Menjingkrakkan lidah di Mbah Jingkrak

p1090237.JPG

Uyon-uyon atau lagu-lagu Jawa terlantun dari sudut ruangan. Live, dilantunkan oleh dua orang laki-laki yang duduk lesehan diatas tikar, dan bukan berasal dari alat pemutar musik. Rasanya seperti di Jogja, Semarang, Solo, atau daerah-daerah lain di Jawa Tengah.

Ke-jawa-an ini semakin dikentalkan dengan ruangan yang serba kayu dengan dinding gebyok, jendela yang besar dan terbuka lebar, dominasi warna cokelat, pajangan Punokawan dipojok ruangan, serta mozaik tegel traso lawas yang berwarna-warni namun kusam.

Tapi ini bukan di Jogja, Solo, Semarang atau yang lainnya. Ini di Jakarta, kota metropolitan yang padat dengan bangunan beton di sepanjang jalanan. Uyon-uyon dan ruangan yang didesain seperti di kampung halaman itu kini bisa ditangkap di bilangan Bulungan, Blok M, Jakarta Selatan. Persisnya, tak jauh dari Ayam Bakar Ganthari dan Gultik atau Gulai Tikungan. Bila ada papan besar bertuliskan Warung Mbah Jingkrak, nah, disitulah tempatnya.

Bangunannya yang berbentuk Joglo membuat Mbah Jingkrak berbeda dengan bangunan di kanan-kirinya yang terbuat dari tembok kokoh dan kaku. Di Jakarta, Mbah Jingkrak baru dibuka sejak awal Desember 2006 lalu. Tetapi di Semarang, Mbah Jingkrak sudah jejingkrakan sejak sebelas tahun silam. “Baik di Jakarta maupun di Semarang, konsepnya sama, yaitu menjual menu masakan tradisional rumahan atau home cooking,” tukas Anggriyani Yunita, pemilik Mbah Jingkrak.

Semua masakan itu dihamparkan diatas grobog atau semacam meja besar. Jadi, begitu masuk lewat pintu utama, sejauh mata memandang yang ada hanyalah olahan sayur, botok, garang, gulai, pepes, oseng-oseng, daging ayam dan sapi, dan baceman. Grobog yang paling besar adalah koleksi Yunita yang diangkut dari China. Bentuknya pun agak berbeda dengan grobog yang berada di sisi kanan kirinya, yaitu berasal dari Jawa.

Masakan itu diwadahkan diatas panci dan piring yang terbuat dari tanah liat, disusun rapi berjajar. Mulai dari beragam sayur-sayuran, hingga baceman gembus, tahu dan tempe. Kalau Anda mampir ke sini, dan menginginkan menu masakan ini, tinggal tunjuk saja sayuran dan lauk yang Anda pilih, keduanya akan diantar oleh pelayan warung yang mengenakan seragam batik. O iya, sayuran yang Anda pesan, akan dipanaskan terlebih dahulu sebelum terhidang di meja Anda.
Pedasnya seperti iblis
.
Ada beberapa masakan yang bisa dipilih disini. Menurut catatan Yunita, setidaknya ada 77 menu yang ia siapkan. Menu itu bergulir setiap hari dan tak selalu sama. Namun, beberapa menu yang menjadi jagoan utama, selalu ada setiap hari. Misalnya saja, Pitik Rambut Setan, Tempe Jingkrak, Asem-asem Koyor, Sambal Iblis, Teri Buto Ijo, Ayam Kawul, Ayam Kenari, Sate Kabul, Botok, dan Mangut. “Ada yang diberi nama aneh-aneh, agar menggelitik dan membuat penasaran,” papar Yunita. Sedangkan nasi, bisa memilih nasi merah atau nasi putih.

Pitik Rambut Setan, dari namanya, jelas ini adalah olahan ayam. Tetapi yang membuat ayam ini terlihat istimewa adalah baluran bumbunya, yaitu si Rambut Setan ini. Coba saja lihat sajian Pitik Rambut Setan. Diatas ayamnya, terdapat campuran daun jeruk, daun kemangi dan daun bawang yang dirajang tipis-tipis dan dicampurkan dengan tomat dan cabe merah. Hasilnya, dengan mata telanjang, suguhan ini menyerupai ayam yang berambut seperti setan, dengan rasa pedas yang tertinggal di lidah.

