Kambing di Duren Tiga

Daging si embek memang merajai Jakarta. Menu sate dan sop kambing gampang sekali dijumpai di gerobak, kedai tepi jalan, sampai restoran berbintang. Jangan heran kalau penyuka kambing gampang mencari tempat berburu makanan ini. Salah satunya adalah kedai Ibu Yanti di bilangan Duren Tiga, Jakarta Selatan.

Kedai Ibu Yanti adalah tempat favorit penggemar sate kambing. Paling tidak, di kedai inilah mantan presiden Gus Dur, mantan Gubernur DKI Ali Sadikin, pengusaha Arifin Panigoro, dan Iwan Fals bertandang. Jelas menu terpopulernya adalah sop dan sate kambing. Selain itu, sebenarnya Masuni, wanita pemilik kedai, menyediakan sate ayam dan gule kambing.

Cobalah merasai sop kambingnya. Rasanya sedap, persis aromanya. Masuni bilang, rasa sedap berasal dari jahe, pala, dan kayu manis yang tidak ditumbuk. “Kalau ditumbuk, rasanya akan beda,” kata Masuni.

Sop kambing di sini paling sedap jika disantap bersama sambal khas bikinan Masuni. Ia menamainya sambal kacang. Warnanya, sih, dominan hijau cabe, namun ada tambahan kacang, cuka, dan gula di dalamnya. “Bisa buat makan sate kambing dan pastel yang ada di meja,” celetuk Masuni.

Selain sop, biasanya orang memesan sate kambing Masuni. Kebanyakan pelanggan meminta sate kambing bumbu kecap daripada bumbu kacang. “Mungkin memang lebih klop di lidah,” kata Masuni yang saban hari menghabiskan dua lusin botol kecap besar. Sate kambing di kedai ini empuk dan gampang dikunyah. Maklum saja, Masuni mengaku mau bersusah payah mengeluarkan urat daging sebelum mengolahnya.

Lantaran pembeli di kedai ini lumayan banyak, saban hari Masuni harus sibuk menyiapkan enam ekor kambing untuk sate, sop, dan gulenya.

Mojok di Duren Tiga

Kedai sate Ibu Yanti sudah berkali-kali pindah lokasi. Sebelum dagang sate, Masuni adalah penjual nasi uduk. Belakangan, Masuni lebih memilih jualan sate lantaran suaminya adalah pedagang kambing.

Masuni mulai berdagang sate tahun 1965, waktu usianya 16 tahun. “Kalau malam tutup, karena ada jam malamnya,” kenang Masuni yang menggelar dagangan di pinggir Jalan Gatot Soebroto. Dua tahun kemudian, barulah dia menyewa tempat permanen di Jalan Raya Pasar Minggu. Lima tahun berdagang di situ, Masuni harus pindah lagi, karena si pemilik enggan memperpanjang sewa. Ia pun hijrah ke Duren Tiga. Dari kedai tersebut Masuni pindah lagi ke tempatnya sekarang. Kini, kedai yang ditempati sejak tahun 1975 tersebut dipenuhi oleh 15 meja makan yang bisa menampung sekitar 60 orang.

Meski sudah lama berjualan, Masuni tidak memasang papan nama di kedainya.

Masuni dan Yanti

Kok pemilik kedai Ibu Yanti ini bernama Masuni, bukannya Yanti? Masuni, perempuan berusia 65 tahun ini, memang mengambil nama anaknya, Yanti, sebagai nama kedai. Alasannya, saat kedai Masuni mulai ramai, ia bertemu dengan Yanti. Harap maklum, meski Yanti ini anak kandung Masuni, si ibu terpisah dengan anaknya yang tinggal bersama seorang pamannya. “Biar saya inget dia terus, saya namain warung saya ini Yanti,” katanya.

Yanti bukanlah anak tunggal. Masuni punya 16 anak kandung. Saking banyaknya, sampai ia tidak hafal anak keberapakah Yanti. Tapi, ia hafal jumlah keturunannya, “Anak saya enam belas, menantu dua belas, cucu empat puluh, cicitnya tujuh,” kata Masuni lancar.

Kedai Ibu Yanti
Jl. PLN Duren Tiga, No. 11, Jakarta
Telp. (021) 7986225

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s