Yui Ung Coy memang Moy!

Kejarlah makanan hingga ke negeri Cina. Itu pepatah baru buat yang doyan makan. Benar adanya, lo. Banyak makanan dari negeri tirai bambu yang mengundang selera kita. Rasa masakan-masakannya sudah lazim di lidah kita. Dan, rujak ala Chinese yang kondang dengan nama rujak juhi alias rujak shanghai ini pun tak kalah sedapnya. Coba saja. Jangan salah, rujak ini 100% ditanggung halal.

Sebetulnya, rujak shanghai bisa dengan gampang dijumpai di Kota Pontianak. Namun, di Jakarta, cuma ada satu lokasi penjual rujak shanghai: di Pancoran, Kota. Cuma, mencari penjual rujak yang lezat ini harus teliti. Soalnya, melewati kawasan penjual obat cina, kita akan sampai ke kedai yang menyempil di antara sekian banyak pedagang makanan, diapit musala dan pos keamanan. Di seberangnya ada kedai bubur yang tak kalah legendaris.

Jika berminat mencicipi rujak segar ini, buanglah jauh-jauh bayangan kedai bersih ber-AC dari benak Anda. Juga, jangan cepat mundur ketika menemukan gerobak dengan dorongan besar yang penuh bumbu rujak. Benar. Gerobak rujak shanghai milik generasi kedua Kam Bun Ciau yang sedap ini tersaji bak kaki lima. Laiknya kaki lima, di tempat itu pula makanan langsung dimasak dan disajikan. “Enak, cuma tempatnya sedikit jorok,” ujar seorang pengunjung sambil manggut-manggut.

Tampilan gerobak rujak shanghai memang sederhana. Hanya meja kayu panjang yang ditutup dengan taplak plastik dan bangku panjang yang menjadi pasangannya. Jadi, harap maklum kalau tempat ini tak mampu menampung banyak pengunjung. Paling hanya sekitar 50 orang.

Tapi, biar tempatnya sedikit jorok dan kecil, orang rela sabar mengantre demi sepiring rujak shanghai. Penasaran, kan, dengan rasanya? Isi sepiring rujak shanghai terdiri dari setumpuk irisan kangkung rebus, cumi-cumi, serta ubur-ubur yang disiram saus dari irisan tomat. Ini memang bukan rujak buah. Buah-buahannya cuma berupa acar lobak dan ketimun yang direndam dalam cuka, gula, dan garam. Setelah siap, campuran itu masih diguyur kacang tanah giling. Jika suka pedas, tinggal menambahkan sambal cabai. “Kalau suka pedas, rujak ini tambah enak,” ucap penjaga kedai.

Ubur-ubur sampai kepiting soka

Irisan cumi maupun ubur-ubur yang terhidang tidak terasa alot di mulut, malah empuk sekali. Pasalnya, “Kami rebus dulu dengan labu,” kata Andri, anak Kam Bun Ciau yang mengelola kedai rujak shanghai, buka kartu. Caranya, cumi-cumi yang ukurannya besar dibelah menjadi dua, kemudian direbus bersama labu. Begitu pula cara mengolah ubur-ubur. Gurih, kenyal, jadinya.

Kalau belum pernah coba, bayangkan dulu, deh. Saus tomat di piring rujak shanghai ini manis rasanya, sedang acar lobak dan ketimun memberikan rasa asam. Kita aduk rujak di piring, angkat ke mulut. Nah, rasakan gigitan cumi-cumi dan ubur-ubur yang empuk serta kangkung rebus yang renyah. Terbayang, kan, bagaimana rasa rujak shanghai ini? Nikmat, manis, pedas, kriuk… kriuk…. Harganya Rp 15.000 seporsi.

Kedahsyatan rasa rujak shanghai bukan cuma diakui di kalangan masyarakat Tionghoa. Mbak Tutut, anak mantan Presiden Soeharto, misalnya, menjadikan rujak shanghai sebagai makanan favoritnya. Menurut Andri, si putri sulung ini kerap berkunjung ke kedainya. “Dulu, dia sering beli langsung dan makan di sini. Tapi, sekarang paling nyuruh orang untuk dibungkus,” kenangnya. Dalam sehari gerobak rujak ini menghabiskan paling tidak 10 kg ubur-ubur, 10 kg cumi-cumi, dan 50 kg kangkung untuk menyajikan sekitar 100 porsi rujak shanghai. Malah, “Sebelum kerusuhan 1998, lebih dari ini,” ujar Andri. Kedai ini tidak kesulitan mencari cumi-cumi besar karena langsung didatangkan dari Pontianak. Adapun ubur-ubur asalnya dari Lampung.

