Mmm… Nikmatnya PSK

Melintas kencang di jalan tol Jagorawi, sekali waktu keluarlah di pintu tol Sentul Selatan. Tak usah tembak langsung menuju Puncak. Menjelang masuk gerbang kompleks Bukit Sentul, kita belok ke kiri, ikuti jalan yang meliuk, sebentar kemudian sampailah kita di satu rumah kayu yang dinaungi rerimbunan pohon bambu. Di sinilah “sarang PSK” berada.

Segar…, angin bersiutan ditimpali derit bambu yang bergoyang-goyang. Tapi, jangan takut kena razia, jangan ngeres juga. PSK yang satu ini bukan singkatan dari pekerja seks komersial, melainkan Penggemar Satai Kiloan. Lihat saja beberapa ekor kambing, yang sudah mulus dikuliti, tergantung di etalase depan. Lokasi kedai PSK ini persis di seberang Sekolah Pelita Harapan, Bukit Sentul. Kalau dirasa kejauhan, ada juga kedai PSK lain yang lebih dekat dari Jakarta, yakni di Cibubur menjelang Kota Wisata. Dan, satu lagi di Kota Wisata yang baru buka awal tahun ini.

Waktu menelusuri menu, jangan mencari porsi berapa tusuk satai. Sesuai dengan namanya, di sini kita memesan daging satai dengan ukuran kilogram. Maka, ukuran satai pun dilabeli dengan seperempat kilogram. Ini adalah porsi lazim untuk sepasang pengunjung. Menurut pelayannya, seperempat kilogram daging menghasilkan 13 tusuk satai. Jadi, ukur sendiri kapasitas perut Anda. Satai PSK disajikan bersama bumbu kecap, irisan bawang, cabai, dan tomat. Dengan cara itu, kata Robert Silalahi, pemilik kedai PSK, sajian satai terasa lebih segar dan empuk. Ia juga membuang bagian lemak kambing dalam satai ini.

Jadi, bau prengus pun tidak terendus. “Kecuali ada pelanggan yang minta lemak, baru kami beri,” ujarnya.

Sembari menyantap satai, jangan lupa mencoba sop kambing ala PSK. Tulang dalam sop yang dicampur irisan tomat ini sangat empuk. Aroma merica, pala, dan sedikit cengkeh terasa dalam kuahnya. Hangat, segar… “Sop kambing dan satai kambing di sini paling digemari,” kata Robert bangga. Satai yang dijual kiloan semacam ini sudah lama dikenal di Sentul. Ada sekitar lima warung satai kiloan di sana. Namun, kedai PSK-lah yang mempunyai paling banyak pelanggan. Menu di kedai PSK sendiri lebih banyak didominasi olahan kambing. Ada satai, sop, gulai, tongseng kambing, nasi goreng, dan kambing guling. Tapi, bagi mereka yang membutuhkan alternatif, disediakan masakan olahan ayam, seperti satai, ayam goreng, dan tongseng ayam.

Ogah pasokan PSK dari jalanan

Keistimewaan satai PSK, menurut Robert, terletak pada daging yang dipakai. Ia mengaku selalu menggunakan daging segar. Daging yang dipasok pagi selalu habis pada malam hari, sehingga dagingnya selalu baru tiap hari. Robert juga mempunyai kiat khusus dalam memilih daging kambing yang enak dibuat satai. Ia memilih kambing berumur delapan bulan dengan bobot 10 kg-11 kg. “Kalau beratnya lebih dari itu, seratnya panjang, enggak enak kalau dimakan,” jelas Robert, yang terbiasa mengembalikan kambing yang tidak sesuai dengan pesanan.

Supaya mendapat mutu kambing yang stabil, Robert mempunyai pemasok tetap dari Sukabumi dan Cianjur. Pemasok PSK, menurut dia, juga merupakan pemasok hypermarket dan pasar swalayan. “Saya tak mau ambil kambing di jalan,” ujarnya.

Sama seperti belanja kambing, belanja sayur dan bumbu dilakukan setiap hari. Sayur-sayuran pelengkap seperti selada, timun, dan cabai harus disediakan 10 kg satu harinya, sedangkan tomat 15 kg per hari. Bumbu untuk satai, yaitu kecap, menghabiskan tiga dos per hari, satu dos isi 12 botol.

Selain kualitas kambing harus pas, mutu kecap dan mentega-menurut Robert-juga harus nomor satu. Tapi, komponen yang serbanomor wahid itu bukan jaminan kelezatan satai, apalagi kalau masaknya sembarangan. “Prinsip saya, kalau material nomor satu, mengelolanya juga harus nomor satu,” ujarnya.

Demi menghasilkan satai yang enak, Robert merancang pembakaran sendiri. Ia membuat alat bakar dari baja. “Panjangnya dua meter, sekali bakar bisa untuk empat kilogram satai. Jadi cepat,” kata Robert. Agar satai tak bau sangit, bahan bakarnya memakai arang batok kelapa.

Belum cukup, para karyawan yang membakar dibekali teknik pembakaran yang benar. Misalnya, satai tak boleh terlalu lama di pembakaran. “Kalau setengah matang lebih manis karena air daging lebih keluar,” kata Robert memberikan tip. Ia membatasi waktu pembakaran cuma dua menit. Itu pun dalam keadaan api siap. Sebelum daging diletakkan di atas panggangan, lebih dulu arang batok kelapa ditiup dengan blower hingga baranya merata. Selanjutnya, satai dibakar dengan kipas.