Yunita juga mengundang rasa penasaran Anda pada semangkok Tempe Jingkrak. Sesungguhnya, nyaris tak ada yang istimewa dari tampilan masakan ini. Pucat, dan tak ada kejutan warna merah atau oranye disela-sela kuahnya yang berwarna broken white dan hijau. Isinya adalah irisan tempe yang ditumis dan tidak ditumis, serta irisan cabe hijau. Kejutan justru datang saat sruputan kuah pertama, yaitu nyegrak alias pedas yang mengejutkan dan membuat kerongkongan seperti tercekat.

Meski masakan yang Anda pilih sudah pedas, tapi rasanya kurang afdol bila belum memesan Sambal Iblis. Bahan dasar sambal ini sesungguhnya biasa saja, ulekan tempe, cabe rawit, bawang merah dan bawang putih. Sudah, hanya itu saja. Pedasnya tak membuat mules, namun cukup nendang lidah Anda. “Pedasnya seperti iblis lah!” tukas Yunita sambil terbahak. Itu sebabnya, sambal ini dijuluki Sambal Iblis.

Menu lain yang tak kalah pedas adalah Teri Buto Ijo. Masakan ini adalah teri yang digoreng dan diberi nuansa pedas dengan cabe rawit hijau. Pencampuran teri ini dengan cara digoreng kembali dengan sedikit minyak, sehingga kekeringan teri tetap terjaga. Hitung saja berapa cabe rawit yang ada dalam satu porsi Teri Buto Ijo. Bisa 12 cabe, 20 cabe, bahkan lebih dari itu. Nah, ini yang menyebabkan teri ini terlihat pedas dan menyerupai Buto Ijo.

Satu lagi menu yang wajib Anda cicipi bila bertandang ke kedai ini adalah Mangut Ikan Pari. Tahu sendiri, tak mudah mendapatkan ikan Pari di Jakarta. Agar menu ini tetap tersaji, Yunita mengusung ikan Pari dari Semarang.

Saking banyaknya masakan yang ada di kedai ini, bisa jadi Anda kebingungan hendak makan masakan apa. Menu lain seperti Sate Kabul, sayang bila tak dicicipi. Sate ini bukan dibikin dari daging sapi, ayam, maupun kambing, tetapi irisan tahu, tempe dan gembus yang dipotong menyerupai dadu dan dibakar. Masih ada lagi sayur Asem-Asem Koyor, yaitu sayur asem dengan daging sapi koyor. Kalau Anda menginginkan koyor yang banyak, atau malah sebaliknya, pesan saja. Pelayan Mbah Jingkrak akan menyiapkan Asem-asem Koyor sesuai pesanan Anda.

Ada juga Ayam Kawul, ayam goreng yang dibaluri dengan parutan kelapa goreng atau srundeng. Memilih Empal Kelem juga bukan pilihan yang salah. Lauk dengan bahan dasar daging sapi ini dibacem terlebih dahulu, kemudian digoreng dengan tingkat kegaringan yang rendah, alias tidak kering. Warna hitam pekat hasil baceman empal inilah yang membuatnya dinamai Empal Kelem (kelem=kelam=hitam).
Diusung dari Semarang

Bila semua masakannya mengandung iblis dan setan alias pedas, Mbah Jingkrak juga menyediakan masakan yang tidak pedas, kok. Misalnya, Brongkos, Gulai, Ayam Kawul, Empal Kelem, Sayur Bayam, dan masih banyak lagi. Jadi, Anda tidak perlu minder lantaran Anda tak menyukai pedas. Mbah Jingkrak sudah menyediakan beberapa menu untuk Anda.
 
