Isi Toket di Panggangan

Di ibu kota, kawasan Blok M dan Melawai memang sudah kesohor sebagai tempat nongkrong yang asyik. Sebut saja gultik alias gulai tikungan di Bulungan, atau lesehan gudeg sepanjang Melawai. Eh, ada satu lagi: Roti Bakar Eddy di depan Sekolah Al-Azhar. Tempat makan yang terakhir ini bahkan sudah menjadi ajang kumpul anak-anak gedongan. Maklum, selain lokasinya agak terpisah dari kebisingan lalu lintas, kedai tersebut menyediakan tempat parkir yang luas.
Tentunya juga menyajikan menu cemilan yang asyik. Terutama roti bakar. Di Roti Bakar Eddy tersedia sebelas meja panjang, lengkap dengan kursi kayunya. Tempat ini bisa menampung sekitar tujuh puluh orang yang datang sekaligus. Selain itu, ada tiga gerobak dorong yang juga berjejer rapi, masing-masing untuk roti bakar, siomai, bubur ayam, dan nasi uduk. Dari sekian banyak gerobak itu, yang membuat tempat mangkal ini tersohor ke antero kota, ya, gerobak roti bakarnya.

Laiknya warung yang menyediakan roti bakar, olahan roti Eddy menyediakan banyak rasa yang berbeda. Hitung punya hitung, ada tiga belas macam rasa di sana. Eddy membagi menunya itu menjadi dua kategori: delapan isian standar dan lima yang spesial. Untuk pilihan standar, Eddy menyodorkan menu roti bakar isi cokelat, keju, kornet, telur, selai nenas, selai stroberi, selai srikaya, dan selai kacang. “Yang standar ini isinya satu macam saja,” jelas Eddy Supardi, pemilik Roti Bakar Eddy. Harganya Rp 4.000 seporsi.

Yang istimewa adalah pilihan menu spesial kreasi Eddy yang harganya Rp 5.000 seporsi. Namanya aneh-aneh. Ada roti bakar isi Junet alias keju dan kornet. Lantas, ada roti bakar Kaco atau selai kacang dan cokelat. Terus ada roti bakar Special Engine, yang isinya telur dan kornet. Ada pula roti bakar Dua Tege berasa kornet, keju, dan telur, “Terus saya tambah bumbu lagi. Kalau makan ini biasanya terus jadi kenceng,” ucapnya disertai senyum. Di deretan terakhir, ada roti bakar V-8 (baca: vi-eit), terdiri dari kacang, cokelat, keju, dan toket. Hah? “Toket ini, maksudnya, susu,” tutur Eddy kalem. Oh.

Rotinya dipesan khusus tanpa pengawet

Eddy mengaku menggunakan bahan yang sama sejak bertahun lalu. Katanya, sih, bahan-bahan itu bermutu nomor wahid. Untuk keju, misalnya, dia memakai keju Kraft. Dalam sehari, kata Eddy, warungnya menghabiskan 20 kg keju, 12 kg cokelat tabur, puluhan kilogram mentega, 25 kaleng susu kental manis, 500 butir ayam kampung, tiga karung arang, dan 1.000 tangkap roti.

Roti bahan baku sajian warung ini, menurut Eddy, harus dipesan khusus dari pabrik roti Lauw. Soalnya, “Roti tawar saya tidak pakai pengawet,” jelasnya. Inilah yang membuat roti hasil bakaran Eddy tetap empuk di lidah dan tidak mengeras seperti arang. Selain tanpa pengawet, Eddy memiliki trik khusus supaya rotinya tidak hangus dan terasa gosong. Caranya, bagian luar roti tidak diolesi mentega. Lagi pula, “Mentega hanya saya oleskan untuk beberapa menu, tidak semuanya. Nanti keasinan,” tambahnya. Eddy juga menambahkan beberapa bumbu dapur macam lada dan garam untuk menu roti bakarnya, agar memiliki rasa yang berbeda.

Kendati namanya kedai Roti Bakar Eddy, ternyata bukan cuma roti bakar yang ditawarkan di sini. Ada menu olahan lain, yakni pisang bakar. Asal tahu saja, dalam sehari warung Eddy menghabiskan delapan tandan pisang. Selain pisang, ada menu two barrel ataupun tune up. Ini sebutan untuk sajian telur setengah matang. Sebagai pelengkap, ada es jeruk dan kahlua cream, yang tak lain adalah susu Ovaltine.

Nah, sejak 1993, kedai Roti Bakar Eddy bahkan menyediakan menu yang sama sekali berbeda dari pakem warung roti bakar umumnya. Ada nasi uduk lengkap dengan ayam gorengnya, siomai, dan bubur ayam. Nasi uduk disajikan berlauk ayam goreng. Tapi, Anda jangan mencari ayam goreng utuh di sini, karena tak bakal ketemu. Ayam goreng tersebut sudah disuwir-suwir atau disobek kecil-kecil dan dicampur dalam nasi uduk. Namanya Nasi Uduk Injek-Injek.

