Lapar Kabur Berkat si Lancur

Jakarta, seperti juga nasib banyak kota besar lainnya, pasti mengalami serbuan aneka makanan. Maklum, perut yang harus diisi jumlahnya jutaan. Selera makan penghuninya pun beragam. Jangan heran jika kota metropolitan ini memiliki deretan panjang menu dari berbagai daerah dan negara.
Namun begitu, menu makanan asli Betawi tampaknya masih harus dicicipi. Penggemar makanannya tidak sedikit, lo! Salah satu kedai masakan Betawi yang punya banyak sekali penggemar adalah kedai Hj. Nurlailah di bilangan Duren Tiga.

Ketika jam makan siang tiba, kedai ini selalu ramai didatangi pembeli. Lahan parkirnya nyaris tidak ada, karena kedai Hj. Nurlailah terletak persis di tepi jalan, membuat mobil pengunjungnya harus tumpah ke mana-mana. Tapi, suasana parkir yang penuh sesak tidak terlalu parah pada hari libur atau akhir pekan. Maklum, “Kebanyakan, yang makan di sini orang kantoran,” tutur Hj. Nurlailah yang kerap dipanggil Bu Haji ini.

Siang itu, kedai Bu Haji sudah tidak begitu ramai. Penampilan kedai berkapasitas delapan puluh orang ini sederhana. Ada meja kayu, lengkap dengan kursi plastik berwarna putih. Di satu sisi, ada dapur yang dilengkapi tungku kayu bakar serta kompor gas.

Menu andalan Bu Haji adalah ayam goreng ala Betawi yang dijual per potong. Selain pilihan dada dan paha, Bu Haji menyediakan pula ati ampela dan kepala. Maklum, dari awal mendirikan kedai dulu, Bu Haji selalu memotong ayam kampung sendiri. “Sehari, rata-rata kami memotong enam puluh ekor ayam,” jelas Achmad Yani, anak kedua Bu Haji yang mengelola kedai di Duren Tiga ini. Dengan begitu, mereka memastikan bahwa ayam kampung yang dimasak benar-benar sehat.

Sejak awal mendirikan kedai ini, Bu Haji juga sudah menentukan usia ayam yang harus dikirim ke dapurnya. “Orang sini nyebut-nya ayam lancur, ayam umur enam bulan yang belum kawin,” tegas Yani.

Nah, Bu Haji menyajikan ayam goreng itu panas-panas, karena dicemplungkan ke minyak goreng sesaat ada pesanan. Sebelum digoreng, ayamnya diungkep dalam bumbu selama satu jam. Meskipun sudah digoreng, ayam itu masih menyisakan warna kuning kunyit. Rasanya gurih dan empuk. Ayamnya gampang digigit serta lembut dengan bumbu yang berasa begitu merasuk ke dalam dagingnya. Kulitnya masih basah oleh minyak. Oh, ya, di samping masih bujangan, ayamnya juga ayam kampung, lo.

Bumbu langka versi Bu Haji

Jika suka, kita juga bisa meminta agar ayamnya digoreng garing, sehingga kulit luarnya berasa kering dan krispi. “Tapi, nanti dagingnya agak alot,” tutur Bu Haji.

Porsi ayam goreng ini datang disertai dengan sambal kacang dalam piring kecil. Sambal tersebut merupakan gerusan kacang tanah, cabai, serta kecap. “Terakhir, diberi jeruk limau,” terang Bu Haji. Pantas saja, rasanya segar untuk mengiringi ayam goreng nan gurih itu.

Di kedai ini, kita akan mendapatkan sepiring lalapan untuk menemani santapan. Ada timun, daun popohan mentah, daun singkong rebus, daun pepaya rebus, serta pare rebus. Sebagai pelengkap, ada semangkuk sambal matang yang dibikin dari tomat, cabai, dan terasi. “Itu sambal buat lalapannya,” jelas Bu Haji. Nah, dijamin tangan Anda bakal sibuk mencocol dua macam sambal, menjumput lalap, dan menyobek daging ayam goreng. Tentu saja, paling nikmat menyantap sepiring nasi putih hangat dengan kelima jari di sini.

