Bakaran di Pinggiran

Steak dulu identik dengan harga mahal dan hidangan mewah. Belakangan, sajian yang biasanya terdiri dari sepotong daging bakar – dilengkapi kentang goreng dan sayur – mulai merakyat. Tak cuma bisa dinikmati di restoran eksklusif dengan harga mahal, sekarang bisa dikudap di kedai-kedai tepi jalan dengan harga yang jauh lebih murah.
Di daerah pinggiran Jakarta kedai yang menjual steak dengan harga terjangkau gampang dijumpai. Ada yang mengambil lokasi di daerah mahasiswa, ada yang di dekat perumahan. Ketika akhir pekan, menurut para pemiliknya, di mana pun lokasinya kedai steak banyak disambangi suami istri, lengkap dengan anak-anak mereka.

Peach bermula dari iseng

Mereka yang kerap melewati Jalan Margonda Raya tentu tak asing dengan Steak Peach. Kedainya bersuasana romantis, lengkap dengan 21 meja serta masing-masing empat kursi. “Itu memang tempat pacaran mahasiswa,” celetuk seorang pengunjung.

Lokasi Steak Peach di kawasan Depok, yang identik dengan mahasiswa, bukannya tanpa disengaja. Peter Tora, salah satu pemilik Peach, bilang bahwa ia dan teman-temannya memang ingin membikin satu tempat nongkrong di seputar kampus UI. “Waktu itu kebetulan yang belum ada di sekitar sini kan steak, jadi kami bikin tempat makan steak,” ucap alumni UI ini. Bersama enam orang kawan SMA-nya, tahun 1991 Peter mulai membuka Steak Peach.

“Awalnya kami berempat yang kerja di sini, tambah satu tukang cuci dan seorang lagi untuk membantu masak,” katanya. Modalnya Rp 15 juta dengan cuma mengandalkan empat meja. Ternyata dagangan mereka laris. Setahun kemudian mereka sudah balik modal. Lantas, tahun 1995 Steak Peach boyongan ke tempat yang lebih luas, di lokasi mereka sekarang.

Peach tidak memiliki menu tertentu yang gencar dipromosikan. “Semua di sini menu andalan,” katanya. Melongok dalam daftar menu, ada Chopped Chicken Steak, Imported Sirloin Steak, Imported T-Bone Steak, bahkan juga Nasi Goreng Kambing. Paling mahal Rp 29.600. “Itu Imported T-Bone, tapi jarang yang beli,” ujar Beni, kasir di situ.

Ramuan bumbu steak, kata Peter, adalah hasil eksperimennya sendiri. “Kebetulan saya memang suka masak,” ujar dia. Peter mencoba mengadaptasikan rasa steak agar cocok dengan lidah Indonesia. “Bahannya ya lada, pala. Resepnya rahasia,” kata Peter yang mempekerjakan 18 karyawan ini sambil tertawa.

Tiap hari, menurut hitungan Beni, Peach dikunjungi sekitar 30 orang. “Kalau akhir pekan bisa sampai 100 orang,” katanya. Pengunjungnya beragam, dari muda-mudi sampai rombongan keluarga. Obonk berarti bakar dalam bahasa Jawa. Tapi jangan berharap menjumpai kedai dengan nuansa merah membara, karena Steak Obonk justru tampil remang. Ada taplak meja bermotif papan catur, partisi transparan berupa kerai bambu, serta lampu gantung di tiap meja. Ketika mengiris steak yang terhidang, telinga pengunjung dimanjakan oleh alunan musik top forty yang berkumandang. “Di mana pun Obonk berada, di dalamnya pasti seperti itu,” cetus Dede Jarot, pemilik Steak Obonk Jatiwaringin.

Asal tahu saja, mulanya Steak Obonk membuka gerai di Yogyakarta. Selanjutnya mereka meluaskan pasar ke Solo, Semarang, Bekasi, Depok, dan Jatiwaringin. “Tiga bulan lalu kami juga buka di Malang,” kata Dede. Kapasitas kedai Obonk di Jatiwaringin 90 pengunjung dengan 22 meja.

Seperti lazimnya bisnis makanan keluarga, steak Obonk diolah dengan resep ibu Dede. “Dulu ibu sering bikin steak untuk acara keluarga. Jadi, bumbu di sini ya resep turunan dari ibu,” ujarnya. Rasa steaknya cenderung manis. Daging untuk bahan steak lebih dahulu direndam dengan campuran bumbu selama satu jam. “Setelah itu dibakar, enggak lama-lama, sekitar 10 menit sudah well done,” ujar Dede yang dibantu oleh 14 karyawan ini.

