Bersantap di Rumah Dewa

Saat sebagian besar orang meratapi usaha yang bangkrut lantaran tercekik krisis moneter, Chandrahadi Junarto justru sebaliknya. Bersama dua temannya, Chandra membangun Lokananta di ujung 1999 dengan modal awal Rp 30 juta dan 10 karyawan. Bentuknya bukan restoran mewah, tapi juga bukan kaki lima. Persisnya: food-court.

Chandra tak mengira pasar yang bisa diraup terus meningkat. Ia pun merangkul tiga investor baru di Lokananta. Dengan duit investor baru itulah dia mampu membangun restoran dua lantai dan merekrut tenaga yang lebih profesional pada 2003. Sejak itu, rumah makan ini mampu menampung hingga 110 orang. “Konsepnya berganti, menjadi semi fine-dining, dan karyawan menjadi 20 orang,” ujar Chandra.

Nama Lokananta itu diambil dari bahasa Sansekerta yang artinya tempat dewa-dewi bersantai di kayangan. Chandra ogah menamai rumah makannya dengan nama internasional. Sebaliknya, ia menginginkan nama yang bisa disebut oleh orang Indonesia maupun orang asing. Dengan memilih nama ini, Chandra anggap semua tamu adalah dewa, bukan raja lagi.

Setiap satu hingga tiga bulan, restoran ini mengubah menu makanan dan mengguyuri konsumen dengan promosi. Setidaknya, setiap bulan Chandra memamerkan 5-10 menu baru yang dipasang di papan maupun brosur yang dibagikan pada konsumen. “Promosi selalu dimulai dengan harga perkenalan, yaitu Rp 11.000,” imbuh Chandra. Awalnya, Chandra memulai dengan menyuguhkan steak dan nasi goreng. Perguliran menu setiap bulan membuat Chandra bisa membaca pasar bahwa konsumennya menyukai nasi goreng sirloin dan sop buntut panggang. Kedua makanan ini mencuri 45% dari semua jenis menu yang dipesan.

Kelas restoran rasa rumahan

Bisa jadi, pelanggan Lokananta menyukai nasi goreng sirloin dan sop buntut panggang lantaran rasanya tak jauh dari masakan rumahan: berani menggunakan rempah-rempah dan tak takut bermain bumbu. Coba cicipi sop buntut panggang ala chef Lokananta. Rasanya pedas tapi segar. Maklum, meski dagingnya impor, bumbunya menggunakan bahan lokal. Untuk daging sapi, Chandra mengusungnya dari Australia. Tak kurang dari 20 kg daging sapi ludes setiap hari.

Chandra berbagi resep nikmatnya sop buntutnya. “Kami terkenal karena kami selalu memberi bumbu dobel pada setiap masakan,” ujar Chandra. Buntut yang usai dipanggang maupun digoreng itu diberi bumbu ala Lokananta. Sesudahnya, pada saat penyajian, sop buntut itu diberi bumbu yang lebih pedas lagi agar terasa lebih nendang di mulut. Dus, pedas yang muncul dari sop buntut itu bukan dari lada, tetapi rempah-rempah.

Bagi Chandra, nasi goreng sirloin tak ubahnya seperti nasi goreng pada umumnya. Bedanya, nasi goreng ini dimasak dua kali, kemudian diberi potongan sirloin di bagian atas sebagai topping dan diguyuri saus rempah-rempah. “Ciri masakan Lokananta adalah menggunakan rempah asli Indonesia,” ucap Chandra.

Menurut Chandra, cara menyantap sop buntut yang paling mantap adalah menggunakan tangan. Tanpa sendok, garpu, maupun pisau. “Nikmat sekali menggerogoti daging yang menempel di tulang,” ujar Chandra. Oh, iya, di sini tak ada paket makan all you can eat atau makan sepuasnya. Makanan ala prasmanan pun ogah disiapkan oleh Chandra. Ia emoh ribet dengan menyiapkan beragam pilihan makanan.

Wajar, pangsa yang dibidik Lokananta adalah pekerja kantoran. Chandra ingin menjadikan Lokananta sebagai salah satu meeting point bagi para eksekutif muda. “Makanya, kami menyediakan banyak colokan listrik dan internet gratis,” imbuh Chandra. Ia tak ingin mengatur tamu yang hadir di Lokananta harus mengenakan pakaian ini-itu, dengan aturan makan yang begini-begitu. Taruh kata, mau datang untuk pesan es teh sambil browsing pun tak bakal diusir oleh Chandra.

Total jenderal menu makanan yang ada di Lokananta ini sekitar 35 plus 42 jenis pilihan minuman. Harganya pun tak terlalu menguras kantong, antara Rp 11.000 hingga 55.000 per porsi. Untuk menu makanan favorit, nasi goreng sirloin harganya Rp 28.000 per porsi, sop buntut bakar dan panggang harganya Rp 45.000 per porsi. Bila ingin menyambangi Lokananta di ujung minggu, lebih baik reservasi terlebih dulu. Harap maklum, Lokananta kebanjiran pengunjung di hari Jumat-Sabtu-Minggu.

Kendati tak pernah mendesain cara-cara reservasi, toh Chandra akhirnya memberlakukan aturan main juga. “Yang boleh dipesan hanya 50 kursi. Selebihnya tidak,” ujar Chandra. Jam buka puasa sudah dekat. Ayo, ke Lokananta, sebelum kehabisan.

Lokananta
Jl. Panglima Polim II/2, Jakarta 12160
Telp.: (021) 724 6364

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s