Kresss! Tulangnya pun Ludes

Menu ayam merupakan menu favorit di negara ini. Tak percaya? Coba saja. Di setiap sudut jalan pasti ada tenda pecel ayam, di warteg dan warung padang selalu ada menu ayam, gerobak ayam goreng tepung bertebaran, bahkan jaringan waralaba seperti McDonald’s pun harus bertekuk lutut pada ayam di negara ini. “Orang Indonesia itu chicken eater,” kata Sia Cipta Wijaya, pemilik kedai Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk.

Karena alasan itu pula, Cipta membuka kedai bermenu utama ayam. Hanya, olahan ayam di kedainya bisa dilahap sampai tulang-tulangnya ludes, lantaran ia menawarkan ayam yang dimasak presto. “Resep ayam yang dimasak biasa dan dipresto itu kan beda,” cetusnya. Tentu saja, karena dimasak dengan panci bertekanan tinggi, seluruh tulang ayam pun sampai luluh-lantak dan enak disantap.

Menu andalan kedai Hayam Wuruk, sudah pasti, adalah ayam presto. Olahannya ada berbagai macam cara. Ada Ayam Goreng Crispy, ada Ayam Bakar, ada Ayam Goreng Telur Asin. Ayam gorengnya berasa gurih dan empuk, cocok sekali jika disantap dengan nasi hangat plus cocolan sambal manis yang tersedia. Jangan lupa, habisi pula tulang-tulangnya yang lunak digigit.

Comot juga Ayam Goreng Telur Asin. Ini menu yang baru tahun lalu dijajakan di kedai. Yang tersaji berupa satu potong ayam goreng yang diolah dengan saus telur asin. Kuning telur asin yang diguyur di atas ayam akan menambah gurih gigitan di mulut. Apalagi ayamnya juga empuk sehingga bisa disikat sampai tulang-tulangnya resik.

Namun, selain ayam, Cipta masih menyediakan varian lain yang juga dipresto, yakni bebek dan bandeng. Menu Bandeng Presto dalam Sarang juga merupakan salah satu hot item di sini. Kita bisa bertaruh yang mana buntut dan sebelah mana kepala bandeng, ketika hidangan itu sampai di atas meja. Maklum, bandeng prestonya hadir dalam balutan telur serta tepung, sehingga membentuk jala-jala pembungkus yang sangat tebal namun renyah saat digigit. Jadi, tak tampak yang mana kepala dan buntut lantaran bandengnya mengumpet dalam sarang jala. Menurut Cipta, ia memang sengaja membungkus bandeng prestonya demikian. “Kalau cuma digoreng biasa, bikin di rumah juga bisa,” kata Cipta.

Gertak sambal Plecing Kangkung

Lantas, bebeknya pun tampil seperti olahan ayam. Terasa empuk dan gurih di mulut. Hanya, tulang-tulang bebek masih terasa keras, jadi tidak bisa dikunyah seperti tulang ayam presto. Namun, bebek gorengnya sama sekali tidak berasa amis. Menurut Cipta, karena diolah dengan panci presto, lemak bebek yang membikin amis keluar semua. Tentu saja, sebelum dimasak, bagian ekor bebek harus disingkirkan dulu. “Ada bagian ekor yang harus dibuang supaya tidak bau,” jelas Cipta.

Jika tidak suka makan ayam, bandeng, ataupun bebek, ada pilihan lain, berupa ikan goreng. Hanya, ikan ini tidak dipresto. “Ikan ini harus fresh. Kalau tidak, rasa manisnya akan berkurang,” cetus Cipta.

Di kedainya, Cipta tidak melulu menyediakan menu presto. Terselip pula beberapa olahan sayur, misalnya Plecing Kangkung. Satu porsi Plecing Kangkung tampak mengundang nafsu makan karena diguyur sambal berwarna merah dalam takaran yang besar. Tapi, jangan mundur untuk menyantapnya, karena sambal itu sama sekali tidak pedas. “Kami memakai cabai merah besar dan tomat, biar enggak terlalu pedas,” kata Cipta lagi. Dalam deretan menu sayur, yang paling banyak dipesan Plecing Kangkung dan Plecing Kangkung Ebi.