Menu favorit di Steak Obonk adalah Sirloin Lokal dan Ribs Lokal. Harganya Rp 16.000 dan Rp 20.000. Rata-rata harga makanan dan minuman di Obonk memang berkisar Rp 7.000 sampai Rp 36.000.

DJ’s Steak, dari kafe ke tenda

Dalam sehari mereka bisa menghabiskan 10 kg bahan baku daging lokal. Di samping itu, tiga kali seminggu mereka harus berbelanja 10 kg daging impor. “Pasokan selalu ada,” ujarnya.

Jika mereka yang tinggal di seputaran Depok familiar dengan Peach, warga Serpong dan sekitarnya tentu tahu dj’s Steak. Mengambil lokasi di Perumahan Bumi Serpong Damai (BSD), dj’s Steak berawal dari sekadar tenda di depan sebuah toko bangunan seberang Sekolah St. Ursula. Tapi, beberapa waktu belakangan ini dj’s Steak membuka satu gerai lagi di gerai permanen tak jauh dari situ, dengan kapasitas sekitar 90 pengunjung.

Ericson B. Hendriansjah, pemilik dj’s Steak, sudah berbisnis steak empat tahun lalu. “Mulanya karena saya dan keluarga memang hobi masak,” ujarnya. Karena hobi, Ericson mencoba mencari tahu rasa steak yang cocok di lidah orang Indonesia. “Lidah orang sini kan sukanya yang spicy, padahal steak asli itu enggak ada rasanya, lo,” sambung Ericson.

Agar rasanya spicy, Ericson terlebih dulu merendam daging steak dalam campuran bumbu selama dua jam. “Semua pakai bumbu lokal, kok,” katanya. Jadi, jika ada pesanan, daging tersebut tinggal dibakar. Tak lama, cukup 10 menit untuk steak yang well done.

Setelah merasa menemukan rasa yang pas, Ericson mengajak beberapa kawannya untuk patungan bikin tempat makan. Sayang, menurut dia, waktu itu tanggapan pasar agak mengecewakan. “Tak banyak orang tahu konsep kami, karena kami spesialis kafe. Mungkin dikira mahal atau apalah,” kata dia. Karena itu, dj’s Steak lantas berpindah ke tenda. “Menurut saya lebih pas begitu,” sambungnya. Benar juga. Sejak itu dj’s Steak mulai ramai. Buntutnya, Ericson bisa membuka beberapa gerai dj’s Steak yang lain, yakni di Bintaro, Sunter, dan Kebayoran Baru. Total ada enam kedai dj’s Steak. Biarpun ada beberapa kedai lain, dj’s Steak BSD-lah yang paling ramai. “Di sini karyawannya sudah 40 orang,” tutur Ericson.

Menu andalan Ericson adalah Sirloin Steak, harganya Rp 19.000 dengan berat daging 150 gram. “Biar murah, tapi dagingnya terjamin. Ini daging impor beneran,” promo Ericson. Selain beragam daging panggang – ada ribs juga – dj’s Steak menyelipkan Sup Buntut Goreng dalam daftar menu mereka. Nah, dalam sebulan Ericson harus berbelanja 1,5 ton daging sapi impor demi memuaskan nafsu para pelanggannya.

Merah atau Matang

Lidah Indonesia, konon, lebih cocok merasakan steak yang well done alias matang betul. Tak usah heran jika kebanyakan kedai steak kaki lima juga terbiasa memanggang steak sampai well done. Tapi, jangan main-main dengan daging impor. Menurut Ericson B. Hendriansjah, pemilik dj’s Steak, ada cara memanggang daging impor tipe well done. “Membakar daging impor ini jangan sampai terlalu kering, soalnya bisa keras. Nanti kalau dipotong mentap, kayak karet,” ujar Ericson yang menggunakan bara arang untuk membakar steaknya.

Terhitung ada lima tingkat pemasakan steak. Pertama rare, menghasilkan daging yang masih merah dan dingin. Selanjutnya medium rare yang membuat daging berwarna merah, tapi panas. Pembakaran sampai medium menampakkan warna daging yang kemerahan di tengah, tapi sekelilingnya berwarna merah muda. Tahap berikut adalah pembakaran medium well yang menghasilkan steak yang seluruhnya berwarna merah muda. Terakhir, well done, membuat steak benar-benar masak tanpa semburat warna merah atau merah muda.

4 responses to “Bakaran di Pinggiran

  1. dari dulu emang pengen banget makan yang namanya steik, tapi jika inget akan harganya selalu batal, soalnya di sini belum banyak warung pinggir jalan yang jual steik murah meriah :((

  2. kayaknya Peach udah tutup deh

  3. boleh dong minta alamat lengkap dj’s cafe yang di Bintaro, biar bisa cobain, biasanya sih makan di obonk.

    thx

  4. Ke olala cafe aja enak lg tempat’y…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s