Remang-Remang Kemang

Kemang di ujung minggu tak ubahnya seperti Kemang di hari-hari lainnya: padat, macet, ruas jalan yang berkelok-kelok, jalanan sempit, dan area parkir yang overload. Selebihnya, merimbunnya para ekspatriat, ABG dengan suspender warna-warni dan mengenakan sepatu model wedges, perempuan yang menjinjing clutches bag, dan eksekutif muda yang sudah menggulung kemeja panjangnya. Bila hari kerja usai, Kemang menjadi tempat meriung yang hangat dan mengasyikkan.

Dari ratusan tempat kongko yang berjajar di sepanjang Kemang, salah satu yang layak untuk disambangi adalah Kemang Food Festival. Bentuknya menyerupai foodcourt yang ada di pusat perbelanjaan. Gerai-gerai makanan mengitari puluhan meja dan ratusan kursi. Bedanya, Kemang Food Festival cenderung lebih dekat dengan alam. Pasalnya, Kemang Food Festival diidominasi dengan lantai batu, meja kursi dari kayu, pohon kamboja di antara meja dan kursi, gemericik air pancuran dan langit yang gelap.

Begitu gerai-gerai buka pada pukul 17.00, pengunjung mulai berdatangan, baik keluarga maupun anak muda. Jam-jam padat di Kemang Food Festival mulai pukul 20.00 hingga 02.00. Dus, bila Anda datang di jam-jam itu, tak mudah mendapatkan parkir yang kosong untuk kendaraan Anda. Selain itu, jeli-jelilah menyapukan mata pada bangku yang kosong. Soalnya, di jam yang padat itu nyaris tak ada satu bangku pun yang kosong melompong.

Rupanya, bangku dan kursi memang didesain untuk pengunjung yang datang berombongan. Jadi, ukuran meja bundarnya cukup besar, sehingga mampu menampung 6-8 orang. Tetapi, ketidakpraktisan tampak bila pengunjung datang berdua saja, karena juga akan menduduki bangku yang di set untuk berbanyak. Atau, Anda mau di share dengan pengunjung lain dalam satu meja? Tentu tidak, kan?

Nah, bila sudah duduk, jangan kaget bila langsung dikerubungi oleh pelayan dari puluhan gerai yang ada. Bahkan, jumlah pelayan yang menyodori menu makanan bisa melebihi pengunjung yang duduk dalam satu meja. Misalnya saja, satu meja dimuati dengan 6 orang, pelayan yang mempromosikan makanan andalannya bisa mencapai 10 orang, bahkan 12 orang.

Maka, bila belum mengenali kawasan ini, lebih baik mengitari sekitar satu-dua putaran. Dengan melihat tampilan setiap gerai, naluri Anda pasti akan tergerak untuk mencicip makanan tertentu. Dus, tak bakalan tertipu dengan gambar yang ada di daftar menu yang disodorkan oleh pelayan. Lagipula, bentuk Kemang Food Festival tidak sepenuhnya persegi. Jadi, jangan sampai makanan kesukaan Anda ternyata nyelip di pojok Kemang Food Festival dan Anda melewatkannya begitu saja.

Dari Garut sampai Arab

Apa yang paling menarik dari deretan gerai di Kemang Food Festival? Wah, itu mah tergantung selera. Tetapi, yang paling mendominasi di Kemang Food Festival adalah Dim Sum Festival. Soalnya, warna gerainya merah menyala, paling mencolok dan terang diantara yang lainnya. Selebihnya, Roti Bakar Eddy yang sudah kondang sejak pertama kali ada di Blok M, Fusion Sushi yang mengusung sushi khas Jepang, dan Mi Item yang khas dengan warna mie nya yang hitam gelap.

Tetapi, bukan berarti gerai-gerai yang berukuran lebih kecil tidak menarik, lo. Umumnya, setiap gerai menyuguhkan makanan yang khas yang tak dimiliki oleh gerai lainnya. Dus, persaingan tak terlalu mencolok dan pilihan jenis makanan juga lebih banyak.

