Menggigit Ayam, Memanjakan Gigi

Kendati digasak isu flu burung, penggemar masakan ayam rupanya tidak berkurang. Pedagang ayam goreng memang sedikit mengurangi porsi jualan mereka, tapi tidak ada pedagang yang bangkrut karena dagangannya tak laku. Benar, ayam goreng adalah salah satu makanan favorit penghuni Jakarta.

Kedai ayam goreng tulang lunak Ny. Nani di kawasan Rawasari, misalnya. Tidak sulit mencari kedai ini. Nani Sugiono, pemilik kedai, menempati dua petak ruko dengan ukuran lumayan besar. Ada spanduk bertuliskan “Ayam Goreng dan Bakar Tulang Lunak Ny. Nani S” di atasnya. Penanda lain adalah aroma gorengan dan bakaran ayam yang menggelitik hidung. Maklum, Nani menempatkan kompornya di bagian depan kedai, sehingga bau masakannya mengular ke jalanan.

Saat bulan Ramadan seperti sekarang, hanya segelintir orang yang duduk untuk makan di kedai tersebut. Namun, etalase tempat menyimpan ayam siap bakar dan goreng justru disesaki para pembeli. Rupanya, mereka lebih suka membungkusnya untuk disantap di rumah. Tak heran, meskipun tampaknya sepi, stok ayam yang siap goreng atau bakar sudah menipis. Lagi pula, “Alhamdulillah, pesanan juga tidak pernah berhenti,” jelas Nani yang ketika dihubungi sedang menyelesaikan pesanan ribuan kotak dari Astra. Di kedai ini, sajian ayamnya tidak ada yang utuh seekor, tapi dijual potongan. Sebidang dada harganya Rp 8.500, sepotong paha Rp 8.000.

Kedai ayam goreng ini tidak begitu besar. Kapasitas tempat duduknya sekitar 30 orang. Di atas meja sudah tersedia sambal manis, kecap manis, dan cerek berisi air putih. Nani menyediakan menu lain untuk disantap, seperti gudeg dan sayur asem. Namun, kebanyakan orang mendatangi kedai ini demi ayam goreng dan ayam bakar. Ayam gorengnya berasa gurih, dagingnya empuk, dan tidak alot. Enaknya, jika disantap bersama nasi hangat, sambal manis, plus lalapan yang segar.

Modalnya tanpa panci presto

Ayam bakarnya sedikit manis dengan bagian yang menghitam di sana sini. Rasanya seperti ayam dalam masakan gudeg, namun dibakar. Ternyata, menurut Nani, bumbu racikannya lain daripada ayam bakar pada umumnya. “Kami pakai santan kental dulu. Jadi, seperti bikin rendang,” ujarnya. Sebelum dibakar, terlebih dulu ayam dimasak bersama santan kental, gula jawa, dan bumbu-bumbu. “Jadi, ada rasa asin, manis, dan pedas,” sambung Nani.

Sebenarnya, Nani baru mulai menawarkan ayam goreng tulang lunak setelah menempati kedainya, sekitar tujuh tahun lalu. Soalnya, “Kalau sekarang saya bisa masak di sini, di belakang,” ujar Nani. Sewaktu berjualan dengan gerobak dorong, Nani harus terlebih dulu memasak ayamnya di rumah. Selain itu, memiliki dapur yang menyatu dengan kedai membuat perempuan yang hobi masak ini leluasa beraksi di dapur. Ia bisa menambahkan beragam menu seperti gudeg, ayam bakar, dan sayur asem.

Biarpun ayamnya empuk digigit, ternyata Nani tidak menggunakan panci bertekanan tinggi (presto) untuk memasak. “Wah, pancinya harus segede apa, kalau pakai presto,” ujar Nani. Selama ini, ia selalu mengolah ayam dengan cara merebusnya dalam waktu lama. “Kalau api kecil, bisa tiga jam merebusnya,” kata Nani.

Proses pemasakan ayam memang tidak sederhana dan memakan waktu lama. Biasanya, Nani membeli ayam potong dalam keadaan hidup. “Saya potong sendiri, di sini ada karyawan khusus pemotongan,” jelas Nani. Setelah dibersihkan dengan air panas, ayam dilumuri jeruk nipis atau jahe. Pasalnya, ayam potong ini banyak mengandung lendir yang bisa menyebabkan bau tidak enak. Setelah diolah dengan air jeruk atau jahe, barulah ayam dibumbui dan direbus dalam waktu lama.

Nani biasa memajang ayam yang sudah diungkep tersebut di etalase kedainya. Bila ada pembeli yang memesan, barulah ayam tersebut dibakar atau digoreng.

Sempat Jadi Musuh Tramtib

Nani Sugiono sudah 12 tahun berjualan ayam goreng. Bisnisnya ini bermula dari hobi. Nani yang suka jajan ini rupanya penasaran lantaran setiap kali beli ayam goreng tidak pernah dapat yang empuk. “Makan ayam kok keras. Lalu kita coba-coba resep,” ucap ibu dua anak ini.

Pertama-tama, Nani memasak empat ekor ayam goreng dan dijual. Tak tahunya banyak lidah yang cocok dengan masakan Nani. Ia pun menambah modal, jadi tujuh ekor dan belakangan mencapai 30 ekor ayam sehari. Saat itu Nani menggelar dagangan di warung pinggir jalan di Jalan Haji Ten. Namanya warung gerobak, pastilah bukan bangunan permanen seperti kedai yang ditempatinya sekarang. “Saya ingat, pas selesai buka diangkutin sama tramtib,” kenangnya. Kala itu Nani hanya menyediakan satu menu saja, yakni ayam goreng dan nasi uduk.

Setiap hari paling tidak Nani memotong 150 ekor ayam. “Kalau enggak ada isu flu burung, saya bisa habis 200-250 ekor,” kilahnya. Namun, belakangan ini pun, ketika kedainya ramai, Nani bisa menghabiskan 250 ekor ayam untuk satu gerai.

Dari dagangannya ini, Nani bisa membeli satu petak tanah di Rawasari. Di situlah ia membangun kedai seluas dua petak tanah, setelah ia mengontrak petak persis di sampingnya. Suami Nani dulunya adalah sopir taksi Royal dan Kosti. Setelah dagangan istrinya ramai, ia banting setir membantu berjualan.

Hoki Nani di bisnis ayam rupanya belum berhenti. Setelah berhasil memboyong gerobak dorongnya ke kedai, Nani juga membuka cabang di mana-mana. Terhitung ada tiga cabang kedai Ny. Nani di seputar Jakarta Timur dan Bekasi. “Itu adik semua yang mengelola, karena keuangan yang pegang harus keluarga,” cetus wanita kelahiran Solo ini.

Ayam Goreng Tulang Lunak Ny. Nani S..

~ Jl. H. Ten No. 7A Rawasari, Jakarta Timur , Telp. (021) 4752128
~ Jl. Raya Pondok Kelapa Blok G1 No. 7 Kalimalang, Jaktim Telp. (021) 8640055
~ Jl. Jatiwaringin Raya No. 28B Pondok Gede, Jaktim , Telp. (021) 84972233
~ Jl. Pejuang Raya Perum Permata Harapan Baru, Pondok Ungu, Bekasi Telp. (021) 7488101
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s