Si Mata Belok di Hari Imlek

Tahun baru Imlek atau Sin Chia identik dengan hujan. Konon, bila hujan turun ketika Imlek, setahun ke depan dipastikan hujan rezeki bakal datang. Tiga tahun belakangan, setelah sempat beberapa dekade perayaan Imlek dilarang, bukan cuma hujan betulan yang datang, hujan pernak-pernik Imlek juga terasa di Indonesia. Manisan, dekorasi, kue keranjang, hio, amplop merah, menjadi hal yang lazim dipajang di toko atau kios.

Nah, di Jakarta ada hujan lain lagi. Hujan bandeng raksasa di mana-mana. Jangan kaget. Bandeng yang ini benar-benar berukuran super alias raksasa. Jika biasanya berat seekor bandeng hanya 300 gram sampai 500 gram, bandeng versi Imlek bobotnya bisa mencapai 5 kg, atau bahkan 7 kg untuk bandeng laut.

Sudah pasti bandeng Imlek adalah bandeng istimewa. Jenisnya memang biasa, tapi tubuhnya penuh dengan lemak dan sangat gemuk. Kalau bandeng biasa dipanen tiap tiga bulan, bandeng Imlek diperam sampai satu atau dua tahun dalam empang. Selain itu, tentu saja diberi makanan dan vitamin yang spesial. Hasilnya adalah bandeng mukibat yang sangat gurih.

Dalam masyarakat Tionghoa dan penganut agama Tao, ada dasar kepercayaan mengapa harus menghadirkan bandeng berukuran super ketika Imlek. Menurut Happy Novarita, seorang ibu yang masih menjaga tradisi Imlek, semakin besar ukuran bandeng semakin besar pula rezeki dan hal-hal baik yang diterima tahun mendatang.

Selain untuk mengiring doa, masakan bandeng lazim digunakan sebagai antaran untuk sang mertua. “Suami saya selalu mencari bandeng yang paling besar, untuk orang tua saya,” ungkap Emmy, yang bermukim di bilangan Jakarta Barat. Besarnya bandeng yang diantarkan menggambarkan besarnya rasa cinta sang menantu kepada mertuanya.

Nah, kaum Tionghoa biasanya sudah hapal di mana harus berburu bandeng superbesar ini. “Biasanya di Petak Sembilan, Glodok,” kata Emmy. Setiap tahun, kios-kios ikan di Petak Sembilan selalu menyediakan bandeng mukibat. Tahun lalu, harga bandeng di sana paling mahal Rp 60.000 sekilogram.

Sentra bandeng superbesar yang lain adalah Jalan Sulaiman, Rawabelong. Saat menjelang Imlek, bisa dipastikan kawasan ini macet total. Rawabelong sudah tenar sebagai pasar bunga. Adapun Jalan Sulaiman sendiri, ketika bukan Imlek, tak lebih dari sepotong jalan kampung yang sepi. Tapi, sejak lebih dari empat puluh tahun lalu, tempat ini terkenal sebagai sentra bandeng besar. Tak hanya di Jalan Sulaiman, pedagang bandeng dadakan juga tumpah hingga ke Jalan Raya Rawabelong.

Yang penting bandeng Cilincing

Berkah bandeng Imlek Rawabelong dirasakan betul oleh penduduk sekitar situ. Beberapa hari menjelang Imlek, mereka beralih profesi sebagai penjual bandeng besar. Tukang ojek dan penjual ikan laut ganti menjajakan bandeng. Tahun lalu rata-rata mereka menjual bandeng sekilogramnya Rp 35.000. Jangan diremehkan, karena seorang pedagang bisa menjual 2 ton bandeng menjelang Imlek.

Senin, 27 Januari lalu, Happy telah membeli bandeng besar di Pasar Mester, Jatinegara. Dua ekor bandeng yang dibawanya pulang berbobot 1,7 kg. “Beli sekarang, karena sudah boleh sembahyang, dan harganya masih murah,” kata Happy yang membayar Rp 25.000 buat sekilogram bandeng. Menurut pengalamannya selama bertahun-tahun, semakin dekat dengan Imlek, harga bandeng di Mester kian membubung. “Bisa Rp 50.000 sekilogram!” cetusnya.