Selain menu ayam, ada tawaran sayur asem dan sop sapi sebagai pendamping. Sop tangkar (iga sapi) Bu Haji juga banyak yang beli. Satu porsi sop bening berisi tiga potong iga serta emping melinjo goreng yang mengapung di kuahnya. Saat menyeruput kuah sop, langsung saja lidah diserang aroma rempah-rempah yang kuat. Bu Haji bilang, ia meracik sendiri bumbu sop yang kerap dikomentari sebagai bumbu ajaib. Maklum, “Banyak bumbunya yang sudah langka,” tutur Bu Haji. Misalnya, mereka harus berburu kapulaga yang cocok sampai ke Bogor, lalu ada cabai jawa, dan buah pinang kering. Bahkan, biang kunyit, atau kunyit berukuran raksasa untuk bumbu ayam, juga terbilang langka. Semua bumbu sop tadi digerus lalu dimasukkan ke dalam sebuah kantong kain, barulah disertakan di rebusan kaldu. “Jadi, sopnya bening, enggak ada ampas,” kata Yani.

Bumbu langka yang jarang bisa didapat di pasar, itu baru satu dari keunikan kedai Bu Haji. Selain memakai bumbu langka, Bu Haji berkeras menggunakan kayu bakar untuk memasak. Semua proses, seperti menanak nasi, mengungkep ayam, serta memasak sop dilakukan di atas tungku kayu. “Cuma menggoreng dan memanasi sop saja yang pakai kompor gas,” tutur Yani.

Bukan tanpa alasan jika Bu Haji tetap berkutat di tungku kayu. Pasalnya, “Kalau memasak pakai kompor gas, matengnya enggak rata,” dalih Bu Haji. Itu sebabnya, Bu Haji harus selalu menyisihkan ruang dapur yang luas di setiap lahan yang dikontrak untuk kedainya.

Kena Gusur

Hajah Nurlailah sudah puluhan tahun berdagang makanan. Awalnya, tahun 1974, ia membuka warung kopi di depan pool Taksi Blue Bird di Mampang Prapatan. “Dulunya, jualan kopi, goreng-gorengan begitu,” tutur Hj. Nurlailah yang kerap dipanggil Bu Haji ini.

Pelanggan setia warung kopi Nurlailah adalah sopir taksi Blue Bird. Mereka jugalah yang mendesak Bu Haji untuk menambah dagangannya. “Mereka minta agar saya jualan nasi untuk makan,” kata ibu sembilan anak tersebut.

Permintaan pelanggan warung segera dituruti. Bu Haji menambah menu nasi, ikan kembung, sayur asem, dan ayam goreng. Tak tahunya, ayam goreng racikannya ini segera menghimpun penggemar. Pelanggan Bu Haji semakin banyak. Malangnya, warung Bu Haji di depan pool taksi ini kena gusur. “Waktu itu ada pembangunan jalur lambat,” jelas Achmad Yani, anak kedua Bu Haji yang ikut mengelola kedainya. Bu Haji lantas memindahkan warung ke Jl. Mampang Prapatan VI.

Kedai di Mampang Prapatan VI dianggap tidak bisa menampung pembeli yang banyak. Mereka lantas membuka satu kedai lagi di Duren Tiga, pada tahun 1992. Bu Haji menyerahkan pengelolaan kedai di Mampang, yakni kedai H. Enung, kepada anak sulungnya. “Tapi, bumbu segala macam itu olahan saya juga,” tutur Bu Haji. Itu sebabnya, menu di H. Enung setali tiga uang dengan di kedai Hj. Nurlailah. Rasa masakannya pun sama. Mau coba?

Rumah Makan Betawi
Ibu Hj. Nurlailah
Jl. Duren Tiga Raya PLN No. 37, Jaksel
Telp. 798 5542

3 responses to “Lapar Kabur Berkat si Lancur

  1. drooling tak terkontrol hahahahahaha..
    kapan dong fem diajak ke sana? *duh ngarep*

  2. kok di jkt..????

  3. mbak, saya udah 2-3 tahun nggak ketempat ini (H enung dan Hj Nurlailah), tapi waktu terakhir saya ke H Enung, warung nya udah nggak ada (nggak sempet tanya sama penduduk sekitar karena buru2), ke Hj Nuerlaiah juga nggak ketemu (pada salah patokannya ya ?) … kedua nomor teleponnya juga dihubungi nggak ada yg ngangkat … mbak mungkin tau info terakhir mengenai kedua warung ini ? ngebayanginnya aja udah ngiler nii

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s