Hoki Satai Maranggi

Matahari tidaklah terlalu menyengat siang itu. Lebih-lebih lagi, di kerindangan hutan jati milik Perhutani di Jalan Raya Cibungur, ke arah Purwakarta. Hawa terasa adem, ditingkahi alunan tembang sunda yang dinyanyikan seorang wanita. Di kedai Satai Maranggi dan Es Kelapa Cibungur, asap bakaran satai menyelimuti meja-meja di sana.

Tapi, meja itu tidak kosong. Banyak orang yang masih duduk, menyantap makanan, atau sekadar berbincang. Sementara, mobil-mobil lain masih berdatangan, padahal jam makan siang telah lewat. Tukang parkir sibuk memberi aba-aba dan pekerja kedai lalu lalang membawa nampan. Itulah suasana kedai Cibungur nan riuh rendah, tak lekang oleh tol Cipularang.

Suasana Jalan Raya Cibungur memang tidak seramai sebelum tol Cipularang dibuka. Memang, ada saja kendaraan yang lewat, tapi tidak sampai menimbulkan kemacetan yang mengular seperti dulu. Justru suasananya terasa lebih adem, terlebih di sekitar kedai Cibungur itu.

Menu di kedai ini masih belum berubah dari beberapa tahun lalu. Menu favorit, tentu saja, satai kambing dan es kelapa. Satu lagi yang khas di sini: sambal tomat di piring satai Anda. Sambal ini berupa rajangan tomat, cabai rawit, dan sedikit garam. Kecapnya? Silakan tuang sendiri sesuka hati. “Itu sambal, mah, ya resep bikin-bikinan sendiri,” ujar Yetty Achdyat, pemilik gerai satai ini.

Satu tusuk satai terdiri dari beberapa daging yang irisannya mini. Yetty tertawa saat ditanya soal porsi daging yang terbilang kecil. “Ya, biar dagingnya enggak alot kalau dimakan, biar cepat empuk,” kata Yetty yang menjual satai Rp 10.000 per porsi isi sepuluh tusuk. Sedangkan nasinya dibungkus daun pisang dalam porsi yang cukup mengenyangkan perut. Kalau kurang, comot saja bungkusan lain yang sudah disediakan di meja.

Nah, bayangkan, menyantap sebungkus nasi putih hangat yang beraroma daun pisang, plus satai kambing dengan sambal kecapnya yang pedas menyengat. Tambah lagi, angin sepoi yang berembus dari pepohonan di sisi kita. Tentu saja, jangan lupakan semerbak asap yang menyergap.

Es kelapa yang ada di situ merupakan dagangan ayah Yetty, Haji Rasta. Satu porsinya hadir dalam gelas berukuran jumbo. Harganya Rp 7.000 seporsi. Sebenarnya, kita bisa saja minta kelapa muda dalam batoknya. Namun, menurut karyawan di situ, sama saja ukurannya. Pas satu gelas bertangkai yang jumbo.

Ikan gurame jadi andalan baru

Selain satai, Yetty menawarkan ayam bekakak dan ikan gurame bakar. Ayam bekakak adalah ayam kampung yang dibelah dua dan dibakar utuh dengan bumbu kecap. Harganya Rp 35.000-Rp 40.000 seekor. “Ayamnya memang harus ayam kampung, supaya rasanya enak,” kata Yetty.

Adapun ikan gurame itu menu baru yang dijual dua tahun belakangan. Harga ikan gurame bakar antara Rp 30.000 sampai Rp 50.000 seekor, tergantung dari bobotnya. “Ikan gurame inilah yang sedang naik daun,” tandas Yetty lagi.

Masih banyak menu lain yang bisa disantap di kedai bawah pohon rindang ini. Ada sop kambing dan sapi, berbagai pilihan soto, siomay, bakso, gado-gado, karedok, sayur asem, dan beragam gorengan untuk camilan seperti combro dan bakwan. “Kalau menu lain itu, yang menjual saudara-saudara saya,” jelas Yetty. Maklum saja, di kedai ini memang ada beberapa gerai yang menjual makanan berbeda.

Semenjak tol Cipularang dibuka, pembeli di kedai Cibungur ini memang berkurang. Tapi, “Alhamdulillah, masih banyak juga yang pergi ke sini,” ucap Yetty. Bedanya, kalau sebelumnya banyak orang lewat yang mampir, belakangan ini memang mereka yang bertujuan makan di situ yang datang.

