Kepulan Asap Beraroma Ikan

Menu ikan bakar merupakan salah satu santapan favorit orang Jakarta. Tak percaya? Coba tengok ada berapa kedai yang menyediakan ikan bakar. Tentu saja bukan sekadar ikan kembung bakar seperti di warung padang, namun juga bermacam ikan laut bakar seperti yang disediakan oleh kedai Babe Lili atau Ikan Bakar Pak Tarjo.

Nah, di Jalan Radio Dalam ada satu kedai ikan bakar yang ramai disambangi pembeli. Letaknya persis di depan bengkel mobil KIA. Pembakaran dalam kedai berkapasitas 70 orang ini nyaris tidak pernah berhenti mengepulkan asap. Itu sebabnya, pembeli yang sudah duduk di dalam kedai juga harus rela berselimut asap. Sampai kini memang belum ada pengunjung yang protes karena keasapan. Barangkali karena rasa ikan bakar khas Ujungpandang yang mereka sajikan memang layak dibayar dengan bau asap.

Kedai yang baru berumur dua tahun ini menyajikan banyak menu. Hanya, sesuai dengan namanya, pembeli kerap memesan ikan bakar. Dalam daftar menu yang disodorkan ada beberapa pilihan ikan, seperti baronang, kue, bawal putih, ayam-ayam, kerapu, bandeng, dan pecah kulit. Olahannya tersedia dalam tiga cara, yakni bakar polos, rica, atau parape. Ikan bakar polos bumbunya lamat-lamat namun lebih dominan asin; rica lebih berasa pedasnya, dan parape cenderung manis. “Paling banyak orang pesan ikan bakar polos karena tidak pedas ataupun manis,” ujar David Limowa, pemilik kedai.

Adapun jenis ikan favorit di sini adalah baronang. Menurut David, orang Makassar-lah yang memopulerkan ikan baronang di antara para penggemar seafood di Jakarta. “Orang sini dulu enggak tahu ikan baronang. Mereka cuma tahu ikan kue atau gurame,” tandas David. Sebaliknya, baronang menjadi ikan yang wajib tersedia di kedai ala Ujungpandang. “Maka, kedai ikan bakar khas Makassar itu selalu menjual ikan baronang dan bandeng,” ujarnya lagi.

Di sini kita bisa memesan dan memilih ikan sendiri. Tepat di depan bagian dapur ada beberapa kotak styrofoam berisi ikan dan kepiting. Lazimnya, pembeli memilah ikan menurut selera mereka.

Camilan otak-otak makassar

Selain ikan bakar, David juga menyediakan ragam seafood lain. Sebutlah kepiting, cumi bakar, udang, dan kerang rebus. Kata David, kebanyakan pembeli menyukai kepiting saus padang dan kepiting goreng bawang putih. Tak ketinggalan ca kangkung, toge ikan asin, dan petai. Namun, dalam daftar menu terdapat pula mi goreng titi dan nasi goreng ujungpandang.

David mendapatkan pasokan ikan dan seafood lainnya dari pemasok langganan mereka di Makassar. Ia memberikan jaminan atas kepiting yang dibelanjakan pengunjung kedai. “Kalau kurus, kita enggak akan kasih sama tamu,” ucapnya.

Sembari menunggu pesanan ikan atau cumi dibakar, mereka menawarkan otak-otak khas Makassar untuk camilan. Berbeda dengan otak-otak di Jakarta yang bungkusnya besar isinya tidak banyak, otak-otak di sini pembungkusnya ringkas. Namun, begitu dibuka, tampak bahwa ukuran otak-otaknya lebih padat dan besar. Rasanya gurih dan aromanya sedap. Otak-otak ini berjodoh dengan sambal petis bercampur tomat hijau yang selalu diantarkan bagi pengunjung kedai. Jadi, rasanya agak berbeda dengan otak-otak jakarta yang cenderung manis dengan sambal kacangnya.

Ikan baronang bakar polos yang siap santap juga cukup mengundang selera. Rasanya cenderung gurih dan sedap dimakan bersama sambal tomat kemangi. Jika suka, tersedia pula kecap manis untuk pelengkap. Cumi bakar polosnya pun sedap. Meski cuma dibakar dengan bumbu tipis, cumi tersebut sama sekali tidak terasa alot dan gampang dikunyah. Nikmat dimakan sebagai teman nasi putih hangat, bersama aneka macam sambal yang tersedia di meja.

Untuk menggelontorkan ikan bakar itu ke tenggorokan, David menyediakan beberapa menu minuman. “Minuman yang khas di sini adalah es kelapa muda,” ujarnya. Sebutir kelapa muda dengan es tentulah menyegarkan setelah mulut dihajar beragam sambal makassar.

