Terlena Aroma Kambing Betina

Tak bisa dipungkiri bahwa di Indonesia ada beragam olahan dari daging kambing. Memang, banyak orang yang ogah menyantap si embek dengan alasan darah tinggi atau kolesterolnya ajrut-ajrutan. Kenyataannya, pedagang makanan dari daging kambing ada di mana-mana. Selain dimasak sop dan sate, kambing juga lazim digoreng bersama nasi. Hasilnya adalah nasi goreng kambing.

Nah, salah satu sasaran penyuka daging embek adalah kedai Nasi Goreng Kambing Babeh Sanim di Pedurenan. Sebenarnya pemilik kedai ini bernama Sanim. Namun, orang lebih mengenalnya sebagai Babeh (orang Betawi sering memanggil babe alias bapak secara mantap, menjadi babeh). Lelaki berusia 60 tahun ini sudah cukup lama memasak nasi goreng kambing di Pedurenan. Makanya jangan heran kalau gampang sekali mencari kedainya. Tukang ojek yang mangkal di sekitar Kuningan atau Rasuna Said dengan sigap bakal menunjukkan arah kedai milik Sanim. “Saya sudah berdagang di sini sejak daerah ini masih gelap. Belum banyak gedung seperti sekarang,” ujar Babe Sanim.

Merunut dari kisahnya, Babe Sanim sudah berdagang di situ sejak 1974. Pertama kali ia berdagang di Setiabudi, persis di depan lokasi Pasar Festival yang sekarang. Babe Sanim membuka kedai bersama adiknya. Adapun si adik ini, menurut Babe Sanim, selama tiga tahun sebelumnya telah bekerja di warung nasi goreng Kebon Sirih. Tak heran jika rasa sajian Babe selintas mirip dengan nasi goreng Kebon Sirih.

Meski mengakui ada kemiripan rasa, Sanim bilang, nasi gorengnya punya ciri khas tersendiri. “Aromanya tidak sekuat nasi goreng kambing Kebon Sirih. Kalau di sini pokoknya pas, khususnya buat lidah pelanggan saya,” promosi Babe Sanim.

Tahun-tahun awal setelah berjualan, Babe Sanim bisa mengumpulkan pelanggan. Namun, tahun 1980, kedainya kena gusur. Babe Sanim pun memutuskan pindah ke Pedurenan dan mendirikan kedai yang lebih permanen. Sejak pindah inilah, Babe Sanim bisa mengumpulkan lebih banyak lagi pelanggan. Kini, ia harus menyediakan enam meja panjang dan 68 kursi di kedainya. Ini belum termasuk meja yang diletakkan di taman milik Babe Sanim, di belakang kedai.

Tidak membuat bumbu sendiri

Meskipun kedainya permanen, meja-meja di warung Babe Sanim ini tidak berjejer secara teratur. Di bagian kiri dan kanan kedai masing-masing ada dua meja. Lantas, ada lagi satu meja di ruang tengah dan tiga meja di bagian belakang.

Babe sendiri bangga lantaran pelanggannya datang dari segala penjuru. Sebut saja Bekasi, Cianjur, Bandung, Palembang, bahkan dari Gorontalo. “Pelanggan dari Palembang itu makan di sini sejak masih kuliah di Perbanas,” celetuk Babe Sanim. Para pelanggan ini secara rutin datang ke Nasi Goreng Babeh Sanim untuk membeli nasi goreng dan membungkusnya untuk dinikmati di rumah.

Beberapa pelanggan setia tidak segan meminta Babe Sanim sendiri yang memasak nasi goreng kambing pesanan mereka. “Walaupun saya lagi di rumah, saya diminta datang,” ucap Babe Sanim. Demi pelanggan, Babe pun rela turun ke dapur. Padahal, sekarang ia sudah punya delapan karyawan termasuk seorang koki. “Yang namanya dagang, ya, harus menuruti permintaan pelanggan,” sambung Babe.

Saban hari, Babe Sanim menghabiskan 25 kilogram beras dan 15 kilogram daging kambing demi memenuhi permintaan pelanggannya. Mungkin para pelanggan itu telanjur kepincut dengan aroma nasi goreng Babe Sanim. Aroma wangi memang akan tercium setiap kali kita hendak melahap sesendok nasi goreng bikinan kedai Nasi Goreng Babeh Sanim. “Itu wangi kelabat. Semacam jamu yang biasa dipakai untuk bikin bumbu gule,” kata Babe Sanim. Warna nasi goreng bikinan Babe Sanim ini agak kecokelatan, karena ia menambahkan pula blondo atau santan kelapa yang dimasak sampai airnya habis.

Selain aroma sedap, potongan daging kambing yang bercampur di dalam nasi goreng juga spesial. Babe Sanim bilang, kedainya hanya menggunakan daging kambing betina. Dari dulu sampai sekarang, ia sudah mendapat pasokan kambing betina dari pedagang di Pasar Rumput, Manggarai. Babe enggan memakai kambing jantan, karena menurutnya dagingnya lebih keras dan bakal mengkeret kalau dimasak. “Kalau daging kambing cewek, lebih empuk dan berminyak,” jelas Babe Sanim.

Satu hal lagi, meski terbilang piawai menggoreng nasi, sampai kini Babe Sanim mengaku tidak meracik sendiri bumbu dagangannya. Dari awal berjualan sampai sekarang, ia membeli bumbu nasi goreng dari ahli bumbu masak di Petamburan. “Saya pernah bikin bumbu sendiri, tapi tidak cocok dengan selera pelanggan,” cetus si Babe.

Nasgor Adenium

Selain berdagang nasi goreng, Babe Sanim juga gemar memelihara tanaman hias. Kegemarannya terhadap tanaman hias terlihat dari hamparan pot yang terletak di belakang kedai. Babe Sanim mengaku sudah menekuni hobi tanaman sejak enam tahun silam. Dalam dua tahun belakangan, hobinya itu bisa memberikan tambahan. Maklumlah, saban hari sedikitnya ada tiga pot tanaman yang dijual dengan harga mulai Rp 25.000. Babe Sanim juga kerap menjual tanamannya dengan harga Rp 1 juta.

Kini, Babe Sanim mempunyai sekitar 2.000 pot yang terdiri dari 60 tanaman hias. Kalau dilihat dari koleksinya, yang paling banyak adalah tanaman hias jenis adenium. “Tanaman terbanyak, ya, kamboja jepang ini,” ujarnya. Tak heran jika Babe Sanim lantas menamai bengkel bunganya dengan sebutan NGK Adenium. Nama itu adalah singkatan dari Nasi Goreng Kambing Adenium. “Habis, yang sudah dikenal di sini nasi goreng kambingnya,” jelas babe kita sambil tersenyum.

Kebanyakan pembeli tanaman hias milik Babe Sanim adalah pedagang tanaman hias yang membeli untuk dijual kembali. Namun, karena menyatu dengan kedai, para pelanggan nasi goreng kambing sesekali juga membeli tanaman hias milik babe kita ini untuk dipakai sendiri. Hamparan pot tanaman hias ini menjadi daya tarik kedai Babe Sanim saat bulan puasa, karena pelanggan bisa melihat-lihat tanaman hias sambil menunggu waktu buka puasa.

Nasi Goreng Babeh Sanim
Jl. Pedurenan Raya (Samping Masjid), Kuningan, Jakarta Selatan
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s