Harga makanan di PSK cukup beragam. Seperempat satai kambing harganya Rp 19.000. Lantas, tongseng kambing dijual Rp 10.500, sedangkan seekor kambing guling dilego Rp 650.000. Kalau kambing dijual dalam ukuran kilogram, satai ayam ditawarkan per porsi isi sepuluh tusuk: harganya Rp 12.500.

Membutuhkan sekitar 30 ekor kambing

Kendati mengaku tak pernah pasang iklan, PSK mempunyai banyak penggemar. Paling tidak kedai yang buka dari pukul 08.00 hingga 22.00 ini selalu kedatangan pembeli. “Paling ramai hari libur,” ujar Robert. Penggemar PSK, kata Robert, antara lain Nani Wijaya, Mandra, dan Cak Nur.

Demi memenuhi permintaan pembeli PSK, Robert harus menyediakan tak kurang dari 30 ekor kambing sehari untuk tiga kedainya. Kebutuhan kambing terbanyak ada di Bukit Sentul, yang membutuhkan sepuluh ekor kambing sehari dan 50 kg beras. “Itu untuk hari kerja, kalau hari libur menghabiskan 20 ekor kambing sehari, ” jelasnya. Seekor kambing bisa menghasilkan sekitar 300 tusuk satai.

Dari banyaknya penggemar PSK, tak heran jika Robert mengakui investasi pendirian kedai ini sudah balik modal. Namun, keuntungan masih belum bisa dinikmati, karena sebagian ia gunakan untuk mengembangkan PSK di Cibubur dekat Kota Wisata yang menghabiskan dana Rp 300 juta akhir 2002 lalu. Selain itu, keuntungan tersebut juga untuk membangun warung PSK di Kota Wisata yang baru buka awal 2004. “Tapi, saya yakin satu setengah tahun sudah balik modal,” yakin Robert.

Ahli Konstruksi yang Jago Masakan Solo

Jagoan mengolah satai kambing kebanyakan datang dari Solo. Tengok saja. Di sepanjang jalan pelosok Jabotabek pastilah ada kedai satai dan tongseng dengan embel-embel Solo. Namanya bisa beragam, sesuai dengan pemilik atau tukang masaknya. Ada Satai Solo Pak Mbarep, atau Satai Solo Pak Atmo. Maka, tak banyak yang tahu kalau peracik sajian piawai PSK ini namanya Robert Silalahi.

Lebih menarik lagi, bujangan ini bukan juru masak, tapi ahli konstruksi lulusan Universitas Indonesia. “Kebetulan, saya senang eksperimen masak. Minimal yang bilang masakan saya enak, ya saya sendiri, setelah itu baru teman lain,” kata lelaki kelahiran Jakarta ini sambil terbahak.

Sebelum mendirikan Kedai PSK Sentul, Robert memiliki usaha konstruksi. Saat krismon, usahanya terpukul hebat. Untuk mendapatkan masukan, Robert punya ide untuk membikin warung sembari menunggu situasi ekonomi dalam negeri membaik. “Kebetulan ada karyawan saya yang asli Solo dan mengajari saya masakan Solo,” jelas Robert. Tapi, resep anak buahnya itu tak diterimanya mentah-mentah. Robert masih menambahkan beberapa bumbu dapur lain. Maka, jadilah sajian PSK.

Ketika pertama mulai, tahun 1999, kedai PSK cuma perlu seekor kambing sehari. Mejanya cuma lima buah dengan lima karyawan. Tak disangka usaha sampingannya ini justru lebih menguntungkan. Maka, belakangan ia pun mengembangkan PSK secara serius. Sekarang, ia memiliki tiga kedai PSK dan 35 karyawan. “Tahun depan saya akan siapkan waralaba. Merambah ke daerah-daerah,” ujarnya. Tentu saja, ia juga tetap menekuni bisnis konstruksi yang kini menggeliat lagi.

Penggemar Satai Kiloan ( PSK)
Jalan Raya Babakan Madang
No. 2, Bukit Sentul Bogor

One response to “Mmm… Nikmatnya PSK

  1. jadi penasaran nih ma pak Robert (satenya maksudnya).
    Tapi sayang, kepintaran pak Silalahi dalam berusaha, dan mendidik pegawainya tidak dibarengi dengan kebijaksanaan dalam membuang limbah satenya. untuk di ketahui, tepat dibelakang (bawah kedai) PSK, terdapat sungai kecil yg masih mengalir dan dimanfaatkan warga asli babakan madang. sayangnya air sungai tersebut sekarang tercemar oleh limbah PSK dan belum ada penanganan dari Pak Robert maupun karyawannya.
    saya kira sebagai pengusaha g baik, selain mutu untuk pelanggan, tapi juga mutu terhadap pengelolaan limbah demi kesejahteraan warga sekitar harus diperhatikan. apalagi, pak robert adalah warga pendatang, yg mungkintidak pernah merasakan pentinganya sungai kecil ituh bagi warga asli.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s