Aroma Kompeni nan Nikmat

Memasuki restoran yang satu ini, di Jalan Kakap Jakarta Utara, kita segera mencium aroma sejarah kolonial. Maklum, bangunan ini tidak pernah berubah sejak zaman doeloe. Dulu fungsinya sebagai galangan kapal , sekarang berganti rupa menjadi restoran. Tapi, Susilawati, si pemilik, tidak pernah mengubah bangunan aslinya. Alhasil, restoran dengan panjang 120 meter dan lebar 10 meter ini tetap terkesan kuno.

Memang, tak semua bagian gedung digunakan Susilawati sebagai kafe dan restoran. Dia cuma memakai bagian tengah. Bagian dalam restoran dihiasi dengan alat musik Betawi, seperti tanjidor dan terompet. Tak ketinggalan sebuah bar kecil dan empat belas set meja makan. Duduk di sana rasanya seperti mundur ke puluhan tahun silam. Persis seperti yang dijanjikan namanya: Restoran dan Kafe Galangan VOC. “Saya memang lebih menawarkan suasana,” kata Susilawati, pemilik Galangan VOC sejak 1997.

Menu masakan Galangan VOC memang tidak terlalu istimewa. Tapi, bukan berarti tidak layak dicoba. Susilawati menjagokan beberapa menu andalan yang dinamai Jangkar Kapal, Ayam Syahbandar, dan Ujung Kulon. Jangan salah, itu bukan masakan lokal, melainkan sajian Eropa yang dibungkus dalam nama Indonesia. Ujung Kulon, contohnya, adalah ikan salmon panggang yang disajikan dengan irisan paprika, tomat, kentang, dan brokoli. Cobalah saus tomatnya yang tajam membelai lidah. Mmmh…!

Tentu Susilawati juga menyediakan olahan lokal andalan bertajuk Sop Buntut si Pitung. “Orang-orang sudah tahu rasanya. Beda, deh,” ujar Susilawati berpromosi. Ada dua pilihan sop buntut: direbus atau digoreng. “Banyak yang bilang, yang digoreng lebih enak. Gurih,” ucapnya. Jadi, jangan ketinggalan menyantap tiga potong buntut sapi goreng dengan kuah terpisah, ditambah dengan sepiring nasi putih hangat dan emping. Sudah pasti, itu akan menggugah selera makan.

Tiga dapur untuk tiga olahan

Selain masakan lokal dan Eropa, ada pula masakan Cina dalam daftar menu Galangan VOC. Jagoannya masakan berjudul Bebek Panggang Peking Tiga Rasa. Bebek panggang ini disajikan menjadi tiga bagian. Bagian kulit disajikan bersama roti tawar sebagai makanan pembukanya. Setelah itu, mereka menawarkan varian olahan daging bebek, bisa dipanggang atau ditim. Terakhir, tulang bebek akan dimasak sebagai bahan sup, untuk makanan penutup.

Adanya tiga jenis masakan: Eropa, Indonesia, dan Cina, seolah menggambarkan tiga kelas di zaman kolonial VOC. Tapi, tentu saja tidak ada diskriminasi di tempat makan ini. Dan, jangan khawatir rasanya akan mirip atau bercampur-campur.

Susilawati memiliki tiga rombongan koki untuk masing-masing cara olahan itu. Tak cuma itu. Supaya rasa tetap terjaga, dapurnya pun dibuat terpisah. “Kami punya tiga dapur, masing-masing untuk satu divisi masakan,” kata Herman, keponakan Susilawati, yang menjabat manajer pemasaran.

Restoran dan Kafe Galangan Kapal memang belum beken, tapi Susilawati serius menjalani usahanya. Mentang-mentang menjual suasana, bukan berarti rasa dan aroma makanan lantas dilewatkan. “Kami harus tetap jaga mutu,” kata Susilawati yang tiap hari turun tangan menggarap restoran yang buka pukul 10.00-22.00 WIB ini. Jaga mutu, jaga warisan sejarah pula.

Sekali VOC, Tetap VOC

Jangan meremehkan bangunan tua. Bangunan yang sekarang dimiliki Susilawati, dan diubah jadi restoran ini, telah berdiri sejak 1619. Bentuk arsitektur dan ba-ngunan masih asli. Begitu pun jendela, daun pintu, lantai kayu, serta pilar bangunan belum aus dimakan rayap atau rusak.

Struktur bangunan yang kuat dan berlapis kayu jati nomor wahid, fondasi bangunan pun terbukti tidak lapuk dimakan usia dan air laut. Maklum, galangan ini memang untuk kapal-kapal besar yang berlabuh di Sunda Kelapa. Dulu, galangan ini memang dikuasai VOC atawa Vereenigde Oost-Indische Compagnie, makanya disebut Galangan VOC.

Entah bagaimana ceritanya, galangan bersejarah ini bisa jatuh jadi milik perorangan. Susilawati, pemilik saat ini, membeli galangan kapal tersebut pada 1997. Ketika membeli bangunan ini, penjualnya menjanjikan bangunan ruko kepada Susilawati. “Bayangkan, berapa puluh ruko bisa dibuat di tanah seluas 5.000 m2 ini?” kata dia.

Belakangan, tiba-tiba Wali Kota Jakarta Utara melarang Susilawati merombak seluruh bentuk bangunan asli. “Alasannya, gedung ini bersejarah,” ungkap perempuan kelahiran Lampung ini. Akhirnya, Susilawati benar-benar mempertahankan seluruh bangunan berikut namanya. Dia pun memutuskan untuk membuka restoran dengan masakan dari Indonesia, Eropa, dan Cina. Nama bangunannya pun tetap Galangan VOC.

Cuma, singkatan VOC-nya berubah. Bukan lagi Vereenigde Oost-Indische Compagnie tapi Very Old Café. Sekali VOC, tetap VOC.

3 responses to “Aroma Kompeni nan Nikmat

  1. wah..wah, lengkap nih referensinya, nanti bisa dicoba nih kalau pulkam

  2. ade hartianto

    sop buntut pitung sepertinya membuat selera makanku naik.and…penasaran pulkam nanti pasti aku cari tuh sipitung

  3. lho, ade emangnya sekarang dimana? salam hangat ya.😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s