Di masa jayanya, sekitar tahun 1999-2000, Yetty bisa mengolah 2,5 kuintal daging kambing dalam sehari. “Kalau sekarang paling sedikit 60 kilogram. Tapi, Lebaran kemarin bisa 1,5 kuintal,” ujarnya. Sedangkan kebutuhan ayam merosot sampai 200 ekor saat ramai, sementara dulu bisa sampai 400 ekor.

Pembukaan tol Cipularang, sesungguhnya juga membawa berkat buat Yetty. “Saya lihat, kok orang-orang Bandung pada makan siang di sini. Ternyata, karena sekarang memang jadi lebih dekat,” kata dia sambil tersenyum.

Nah, rindu pada satai bikinan Yetty? Buruan deh ke tol Cikampek!

Naik Pamor berkat Satai

Kedai di Cibungur itu, menurut Yetty Achdyat, pemilik gerai satai, didirikan oleh ayahnya yang bernama Haji Rasta, pada tahun 1975. Menu pertama Haji Rasta adalah es kelapa muda. Sedangkan saudara Yetty menjual gado-gado dan soto di warung tersebut. “Tadinya cuma warung kecil,” ujarnya.

Yetty sendiri bergabung pada tahun 1990. Ia sengaja memilih satai kambing, karena pada saat itu belum ada kategori menu makanan berat. Selain Yetty, ada empat saudaranya yang lain yang juga membuka gerai makanan di kedai ini. “Saya pakai resep sendiri saja,” kata Yetty lagi.

Tak tahunya, tidak berapa lama pamor kedai Haji Rasta ini langsung melesat. Orang-orang makan di situ dan mencari satai kambing. Kalau awalnya Yetty cuma menjual satu kilogram daging, itu pun katanya enggak laku-laku, belakangan ia bahkan bisa menghabiskan 250 kilogram daging kambing sehari.

Kedai ini pun lantas diperluas. Maklum saja, “Orang-orang pada antre. Saya pernah lihat bule ikutan antre bawa piring,” kata Yetty tergelak. Perluasan itu melalui empat tahapan. Tadinya, hanya memakai tanah milik Haji Rasta yang luasnya 600 m2. Belakangan, Yetty mengajak kerja sama Perhutani yang memiliki tanah persis di sekitar Haji Rasta. “Pelan-pelan, tuh, kita bangun dan tambah mejanya,” jelas Achdyat, suami Yetty.

Sekarang, kedai bawah pohon ini sudah memiliki sekitar 40 meja dengan dua kursi panjang. Masing-masing kursi bisa diduduki lima orang tanpa berdesakan.

Nama Pemberian Pelanggan

Di depan kedai ini ada papan bertulisan besar: Satai Maranggi dan Es Kelapa “Cibungur”. Orang-orang yang menyebut satai maranggi, pastilah akan menuju ke tempat yang letaknya tiga kilometer dari pintu tol Cikampek tersebut. Dari sana, pamor satai maranggi terkenal ke mana-mana. Bahkan, banyak kedai satai yang menyebut diri sebagai cabang dari satai maranggi Purwakarta.

Namun, di kedai Cibungur ini ada spanduk yang bertuliskan “Tidak Buka Cabang di Mana-Mana”. Yetty tidak mengelak bahwa banyak kedai satai yang mengusung nama maranggi. “Ada pelanggan yang memberi tahu. Malah, saya pernah makan di salah satu warung itu,” jelas Yetty. Tapi, kata dia, lain tangan lain pula masakan. “Rasanya tidak sama dengan di sini,” kilahnya. “Saya juga tanya pelanggan itu, ‘Rasanya sama enggak?’,” lanjutnya.

Yetty sendiri tidak mengerti asal mula kata maranggi. Saat pertama dagang satai, ada pembeli yang menanyakan soal nama. “Saya bilang, ini mah kagak ada namanya,” tutur Yetty. Ternyata, pembeli tersebut malah memberi saran bahwa satai yang berbumbu kecap itu selalu disebut satai maranggi. “Ya sudah, saya beri nama satai maranggi, tapi ada tambahannya: Cibungur,” katanya.

Satai maranggi di seputar Purwakarta, menurut Yetty, memang banyak. Seperti di daerah Plered dan Wanayasa. “Tapi, masing-masing rasanya beda. Sambalnya juga enggak sama,” kata dia.

Kedai Satai Maranggi dan Es Kelapa Cibungur
Jl. Raya Cibungur, Purwakarta
Telp. 0264 351077

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s