Lantaran mengandalkan menu ayam, tak heran jika dalam sebulan Cipta harus memotong sekitar 20.000 ekor ayam demi memenuhi permintaan para pembeli di 13 gerai Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk. Adapun kebutuhan bebek dan ikan sekitar 2.000 ekor sebulan. Bandeng, yang merupakan salah satu menu paling dicari setelah ayam, terhitung sekitar 4.000 ekor dalam sebulan.

Satu Dapur, Beda Harga

Saat ini, tak kurang ada 13 gerai Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk di seluruh Indonesia. Sia Cipta Wijaya, pemilik Hayam Wuruk, mengembangkan bisnisnya dengan sistem waralaba. Kalau lazimnya penampilan restoran waralaba selalu seragam, jangan bingung jika ada perbedaan antara kedai Hayam Wuruk satu dengan lainnya. “Sampai sekarang kami memang sedang mencari bentuk,” cetus Cipta.

Ada kedai yang menggunakan piring anyaman bambu ala Bali, namun ada pula yang memakai piring pecah belah biasa. Ternyata, tidak sebatas penampilan saja, harga makanan di masing-masing kedai pun bisa berbeda. “Kami lihat daya beli setempat dulu,” kata Cipta.

Satu hal yang bisa seragam dari seluruh kedai Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk adalah rasa olahannya. Tak heran, soalnya Cipta menerapkan sistem dapur terpusat untuk memasok semua kedai. “Semua bumbu dari kami, jadi nanti tinggal digoreng saja,” jelas Cipta, yang mengerahkan dua buah dapur dengan kekuatan 20 panci presto berdiameter 45 cm. Kecuali ikan yang harus diolah secara segar, semua hidangan dikirim dari dapur pusat.

Dapur Hayam Wuruk dikendalikan oleh mitra Cipta yang bernama Lis. “Dia yang bikin bumbunya,” imbuh Cipta. Lantaran menu diantar dalam keadaan sudah siap goreng dan bakar, masing-masing kedai juga tidak memerlukan juru masak. “Jadi, kami enggak tergantung pada koki,” sambungnya.

Lebih Enak Bisnis Ayam

Sebelum berjualan Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk, Sia Cipta Wijaya memiliki perusahaan kontraktor. Saat krismon, bisnis kontraktornya tiarap lantaran banyak proyek yang ditunda. “Waktu krisis kan bisnis yang tetap bisa diandalkan adalah makanan, kesehatan, dan pendidikan, karena tidak mungkin ditunda,” cetus Sia. Itu sebabnya, ia lantas menyulap kantornya di Jalan Hayam Wuruk, Denpasar, menjadi kedai ayam tulang lunak.

Meski tampaknya sepele, Cipta mengaku bahwa bisnis makanan lebih enak ketimbang kontraktor. “Di sini kan uangnya cash. Kontraktor mana ada yang cash?” kilahnya. Bukan cuma itu, ia mengaku dapat menangguk margin yang lebih besar. “Bisa di atas 50%,” sambung Cipta.

Cipta memilih menjual olahan ayam, dan bukan jenis makanan lain, karena pasar yang tidak terbatas. Menurut dia, masyarakat Indonesia merupakan chicken eater. “McDonald’s di Indonesia saja bisnis terbesarnya adalah ayam, bukan burger,” jelas Cipta. Maka, dengan bermodal Rp 150 juta, pada 1998 Cipta memulai bisnis ayamnya. Selain membuka kedai di Denpasar, Cipta juga memulai warung ayam di Kuta dengan label “Malioboro”.

Saat itu, menurut Cipta, belum banyak kedai yang menjual ayam tulang lunak. Tak heran jika rombongan pembeli berdatangan ke kedai ini. “Mereka tertarik ingin mencoba seperti apa ayam tulang lunak itu,” kata Cipta yang punya peternakan ayam sendiri di Bogor.

Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk
~Jl. Hayam Wuruk No. 88, Denpasar Bali
~Jl. Ahmad Yani No. 122A-B, Pekan Baru
~Pondok Indah Plaza I Blok UA No. 39
~Jl. Pesanggrahan No. 168 DE, Puri Indah
~Jl. Greenville Blok A2 No. 2, Tanjung Duren

2 responses to “Kresss! Tulangnya pun Ludes

  1. yang saya inginkan adalah resepnya, karena saya bikin tulangnya tak pernah lunak dan terasa adalah permifan

  2. Goo..entrepreneur…..
    mampir ke blog ku ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s