Teler oleh Ayam Bakar Megaria

Pedagang ayam bakar tentulah sangat gampang dijumpai di pelosok ibu kota. Mau yang nongkrong di trotoar, berjualan di warung tenda, atau menggelar menu di restoran mahal. Semuanya tinggal dipilih sesuai dengan isi kantong dan selera saja. Demikian pula penjual es teler. Campuran es berisi alpokat, nangka, dan kelapa muda ditimbun es serut serta disiram sirop, adalah minuman yang lazim dijumpai di Jakarta. Bahkan, pedagang es teler yang ada di luar ibu kota acap menambahi dengan kata-kata “asli Jakarta” pada menu es mereka.

Es teler biasanya disantap bersama siomai, mi bakso, atau mi ayam yang relatif ringan sebagai selingan antara makan siang dan makan malam. Nah, bayangkan jika suatu saat Anda memasuki kedai yang menu andalannya ayam bakar serta es teler. Kedai ini bisa dijumpai di kompleks Bioskop Megaria, Jakarta.

Para pelanggan kedai ayam ba-kar dan es teler Sari Mulia Asli ini kebanyakan memesan satu porsi ayam bakar dan es teler. Ayam bakarnya disajikan dalam piring, lengkap dengan irisan mentimun, daun kemangi, kol, serta sambal terasi. Warna ayam bakarnya tidak hitam pekat karena arang, namun hanya cokelat keemasan. Kendati begitu, rasa bakarannya terasa di mulut. Nasi putih hangat yang menyertainya ditaruh dalam piring terpisah.

Ayam bakar di sini, menurut Suwanto, anak pemilik kedai Tukiman Darmowijono yang juga pengelola warung, tidak menggunakan ayam kampung. Namun, nyaris tidak ada lemak yang menempel di tubuh sang ayam. Mereka memang sengaja memakai ayam potong. “Ayam kampung itu, selain mahal, pasokannya juga sulit,” kata Suwanto. Jadi, tinggallah bagaimana mereka mengolah ayam pedaging tersebut menjadi ayam bakar yang lezat dan tidak berlemak.

Suwanto bilang, mereka selalu menggunakan ayam segar dan bumbu alami dari rempah-rempah. “Bukan bumbu instan,” ujar Suwanto yang enggan memaparkan rahasia bumbu dapur resep warisan dari ibunya ini. Setiap hari, menurut pengakuannya, mereka mengambil 150-200 ekor ayam utuh dari pemasok. Namun, mereka hanya mengambil bagian dada dan paha saja. Jadi, satu ekor ayam hanya menjadi empat porsi. Mereka tidak mengolah sayap, kepala, dan cakar. “Abis banyak konsumen yang enggak berminat dengan ceker dan kepala,” sambungnya.

Harus melalui tiga proses pemasakan

Ayam yang sudah dibersihkan tadi lantas direbus dengan bumbu dan digoreng. Cara pengolahan tersebut ternyata bisa mengurangi le-mak pada ayam potong dalam jumlah yang lumayan besar. “Nanti kalau ada konsumen pesan, kami tinggal membakarnya saja,” jelas Suwanto.

Mereka menggunakan bakaran arang yang lazim digunakan untuk membakar satai. Bahkan, mereka juga masih memakai kipas manual yang digerakkan dengan tangan, bukan menggunakan kipas angin yang biasa dipakai pedagang satai. Maklum, “Kalau ngipasi memakai kipas angin, rasanya menjadi beda banget,” tukas Suwanto.

Satu porsi ayam bakar dengan nasi mereka jual seharga Rp 9.000. Ayam bakar saja harganya Rp 7.500. Selain itu, ada tahu dan tempe bacem yang harganya Rp 1.500. Kata Siswadi, salah satu karyawan kepercayaan Tukiman, saban hari mereka harus mengolah masing-masing 200 iris tahu dan tempe untuk konsumen. Tahu dan tempe itu terlebih dulu dibacem, jadi ketika ada pemesan, mereka tinggal menggorengnya. “Baceman begini, semakin lama pembacemannya semakin enak,” ujarnya.

Adapun sebagai teman ayam bakar, kebanyakan tamu biasa memesan es teler. Satu porsi es teler di-sajikan dalam gelas besar, bukan mangkuk. “Sejak tahun 1967, memang sudah seperti itu bentuk esnya. Kami enggak pernah memakai mangkuk,” kata Siswadi.

