Pedasnya Surabaya, Lezatnya Manado

Hidangan bebek goreng identik dengan Surabaya. Di Kota Pahlawan tersebut tentulah tidak sulit mencari olahan bebek goreng plus sambal yang lezat. Berbeda dengan di Jakarta. Kendati warung jawa timur bertebaran di mana-mana, namun mencari hidangan bebek yang enak tidaklah mudah.

Nah, salah satu kedai penjual menu bebek yang banyak disambangi orang adalah Yogi Bebek di kawasan Kebon Jeruk. Kedai ini tampak unik dan sedikit menonjol, terutama karena saban jam makan siang dan makan malam membikin macet salah satu sisi arteri Jalan Panjang. Dinding kedai milik Yogi Tjahyono tersebut dicat warna oranye tua dengan gambar bebek. Ada delapan belas meja plus empat kursi di masing-masing meja yang siap menampung pembeli. Hampir tiap malam, saking banyaknya pembeli, mereka rela duduk lesehan di bagian depan kedai demi menyantap olahan bebek. “Siang hari memang berjubel, tapi enggak separah waktu malam,” ujar Yogi.

Yogi menerapkan sistem prasmanan. Pembeli boleh mengambil sendiri nasi, lalapan, serta lauk dengan pilihan rica bebek, bebek sambel ijo, bebek bakar yang harganya Rp 12.000 per potong, atau bebek goreng (Rp 10.000 per potong). Ada pula sate ati dan ampela serta tahu tempe.

Yogi sengaja memasang label harga yang berbeda untuk bebek goreng dengan bebek bakar, rica, maupun sambel ijo. Pasalnya, bebek goreng cukup diberi bumbu sekali saja. “Kalau masakan yang lainnya, digoreng dulu, baru dikasih bumbu. Jadi, dapat crispy-nya,” tutur Yogi fasih.

Di tempat lauk juga tersedia bumbu bebek. Ini merupakan kare bebek yang dibikin dari minyak hasil memasak bebek. Rasanya gurih dan pas dipakai untuk memborehi nasi yang siap disantap.

Di meja makan, selain ada kecap, tersedia dua macam sambal. Menurut Yogi, satu sambal disebut sambal setan. Sambal ini dari cabe rawit, tomat, dan terasi, dengan perbandingan antara cabe dengan tomatnya adalah 80% banding 20%. Jadi, jangan heran kalau pedasnya luar biasa. Satu mangkok lain berisi sambal mangga. Yogi mengaku, di Jakarta sulit mencari mangga masam yang persis seperti di Surabaya. Maka, ia berinisiatif meracik sambal mangga yang berasa manis, asam, dan pedas. Dalam sehari Yogi menghabiskan 20 kg mangga dan 15 kg cabe.

Untuk memuaskan lidah para pelanggannya, Yogi menghabiskan 300 ekor bebek dalam sehari. Semua bebek itu dipotong empat bagian. Biasanya, sekitar 1.200 porsi bebek tersebut ludes selama kedai buka, dari jam 11.00 sampai 23.00. “Paling hanya sisa lima biji,” ucap Yogi.

Yogi bilang, rahasia kelezatan bebek di kedainya adalah daging bebek yang tidak alot, tidak amis, dan bumbunya meresap. Untuk itu, Yogi harus merebus daging bebeknya selama dua sampai tiga jam. Adapun bau amis bebek dihilangkan dengan ramuan jahe, daun jeruk, dan serai. Ramuan ini diperoleh dari bumbu masakan manado kegemaran Yogi.

Belum cukup, kualitas hidangan sudah ditentukan semenjak bahan masih mentah. Maka, Yogi hanya mau memilih bebek yang sudah sekali bertelur karena dagingnya lebih banyak dan bisa meresap lebih banyak bumbu ketika dimasak. Lagi pula, bebek seperti ini menghasilkan banyak minyak, untuk diolah menjadi bumbu bebek nan gurih.

Selain itu, menurut Yogi, pasokan daging bebek yang datang pada hari itu harus langsung diolah. Maklum saja, “Daging bebek cepat rusak,” ungkap Yogi, yang pernah membuang 50 ekor bebek karena telat mengolah.

Minus 360 Derajat

Kedai Yogi Bebek masih sangat muda. Umurnya baru setahun. Yogi Tjahyono memulai usaha ini dengan modal yang didapat dari penjualan dua telepon selulernya, sebuah mobil cicilan, dan tiga buah meja makan dari usaha kateringnya yang bangkrut. “Usaha ini dimulai dari titik minus 360 derajat,” cetusnya. Untuk mengontrak lokasi, Yogi mengajukan kredit Rp 25 juta ke bank.

Setelah sepuluh bulan buka, ternyata kedai bebek ini mampu mengembalikan semua pinjaman plus bisa menambah modal. Maklum saja, ada ribuan lidah yang tersihir bebek olahan Yogi. Sejak awal buka, dagangan Yogi yang waktu itu diusung dengan mobil sudah dikerumuni pembeli. Begitu pun waktu dagangannya berpindah ke kedai. Namun, ternyata inilah trik Yogi. Ketika awal-awal kedai Bebek Yogi buka, Yogi mengundang banyak teman dan kerabat untuk makan gratis. Tapi, syaratnya mereka harus bawa mobil. Alhasil, jalanan pun jadi macet tak keruan. Situasi macet terjadi sampai sekarang, hanya penyebabnya bukan lagi teman dan kerabat Yogi, melainkan pelanggan bebeknya.

Kendati tampaknya sudah sukses, Yogi yang juga karyawan Global TV ini masih punya cita-cita memiliki tempat usaha sendiri. Ia juga ingin mematenkan resep dan nama kedainya, supaya tidak ditiru orang.
Kedai Bebek Yogi
Jl. Panjang No. 4, Kebon Jeruk, Jakarta (Sebelah Dealer Kymco)

3 responses to “Pedasnya Surabaya, Lezatnya Manado

  1. jakarta lagee….jogja dooonkk….

  2. Uenak tenanđŸ™‚, aku penasaran tuh gimana caranya milih bebek yang baru sekali bertelur? Pakai magic nggak?:D

  3. Salam kenal dari kami Resto bebek goreng waralaba Abah Ndut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s