Berkah Ayam Melawai

Menu ayam goreng tentulah beraneka ragam rasanya. Tapi, salah satu yang banyak dijajakan di ibu kota adalah ayam goreng kalasan. Entah mengapa ayam goreng khas dari daerah di sebelah timur Yogyakarta ini begitu populer. Barangkali karena olahan tersebut terkenal berbahan baku ayam kampung yang gurih.

Kalau mau puas berburu ayam goreng kalasan di Jakarta, tak ada salahnya menyusuri Jalan Panglima Polim III, Jakarta Selatan. Setiap petang ada belasan penjual ayam goreng yang menggelar dagangan mereka di warung tenda sepanjang jalan itu. Para pedagang tersebut memasang spanduk di depan kios mereka. Kebanyakan bertuliskan “Ayam Goreng Kalasan”, “Asli Ayam Kampung”, “Asli dari Jawa”, dan sebagainya.

Dari pengamatan, ternyata tidak semua kios dibanjiri pembeli. Antrean pengunjung paling banyak bisa ditemui di warung Berkah, yang terletak di tengah deretan. Menu yang paling laris di warung ini adalah ayam goreng, ayam bakar, sayur asem, serta es kopyor.

Pemilik Berkah adalah Rachmat Mulyoredjo. Ia mengaku sudah sejak 1962 berjualan ayam goreng. Resepnya dari orang tuanya, pedagang ayam goreng dan kain batik.

Sejak awal berjualan, Rachmat selalu memakai ayam kampung untuk dagangan. Ia sudah memiliki pemasok tetap dari Solo dan Yogyakarta. Ketika pasokan ayam kampung sulit, seperti masa-masa Lebaran, ada kalanya Rachmat terpaksa menggunakan ayam pejantan yang ukurannya seperti ayam kampung. “Tapi, kita tetap harus ngomong sama pembeli, kalau ini bukan ayam kampung,” ujarnya.

Rachmat juga pantang menyimpan ayam yang sudah lama dipotong. Kalau kedainya buka sekitar pukul 17.00 WIB, Rachmat baru menyembelih ayam pukul 14.00 siang. Itu pun dilakukan dengan tangan, bukan mesin. Bantuan mesin hanya diperlukan untuk mencabuti bulu ayam. Ayam potong yang masih segar, bukan ayam beku atau dipotong sehari sebelumnya, menurut Rachmat, adalah kunci kelezatan olahan ayam di Berkah.

Beda telunjuk, lain pula rasa sambalnya

Rachmat menyembelih dan memasak ayam di rumahnya sendiri. “Setelah dipotong, ayamnya langsung dibacem,” kata Rachmat yang mempekerjakan 20 orang karyawan ini. Untuk membacem, atau merebus ayam dalam ulekan bumbu dapur, Rachmat menggunakan panci berkapasitas 100 potong ayam. Setelah semua proses membumbui rampung, barulah ayam diangkut ke warung.

Ayam siap goreng dan bakar itu pun lantas dipajang, menunggu pembeli. Ayam akan digoreng atau dibakar sesuai permintaan. Hanya, tak ada menu ayam bakar saat bulan puasa. “Kasihan pembeli, bisa kelamaan antrenya,” katanya.

Kebanyakan pembeli meminta agar digoreng kering. Namun, menurut Rachmat, mereka yang sudah berumur kerap minta digoreng setengah matang agar tidak keras digigit. “Ayam yang digoreng setengah matang kan sebenarnya sudah matang di-bacem,” tukasnya.

Sebagai pelengkap menyantap ayam, Rachmat menyediakan sambal terasi yang juga banyak dicari pembeli. Ia bilang, banyak yang mau meniru sambal ala Berkah, tapi tak ada yang bisa membuat rasanya sama. Padahal, kata Rachmat, bahan bakunya tidak aneh-aneh, cuma terasi, cabai, tomat, bawang putih, dan bawang merah. Hanya, menurut dia, memang ada kiat mengulek agar rasa sambalnya top. “Kalau ngulek, jari telunjuk tak boleh nunjuk, nanti rasanya bisa cemplang,” ujar Rachmat yang tetap setia mengulek sambal, tidak menggunakan blender ini.

Mengikuti Arah Berkah Pergi

Rachmat Mulyoredjo, pemilik Kedai Berkah, mengaku sudah sejak 1962 berjualan ayam goreng di Jakarta. Awalnya Rachmat membuka warung ayam di kawasan Mayestik. Modalnya, kala itu, adalah satu meja kecil dan sepuluh ekor ayam. “Saya memang tidak langsung berjualan di sini,” tutur Rachmat saat ditemui di warungnya di Panglima Polim.

Warung ayam milik Rachmat ini selalu berpindah-pindah, sebelum menetap di lokasinya sekarang. Ia pernah berjualan di sudut Terminal Blok M, lalu pindah ke Pasar Blok M, setelah itu pindah lagi di dekat SMP 56 Melawai. “Tahun 1985 baru ke sini,” ujar lelaki berusia 77 tahun ini.

Biarpun warung milik Rachmat rajin berpindah tempat, ayam goreng olahannya telanjur memikat lidah banyak orang. Tak heran, kalau para pelanggan Rachmat dengan rela mengikuti ke mana dia pergi. “Sampai sekarang kami punya pelanggan tetap,” kata Rachmat yang lahir di Semarang. Pelanggan tetap sejak 1960-an tadi, belakangan mengajak anak cucu mereka waktu makan di Berkah.

Sekarang ini tiap hari rata-rata Rachmat memotong 300 ekor ayam untuk kebutuhan warungnya. Kalau Sabtu malam, kebutuhannya naik menjadi 400 ekor ayam. Puncaknya, saat puasa, bisa mencapai 700 ekor ayam sehari. Namun, Rachmat tidak pernah melupakan saat dirinya mendapat order makan siang untuk pekerja yang membangun Gelora Bung Karno, sekitar tahun 1962- 1965. “Saya pernah masukin ayam, sehari 1.200 ekor,” katanya. Waktu itu, harga seekor ayam sekitar Rp 125. Sekarang, Rachmat menjual seekor ayam goreng atau ayam bakar dengan harga Rp 22.000.

Ayam Goreng Berkah
Jl. Panglima Polim III Kebayoran Baru, Jakarta
Telepon 5736663

4 responses to “Berkah Ayam Melawai

  1. Thanks ya atas infonya…..saya saja, cucunya ga pernah tau kalo si Mbah pernah jualan ayam untuk pekerjaan di gelora bung karno.

  2. subhanallah, luar biasa yangkung…. yangkung memang is the best… LV U

  3. aq ingin sukses spt yangkung yg TOP…. mizz u

  4. Sejarah yg tak trlupakan….makasih mbah,,kami cucu”mu kan terusin usaha kluarga ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s