Bikin Greng di Puncak

Kawasan punggung Gunung Gede dan Pangrango Kabupaten Bogor alias Puncak sampai kini belumlah hilang pamornya sebagai tempat berakhir pekan. Maklum, udara di sana masih tergolong sejuk kendati sekarang polusi sudah membuat napas cukup sesak. Selain udaranya lumayan, akses ke kawasan Puncak juga lancar. Satu-satunya persoalan cuma kemacetan yang luar biasa di akhir pekan. Biasanya, ketimbang mengutuki jalan yang mampat, banyak orang suka mampir ke restoran di sepanjang tepi jalan Puncak. Selain sekadar menunggu kemacetan reda, bisa juga warung dan restoran itu memang menjadi tempat tujuan khusus karena memiliki sajian khas.

Nah, salah satu menu yang paling banyak dicari di sepanjang jalur Bogor-Cipanas adalah satai kambing. Maklum, setusuk dua tusuk satai, pas benar untuk menghangatkan tubuh dari sengatan dingin angin gunung. Lumrah, kedai satailah yang mendominasi dari sekian ratus rumah makan yang teronggok daerah Puncak.

Dari banyak warung satai itu, setidaknya ada beberapa yang laik kunjung dan namanya sudah top, tersohor ke mana-mana. Yakni: Sate Shinta dan Sate Rahmat, keduanya berlokasi di Cipanas serta Sate Pak Kadir di Cisarua. Tiga warung satai itulah yang banyak diincar penikmat daging bakar.

Menilik menunya, sebenarnya warung-warung itu tak jauh beda dengan kedai serupa. Tak lebih dan tak kurang dari satai kambing dan ayam, sup plus gulai atau sup yang menjadi andalan. Tapi, kala merasai hidangan di sana, barulah terasa bedanya. Bakaran daging kambing harum nan empuk, ditambah sambal kecapnya yang gurih, menjadi pembangkit selera.

Harga tiap porsi makanan di sana juga tidak mahal. Di Sate Shinta, seporsi satai berisi sepuluh tusuk satai kambing dilego Rp 10.000. Harga sup dan gulai kambingnya Rp 5.000 semangkuk, belum termasuk nasi yang dibanderol Rp 2.000 sepiringnya. Ditambah teh manis hangat atau jeruk panas sebagai minumannya, seorang pembeli merogoh kantongnya tak lebih dari Rp 20.000. Warung Sate Pak Kadir juga mematok banderol serupa.

Pantang memakai daging bandot

Kedai Shinta didirikan Anwar 14 tahun silam. Anwar sendiri bukanlah penduduk asli Cipanas, melainkan perantau asal Tasikmalaya. Mulanya Anwar bekerja sebagai pelayan di Warung Sate Rahmat di jalur Puncak-Cipanas. Merasa cukup dengan pengalaman sebagai pelayan, ia berpamitan dan mendirikan tenda sendiri. Lokasinya pun tak jauh dari tempatnya bekerja. “Waktu itu Bapak masih pakai gerobak dorong yang mangkal di emperan toko,” tutur pengelola Kedai Shinta, Asep Usman, yang juga menantu Anwar.

Hasil kipasan Anwar kala membakar daging si embek, ternyata laris manis diserbu pembeli. Malah, sebagian besar pelanggan tempatnya dulu bekerja, beralih kepadanya. Bahkan, pada 1988 toko yang emperannya menjadi tempat mangkal, akhirnya dibeli dan dibangun menjadi imperium satai. “Nama anak pertamanya, Shinta, dijadikan merek,” tambah Asep yang tak lain suami Shinta.

Dari situlah, kerajaan satai ini meluas. Kini, Sate Shinta telah memiliki lima cabang di seantero Cipanas Jawa Barat, meski yang terlaris tetap warung satai pertamanya. Sate Shinta bahkan pernah merambah ibu kota. Sayang, cabangnya di Jakarta hanya seumur jagung lantaran bangkrut. Kini, Anwar tengah mematangkan rencana membuka satu gerai di Bandung tahun depan. Sepertinya, berkaca dari pengalaman di Jakarta, ia ogah gagal kedua kali. “Apalagi di Bandung kan ada Sate Hadori yang sudah terkenal,” ucap Asep menirukan mertuanya.

Menurut Asep, dagangannya disuka lantaran selalu menggunakan domba muda berumur delapan bulan. Ia ogah menggunakan bandot-sebutan untuk kambing-karena baunya lebih menyengat. Asal tahu saja, perbedaan domba dengan kambing salah satunya terletak pada rambutnya. Domba sekujur tubuhnya berbulu keriting gimbal, sementara kambing berbulu lurus (lihat boks)

Asal bahan baku Sate Shinta juga bukan domba sembarangan. Mereka selalu memilih domba Garut muda yang dipotong di Cianjur. Pasalnya, tukang jagal alias penyembelih kambing asal Cianjur sudah mahir membuat empuk daging embek. “Mereka selalu menghilangkan urat dagingnya yang keras kalau di satai,” ungkap Asep.