Semua masakan tersebut dihidangkan dengan segar, alias bukan masakan kemarin sore. Bila isi sayur maupun lauk di dalam panci tanah liat itu habis, maka tujuh koki akan meracik ulang masakan yang sama demi memenuhi pasokan saat itu. Bila habis lagi, memasak lagi, dan begitu seterusnya. “Semuanya masakan hari ini, tak ada masakan kemarin,” ujar Yunita. Bila hari itu masih ada masakan yang tersisa, Yunita juga enggan menghangatkannya esok pagi, alias tidak akan dihidangkan untuk pengunjung.

Lantaran frekuensi masak-ulangnya tinggi, maka Yunita tak segan-segan menimbun stok bahan baku dalam jumlah yang lumayan. Toh, kendala lain datang. Tak semua bahan baku untuk masakannya bisa dengan gampang didapatkan di pasar becek maupun supermarket besar di Jakarta. Untuk itu, beberapa bahan baku sengaja ia angkut dari Semarang. Contohnya, kecap, koro keling, dawung dan kemangi.

Sehari, tak kurang 280 orang menyantap makanan olahan Mbah Jingkrak. Sebagai menu sandingan, Yunita menyediakan aneka steak, seperti T-Bone Steak, Tuscan Lamb, Salmon Steak, Aborigin Beef Steak, dan Beef Gordon Bleu. Namun, diantara nama-nama asing itu, terselip nama steak MM Sapi Bingung. “Itu kependekan dari Merapi Meletus Sapi Bingung,” jelas Indrajid, mitra Yunita mendirikan Mbah Jingkrak ini. Konon, steak MM Sapi Bingung ini ditemukan tahun 1997, saat gunung Merapi meletus dan memuntahkan wedhus gembelnya. Sebagai pengingat, maka digunakanlah nama ini untuk menu steak.

Lantaran memposisikan sebagai warung makan khas Jawa, tetap saja lidah pengunjung memilih masakan Jawa ketimbang steak. “Perbandingan keduanya sekitar 80:20,” jelas Yunita. Soal harga, Anda tak perlu merasa terancam. Untuk masakan Jawa, ongkos kerugian yang harus Anda tanggung mulai dari Rp 7.500-20.000 per item makanan. Sedangkan aneka steak, mulai dari Rp 25.000-79.000 per porsi. Tentu saja, Anda masih harus membayar pajak 10%.

Menjajal peruntungan di ibukota
Sahibul kisah, tahun 1995 Ajeng membuka warung makan Mbah Jingkrak di bilangan Taman Bringin, Semarang. Memanfaatkan rumah tua, maka konsep warung makan pun didesain sebagai warung yang menyajikan makanan seperti masakan rumahan, alias home cooking. Misalnya saja, baceman tempe, tahu dan gembus. Ada juga makanan olahan serba sate, botok, pepes, mangut, lodeh, sate, gulai, dan garng asem. 

Meski di Semarang Ajeng banyak menemukan masakan sejenis, namun Ajeng tak kehabisan akal. Ia pun merancang masakan di warungnya dengan mengembalikan bumbu-bumbu asli pada masakannya. Selain itu, ia mencoba bereksperimen dengan aneka masakan Jawa. Maka, lahirlah Pitik Rambut Setan yang mengolah ayam dengan bumbu pedas, Sambal Iblis dengan bahan baku tempe, juga Tempe Jingkrak yang merupakan olahan sayur lodeh dengan pedas yang nyegrak.

Kemudian ia pun memilih nama Mbah Jingkrak untuk warung makannya. “Alasannya sederhana, nenek-nenek aja masih mau jingkrak-jingkrak …” cetus Indrajid, adik kandung Ajeng yang turut mengelola Mbah Jingkrak. Dus, Ajeng pun mencomot maskot nenek-nenek tua yang sedang jejingkrakan atau berjogedan dengan kain kebaya yang ditarik hingga setinggi lutut.

Tagline ‘Special Masakan Jowo’ ini juga ada ceritanya. Rupanya, penegasan warung makan ini sungguh-sungguh mengusung masakan tradisional khas Jawa, adalah pencantuman nama Jowo, bukan Jawa. “Jowo lho ya, bukan Jawa,” kata Indrajid yang kental dengan aksen Jawa-nya.