Misalnya, Dombrut alias Domba Garut. Dombrut ini menyediakan aneka hidangan dari domba jenis priangan yang lebih popular dengan sebutan domba Garut. Ada gulai, tongseng, nasgordom alias nasi goreng dombrut dan sate. Khusus sate, ada pilihan spesial dan biasa. Bedanya, sate dombrut spesial lebih empuk ketimbang yang biasa. Sate domba spesial ini juga bisa dipilih, antara sate dombrut tanpa lemak dan sate dombrut special tanpa lemak. Satu porsi sate terdiri dari 10  tusuk dan disajikannya dengan nasi atau lontong serta kecap dan acar. Banderolnya standar, Rp 25.000-30.000 per porsi. Kalau tidak suka sate, ada pilihan lain,

Gerai lain yang layak dicicip adalah mie hitam di Mi Item. Konon, resto ini dikelola oleh Olivia Wongso yang tak lain adalah putri dedengkot kuliner dan jamuan Indonesia, William Wongso. Di Italia, racikan mie hitam ini dikenal sebagai squid ink pasta. Jadi, spaghetti dibuat dari tinta cumi sehingga warnanya menjadi hitam gelap. Berbeda dengan mie hijau dan mie oranye, mie hitam ini lentur, kenyal, gurih dan warnanya hitam pekat.

Nah, lantaran banyak orang Indonesia yang mulai menyukai mie hitam, maka William membuatnya dari perpaduan tinta dan daging cumi-cumi yang dihaluskan ke dalam adonan. Toh, lidah dan gigi tak bakal ikutan jadi hitam usai menyantap mie hitam ini. Soalnya, tinta cumi-cuminya tidak dipakai untuk saus mie, melainkan sudah dicampur (infused) ke dalam adonan mi.

Rujak Krupuk Miitem patut dicoba disini. Kuahnya asam segar, sepertinya racikan kuah kecap bawang, cuka dan cabai. Persisnya, tak jauh berbeda dengan kuah pempek Palembang. Tapi, jangan kebingungan bila tak menemukan krupuk, seperti namanya. Soalnya, yang disebut krupuk disini adalah mie hitam yang digoreng garing. Pilihan lainnya, Mi Item with Fermented Prawn yang mengeluarkan aroma udang yang tajam nan menggoda. Rasa gurihnya mendominasi mie hitam ini. Tampilannya pun sederhana, hanya irisan daun bawang saja. Kerusakan yang bakal Anda derita dari resto ini tak banyak, antara Rp 20.000-35.000.

Roti Bakar Eddy juga ada, lo. Warung yang sudah kesohor sejak mangkal di depan Sekolah Al-Azhar ini masih mengandalkan roti bakar sebagai menu andalannya. Tak seperti warung pertamanya yang menggunakan bangku kayu, tampilan Roti Bakar Eddy di Kemang Food Festival terlihat naik kelas, alias lebih mewah. Tak percaya? Lihat saja tatanan interiornya. Terkesan apik dan lebih gedongan.

Laiknya warung yang menyediakan roti bakar, olahan roti Eddy menyediakan banyak rasa yang berbeda. Untuk pilihan standar, Eddy menyodorkan menu roti bakar isi cokelat, keju, kornet, nenas, telur, stroberi, srikaya, dan kacang. Harganya Rp 7.000 seporsi. Yang istimewa adalah pilihan menu spesial kreasi Eddy yang harganya Rp 9.000 seporsi. “Harganya sedikit lebih mahal ketimbang di Roti Bakar Eddy lainnya,” ucap si abang dari Roti Bakar Eddy. Namanya aneh-aneh. Ada roti bakar isi Junet alias keju dan kornet. Lantas, ada roti bakar Kaco atau selai kacang dan cokelat. Terus ada roti bakar Coke, yang isinya cokelat dan keju.

Saat KONTAN nongkrong di Kemang Food Festival, antrian panjang membubuhi catatan Shisha House. Rokok arab ini sepertinya digemari oleh pengunjung Kemang Food Festival. Wajar, penikmat shisha rupanya memburu sensasi aroma buah-buahan. Jadi, sulit memastikan lama waktu menunggu untuk mendapatkan shisha. Ongkosnya pun tak mahal. Hanya dengan Rp 35.000 per bong, tabung pipa yang menghasilkan asap ini bisa dihisap ramai-ramai sekitar 1-2 jam.