Tertolong mitos satai torpedo

Daging yang telah disisir uratnya itulah yang menjadi pembuka rahasia keempukan satainya. Cukup? Tentu tidak. Tak kalah pentingnya adalah lamanya waktu membakar yang tak lebih dari sepuluh menit di atas bara yang panas.

Hanya, Asep mengharamkan kipas angin sebagai pengipas baranya. “Luarnya gampang gosong tapi dalamnya masih mentah. Enggak rata,” tambahnya. Soal bumbu cocolnya, Shinta menyediakan dua sambal tergantung selera: bumbu kacang dan kecap. Ramuannya, “Enggak ada yang dirahasiakan kok,” kilahnya.

Di hari biasa, setidaknya 15 ekor domba potong dihabiskan Shinta. “Ini baru di satu gerai, lo,” ucap Asep. Jumlah ini bakal melesat hingga 30 ekor saat akhir pekan. Maklum lah, domba hidup seberat antara 30 kg-40 kg, usai dipotong hanya menyisakan 5 kg hingga 8 kg daging siap satai yang dapat dibuat 400 tusuk satai. Selain itu, tak semua bahan itu digunakan untuk membikin satai. “Kami juga menyiapkan kambing guling,” tambahnya.

Kambing guling ini disediakan bila ada pesanan saja. Asep mengaku, lima hingga sepuluh pesanan kambing guling datang mengalir tiap hari. Tak jarang ada yang berasal dari luar kota. Kambing bakar utuh ini dilegonya Rp 550.000 seekor, cukup untuk 25 orang. Bila ukuran yang lebih besar lagi, dibanderol Rp 800.000 untuk 40 orang. “Pesanan ke Jakarta tambah ongkos Rp 100.000,” tutur Asep yang juga membuka fitness centre di belakang kedainya itu.

Lain halnya dengan hikayat Sate Pak Kadir di Cisarua. Kedai yang didirikan Abdul Kadir tahun 1997 terhitung masih baru dan baru memiliki satu cabang. Namun, soal rasa ia tak kalah dan tetap ramai dituju pembeli. Di hari biasa, rata-rata delapan ekor kambing ludes disatai. Tentu, jumlah ini melesat hingga beberapa lipat di akhir pekan. Sama halnya dengan kedai Shinta, Pak Kadir juga menyediakan kambing guling dengan harga lebih bervariasi. “Tergantung untuk porsi berapa orang,” sahut Mimih, perempuan gempal pengelola Sate Pak Kadir.

Kendati lebih kecil ketimbang Shinta, Sate Pak Kadir mempunyai pelanggan lebih khusus, kaum lelaki pengagung kejantanan. Pasalnya, sajian menu satainya dipercayai berkhasiat membuat si “urat” lelaki makin berotot. “Kepercayaan itu sudah ada sebelum warung saya berdiri,” kilah Mimih, adik Kadir, tersipu.

Konon, khasiat itu bakal makin bertambah bila menyantap satai torpedonya. Asal tahu saja torpedo, tak lain adalah biji buah zakar si kambing, dibanderol Rp 15.000 seporsi, isi dua biji.

Antara Kambing dan Domba

Kambing dan domba mudah dibedakan dari rambut dan bentuk tubuhnya. Kambing, berbulu lurus dan bertubuh ramping. Adapun domba cenderung membulat. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur domba disebut wedhus gembel lantaran rambutnya tebal dan gimbal. Jenis kambing yang terkenal adalah kambing kacang yang tahan derita, lincah, dan tersebar luas di seantero Indonesia.

Kendati bertubuh kecil, jenis ini dimanfaatkan dagingnya. Lihat saja, pejantan dewasa beratnya sekitar 35 kg dan betina dewasa berbobot 30 kg. Selain jenis ini, masih ada kambing impor asal India yang beratnya mencapi 50 kg.

Domba yang terkenal adalah domba Garut (Priangan), ekor gemuk, dan ekor tipis. Ciri khas domba Garut berdaun telinga kecil dan kuat, agak meruncing dan kadang malah tak berdaun telinga sama sekali. Ekor berbentuk sedang, agak lebar, dan kuat. Warnanya bermacam-macam mulai dari hitam, putih, cokelat, atau campuran. Bobot si gimbal jantan ini antara 60 kg-80 kg dan betina antara 30 kg-40 kg.

Keuntungan lain dari domba adalah doyan kawin alias tak mengenal musim kawin serta bersifat prolifik atau sering melahirkan kembar. Memang, keduanya sama-sama berbau lantaran tak pernah mandi. Namun, diyakini bau daging kambing lebih menyengat ketimbang domba. Karena itu, banyak orang lebih suka daging domba untuk disatai.

Mitos si Kambing Hitam

Anggapan daging kambing penyebab darah tinggi, ternyata tak tepat. Bila dicermati, kandungan kolesterol dan lemaklah yang menjadi biang keladi. Kandungan ini ternyata lebih banyak ditemukan dalam daging sapi. Asal tak berlebihan, jangan takut menyantap daging kambing atau domba.

2 responses to “Bikin Greng di Puncak

  1. tak disebutkan apakah pakan kambing dan domba berbeda tidak?

  2. Hi there everyone, it’s my first pay a quick visit at this
    site, and article is actually fruitful in support of
    me, keep up posting these types of content.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s