Menggigit yang Legit-Legit

Tentu semua orang sepakat bahwa jika berburu makanan, soal rasa yang nomor satu. Keluhan tempat yang sempit atau lokasi sulit dicari, itu sih tidak akan keluar dari bibir para penyuka makanan enak. Begitu juga ketika kaki melangkah ke Warung Sate Marangi Bu Yayah di kawasan Duren Tiga. Warung, atau lebih tepatnya rumah Bu Yayah ini, persis terletak di seberang sebuah mesjid yang besar.

Bu Yayah sama sekali tidak mengubah bentuk depan rumah yang dijadikannya kedai. Ia hanya menyulap garasi dan teras sebagai tempat makan. Ada sekitar delapan meja makan yang diatur di teras dan carport. Dalam garasi, ia menata makanan siap santap serta racikan minuman. Di bagian depan, ada tempat khusus membakar sate yang dilengkapi dengan kipas angin. Kedai ini cilik, namun resik.

Di papan menu, terpampanglah sajian Bu Yayah yang siap disikat. Ada sate kambing dan sate sapi yang dibanderol Rp 16.500 per porsi. Lalu berikutnya oseng daun singkong, macam-macam pepes, sayur asem, sop daging, dan banyak pilihan lain. Namun begitu, sesuai dengan namanya, banyak pembeli yang lebih suka memesan sate kreasi Bu Yayah.

Setelah menunggu proses pembakaran sekitar lima belas menit, hadirlah bakaran daging itu di atas meja. Sate sapi dan sate kambing sama-sama berisi sepuluh tusuk satu porsi. Masing-masing porsi dilengkapi dengan campuran irisan tomat, bawang merah, dan cabai rawit dalam mangkuk kecil. Kecapnya disajikan terpisah dalam wadah lain dengan jumlah yang besar.

Jika diperhatikan, masing-masing tusuk bambu tersebut hanya dimuati tiga iris daging kambing atau sapi. “Sengaja begitu. Kalau banyak-banyak, nanti cepat kenyang,” ujar Yayah. Bahkan, pembeli perempuan biasanya hanya memesan setengah porsi yang berisi lima tusuk sate. “Banyak yang bilang irisannya besar-besar,” sambungnya.

Daging kambing yang berwarna cokelat dengan sedikit noda gosong itu memang menarik untuk disikat. Tidak ada bau prengus kambing yang tersisa, yang ada cuma rasa bumbu yang legit berbaur dengan daging empuk. Acap di antara daging, terselip jeroan kambing dengan bumbu merasuk. Rasa pedas dari sambal kecap menambah aroma sate di mulut. Terlebih lagi diimbuhi nasi hangat yang disajikan dalam bakul bambu mungil. Wah… berasa ingin menambah nasi terus.

Sate sapinya juga setali tiga uang. Berasa sarat bumbu, yang aromanya mengundang selera. Dagingnya sama sekali tidak alot. Enak digigit dengan rasa legit.

Berbeda dari versi aslinya

Sate maranggi bikinan Bu Yayah memang enak disantap. Namun, ternyata ada sedikit perbedaan dengan sate maranggi yang aslinya berasal dari kawasan Plered, Purwakarta. Yayah menunjuk sambal kecap yang tersaji. “Di sana, penyegarnya bukan tomat dan irisan bawang, tapi acar ketimun saja,” kata Yayah yang dalam sehari merajang tiga kilogram tomat serta satu kilogram cabai hijau untuk membuat sambal kecap ini.

Selain itu, di Plered, pedagang sate umumnya memakai pikulan. Pembeli hanya diberi nasi dan langsung mengambil sendiri sate yang dijual dari pembakaran. “Orang-orang makannya di depan pembakaran, enggak dihidangkan seperti di sini,” kisah Yayah. Jadi, harga sate juga tidak dihitung per porsi, melainkan per tusuk yang diambil pembeli.

Meskipun penampilan satenya tidak jauh berbeda dengan varian sate dari daerah lain, Yayah bilang bumbu sate maranggi bikinannya menciptakan aroma yang berbeda. “Bumbunya harum. Satenya jadi harum,” katanya.

Meracik sate juga bukan hal sederhana di sini. Menurut Yayah, agar bisa empuk digigit, daging untuk sate harus direndam dalam bumbu, minimal selama dua jam. Itu sebabnya, ia acap kali menampik pesanan yang datang mendadak. “Enggak bisa, kalau satenya cuma dibumbui langsung dibakar,” jelas Yayah, yang selalu memasak 500 tusuk sate tiap hari.

Biar satenya tambah mantap, menurut Yayah, ia selalu menggunakan daging segar. Saking empuknya irisan daging kambing bakar di kedai itu, banyak orang mengira Yayah memakai kambing muda. “Padahal enggak, lo! Tinggal bagaimana mengolahnya saja,” tukas Yayah. Lebih-lebih, sambungnya, kambing muda sebenarnya lebih sulit diolah.

Sate Maranggi Resep Sendiri

Yayah mulai berbisnis makanan tahun 2001. Bisnis ini berawal dari hobi. “Saya suka sekali makan sate maranggi,” kata wanita asal Plered, Purwakarta ini. Selain suka makan, Yayah juga hobi masak. Alhasil, jika ada acara di rumah, dia kerap menyuguhkan sate maranggi bikinan sendiri pada para tamunya. Dari sanalah, ide untuk membuka kedai tercetus. “Orang-orang tanya, kenapa kok enggak coba dijual?” ucapnya. Tapi, Yayah masih belum pede dan ragu-ragu untuk mencoba. Bukan apa-apa, dunia bisnis jauh dari hidup kesehariannya.

Berkat dorongan keluarga dan kerabatnya, Yayah pun membuka kedai di rumah. Modalnya Rp 4 juta, untuk membeli peralatan makan. “Kalau tempat enggak perlu modal khusus, saya pakai garasi saja,” tutur Yayah yang awalnya hanya menyajikan sate kambing. Selanjutnya, ia merambah ke daging sapi, yang ternyata makin mengundang banyak orang untuk mencicipi.

Kendati berasal dari Purwakarta, Yayah mengaku tidak ada satu pun keluarganya yang membuka kedai sate maranggi di daerahnya sana. Bahkan, tak ada sejarah keluarganya yang punya bisnis makanan. Mau tahu latar belakang keluarga Yayah? “Keluarga saya malah guru semua,” ujar Yayah, yang mengajar agama Islam di SD Duren Tiga 15 Pagi ini.

Maranggi berbagai Variasi

Siapa yang tak tahu nama sate maranggi? Makanan ini bahkan lebih kondang ketimbang daerah asalnya di pelosok Purwakarta sana. Di daerah kelahiran Yayah, pemilik Sate Maranggi Bu Yayah, olahan daging bakar itu cuma disebut sebagai maranggi. “Enggak pakai kata sate di depannya,” jelas Yayah. Ketika mencari tahu dalam kamus, tak tahunya maranggi berarti kambing muda. Hanya, sambung Yayah, selain bumbunya khas, maranggi yang asli empuk digigit dan disajikan tanpa lemak.

Variasi sate maranggi sendiri ternyata cukup banyak. Di seputaran Cianjur, misalnya, maranggi disantap dengan sambal oncom. “Kalau di Plered enggak pakai oncom, ada modifikasi dengan sambal kacang,” ujarnya.

Sate Maranggi Bu Yayah
Jl. Laboratorium No. 3, Komp. PLN Duren Tiga, Jakarta Selatan
Telp. 7944104

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s