Bahan dasar shisha yang berbentuk bong raksasa setinggi 60-70 cm itu terdiri atas shisha atau bong, muassal atau tembakau, arang spesial yang tidak berbau, berasap, dan berasa, serta pipa. Biasanya, bahan-bahan itu diimpor dari Dubai, Uni Emirat Arab. Tembakau untuk shisha hasil dari campuran sari aneka buah dan tembakau, yang dimadu kemudian diperam, dengan kadar nikotine 0,1% dan tar 0%. Nah, setelah melewati proses pemeraman, maka jadilah tembakau untuk bahan shisha.

Sembari menyedot shisha, tak buruk bila memasangkannya dengan masakan Arab racikan gerai Lazziz. Misalnya saja, Nasi Kebuli, Marak, Cane Kare, Gulai dan Sambosa. Harganya lumayan nendang, antara Rp 15.000-Rp 29.000 per porsi. Bila memesan aneka jus di gerai ini, rasa buahnya tidak terlalu dahsyat. Jus tomat yang dipesan KONTAN, cenderung lebih banyak airnya ketimbang buahnya. Padahal, segelas jus buah harganya Rp 13.000, lo!

Kalau mau iseng-iseng masak sendiri, coba kunjungi Gecko. Resto milik DJ Winky ini mengkhususkan makanan serba grilled. Jagoannya adalah Steak Ribs, T-Bone, Sosis dengan 5 saus pilihan, yaitu Black Pepper, Mushroom, Teppanyaki, Terriyaki dan BBQ yang dilabeli antara Rp 20.000-Rp 70.000 per porsi. Jangan khawatir steak yang Anda masak akan gagal. Soalnya, ada koki yang siap siaga untuk mengajari cara masak steak yang benar.

Dim Sum Festival juga melebarkan sayapnya ke Kemang Food Festival, tanpa mematikan induknya yang tak jauh dari kawasan ini. Di gerai yang serba merah ini, menu dim sum jelas menjadi favorit. Mulai dari Hakao, Somay Udang Kucai, Ceker Ayam hingga Lumpia Seafood. Bubur Ayam Pitan, Jamur Hitam dan Bakmi Goreng Thailand juga bisa jadi pilihan. Khusus untuk dim sum-nya, biayanya pas, Rp 12.500-15.000 per porsi.

Bisnis makanan si pengusaha properti

Sudah sejak Oktober 2005 lalu Rian Djojorahardjo dan Farah Surapurtra merencanakan sebuah foodcourt. Harapan mereka, foodcourt itu bukan hanya sekadar menjadi tempat makan dengan beragam pilihan menu makan saja, tetapi juga menjadi tempat kongko yang asyik bagi keluarga dan anak muda.

Toh, cetak biru itu terwujud kurang dari setahun. Rian menyulap lahan seluas 4000 meter persegi di bilangan Kemang untuk 10 gerai besar, 5 gerai khusus ritel dan 18 gerai kecil. Setiap gerai disewa sebesar Rp 4 juta-15 juta per bulan, tergantung ukuran gerai. Rian pun merangkul si empunya Roti Bakar Eddy, Raja Bubur, Gecko, Saga, Cafe Oh La La, dan masih banyak lagi. Per Mei 2006, Kemang Food Festival resmi beroperasi di Jalan Kemang Raya 19, Jakarta Selatan.

Rian memang bukan pemain baru di bisnis manajemen properti. Konsep yang serupa juga diterapkan di beberapa bisnis miliknya, seperti Saberro. Second Floor dan Mom and I. “Kami ingin bikin yang lain, makanya kami membangun Kemang Food Festival,” ujar Rian. Baginya, makanan adalah elemen yang paling banyak dicari oleh orang. Dus, karena yakin bakal laku, ia pun merogoh koceknya hingga Rp 3 miliar untuk membangun Kemang Food Festival.

Usai Kemang Food Festival, bagian Kemang mana lagi ya yang hendak disasar pengusaha muda ini?

One response to “Remang-Remang Kemang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s