Nah, mendulang sukses di Semarang, maka Ajeng pun berkongsi dengan Anggriyani Yunita untuk membuka di Jakarta. Maka, kawasan yang padat dengan bangunan beton seperti Blok M pun dipilih Yunita. Warung Mbah Jingkrak berdiri diatas lahan seluas 600 meter persegi. “Agar eye-catching, maka desain bangunan ini juga kami pilih Joglo yang usia Joglo-nya itu sudah sejak tahun 1800,” ujarnya.

Mbah Jingkrak yang ada di Jakarta mengusung menu masakan yang sama persis dengan yang ada di Semarang. Meski di kota metropolitan, toh Yunita enggan mengganti nama ‘Warung’ dengan ‘Restoran’ atau sejenisnya. “Pokoknya harus Warung, bukan yang lainnya,” tegasnya. Itu sebabnya, yang mencirikan ‘Warung’ di kedai ini adalah jendelanya yang njeplak atau terbuka keatas.

Pol-polan menyuguhkan aura Jawa di Jakarta, Yunita mengusung koleksi barang antiknya untuk warungnya. Mulai dari gebyok, jendela, pintu, lemari pajangan, grobog atau meja, tegel hingga pajangan iklan jaman doeloe. Dasar kolektor, koleksi daun jendela pun disulap menjadi meja yang diatur rapi memanjang di pinggir jendela. Rata-rata, usia barang-barang antik yang ada di warung ini berusia diatas 200 tahun dan diburu dari Bojonegoro hingga negeri tirai bambu.

Yunita menggenapi nuansa Jawa ini dengan suguhan uyon-uyon atau lagu-lagu Jawa yang bisa membuat Anda jatuh tertidur. Kalau sudah begini, jangan hitung berapa investasi yang sudah diguyurkan oleh Yunita maupun Ajeng untuk menjingkrakkan lidah orang-orang Jawa yang merantau di ibukota. “Nggak usah dihitung lah, banyak pokoknya!”kilahnya.  

Nah, kalau Anda ingin menjingkrakkan lidah, tak usah berlama-lama. Segera saja datang ke kedai ini.
Warung Mbah Jingkrak
Special Masakan Jowo
Jl. Bulungan 26 Kebayoran
Jakarta Selatan
Ph: 021 722 0891

5 responses to “Menjingkrakkan lidah di Mbah Jingkrak

  1. masakan yang cukup unik buat petualang rasa. rasanya berani & beda banget.

    Boleh minta alamat e-mail mbah ?

  2. Resto yang menurut saya punya masakan yang rasanya so-s0 dan harganya bikin dedel-duel dompet. Saya makan yang di bulungan (gak tau yang diSemarang gimana), makan cumi yang di tumis, sambel goreng, nasi & es … (lupa namanya tapi containnya: kelapa, cincau hitam,& selasih pake jeruk nipis jadi agak asem) totah habis 80rb-an kalo nggak salah. Cumi nya gak nendang, masih mendingan cumi goreng warteg dpn Trans TV, sambel gorengnya jauh banget dari sambel goreng ideal, santennya uncer bgt, kalo sambel goreng harusnya santen mblekotok. pucet bgt juga warnya kurang menor kurang merah, kurang kuning.
    Pokoknya kecewa harga gak sebanding rasa, gak kesan2 lagi.

  3. fem, di madiun, resto mbah jingkrak deket sama rumahku. kata bapakku, rasa makanannya biasa aja. tp larang tenan! jadi sampai sekarang aku nggak pernah ke sana. suamiku juga bilang, dia pernah nyoba yg di Bulungan. katanya sih biasa aja rasanya, cuma enak buat nongkrong. dan kebetulan dia dibayarin waktu itu hehehe.

  4. pedesssssss amattttttttttt…

  5. Sekarang kami hadir kembali di Jl, Panglima polim IX/19A, kebayoran baru jakarta selatan telp. 02133073717

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s