Kedai yang dulu punya nama Kim Kit ini juga menyajikan menu lain. Bubur ayam dan nasi tim. Harganya Rp 10.000 seporsi. Sajian lain yang menjadi andalan adalah kepiting soka. Anda bisa pilih untuk sajian kepiting yang bukan sembarang kepiting ini: kepiting soka rebus dan kepiting soka goreng. Tapi, tampaknya orang lebih suka yang goreng, karena cangkangnya yang keras sudah dilepas sehingga bisa tandas kita sikat. Kriuk…, nyam..!

Harga untuk seporsi kepiting soka-yang didatangkan dari Lampung dan Makassar-agak mahal: berkisar Rp 15.000 sampai Rp 35.000, tergantung ukurannya. Memang, ukurannya tidak sebesar kepiting ataupun rajungan biasa. Tapi, menurut Andri, harga itu tidak terlalu mahal. Sebab, Andri membeli kepiting mentahnya Rp 60.000-Rp 70.000/kg yang berisi 7-8 ekor plus ongkos kirim. Ada pula sajian lainnya: keong macan dan kerang darah yang direbus. Harganya Rp 5.000 seporsi.

Ada catatan, jangan coba-coba menembus kemacetan Glodok demi memburu rujak shanghai atau kepiting soka untuk menu makan siang. Pasalnya, kedai dekat ujung Jalan Pancoran ini baru buka pukul 17.00 sampai 22.00 malam.

D/h Yui Ung Coy

Tak banyak yang tahu bahwa nama asli dari rujak shanghai ini adalah yui ung coy. Yui ung berarti juhi, atau kita mengenalnya dengan cumi-cumi. Adapun ung coy berarti kangkung. “Artinya, juhi kangkung,” jelas Andri, pengelola kedai rujak shanghai.

Rujak juhi ini sudah 60 tahunan mangkal di Glodok. Kisahnya, pada masa penjajahan Belanda itu, ada tiga bersaudara asal Hongkong, salah satunya Kam Bun Ciau, yang merantau ke Hindia Belanda. Sesampai di Jakarta, mereka berbisnis sendiri, di antaranya ada yang buka restoran babi panggang. Nah, Kam Bun Ciau langsung membuka restoran rujak juhi di Glodok. Lalu, tahun 1970-an, seiring dengan penataan kawasan, restoran ini harus pindah ke Pancoran dan menempati lokasi yang sekarang ini. Sementara itu, dua saudaranya sudah berganti usaha.

Nah, di Pancoran rujak kreasi Kam Bun Ciau ini disebut rujak shanghai. Pasalnya, ketika itu beberapa bahannya, seperti ubur-ubur, harus didatangkan langsung dari Shanghai. “Dulu di Indonesia tidak ada yang jual ubur-ubur,” tegas Andri. Sejak itulah sebutan rujak shanghai jadi lebih dikenal ketimbang nama aslinya, yui ung coy.

Sejak Kam Bun Cai meninggal, usaha kedai ini pun diteruskan tiga orang anak Kam. Anak-anak lainnya memilih bidang kerja lain. Ketiga bersaudara anak Kam Bun Ciau ini saling berbagi tugas. Sebutlah Koh Awa, si anak sulung, bertugas memotong cumi dan ubur-ubur. Lincah benar dia memotong makhluk-makhluk laut itu. Kalau tugas itu dilakukan orang lain, rujak shanghai menjadi tak enak dan banyak dikomplain orang. “Kalau lain tangan, banyak yang enggak mau,” ungkap Andri. Adapun Andri, si anak kelima, bertugas belanja bahan-bahan makanan, dan adik perempuannya bertugas melayani.

Sayangnya, hingga sekarang mereka bertiga belum tahu siapa yang akan meneruskan kedai berikut resep warisan ini selanjutnya. Maklum, anak-anak mereka tidak ada yang mau berjualan rujak shanghai dan memilih kerja kantoran. “Saya enggak tahu siapa yang nerusin. Mungkin bubar kali, ya,” ucap Andri, lirih. Wah, sayang, ya?

One response to “Yui Ung Coy memang Moy!

  1. Wahhh, saya sudah coba nih rujak juhinya. Rasanya enak..,

    Saya menemukan lagi tempat yang menjual rujak juhi. Ada di Gajah Mada, tepatnya di depan Yayasan Kristen Ketapang.

    Rasanya juga enak tapi harganya lebih murah, hanya Rp. 10.000/porsinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s