Menurut David, di hari biasa ia bisa menghabiskan puluhan ekor ikan demi memenuhi pesanan pengunjung. “Kalau akhir minggu, lebih banyak lagi,” ujarnya.

Asap yang mengepul dari bagian pembakaran itu kian banyak, menyeruak menyelimuti area kedai. Orang-orang yang duduk di dalamnya sama sekali tak tampak terganggu. Mereka sibuk mengobrol, sembari mengungkit kerang dara, atau mencocol otak-otak ke sambal petis. Barangkali mereka juga menikmati aroma ikan bakar yang terbawa asap. Makin mendekati jam makan malam, pengunjung makin bertambah, sementara jalan di depan kedai belum reda dari kemacetan.

Terbius ikan bakar memang mengasyikkan. Hanya, jangan coba-coba mencarinya di siang bolong. Kedai ikan bakar khas Makassar yang berlokasi di halaman bengkel ini cuma buka dari jam 18.00 sampai tengah malam.

Penyesuaian Bakaran

Menu bakar-bakar di kedai Ikan Bakar Ujungpandang, menurut David Limowa, tidak jauh berbeda dengan menu Rumah Makan Ujung Pandang, di Jalan Irian, Makassar, milik keluarganya. “Di sana sudah 26 tahun jualan ikan bakar,” ujarnya. Sekarang restoran tersebut dikelola oleh orang tua dan kakaknya. David sendiri dua tahun lalu memilih berbisnis makanan di Jakarta. David melihat potensi pasar yang besar di kota seperti Jakarta. “Orang-orangnya jarang masak di rumah, jadi suka makan di luar,” katanya.

Meski menunya tidak jauh berbeda, David mengaku menyesuaikan beberapa hal agar bisa lebih diterima oleh lidah penghuni Jakarta. Misalnya, bumbu yang tidak terlalu pedas. “Orang Makassar jago makan pedas semua!” tandas David. Lalu, cara menyajikan ikan bakar yang diubah. Di Makassar, kata David, ikan dibakar utuh-utuh, sedangkan lazimnya di Jawa ikan tersebut lebih dulu dibelah.

Sebenarnya, jika dibakar utuh, ikan tidak bakal gosong. “Kalau ingin merasakan dagingnya fresh atau tidak, sebaiknya dibakar utuh dan tidak dicampur bumbu,” ujar David. Namun, orang di Jawa lebih suka merasai ikan bakar yang sudah kena bumbu dan gosong-gosong karena kena api. Yah, lain ladang lain belalang, lain lubuk beda pula bentuk ikannya.

Lima Jurus Sambal

Tak lama setelah pengunjung di kedai ikan bakar milik David Limowa ini selesai memilih ikan dan kembali ke tempat duduknya, pelayan akan datang membawa beberapa perlengkapan. Mangkuk cuci tangan, piring untuk sisa seafood, serta beberapa jenis sambal. Lazimnya, mereka memberikan tiga varian sambal, yakni sambal terasi dengan mangga muda dalam cobek kecil, sambal tomat kemangi, serta sambal petis. Kalau sang tamu memesan kepiting, akan terhidang pula sambal bawang putih untuk mencocol daging kepiting. Satu lagi adalah sambal rica sebagai cocolan ikan bakar.

Masing-masing sambal, menurut David, punya jodoh sendiri-sendiri. Sambal tomat kemangi penampilannya serupa sambal kecap, lengkap dengan irisan tomat hijau serta taburan daun kemangi. Sambal ini nikmat disantap bersama dengan lauk apa pun, misalnya cumi bakar atau ikan. Lantas ada sambal petis, berupa campuran cabe, petis berwarna cokelat muda, serta potongan tomat hijau. Sambal petis, yang rasa petisnya hanya lamat-lamat tersebut, adalah jodoh dari otak-otak makassar.

David mengatakan bahwa semua jenis sambal tersebut merupakan sambal khas Makassar. “Sambalnya kita kasih free semua,” ujar David. Maklum saja, tutur David lagi, di tanah asalnya sana mereka tak pernah menjual sambal dengan harga terpisah. “Di sana sambal tidak pernah dijual,” sambungnya.

Pondok Ikan Bakar Ujung Pandang
Jl. Radio Dalam No. 14
Depan KIA Motor
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

One response to “Kepulan Asap Beraroma Ikan

  1. Hello would you mind sharing which blog platform you’re using?

    I’m planning to start my own blog in the near future but I’m having a
    difficult time choosing between BlogEngine/Wordpress/B2evolution and Drupal.
    The reason I ask is because your design and style seems
    different then most blogs and I’m looking for something
    unique. P.S Sorry for being off-topic but I had to ask!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s