Kalau kebutuhan ayam, tempe, serta tahu bisa terukur, tidak demikian halnya dengan es teler. Suwanto mengaku tidak tahu pasti berapa porsi es teler seharga Rp 5.500 yang terjual setiap harinya. Yang pasti, mereka tak pernah khawatir kehabisan stok. “Yang jelas, kami selalu menyediakan bahan baku untuk es teler itu,” ujarnya.

Semua menu yang tersedia di kedai ini merupakan menu dari tempo doeloe saat Tukiman masih berjualan memakai gerobak dan mangkal di Jalan Semarang. Suwanto tidak pernah berpikir menambahkan menu baru di kedai milik sang ayah. Memang, kata Suwanto, kalau mau menuruti konsumen ya banyak maunya. Permintaan terbesar adalah sayur asem. Suwanto mengaku sempat ingin menuruti kemauan pelanggan tersebut. “Hanya saja, ayam bakar dan sayur asem kan enggak jodoh. Soalnya, kulit ayam bakar hitam, jadi enggak cocok,” ujarnya.

Meski begitu, para pelanggan tetap saja setia menyambangi kedai ayam bakar dan es teler yang letaknya agak tersembunyi ini. Suwanto menuturkan, sekitar 80% pembeli yang datang merupakan pelanggan lama. Sisanya, barulah mereka yang datang pergi. Ia juga menyebutkan beberapa pesohor yang pernah mencicip es teler serta ayam bakar racikan Bu Samijem itu. Sebutlah mendiang Munir, Maudy Koesnaedy, Faisal Basri, pembalap Ananda Mikola, dan Wulan Guritno. Masih ada lagi beberapa nama lain. Tapi, “Saya enggak hafal namanya, tapi pokoknya bintang sinetron itu,” ujarnya.

Es yang Bikin Teler

Pemilik kedai ayam bakar dan es teler di Megaria ini adalah Tukiman Darmowijono. Menurut Suwanto, putra Tukiman yang mengelola kedai tersebut, ayahnya pindah ke Jakarta bersama keluarganya pada 1966. Awalnya, Tukiman berdagang bakso, siomai, dan es dengan gerobak. Ia biasa mangkal di Jalan Semarang, Jakarta. Para pelanggannya kebanyakan remaja di sekitar situ.

Konon, menurut pelanggannya yang seumuran ABG itu, es dagangan Tukiman sangat enak. Saking enaknya, sampai membikin teler. Maka, mereka lantas menyebut es campur tersebut dengan istilah es teler.

Lama-kelamaan, gerobak Tukiman tenar ke mana-mana. Pelanggannya bukan sebatas ABG, melainkan juga orang kantoran. Mereka juga menyantap siomai, bakso, dan es teler. Namun, “Kalau buat orang kantoran, enggak makan nasi kan enggak ada artinya,” kata Suwanto. Pelanggan baru ini banyak yang meminta nasi. Itu sebabnya, Tukiman segera menambahkan menu baru, yakni ayam bakar. “Yang membuat resep ayam bakarnya, ya ibu saya sendiri, Ibu Samijem,” sambungnya.

Tak tahunya, popularitas ayam bakar ini mengalahkan siomai dan bakso yang semula menjadi andalan Tukiman. “Sejak ada ayam bakar, siomai dan bakso menjadi tersisih,” ujar Suwanto. Tapi, menu-menu tadi tetap ada kendati mereka harus berpindah-pindah lokasi. Dari Jalan Semarang, kedai Tukiman berpindah ke Pegangsaan Barat. Dari sana, mereka hijrah lagi ke kompleks Bioskop Megaria. Jadi, “Ini sudah lokasi ketiga sejak tahun 1967,” jelas Suwanto. Tentu saja, para pelanggan mereka harus mengikuti ke mana kedai Tukiman bertempat.

2 responses to “Teler oleh Ayam Bakar Megaria

  1. Alhamdulillah, restoran ini tetap ada sampai sekarang. Saya mengenal tempat makan ini sejak tahun 1984, tepatnya waktu saya masih sekolah di SMP 216 salemba. Kalau tidak salah tempat makan ini masih di pegangsaan barat. Masakannya tetap terjaga, s/d sekarang tetap enak. Yang saya senang, salah satu guru favorit saya di SMP yaitu Bpk. Samidi, ada terpampang photonya disana bersama Ebet Kadarusman. Mungkin beliau kerabat P. Tukiman.

    Anyway, masakannya enak, silakan coba bagi yang belum pernah. Lekanya di samping kiri areal bioskop Megaria – Jakarta Pusat

  2. Masih bersaudara dengan ayam bakar sogo..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s