Ente Suka Mandi, Ane Pilih Madhbi

Lepas dari kemacetan Manggarai, jalan berkelok melintasi kolong rel. Tak beberapa lama, tampaklah di pinggir kiri Jalan Tambak itu berdiri sebuah rumah biasa, yang pintu dan jendelanya berkaca patri. Hanya ada sebuah plang kecil yang memastikan rumah ini adalah restoran: Hadramout. Nama yang mengingatkan kita pada semenanjung jazirah Arab.

Masuk melalui pintu depan, barulah kita merasakan nuansa Timur Tengah yang begitu kental. Dekorasinya berat ke warna merah, diramaikan dengan alunan musik khas padang pasir. Maka, diiringi denting sitar dan tepukan tabla, kita akan berjalan melintasi lorong yang dipagari pagar setengah terbuka. Di kanan dan kiri lorong itu kita bebas memilih ruangan buat bersantap.

Ada sejumlah 15 ruang bersantap di restoran ini. Masing-masing seluas 2 x 2 meter. Kebanyakan untuk bersantap secara lesehan. Alasnya bukan tikar, melainkan permadani berwarna merah. Hanya dua ruangan yang menyediakan meja dan kursi.

Hadramout, yang buka sejak 1998, mempunyai ciri khas sebagai restoran masakan Yaman. Sajiannya pun berbeda, misalnya, dengan Restoran Sinbad di Jalan K.S. Tubun Jakarta. Di Hadramout ini menu andalannya bukanlah nasi kebuli, roti maryam, ataupun kambing guling biasa. “Kami punya Mandi Hadramout dan Madhbi Hadramout,” ujar Hameed Saeed Al Mohamedi, pengelola restoran ini.

Maaf, bukannya Hameed mau mengajak kita mandi-mandi ala Turki. Mandi adalah menu panggang, sedangkan madhbi itu menu bakar seperti barbeque. Bahan bakunya kambing dan ayam, silakan pilih. Tapi, buat yang suka masakan rebus atau goreng, maaf saja ya, Hadramout tidak menyediakannya.

Mandi ala Hadramout ini teknik bakar yang sungguh rumit wal repot berat kalau dilakukan di rumah. Bayangkan, selain oven tersedia, kayu bakar harus siap pula. Urutannya begini. oven dipanaskan dengan menggunakan kayu bakar. Setelah panas, baru bahan masakan dimasukkan. Sudah tentu sebelumnya bahan masakan itu dibumbui dan dikemas dalam wadah khusus. Setelah masuk ke dalam oven, tunggu hingga satu sampai satu setengah jam. Karung goni ditaruh di atas oven itu supaya panas di dalam oven tertahan, hingga masakan itu sempurna matangnya. Hasilnya, masakan daging itu betul-betul empuk ketika kita cuwil. Adapun memasak cara madhbi lebih gampang. “Itu sih dibakar biasa. Bahan baku diletakkan di atas arang yang membara,” jelas Hameed.

Bumbu, beras, dan koki diimpor dari tanah Arab

Yang juga khas adalah bumbu yang menyengat. Hameed berani menjamin, bumbu di Hadramout berbeda dengan masakan restoran lain. Biar tidak dibilang pelit, dia membuka sedikit rahasia. Katanya, bumbu utamanya tetap jahe dan kapulaga. Tapi, selain itu, tentu ada bumbu-bumbu lain yang khusus didatangkan dari tanah Arab. “Kalau bumbu lokal, rasanya tentu lain,” ujarnya. Apa saja, tuh? Eh, Hameed memilih merahasiakan.

Okelah. Restoran ini memang meriah. Bukan cuma warna ruangannya, nasinya pun warna-warni. Ada yang berwarna kuning, ada pula yang cokelat seperti nasi goreng. Nasi yang umumnya putih itu jadi berwarna karena diramu dengan cabai rawit dan kismis. Namanya juga Nasi Mandi. Bulir beras nasi ini agak berbeda dengan beras biasa, karena lebih panjang. “Beras itu langsung didatangkan dari Timur Tengah,” ungkap Hameed. Nasinya memang bukan jenis yang pulen ataupun lengket, melainkan nasi yang kering dan pera. Di samping beras dan bumbu, Hadramout juga mendatangkan koki dari Arab. Bahkan, tukang bakarnya pun dari sana.