Menurut Eddy, semua kedai Roti Bakar Eddy memang memiliki varian menu nasi uduk, siomai, dan bubur ayam. “Itu bekas anak buah saya,” katanya jujur. Buat Anda yang suka kehidupan kalong alias malam hari, warung Roti Bakar Eddy ini cocok benar untuk berlabuh menjelang kembali ke markas. Soalnya, kedai tersebut buka sepuluh jam nonstop, dari pukul 18.00 hingga 04.00. Bahkan, warung yang berdiri sejak 1971 ini tak pernah tutup alias buka sepanjang tahun. “Lebaran saja kami tetap buka, kok,” kata Eddy.

Tambahan informasi: Eddy punya tiga warung: di Al Azhar, Wolter Monginsidi, dan Gatot Subroto. Sebentar lagi, Eddy akan membuka warungnya di Jalan Sabang. Nah, silakan pilih mau menghabiskan malam di mana.

Boyongan Seputar Kebayoran

Eddy Supardi, si empunya kedai Roti Bakar Eddy, bukanlah seorang pebisnis yang langsung sukses. Pengalamannya dalam bidang roti bakar dimulai tahun 1966. Kala itu dia ikut pengusaha berdarah Batak yang berjualan roti bakar. “Waktu itu saya masih menjadi anak buah,” kenangnya. Kedai yang menjadi sumber nafkahnya ini bernama Roti Bakar Kualaderi. “Tahun 1966, cuma itulah satu-satunya roti bakar di bilangan Kebayoran sini,” tambahnya lagi.

Nah, setelah lima tahun bekerja di Kualaderi, Eddy memutuskan untuk membuka kedai sendiri. Hanya, dia berusaha untuk menampilkan hal berbeda dalam sajian roti bakar. Maka, ia pun mulai meracik isi roti bakar dari yang standar, isinya semacam cokelat, keju, atau berbagai rasa selai, hingga yang spesial, seperti telur kornet, cokelat keju. Ternyata, racikan Eddy itu cocok di lidah banyak orang.

Mulanya, Eddy membuka roti bakar di dekat terminal Blok M, yang sekarang menjadi lokasi pertokoan Pasaraya. Kedai sederhana Eddy ini langsung menjadi tempat nongkrong anak muda berkantong tebal. Dari para penongkrong itulah, warungnya mendapatkan sebutan Roti Bakar Eddy Blok M.

Salah satu kelompok yang suka nongkrong di Roti Bakar Eddy, waktu itu, adalah para off roader. Mereka ini bahkan menjadikan warung Eddy sebagai base camp. Saking akrabnya dengan mereka, Eddy pun kerap menempelkan stiker Roti Bakar Eddy di mobil pelanggannya. “Kayak orang sponsorin, padahal saya tidak bayar,” kata Eddy, yang bergaya muda meski umurnya sudah 52 tahun.

Entah dari promosi gratis atau racikan isi roti bakar Eddy yang memang enak, yang pasti warung ini makin dikenal orang. Tatkala Eddy digusur oleh pembangunan Pasaraya, dia terpaksa mencari tempat mangkal baru. Yakni di Lapangan Tenis Patiunus, masih di kawasan Kebayoran. Tapi, di lokasi baru ini, warung Roti Bakar Eddy-lah yang tidak betah. Karena selalu didatangi banyak pelanggan, lingkungan sekitar warung pun menjadi ramai luar biasa. “Banyak warga sekitar yang komplain, makanya saya pindah lagi,” ujarnya.

Biar kerap berpindah, pelanggan setia Eddy masih terus mengikuti. Saat ini warungnya juga tak pernah sepi. Padahal, zaman terus berganti. Anak-anak muda yang dulu setia pun beranjak tua. “Ya, mungkin karena saya sudah lama. Dulu bapaknya yang ngumpul, sekarang anak-anaknya. Turun-temurun, gitu,” tuturnya enteng.

Kendati beberapa kali boyongan pindah, Eddy tetap berpatokan membidik pasar menengah ke atas. “Kawasan elite, itu yang saya cari,” celetuknya. Malah, tokoh sekaliber Akbar Tanjung, Setiawan Djody, juga Guruh Soekarnoputra dan gengnya, suka banget datang ke sini. Dari para fansnya itulah, dalam sebulan Eddy bisa meraup keuntungan bersih sekitar Rp 10 juta.
 

5 responses to “Isi Toket di Panggangan

  1. gilee… loe beli roti bakar berapa porsi, ampe boss Eddy bersedia lu wawancara ampe berbusa2 begeto? ckckck…

  2. minta resep buat roti bakarnya dung..
    n bahan na pa aja…..
    caranya juga ya??

  3. #ahkmad
    waduh … kagak tau tu bagaimana roti bakar eddy bikin itu jadi enak …

  4. Wah baru tau ada web blog waregbanget hehehe
    thanks info roti bakar edynya
    jadi pengen buka di surabaya.
    saya dah punya resepnya coffee blended

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s