Pusat ikan di Muara Angke juga tak lepas dari demam bandeng Imlek. Ahmad, salah satu pedagang di sana, mengaku biasa mengambil 200 kg bandeng pas sehari menjelang Imlek. “Biasanya paling kecil dua kiloan, bisa juga tiga kilo lebih tergantung barangnya juga,” tuturnya. Penuturan Joni, rekan Ahmad, setali tiga uang. Tiap tahun, Joni mendapatkan laba ekstra dari penjualan bandeng Imlek. Harga bandeng yang Rp 25.000 sekilogram dari pedagang besar, bisa melonjak sampai Rp 40.000 di tangan Joni dan Ahmad.

Di mana pun penjual bandeng besar berada, kata Happy, ada satu patokan yang harus dipegang pembeli. “Bandengnya harus bandeng Cilincing,” ujarnya memberi tip. Warna sisik bandeng Cilincing lebih hitam ketimbang bandeng lain. Nah, menurut Happy, kelebihannya dibandingkan dengan bandeng empang biasa, bandeng Cilincing dijamin tidak bau lumpur jika diolah. Jadi, pindang bandeng bakal top rasanya dan mertua tidak akan kecewa. Gong Xi Fa Cai!

Samseng Buang Sengsara

Membanjirnya bandeng raksasa menjelang Imlek bukan tanpa alasan. Bandeng menjadi bahan baku wajib dalam samseng, yakni persembahan untuk pergantian tahun berdasar hitungan bulan (lunar) ini. Sembahyangan dengan samseng biasanya dilakukan tujuh hingga satu hari sebelum Imlek.

Samseng, yang terdiri dari tiga masakan berbahan hewan, mengingatkan bahwa penghuni dunia bukan melulu manusia. Masih ada makhluk lain, misalnya binatang. Meski demikian, sebagai manusia, kita tidak boleh meniru sifat jelek binatang.

Seperti dikutip dari majalah Sinergi edisi Januari 2001, samseng terdiri dari ikan bandeng, ayam kampung betina, dan daging babi yang semuanya mempunyai sifat negatif. Babi memiliki sifat malas dan kerjanya cuma makan tidur. Ayam kampung selalu makan berpindah-pindah. Bandeng, ibarat seekor ular bersisik, yang merupakan lambang kejahatan.

Karena dipakai sesaji, samseng memerlukan persiapan khusus. Misalnya, isi perut bandeng dikeluarkan dan dibuang. “Isinya diganti garam dan jahe,” terang Happy Novarita, seorang ibu rumah tangga di bilangan Jakarta Timur. Kendati begitu, sisik dan insang bandeng tidak boleh dibersihkan layaknya memasak ikan.

Lalu, ayam kampung diikat dan dibentuk ingkung, agar bisa didudukkan. Isi perut ayam dikeluarkan dan diolah secara terpisah. Daging babi diikat menjadi tiga bagian. Nah, ketiga daging ini dikukus.

Selain dijadikan sesaji, menurut Happy, tentu saja ketiga hewan tadi juga diolah untuk hidangan selama Imlek. Bandeng gemuk, misalnya, dimasak pindang. Bumbunya bawang merah, bawang putih, lengkuas, kunyit, dan sereh. Bandeng pindang seperti ini ternyata hanya populer di kalangan etnis Tionghoa Jakarta. Emmy yang tinggal di bilangan Jakarta Barat mengenang besarnya bandeng yang biasa dimasak saat Imlek. “Wah, seekor bisa jadi satu panci besar. Imlek sudah lewat, pindang bandengnya masih belum habis,” ujar ibu tiga anak ini sambil tertawa. Ayam kampung lazimnya digoreng dan daging babi dimasak kecap.

Tradisi kaum Tionghoa di Surabaya lain lagi. Meski sama-sama membikin samseng, tradisi ini dilakukan setelah dewa-dewa turun. Tujuannya untuk membuang sial. Tahun ini, para dewa diperkirakan turun tanggal 4 Februari 2003 dan tanggal 8 Februari 2003 sampai 15 Februari 2003. Ayam kampung, bandeng, babi, dan telur bebek, menurut Budi Eka, Ketua Paguyuban Klenteng Surabaya, disajikan dalam wujud segar alias tidak diolah terlebih dulu.

Bandeng yang dibeli bukan yang berukuran besar, seperti di Jakarta. Nah, jika sudah diserahkan sebagai sesaji, samseng ditinggal begitu saja di tempat ibadat. Penganut tradisi Tionghoa di klenteng ini tak mau memakannya, karena tujuan dari sesaji ini adalah buang sial. “Masak kami mau memakan kesialan sendiri,” ujar Budi. Lain padang, lain belalang. Lain tempat, beda pula tradisinya.
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s