Menu Bakar-Bakar di kedai ikan bakar Babe Lili

Makan siang waktu hari kerja di tempat yang banyak asapnya? Wah, amit-amit. Masak balik ke kantor dengan baju beraroma asap? Bisa jadi, itulah komentar yang bakal terdengar. Tapi, tunggu dulu. Warung ikan bakar Babe Lili di seputaran Jalan Wahid Hasyim Jakarta ini juga dipenuhi asap. Namun, setiap jam makan banyak orang sabar mengantre, menunggu dilayani.

Bangunan Kedai Babe Lili ini sebetulnya tidak istimewa. Beratapkan tenda, ada lajur-lajur meja panjang yang bisa menampung sampai seratus orang. Tendanya sudah berwarna kehitaman, susunan bangkunya juga agak berantakan, tambah bonus asap yang menari-nari yang membikin mata merah. Namun, asap yang sama membawa aroma ikan bakar yang lezat. Barangkali, itu sebabnya pelanggan Babe Lili tetap cuek bebek .

Dalam daftar menu, ada dua olahan yang menjadi andalan Asli Madjid, nama asli Babe Lili. Yakni: ikan kambing-kambing dan ikan ayam-ayam. Ada yang menganggap dua jenis ikan ini sama saja, tapi ada yang menganggapnya beda. Ikan kambing-kambing adalah sebutan untuk angel fish, sedang ikan ayam-ayam juga dikenal sebagai ikan pakol. Tapi, ikan kambing-kambing lebih dipilih di sini, ketimbang ikan ayam-ayam.

Ikan kambing-kambing berdaging tebal. Tapi, bumbunya bisa merasuk hingga ke dalam daging. Duri ikan ini juga gampang dipisah, tidak seperti bandeng. “Di mana-mana daging,” ucap Babe Lili. Jadi, kita bisa menyantap dagingnya dengan nyaman. Jangan lupa, mencocol ikan itu dengan sambal terasi yang sudah tersedia. Rasanya cocok benar masuk ke perut lapar, kendati disantap di siang terik.

Babe Lili mengungkap rahasia pembakaran ikan kambing-kambing. Mulanya, kata dia, ikan dibakar lebih dulu agar kandungan airnya berkurang. Setelah setengah matang, barulah tubuh ikan dilumuri dengan bumbu yang sudah mereka siapkan dan kembali dibakar. Kebetulan, ikan laut tidaklah seamis ikan air tawar. “Ikannya direndam air jeruk limau, dijamin amisnya enggak kebawa waktu dimakan,” tandas Babe Lili.

Bumbu jadi bernama Syukur Jadi

Kalau diperhatikan, panggangan ikan Babe Lili bukan dipenuhi oleh arang biasa, melainkan batok kelapa. Hal ini tentu ada alasannya. “Batok kelapa lebih cepat panas, jadi bisa lebih cepat juga kami sajikan kepada tamu,” jelasnya. Babe Lili enggan menjelaskan secara lengkap bumbu apa saja yang ditumbuknya untuk melumuri ikan tadi. Namun, kata dia, bumbunya tak berbeda dengan bumbu ikan bakar pada umumnya. Macam rempah-rempah, bawang merah dan putih, gula, serta garam. Bahkan, ia mengaku mengolah bumbunya asal jadi saja. “Saya namakan saja bumbu ikan bakar itu Syukur Jadi,” ungkap Babe Lili, yang tiap hari membikin 100 kg bumbu ini.

Boleh jadi, Syukur Jadi ini juga yang berhasil memikat banyak lidah. Awal berdirinya warung, sekitar tujuh tahun lalu, Babe Lili menjual seporsi ikan kambing-kambing dengan harga Rp 2.000. “Jualannya masih di lapangan, atapnya pakai seng dan kardus,” kata Babe Lili lagi. Kala itu, hanya Babe dan sang istri yang menjalankan warung ikan bakar. Setiap malam, Babe Lili harus berburu ikan kambing-kambing. Setelah beristirahat sejenak, menjelang subuh mereka mesti menyiapkan bumbu lantas berjualan sampai siang. 

Karena cuma beratap kardus, tiap kali hujan, air pun menetes ke mana-mana. Alhasil, para pembelinya harus rela bergeser ke sana-ke sini mencari tempat terlindung. “Asyiknya di situ kali, ya?” kenang Babe sambil tertawa. Lantaran harganya murah meriah, para sopir yang menjadi pelanggan di sini.

“Memang, sih, target kami adalah kelas bawah,” ujar Babe. Tapi, agaknya sang majikan banyak yang tak berkenan sopirnya pergi makan terlalu lama. Lantas saja mereka ikut memesan bungkusan ikan bakar, menu si sopir. “Nah, kalau sekarang ini, yang makan di sini bos-bosnya kali, ya,” sambung Babe Lili lagi.

