang malah lebih senang ketika es krim ini masih setengah jadi. Sari buahnya masih terasa segar,” ungkap Octo.

Nah, keaslian bahan baku itulah yang dipertahankan generasi kedua sampai sekarang. Penerusnya adalah Mulya Setiawan, anak bungsu Mulya Santosa, pendiri restoran ini. Si bungsu ini satu-satunya orang yang masih menyimpan rahasia kelezatan es krim yang sudah berumur 64 tahun itu. “Ya, kita kan tidak mau orang lain tahu rahasia dapur kita,” ungkap Octo lagi.

Jadi, tak usah khawatir. Walau kedai es krim tempat rendesvouz tempo doeloe sudah tidak ada, kita masih bisa mengudap es Baltic yang memakai resep tempo doeloe; kendati ada perubahan dalam penyajian. Kalau dulu es krim Baltic bisa dinikmati dari sepinggan keramik, sekarang mereka cuma membuat es krim batangan atau literan dalam kotak. “Tart es krim juga kami jual. Hanya, biasanya harus pesan dulu,” tambah Octo.

Harus diakui, rasa es krim tempo doeloe ini memang beda dengan es krim yang banyak beredar di pasaran. Aroma buah segar dan rasa manis susu masih terasa di lidah. Tak percaya? Coba saja choco stick yang disajikan dalam lima rasa. Coklat, stroberi, vanila, alpukat, dan mocca. Di tengah gigitan es krim, lidah Anda akan merasakan rasa kacang tanah yang bulat utuh dan masih renyah. Kletikan kacang menambah rasa lezat es krim yang seluruhnya dilapisi coklat ini. Kriuk…ehmm… lezaat!

Tak pernah memakai esens

Octo mengatakan bahwa mereka menggunakan buah-buahan asli. Misalnya, nangka atau alpukat. “Kami tidak memakai esens,” katanya berpromosi. Secara umum, tidak ada yang aneh dalam pembuatan es krim Baltic selain buah segar dan tiga macam jenis susu dalam adonannya: susu sapi murni, susu full cream, dan susu instan.

Hingga kini pembuatan es Baltic banyak memakai tenaga manusia. Pemakaian mesin hanya saat mengaduk adonan. Tapi jangan remehkan tenaga manusia, mereka bisa memproduksi 8.000 stik dan 3.000 cup es krim tiap hari. Dari dapur yang menyempil di Kwitang ini es krim Baltic disebar ke cabangnya yang berlokasi di Bintaro, Cibubur, Meruya, dan Radio Dalam.

Jadi, kakek, nenek, om, tante, yang mau bernostalgia makan es krim Baltic, jangan khawatir. Es krim ini belum almarhum. Lagi pula, kendati bentuknya stik atau cup, rasanya masih tetap sama. Harganya pun murah meriah, cuma Rp 1.400 sampai Rp 1.800.

Si Baltic masih Berkutik

Sebetulnya, pemilik tiga kedai es krim yang kesohor di era 1940-an – Ragusa, Baltic, dan Canang- saling kenal sejak muda. Mereka sama-sama punya hoki di bisnis es krim. Tapi, mereka tidak pernah bikin kongsi dan punya alur cerita sendiri dalam membangun bisnis. Kini usaha makanan dingin nan lembut ini diwariskan pada generasi kedua masing-masing.

Kisah Baltic sendiri dimulai tahun 1939, saat Mulya Santosa mendapatkan ide membuka kedai es krim. Saat itu di daerah sekitar Kramat Raya belum ada kedai es krim. Baru es krim Baltic ini. Apalagi lokasi kedai Mulya berseberangan dengan bioskop Rivoli. “Kebanyakan orang habis nonton atau jalan-jalan pasti mampir ke sini,” cerita Octo. Nah, dari sanalah es krim Baltic mulai punya nama.

Kedai es krim terus dipertahankan hingga 1990. Baru ketika akhirnya Mulya meninggal, kedai ini diwariskan kepada anak bungsunya, Mulya Setiawan. Sayang, Mulya Setiawan tak mampu mempertahankan keberadaan kedai. Untungnya dia bisa mempertahankan resep es krim itu. Agar Baltic panjang umur, dia mendirikan PT Balticindo Jaya Food. Maksudnya supaya Baltic ciptaan ayahnya ini tidak dilupakan orang.

Sampai sekarang Mulya masih belum tahu, kepada siapa merek Baltic ini akan diwariskan. “Mungkin keponakannya,” ujar Octo yang sudah bekerja puluhan tahun pada es krim ini. “Ah, bisa bertahan saja sudah syukur,” lanjutnya.

One response to “Nyus… Sesejuk Laut Baltik

  1. mau dong jeng dibawa jalan2 ke t4 yang dah diposting disini..
    yu yu.. kapan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s