Kenyal, Lengket, Berkhasiat

Kendati Imlek telah seminggu berlalu, warna merah dan emas masih bertebaran di mana-mana. Jangan lupa, masih ada satu festival lagi yang jatuh pada hari kelima belas alias Cap Go Meh. Dan yang namanya Cap Go Meh, mana mungkin berlalu tanpa kue keranjang.

Tengoklah bagaimana para pedagang masih meminta pasokan tambahan. Kue keranjang yang beredar di Jakarta memang berasal dari luar. Apakah itu Sukabumi, Bogor, bahkan Tegal. “Orang Jakarta jarang yang bikin kue Cina,” ujar Asiu, seorang pedagang kue keranjang yang sudah sepuluh tahun bercokol di Pancoran.

Kue keranjang tak beda dengan dodol, tapi bentuknya bulat, kenyal dan lengket. Bedanya terletak di warna. Dodol umumnya hitam karena gula merah, sedang kue keranjang menggunakan gula pasir sebagai pemanis. Jadi, warnanya lebih terang.

Kue Cina ini disusun secara proporsional dari yang besar hingga kecil, lantas diikat sedemikian rupa dengan tali plastik, membentuk keranjang. Itulah asal muasal julukan kue keranjang. Banyaknya susunan kue menandakan turunan yang akan berbahagia ketika menikmatinya. “Kalau tujuh susun, berarti tujuh turunan akan senang,” jelas Asiu, “Simbolis saja,” tambahnya.

Menurut Asiu, membuat kue keranjang tidaklah mudah. Harus sembahyang terlebih dulu kepada sang Budha. Walaupun bahannya sederhana, pembuat kue harus telaten. Jika tidak, kue tidak bisa mengeras dan matang sehingga tak bisa dicetak. Untuk itu, perlu waktu dua hari dua malam untuk mengaduk bahan baku yang terdiri dari tepung ketan, gula pasir, dan air. Setelah jadi, kue keranjang bisa bertahan hingga berbulan-bulan.

Selain harus telaten, ada beberapa pantangan saat membuat kue keranjang. Antara lain, jangan menguleni kue keranjang bila hati sedang masygul. Juga, wanita yang sedang menstruasi dilarang melihat adonannya. Kalau tidak dipatuhi, adonan kue keranjang akan gagal dan tak bisa dibentuk. Pendek kata, tak sembarangan orang bisa membuat kue keranjang. “Yang membuat biasanya penganut Budha. Saya, pilih jualan saja,” ujar Asiu.

Jalan yang sama juga dipilih Lora, penjual di bilangan Jatinegara. Sejak muda, dia menjadi distributor kue keranjang buatan Encek Entong, Bekasi. Menurut Lora, kue bikinan Encek Entong sudah mempunyai penggemar tetap. Maka itu, Lora tetap setia menjual kue keranjang yang tidak ditempeli merek ini. Jumlahnya pun terbatas. “Wah, saya sih jual yang sisa Imlek kemarin. Karena, seminggu sebelum Imlek, Encek Entong sudah enggak bikin lagi,” ujar Lora.

Dari panjang umur hingga penambal langit

Di pasar, kue keranjang dijual dalam bungkus plastik atau daun pisang. Dari pengakuan Lora dan Asiu, kue keranjang yang dibungkus daun pisang lebih banyak disukai lantaran lebih wangi.

Belakangan kue keranjang bukan melulu berasa manis belaka. Nyonya Oei King Ouw dari Tegal menyediakan pula kue keranjang. rasa pandan dan kakao. Tampilan kue Oei lebih kecil dari rekan-rekannya. Tapi, harganya malah lebih mahal. Harga kue keranjang biasa berkisar antara Rp 10.000 sampai Rp 12.500 sekilogram. Kue Nyonya Oei harganya Rp 5.000 per 250 gram.

Cara menyantap kue keranjang juga beragam. Jika enggan mengolah, kita bisa langsung mengiris dan menyantapnya. Rasanya manis dan lengket. Dalam peringatan Cap Go Meh, kue keranjang diiris tipis lalu dicelup dalam kocokan tepung dan telur sebelum digoreng. Cara lain, kukus sebentar kue keranjang dan sajikan dengan parutan kelapa. Sip, rasanya manis dan gurih.

Buat yang percaya, makan kue keranjang saat Cap Go Meh. “Khasiatnya bikin panjang umur,” jelas Asiu. Tapi, ada juga yang percaya bahwa kue keranjang ini menjadi alat para dewa untuk menambal langit. Maklum, selama Imlek hingga Cap Go Meh bumi akan terus-menerus dikucuri hujan alias langit bocor. Buat menambal, dipakailah kue keranjang. “Kue keranjang kan lengket, jadi bisa dipakai buat menambal,” celetuk Asiu.

Nah, jangan remehkan kue keranjang. Selain rasanya oke, khasiatnya pun patut diperhitungkan.

Lontong Pembauran

Selain menyantap kue keranjang goreng, malam Cap Go Meh juga harus dilengkapi dengan lontong opor. Hidangan ini, tentu saja, bukan warisan langsung dari daratan Tiongkok. Inilah buah pembauran.

Jadi, tradisi makan lontong ini tidak bisa kita temukan di semua daerah. Paling-paling kaum Tionghoa yang bermukim di Semarang dan Jakarta yang lazim menyantap lontong saat Cap Go Meh.

Biar begitu, sebutan lontong Cap Go Meh sangat terkenal. Barangkali, orang lebih akrab dengan nama makanan ini ketimbang perayaan Cap Go Meh-nya sendiri. Buktinya, sajian lontong tersebut banyak dijajakan di luar masa-masa Imlek. Bahkan, bukan cuma di kawasan Pecinan. Sebutlah Hotel Tugu Malang, yang menyediakan menu lontong Cap Go Meh di restoran Babah Cuisine. Sajian lontong ini juga bisa disantap di Warung Podjok Plaza Senayan.

Biar sama-sama bernama lontong Cap Go Meh, ternyata sajian Semarang berbeda dengan hidangan Betawi. Lontong Cap Go Meh ala Semarang terdiri dari lontong, opor ayam, lodeh terong, telur pindang, satai abing, dan sambal docang. Adapun kaum Tionghoa di Jakarta dan sekitarnya menyantap lontong yang ditemani sayur labu atau pepaya, telur pindang, tak lupa taburan bubuk kedelai di atasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s