Harga hidangan ikan andalan di warung ini juga merambat naik, sesuai dengan perbaikan kondisi kedai. Tadinya, kendati harga-harga bahan baku naik, Babe Lili masih setengah-setengah menaikkan harga. Sampai tahun 1998 dia cuma berani menaikkan harga ikan bakarnya menjadi Rp 7.500. Sudah begitu, Babe mengaku, tidak pernah menyunat anggaran untuk bumbu. “Orang Indonesia itu senangnya memanjakan lidah. Jadi, rasa itu kami jaga betul,” ujarnya. Soalnya, kalau rasa sudah cocok, Babe percaya ke mana pun dia pindah bakal tetap dikejar. Nah, baru tahun ini Babe Lili berani mengerek harga menu andalannya dua kali lipat, menjadi Rp 15.000 seporsi.

Tak gentar dengan angin barat

Para pembeli bukan cuma orang-orang kantor seputar kedainya. Juga ada yang datang dari jauh seperti Serang, Tangerang, Cirebon, atau Bandung. Bahkan, ada seorang pendeta dari Swis yang selalu mampir ke warung Babe Lili tiap kali berkunjung ke Indonesia. Beberapa selebriti juga menjadi pelanggan Babe Lili. Sebutlah grup Sheila on 7, Syahrul Gunawan, Jikustik, dan Cici Tegal. “Dulu Pak Try Soetrisno juga suka makan di sini,” ungkapnya.

Melongok pengunjung warung yang berjubel, kita tentu bisa memperkirakan berapa kebutuhan ikan Babe Lili dalam sehari. Bermula dari 5 kg ikan kambing-kambing, sekarang Babe harus berbelanja 100 kg ikan kambing-kambing untuk sehari. Menu ikan lain, seperti kakap dan baronang, sampai 200 kg sehari. Dia juga menghabiskan sekitar 150 kg beras sehari.

Lantaran kedainya sudah berkembang dan mempunyai banyak pelanggan, Babe Lili tak perlu lagi bersusah payah memburu ikan sendiri. Seorang pengepul dari Muara Angke setia mengantar belanjaan si Babe. Biar angin barat, saat nelayan enggan melaut, pasokan tetap datang dengan teratur. Tentu saja termasuk ikan kambing-kambing, favorit kebanyakan pengunjung di sini.

Lebih Suka Memanjakan Lidah

Segala pekerjaan kelas bawah sepertinya pernah dilakoni Asli Madjid alias Babe Lili, pemilik warung Ikan Bakar Babe H. Lili. Mulai dari sopir bajaj, centeng, sampai jualan keong. “Dulu saya tidak punya apa-apa,” kenang Babe Lili.

Suatu ketika, anak pertamanya jatuh sakit dan minta dibelikan ikan bakar. Uang di saku Babe Lili tinggal Rp 3.000. Tak mungkin duit segitu ditukar ikan bakar. “Untuk ongkos jalan saja sudah Rp 2.000,” ujarnya. Babe lantas membeli sekilogram ikan kambing-kambing mentah seharga Rp 2.000 dan diolah sendiri. Eh, ternyata aroma ikan bakarnya mengundang tetangga untuk mencicipi. Mereka bahkan menyarankan agar Babe Lili menjajal berjualan ikan bakar.

Bermodal duit Rp 70.000 untuk 5 kg ikan kambing-kambing, tahun 1997, Babe Lili nekat membuka warung di dekat tempat tinggalnya di Kebon Sirih. Warung seadanya, bumbu yang pas, dan cara membakar yang bikin bumbu merasuk ke dalam ikan, membuat olahan Babe Lili menggaet banyak pelanggan. Alhasil, kini dia sudah memiliki dua warung ikan bakar dengan kapasitas ratusan pengunjung.

Kendati omzetnya meningkat pesat, Babe Lili enggan memperbaiki warungnya. Misalnya, mengganti tegel yang lebih bagus. “Biarlah begini adanya. Kalau tempatnya bagus nanti orang jadi enggak berani ke sini,” tutur Babe. “Saya lebih suka memanjakan lidah, daripada tempat.” Iya deh, Be!

3 responses to “Menu Bakar-Bakar di kedai ikan bakar Babe Lili

  1. wuidihh.. itu asli enak bgt. saya udah coba… makkk nyyuuusss… :-)

  2. weitz ,. mantafp kali ne ikan, klw da boz2 yang nawarin makan siang langsung ja gw tawarin menu ini,. makan gratis,. gw bela-belain panas2an naik motor,demi beli ne ikan..

  3. Boleh jg…ntar klo wisata kuliner mampir dach kesitu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s