Hasil racikan mereka, Mandi Hadramout dan Madhbi Hadramout, memang terbilang menu favorit pelanggan. Apalagi yang daging kambing. Dalam sehari, cerita Hameed, restoran ini memotong sampai sepuluh ekor kambing. Setiap kambing kemudian dipotong menjadi 16 bagian. Semua bagian kambing, mulai dari kepala sampai ekor, bisa dijadikan hidangan. Sedangkan untuk menu ayam, paling banyak sehari 35 ekor ayam masuk ke dalam oven atau dibakar.

Saat menghidangkan, nasi warna-warni itu disajikan dengan sambal hijau dan sambal tomat. Sambal hijau ini unik. Selain berbahan baku cabai, tentu saja, cara mengolahnya dicampur dengan limun. Untuk lauknya, terserah pesanan tamu. Yang jelas, setiap porsi kam-bing itu sebesar seperenam belas (1/16) ekor. Lumayan besar juga. Tapi, Hameed menjamin dagingnya lunak. “Karena kambingnya memang masih muda,” ucap Hameed.

Pengiring hidangan yang favorit adalah teh Arab. Ini bukan teh yang dipetik di jazirah Arab, melainkan teh lokal yang diolah sesuai dengan kebiasaan orang Arab. Caranya, teh itu dicuci bersih, lantas ditaruh di teko dan diberi air panas. Setelah itu direbus lagi dua sampai tiga menit. “Menghidangkannya bisa dicampur susu atau mentol. Karena itu ada rasa mentolnya,” papar Hameed. Setelah berpesta mandi kambing, mulut kita basuh dengan air teh yang semriwing, nyuss….

Harga masakan kambing seporsi Rp 40.000. Kalau mau pesan kambing segeluntung Rp 800.000. Adapun masakan ayam per ekor Rp 60.000. Dalam sehari, rata-rata 50 sampai 100 tamu menyantap hidangan Yaman ini. Bahkan, pada hari tertentu bisa sampai 250 orang. Menurut Hameed, tamu-tamunya itu kebanyakan memang keturunan Arab. Bahkan, banyak juga tamunya yang datang dari Eropa atau Amerika. Namun, Hameed memilih menghindar ketika ditanya soal omzet restorannya.

Oh, ya, bagi yang enek kalau makan kambing atau ayam, Hadramout juga menyediakan menu ikan. Ikannya kakap hitam dan tuna yang disajikan dengan bumbu seperti mengolah mandi atau mahdbi. Sayangnya, penyuka ikan harus menunggu Sabtu atau Minggu. Di hari-hari lain Hadramout tidak menyediakan menu ikan.

Pilih yang Muda,Gemuk, dan Berlemak

Hadramout ini ibaratnya punya produksi dari hulu hingga hilir. Bagaimana tidak. Untuk mencukupi kebutuhan bahan baku kambing, Hadramout khusus membuka peternakan di Tegal. Menurut Hameed, cara ini ditempuh terutama untuk menjamin ketersediaan bahan baku.

Di samping itu, dengan beternak sendiri, kualitas kambing pun bisa terjaga. Di peternakan itu ada tujuh orang pegawai yang khusus merawat kambing dan membersihkan kandang. Mereka tentu saja juga bertugas menjaga kualitas pangan kambing.

Hameed bilang, bila membeli kambing di pasaran, kualitas dagingnya sering tidak memenuhi standar restoran. “Kita kan memilih kambing muda yang dagingnya masih empuk,” ujarnya. Dengan beternak sendiri, dia bisa memilih kambing yang muda, gemuk, dan berlemak. Kambing-kambing seperti ini yang disukai para tamu restoran. “Kalau kambing biasa yang ada di pasaran sering keras dan susah dimakan,” tukas Hameed.

Hadramout Restaurant
Jl. Tambak Raya 16A, Jakarta
Telepon 31934286-3928148,
Jam buka 11.00 sampai 24.00

4 responses to “Ente Suka Mandi, Ane Pilih Madhbi

  1. gctvmwk tbiposf nrkma vfqepbxm qxfdu bgtivy ldbvwkqa

  2. I just Told Everyone I know About Your siteFantastic work guys free online christmas game 784121

  3. Very Interestinyou can look for yourselfreally Informative christmas dad gift mom 385

  4. You Might Be Interested In thisYou Have a Great Site, Good Job chinese new year firework 5933

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s